
Zack mendatangi meja tempat Lydia dan Raka makan siang. Tentu saja ia diikuti Aiko. Aiko memberi kode Lydia dengan matanya agar Lydia tidak menceritakan apa yang telah terjadi tadi.
"Kamu kok bisa makan dengannya?" tanya Zack pada Lydia, bingung.
"Oh, a-aku tanya tugas sekolah Kak," jawab Lydia masih sambil melirik Aiko dengan mata besarnya.
"Yang mana? Sini Kakak bantu."
"Ya ampun, bagaimana adikmu bisa punya teman kalau segala urusan sama temannya, Kakaknya ikut campur?" sindir Raka. "Yuk, Lydi. Sekarang kita pindah saja." Ia menarik Lydia keluar dari bangkunya. Mereka pun meninggalkan Zack.
"Tuh, kan? Lydi udah gede lagi, kenapa kamu buntuti terus. Lama-lama dia gak bisa punya teman dong jadinya." terang Aiko, tapi Zack bergeming. Zack tak suka pada Raka, karena itu ia khawatir.
Kenzo membuka pintu kamar itu. Seakan kenangan itu mengudara lagi. Runi yang sibuk main dengan boneka kainnya di atas tempat tidur dan Leka yang sibuk mencari jilbab instannya karena ia datang tiba-tiba, kembali membayang di pelupuk mata. Namun kamar itu kini telah sepi. Buku-buku pemberiannya untuk Runi ditinggalkan Leka di atas tempat tidur.
Pria itu mendatangi tempat tidur dan mengambilnya satu. Buku dari kain berwarna biru dan ia membuka perekatnya. Ia mencoba memainkan bantal-bantal kecil yang kerap di mainkan Runi dan itu membuatnya tersenyum. Sementara. Setelah itu air matanya menetes tanpa diminta. Diraihnya buku itu dan didekapnya. Sungguh, itu malah membuat air matanya deras dan tak kunjung berhenti.
Terdengar dering telepon dari hp-nya. Cepat-cepat ia menghapus air mata dan meraih hp itu dari kantong celananya.
"Halo?"
"Kenzo suaramu serak, kau sedang batuk?"
Nena? Ia berdehem sebentar mengatur suara. "Ah, tidak. Terlalu banyak makan es krim saja."
Nena tertawa. "Sejak kapan kamu ketagihan makan es krim?"
Kenzo tertawa. "Lagi iseng saja. Ada apa?"
"Kau sekarang ada di mana? Di Jakarta ya?"
"Iya, kenapa?"
"Jangan ke mana-mana, aku mau ke sana."
"Ke Jakarta? Mau apa? Ke kuburan orang tuamu lagi?"
"Aku datang sama Grandpa. Aku menemaninya. Sudah lama ia tidak mengunjungi keluarga Pak Chris."
"Oh, gitu."
"Jangan pergi ke mana-mana ya? Awas lho!"
Kenzo kembali tertawa. "Iya iya, aku janji. Memangnya kamu berangkat kapan?"
"Ini lagi persiapan. Well, see you then.(Sampai jumpa nanti)."
"Good Morning.(Selamat pagi)" Kenzo memperhatikan jam di dinding. Perbedaan waktu menyebabkan di Amerika pagi dan di Indonesia sore. "Hah, aku harus menunda jadwal keberangkatanku lagi."
Nena tersenyum sambil menutup hp-nya. Ia sedang berada di ruang tunggu pesawat.
"Kau harus berani menyatakannya ya? Jangan ditunda-tunda lagi," ucap David menyemangati.
"Iya Grandpa." Nena tersenyum malu.
"Kamu pintar, kamu kaya, kamu cocok dengan Kenzo, ok?"
"Ok, Grandpa." Masih dengan senyum yang sama.
"Good.(Bagus)"
Leka baru saja selesai menyetrika baju. Ia kemudian mendatangi Runi di kamarnya yang sedang main boneka kainnya bersama Baby Sitter-nya. "Unda ...." Gadis kecil itu bangun dari duduknya dan segera berlari mendatangi Leka. Ia masih belum terbiasa dengan wanita yang mengurusnya itu.
"Sekarang sudah sore, mandi ya Nak?" Leka menggendong Runi dan mendekapnya. Aneh rasanya bila terlalu lama tidak melihat wajahnya. Sehari-hari selalu bersamanya hingga Leka teringat Kenzo.
