
Aska memegang berkas-berkas di tangannya. Sudah sejam ia mengurus berkas-berkas itu, tapi tak selesai-selesai. Setiap ia melihat berkas-berkas itu, ia terbayang wajah gadis itu. Leka. Ia gelisah. Seakan ada rasa bersalah meninggalkannya seperti itu.
Tidak aku tidak salah. Apa yang kulakukan sudah benar. Aku tahu ia tidak merancang semua itu agar warga memaksaku menikah dengan dirinya tapi aku dan dia juga tidak mau tersiksa dengan pernikahan ini. Pernikahan yang tidak diinginkan ini, jadi satu-satunya cara adalah berpisah baik-baik dan aku sudah melakukannya dengan benar kan?
"Pak maaf."
Apa sih nih orang, ganggu aja. "Apa?"
"Laporan yang kemarin tentang karyawan pabrik Pak, bagaimana?"
"Sudah selesai belum?"
"Belum Pak."
"Ya terus apa masalahnya?"
"Datanya kurang Pak."
"Kalau datanya kurang, datang lah lagi ke sana."
"Bukan begitu Pak, datanya di pegang Bapak dari tadi Pak. Saya gak bisa selesaikan bila tanpa data itu."
Aska sedikit malu hingga ia berdehem agar ia tidak kehilangan wibawanya. "Sebentar ya?" Kemudian ia menyelesaikannya dengan cepat. "Ini, saya sudah tandai yang perlu di revisi.(di perbaiki)" Aska menyerahkan berkas-berkas itu pada pria di depannya.
"Makasih Pak." Karyawan itupun pergi.
Aduuuh, kenapa aku tidak bisa berkonsentrasi dari tadi sih? Ia kemudian berdiri, dan melangkah keluar kantor. Ia menuju ruangan terbuka di samping kantornya dan masuk ke sebuah beranda yang bisa di buka. Di situ ada Zaki yang sedang merokok di pinggir pagar beranda.
Sebenarnya di gedung itu tidak diperbolehkan membuka jendela, tapi khusus di area ini saja diizinkan untuk para perokok yang ingin merokok dan melepas lelah.
"Zak, kamu belum berhenti juga merokoknya?" Tanya Aska saat menghampiri sahabatnya itu. Ia memasukkan tangannya pada kantong celananya.
Zaki hanya menoleh, mengebulkan asap di sekitar mulutnya, dengan wajah datar. "Kenapa? Kamu mau jadi malaikat pencabut nyawaku hari ini?"
Aska tertawa. Ia melihat sahabatnya ini mulai berantakan hidupnya sejak mempunyai istri kedua. Kini ia menghadapi tuntutan cerai istri sahnya yang membuat ia semakin stres. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya berantakan.
"Terus kamu mau bagaimana sekarang?" Tanya Aska yang melihat Zaki semakin kecanduan merokok. Sepertinya merokok adalah tempat ia menumpahkan segala rasa sedihnya saat ini.
"Ya, aku yang main api. Aku harus siap dengan resiko yang harus kutanggung. Istriku sudah pindah dari rumah membawa semua anak-anak. Mau bagaimanapun, dia sudah tidak mau di bujuk. Keputusannya tetap sama."
"Lalu dengan istri keduamu?"
"Harusnya dari awal aku tidak menikah dengannya." Zaki kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Kamu kurangi merokoknya dong! Badanmu sudah semakin kurus saja ini!" Aska menasehati.
__ADS_1
Zaki malah tertawa. "Benar ternyata. Kamu mau jadi malaikat hari ini ya?" Ia kembali tertawa. Tawa yang sangat menyayat hati. Sepertinya di balik tawanya ia ingin menangis, tapi tangisan saja tak cukup baginya untuk melepas segala nestapanya. Mungkin telaga air matanya telah mengering, karena itu ia berusaha bertahan dengan terlihat baik-baik saja.
"Menurutmu, saat itu, kamu harus menceraikan Libby atau tidak?"
"Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Saat menikah dengan Libby, aku merasa bersalah pada istriku. Karena itu, tak lama ia aku ceraikan. Kata hati itu pengukur, benar tidaknya tindakan kita. Hingga kini, aku tak menyesal menceraikan Libby tapi aku menyesal telah bermain api dengannya." Zaki menoleh pada Aska dan menepuk bahunya. "Lakukan sesuatu menurut kata hatimu, kawan, itu yang menuntunmu untuk menentukan semua tindakan yang perlu atau tidak perlu dilakukan olehmu hingga kamu tidak menyesal kemudian."
Aska, menatap ke atas langit. Ia menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya pelan. Jadi apa yang harus aku lakukan terhadap Leka? Ya Allah, aku benar-benar bingung.
