
"Oh, aku Om kan?" Wajah Aska terlihat pucat.
"Oh, eh ada tamu." Leka pun terlihat panik. "Eh, ini Pak Aska. Runi bukan panggil Bapak. Dia panggil Kak Kenzo 'Papa'." Ia sekilas melirik Arya, takut sandiwara suaminya terbongkar.
"Dia?" Nada suara Aska sedikit naik satu oktaf. Ada kemarahan yang tiba-tiba muncul tapi coba ditahannya. Ia tak rela Runi memanggil Kenzo 'Papa' tapi di sisi lain ia juga tak ingin orang lain tahu ia sedang marah. "Dia kan bukan bapaknya!" Namun ada juga kalimat yang lolos dari mulutnya.
Arya menikmati semuanya. Pertengkaran suami istri kembali mencuat, walaupun dalam bentuk tersamarkan.
Aska berdehem. "Eh maksudku, kenapa mereka bisa akrab dengan Kenzo, padahal itu anak orang lain, sampai bisa panggil 'Papa'. Sepertinya tidak sopan!" Ia ingin memarahi Leka, tapi dengan kehadiran Arya sulit baginya untuk melakukannya.
Arya tertawa. "Itu sebutan bukan panggilan."
"Maksudnya?"
"Eh, begini Pak. Kak Kenzo sering bernyanyi di rumah dan Runi pernah mendengar ia bernyanyi 'papa-papa'." Terang Leka sambil menunduk. Ia takut suaminya salah sangka.
"Oh." Tetap saja, ada letupan amarah yang memuncak di tenggorokannya yang membuat Aska mengepalkan tangannya erat. Ia sangat kesal Runi memangil Kenzo, 'Papa' dan Leka memanggilnya 'Kak' seakan pria itu sudah sangat akrab dengan anak istrinya. Ingin rasanya ia menghajar Kenzo yang sedang tertidur lelap di hadapannya tanpa ampun, tapi ia tak bisa. Rasa takut dan enggannya pada Arya mengalahkan semuanya.
"Om!" Teriak Runi pada Aska. Sejak ia tinggal dengan keluarga Arya, banyak orang yang mengajaknya bicara sehingga gadis kecil itu sedikit punya keberanian untuk bicara dengan orang lain. "Papa!" Ia menunjuk Kenzo sambil melirik Aska.
"Eh, iya." Aska pun bingung harus menjawab apa.
"Ya sudah, kita biarkan Kenzo istirahat dulu agar cepat sembuh." Arya menarik Aska keluar.
"Eh, tapi aku ingin melihat Kenzo bangun. Aku ingin ia tahu aku datang menjenguknya dan aku ingin melihat kondisinya." Sepertinya Aska masih sangsi Kenzo separah itu habis operasi dan ia juga sedang mencari kesempatan untuk bicara dengan istrinya sebab ia tahu bila istrinya menjadi perawat berarti ia tidak punya kesempatan untuk keluar rumah jadi sulit untuk Aska menemuinya di luar rumah.
Arya tersenyum licik. Aska sendiri yang memberi kesempatan orang lain untuk dekat dengan istrinya karena ulahnya sendiri, sekarang ia sendiri yang kebingungan karena kesempatan untuk balik dengan istrinya semakin sulit kecuali ia mengakui keberadaan istrinya.
"Oh," Arya melihat jam tangannya. "Kenzo baru baru minum obat sekitar setengah jam yang lalu jadi masih ada sekitar dua hingga dua setengah jam lagi ia akan bangun. Jadi sebaiknya lain kali saja kau datang kemari menjenguknya."
Mereka berdiri di depan kamar Kenzo. Aska melihat istrinya keluar dari kamar Kenzo tanpa mau melirik dirinya dan masuk ke kamar sebelah sambil mengendong Runi.
"Bagaimana?"
Pertanyaan Arya menyadarkan Aska. "Eh, oh ya. Mungkin lain kali ya?" Ia mengusap belakang kepalanya.