Baby Sitter itu mendekat.
__ADS_1
"Tolong mandikan ya?" Leka menyerahkan Runi pada wanita itu.
"Iya, Bu."
"Mmh, Unda ...." Runi terlihat sedikit cemberut.
Wanita itu membawa Runi ke kamar mandi.
Hati Leka resah. Mengapa di saat suaminya akhirnya akan menuruti semua keinginannya, ia malah mengingat pria lain, tapi memang hati tak bisa di bohongi. Hanya dialah yang paling jujur tentang rasa. Hanya pria itulah yang selalu hadir saat ia membutuhkannya.
Kenzo tanpa sengaja hadir di setiap kekosongan hatinya, di setiap kegundahannya, bahkan tanpa melakukan apa-apa pun, kehadirannya begitu berarti. Begitu dinanti dan kemudian begitu sangat berharganya. Entah sejak kapan perasaan itu beralih rupa, dari sekedar teman bicara menjadi teman dalam rasa. Leka mulai kecewa pada dirinya sendiri, karena telah tanpa sengaja membuka hati untuk pria lain masuk dalam hatinya.
Ini tidak boleh, ia masih bersuami dan suaminya sedang dalam perbaikan menuju cita-citanya yang selama ini ia selalu langitkan di dalam doa-doanya.
Hah ... Ya Allah, kenapa kini aku begitu serakah. Ke mana Leka yang dulu yang begitu bersahaja dan mengharap hanya suaminyalah yang memperhatikannya, hanya suaminyalah yang memperdulikannya, dan hanya suaminyalah yang mencintainya. Ya Allah, bantu aku ke jalan yang benar ya Allah, jalan orang-orang yang kamu beri petunjuk. Bantu aku terhindar dari godaan setan ini ya Allah dan beri aku jalan yang benar yang Engkau ridhoi. Amin.
Aska pulang di sambut Leka di depan pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Leka mencium punggung tangan suaminya.
"Ah, stor kiss dulu."
"Mmh?"
Aska meraih lengan istrinya dan mencium pipinya. Tentu saja Leka tak biasa hingga wajahnya sedikit merah padam.
"Abang jangan begitu ah!"
"Memang kenapa? Kamu kan istriku. Halal kok!"
Leka hanya diam.
"Ayo, siap-siap dulu. Kita langsung berangkat."
Terlihat sekali Aska begitu senangnya membawa anak istrinya dengan mobil. Sesekali ia mengobrol dengan Leka, tapi wanita itu ... masih terasa asing dengan suaminya sendiri. Perasaannya yang dulu berbunga-bunga tak lagi bisa ia rasakan kini. Ia ... sudah hilang rasa pada Aska.
Aska selalu menggandengnya di Mal, tapi Leka merasa biasa-biasa saja. Ia hanya diam karena merasa itu suatu ... kewajiban.
"Kita makan dulu ya?" Aska mencari-cari restoran yang menarik hatinya.
"Leka, kau mau makan di mana?"
"Mmh, terserah Abang saja. Leka ikut."
"Mmh ...."
"Eh, Aska?"
Seorang ibu-ibu dengan tubuh sedikit gemuk, paruh baya bersama suami dan anak perempuannya menatap mereka takjub.
"Paman?"
"Pa-man?" Leka melirik suaminya dan keluarga itu.
"Oh, maaf. Aku ...." Leka baru saja hendak meraih tangan wanita itu tapi Aska menariknya.
"Tidak usah! Kalau sudah sukses aja ... sok kenal. Ujung-ujungnya paling pinjam duit!" ucap Aska ketus.
"Astagfirullah alazim, Abang jangan sudzon begitu." Leka menggoyang-goyangkan lengan Aska dengan suara rendah.
"Memang bener! Kakaknya meninggal bukannya di doain, malah nagih utang. Sodara macam apa itu?" kata Aska kesal.
"Eh, bapak lu miskin ye? Kalo kagak gua nyang bantu, lu kagak sekolah, Tong. Kagak makan! Mentang-mentang di bantuin ame bule itu aja songongnye minta ampun. Belagu bener lu!"
__ADS_1
Aska tak tahan dan segera menyerangnya. Ia menarik kerah pria yang di sebutnya 'paman' hingga mencekiknya.