Mereka kemudian sama-sama keluar rumah dan Aska pamit. Ia segera pulang dengan mobilnya. Arya hanya bisa tersenyum melihat kepergian mobil Aska. Ia serasa menang satu langkah, melihat Aska kesal pada dirinya sendiri karena Kenzo. Ini baru langkah awal balas dendam akan sakit hatinya terbalaskan. Sekarang, langkah berikutnya adalah membuat mereka bercerai. Arya tahu itu salah. Dosa. Mencari jalan memisahkan sebuah keluarga. Pasangan suami istri, tapi demi Kenzo apapun akan dilakukannya. Apalagi melihat masalah yang terjadi pada Aska dan Leka membuat Arya merasa, bukan sebuah kesalahan bila bisa memisahkan mereka berdua.
Mobil Aska sampai di parkiran gedung apartemennya, tapi ia tidak bisa segera keluar. Pikirannya penuh. Tidak pernah terpikirkan olehnya, Kenzo akan menjadi saingannya. Pria yang selama ini ia tidas setiap datang ke rumah orang tuanya dan pria itu tidak pernah melawan atau mengadu pada siapapun membuat ia merasa di atas awan, tapi kini apa yang terjadi? Pria itu kini dengan mudahnya mendekati istrinya tanpa rintangan karena istrinya sekarang kerja di rumahnya. Apapun yang akan terjadi di sana tidak akan ada yang bisa melarangnya dan itu membuat otaknya kembali buntu. Ia gemas ingin segera membawa Leka kembali ke rumah, tapi bagaimana caranya? Telepon darinya saja tidak pernah di angkatnya, lalu bagaimana cara membujuknya pulang? Otaknya hampir gila memikirkan ini.
Aska melipat tangannya di atas stir dan mulai menggigiti kuku ibu jarinya. Ia sangat kesal tidak punya jalan keluar. Matanya pun mulai berkaca-kaca dan air matanya menganak sungai di sudut matanya.
Ia sangat mencintai istrinya. Itu baru ia sadari setelah berpisah dari Leka dan ia sangat merindukannya. Sangat sedih rasanya seperti di sayat sembilu mendengar Leka mengurus laki-laki lain selain dirinya. Jiwa laki-lakinya sangat marah tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Keadaanlah yang membuatnya harus menelan kecewa.
__ADS_1
Ia akhirnya menenggelamkan wajahnya di atas stir, menangisi kekalahan. Melepas isak yang tak lagi bisa di tahannya.
Aska tak punya seorang pun tempat bertanya padahal ia sudah cukup lama harus memendam ini sendirian, memikirkan ini sendirian. Betapa beratnya jadi orang dewasa sementara menjadi orang dewasa itu tak ada buku panduannya. Semua hal harus dicobanya sendiri. Padahal ia merasa sudah melakukan segala cara agar pernikahan ini berjalan dengan semestinya tapi ada saja yang membuat hatinya tak senang, membuat istrinya terluka dan ia sudah berusaha maksimal untuk mengimbanginya, tetapi tetap saja sulit. Sepertinya arah jalan mereka makin berlawanan arah sementara lambat laun tanpa di sadari ia mulai menyayangi istrinya.
------------+++------------
Leka sedang menyuapi Kenzo makan. Pria itu wajahnya sedikit tersipu-sipu tapi senang.
"Kakak sudah mulai sehatan sepertinya kak, wajahnya tak lagi pucat."
"Iya alhamdulillah, berkat bantuanmu."
"Ya aku di sini cuma bantu sebisanya Kak, alhamdulillah Kakak mulai sehat. Masih sering terasa sakit kak?"
"Kadang-kadang."
"Mmh ...."
Terdengar suara keributan di luar, lalu suara derap langkah kaki di anak tangga lalu ... pintu terbuka. Aska masuk dengan membawa keranjang buah. Ia melihat istrinya sedang menyuapi Kenzo.
Tentu saja Leka terkejut, apalagi Kenzo.
Runi ... dia tidak membawa Runi ke sini? Aska mendekati mereka. "Aku tadi menjengukmu. Aku tidak tahu kalau kau sakit."
Kenzo melirik Leka, bingung.
"Oya?" Ia menoleh pada Aska. "Maaf, aku tidur tadi."
Cih, Kakak ... Aska mengukir senyum termanis di bibirnya. "Tadi aku lupa bawa buah tangan jadi sekarang aku membawakannya untukmu."
Seorang pembantu datang tergopoh-gopoh dan masuk ke ruangan itu. "Ah, maaf Pak, pria ini memaksa masuk ke lantai atas, padahal sudah ku bilang Bapak sedang makan."