"Bang, Bang ... jangan Bang." Leka berusaha melerai. Ia memegangi lengan Aska agar segera melepaskan cengkramannya. "Bang malu Bang, nanti kita semua bisa di usir Bang, dari sini."
Mendengar itu, Aska segera melepas cengkramannya.
Ibu-ibu itu cemas melihat suaminya dan berusaha menenangkannya karena ia sedang berusaha melancarkan jalan napasnya.
"Udah, lu mendingan pergi dari sini deh! Empet gue lihat wajah lu pada!" Aska menunjuk ke arah lain sambil bicara dengan kasar.
Sempat jadi perhatian orang ramai di Mal itu, tetapi pertikaian segera berakhir. Mereka berpisah. Aska menarik tangan Leka sambil melihat restoran yang ingin dimasukinya, dengan emosi. Leka terpaksa mengikuti saja ke mana suaminya membawanya sedang Baby Sitter itu masih mengekor di belakang.
Aska memasuki sebuah restoran Sunda dan segera mencari tempat duduk. Ia duduk di samping istrinya dan langsung merangkul lengan Leka sambil menyandarkan kepalanya di sana.
"Eh, Bang. Kamu lagi apa?" bisik Leka bingung. Ia sedikit malu dilihat orang-orang yang ikut makan di sana.
"Biarin Ah! Aku lagi kesal ...." Aska merajuk. "Ayo kita pesan makanan saja."
Dengan sedikit malu, apalagi Baby Sitter Runi juga duduk di samping meja yang sama, Leka mengambil buku menu dan melihat-lihat. Tiba-tiba kepala Aska tegak sambil menunjuk menu yang dilihatnya. "Eh, ini kelihatannya enak, kita makan ini saja ya Sayang?"
"Eh, bo-leh ...." Cukup sulit buat Leka melihat sisi kekanak-kanakan Aska mengingat pria itu sesekali kasar dan ketus saat bicara.
Saat makan siang, semuanya kembali terlihat lancar. Pria itu bahkan bersemangat hingga tambah makannya.
Mereka juga mendatangi beberapa gerai pertokoan untuk pakaian, mencari pakaian yang cocok dikenakan saat pesta.
"Bang, yang tadi itu sudah bagus Bang. Tidak usah cari yang lain."
"Tidak, aku tidak suka. Coba yang ini." Aska memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih dengan hiasan bordiran di pinggir tangannya. Ia meletakkannya di depan tubuh istrinya melihat kemungkinannnya. "Bagus ini. Coba kau coba dulu ...."
Leka pergi ke sebuah bilik kecil dan mencoba di sana. Ia kemudian keluar.
"Wah bagus ini ... Aku beli yang ini saja."
"Tapi Bang, baju ini mahal." Leka sudah melihat harganya di dekat lehernya.
"Tidak apa-apa, aku suka. Beli yang ini saja. Aku akan cari pasangannya untukku. Kamu cari selendangnya."
"Tapi putih gampang kotor Bang."
"Kan roknya hijau toska, jadi gak semuanya putih." Aska mendekati wajah istrinya.
"Kenapa Bang?" Leka terlihat canggung, dan sedikit mundur ke belakang.
"Matamu. Kadang terlihat abu-abu kadang terlihat biru. Apa kamu ada keturunan bule juga?"
"Oh, kata kakekku ada keturunan Turki, tapi itu buyutku."
"Oh, pantas cantik."
Kembali wajah Leka memerah seketika.
Mereka kemudian menyelesaikan belanja pakaian dan berbelanja di supermarket. Tak lupa Runi dibelikan mainan oleh Aska untuk pertama kalinya.
"Om, Om!" Runi menunjuk mainan yang ingin di belinya.
"Aduh, bagaimana merubah panggilannya ya?"
Leka hanya mengangkat bahu.
Setelah selesai belanja, mereka pulang ke rumah. Leka memasukkan sayur, daging dan buah ke dalam lemari es kemudian naik ke lantai 2. Runi telah di beri susu botol oleh Baby Sitter-nya, dan wanita itu sedang menunggui Runi hingga tertidur. Leka kembali ke kamar.
"Sayang ...."
Leka berbalik dan suaminya telah melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya membuat Leka terkejut.
__ADS_1
"Aduh ... kenapa kau suka sekali membuatku terkejut?"
"Bisakah kau menghangatkanku malam ini ...."