"Ah, tidak apa-apa Sumi. Sudah, tinggalkan saja," ucap Kenzo pada pembantunya.
"Iya, maaf Pak." Pembantu itu segera mengundurkan diri.
Leka cukup terkejut mendengarnya. Ada apa sampai Aska nekat kembali lagi dan masuk ke dalam kamar ini? Apa ia mengincar dirinya atau mengincar Kenzo?
Aska meletakkan keranjang buah di atas meja nakas dan menarik sebuah kursi untuk duduk dekat mereka berdua. Kenzo kembali disuapi Leka. Walaupun sedikit malu di lihat Aska, Kenzo tetap meneruskan makannya. Aska melihat Leka tak peduli dengan pandangan cemburunya dan tetap menyuapi Kenzo. Wanita itu merasa terlalu lelah baginya untuk memikirkan perasaan suaminya sementara saat itu ia sedang bekerja, tidak melakukan sesuatu yang salah dan melanggar agama.
"Kapan kamu operasinya Zo?" Betapa sulitnya bagi Aska bermulut manis di depan orang yang bertahun-tahun dibencinya. Ia takkan mau melakukan itu jika bukan karena Leka.
"Oh, 3 hari yang lalu."
__ADS_1
"Tapi tampaknya wajahmu sudah lebih sehat."
"Alhamdulillah."
"Apa yang di rasa hingga harus mempunyai perawat?" Aska tak tahan hingga harus meledek Kenzo. Ia melihat wajah istrinya yang mulai menunjukkan rasa tidak sukanya, tapi ia tidak bicara apa-apa selain berusaha menghindar dari tatapan suaminya.
"Oh, ini. Bekas lukanya masih perih. O ya, ini kan jam makan siang. Kenapa kau ke sini? Apa kau sudah makan?"
"Oh, aku bahkan sudah kenyang." Lagi-lagi dengan nada cemburunya. Letupan-letupan saat bicara membuat kalimat Aska terdengar aneh.
"Oh, syukurlah."
Leka malas menanggapi. Ia tahu, kepada siapa nada bicara itu ditujukan. Untung saja, Kenzo telah menyelesaikan makannya sehingga ia bisa segera mengambilkan obat dan minum untuk Kenzo.
"Setelah ini kau akan tidur?"
"Oh, maaf, tapi obatku mengandung obat tidur. Aku tidak bisa menghindarinya, jadi mungkin sebentar lagi aku akan mengantuk," jawab Kenzo menelan obatnya dengan air.
"Oh kalau begitu aku akan pamit pulang." Aska langsung berdiri.
"Maaf ya?"
"Iya, cepat sehat saja." Aska menyentuh bahu Kenzo. Ingin rasanya ia mencengkram bahu pria itu keras-keras hingga pria itu berteriak kencang-kencang tapi itu hanya ada di dalam khayalannya saja.
Nyatanya kini, Kenzo tersenyum dengan tulus padanya. "Makasih Ka."
Cih! Aku tak butuh senyum pria perusak rumah tanggaku. Aska pun pamit.
Leka segera membantu Kenzo masuk ke dalam selimut.
"Kalau butuh apa-apa, telepon saja lewat telepon kamar Kak."
"Oh, iya. Makasih."
Leka keluar membawa baki berisi piring makan Kenzo dan saat ia menutup pintu, ia baru menyadari suaminya berdiri di samping pintu menunggunya. "Kau ...."
Aska dengan cepat meraih tangan Leka. Wanita itu tak bisa berkutik karena sedang memegang baki.
"Aku hanya minta kau untuk menjawab teleponku. Tidak lebih. Kenapa kau tidak mau menjawab teleponku, hah?" Aska bicara setengah berbisik sambil melihat situasi di sana.
"Lepas ...." ucap Leka dengan mengecilkan suaranya. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Aska.
"Aku akan terus datang kalau kau tidak menjawab teleponku."
__ADS_1
Leka juga melihat situasi dengan menengok kanan dan kiri juga ke bawah. "Iya, iya. Aku akan jawab."
Aska akhirnya melepaskan genggamannya. Ia membiarkan istrinya pergi lebih dahulu kemudian ia menyusul turun.