Ayah Leka menatap anaknya, bingung. Masalahnya ia tak mengerti apa yang terjadi. "Ia eeyiu uan? Eiap uan? Eawa?(Dia memberimu uang? Setiap bulan? Kenapa?)"
"Aku tidak tahu Pak. Itu yang di katakannya. Eh, aku turun sini Mas!" Leka menoleh pada sopir angkot, memberitahu. Ia kemudian turun bersama ayahnya di pinggir jalan. Pelan-pelan ia membawa ayahnya berjalan di jalanan yang masih berupa tanah hingga ke rumahnya dan membawanya ke kamar. "Bapak istirahat dulu, jangan bekerja ya, nanti kalau sudah sembuh baru kerja lagi."
"Ai Ea ....(Tapi Leka ....)"
"Bapak mau memaksakan diri juga gak bisa, badan Bapak masih sakit, yang ada malah merepotkan orang saja. Biar saja nanti uang upahnya di potong, tidak apa-apa."
"Ea ....(Leka ....)" Ayah Leka nyentuh tangan anaknya. "Ewaiya uan iu iua'an uwu owal eagan.(Sebaiknya uang itu digunakan untuk modal berdagang.)"
"Iya, Leka juga sedang memikirkan itu Pak." Leka tersenyum.
Namun perjalanan hidup Leka tak mulus. Penuh rintangan dan kerja keras dan tanpa terasa, sudah 2 tahun berlalu hingga akhirnya, sebuah kejadian membuat ia harus menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa.
Pengajianpun selesai. Leka dibantu seorang tetangganya membagikan besek kepada para ibu-ibu tetangga yang hadir di pengajian itu. Ibu-ibu itu kemudian membubarkan diri.
"Runi ... jangan begitu. Mau di sapu ini ...." Leka memperingatkan.
"Sudah Mbak, biar aku saja." Ibu muda itu mengambil sapu yang di pegang Leka. "Besok jadi kan Mbak, jualan lagi?"
"Iya." Leka menarik tangan anak kecil itu mendekat. Ia berjongkok. "Kamu sudah makan belum sih?"
"Mam ... mam ..." Bocah itu menunjuk piring-piring bertumpuk yang sudah kosong. "Oh, itu sudah habis. Sini, di dapur masih ada." Leka berdiri dan menarik gadis cilik itu ke dapur. Di sana masih ada 2 kotak kue lagi yang di ambilnya dari atas lemari es. Ia mengambil satu potong bolu dan di berikan pada gadis kecil itu. Bocah kecil itu melompat-lompat saat diberi. Ia kemudian duduk di lantai dan mulai memakan sendiri kue bolunya di tangan.
Leka segera menggulung lengan bajunya. Di kumpulkannya piring-piring kotor dan mulai mencuci piring. Setengah jam kemudian rumah kembali rapi.
"Mbak, nanti 100 hariannya gimana Mbak?" Tanya ibu muda itu lagi. "Mbak mau ngadain buat Bapak?" Ia menyusul ke dapur dan melihat Leka tengah membuat susu untuk si kecil.
"Ngak tahu ya, lihat nanti. Makasih ya Ka, sudah bantu aku. Aku gak tahu kalau gak ada Ika gimana."
"Ya gak lah Mbak ... Karena Mbak aku jadi punya penghasilan, walaupun hanya bisa bantu-bantu."
Ika masih termasuk saudara jauh ibu Leka. Rumahnya terletak di belakang rumah Leka dan ia sehari-hari membantu Leka yang membuka warung makanan di depan rumahnya.
"Tapi Mbak, apa Mbak berani hanya berdua dengan anak di sini? Apa gak bahaya gak ada laki-laki di rumah? Suami Mbak maunya bagaimana?"
Kalimat itulah yang membuat Leka bimbang belakangan ini. Ayahnya sebelum meninggal juga menyuruhnya mempertimbangkan itu. Kalau bisa, ia harus punya status yang jelas. Kalau suaminya tidak ingin mendampinginya, sebaiknya suaminya menceraikannya agar ia bisa menikah lagi. Demi putrinya, Runi.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu alamat rumahnya di Jakarta, tapi ia terus mengirimiku uang tiap bulannya. Aku harus bagaimana ya Ka, sebaiknya?"
"Pikirkan anak, coba Mbak. Kasihan gak punya Bapak."
Leka menggendong Runi dan membawanya ke meja makan. Ia menarik salah kursi dan duduk sambil memangku Runi. Bocah kecil itu segera mengambil botol susunya dari tangan ibunya dan kemudian bersandar sambil meminum susu lewat dot botol susunya. Ia mengikuti percakapan mereka.
"Di cari saja Mbak, ke Jakarta."
"Tapi itu akan lama, mungkin akan makan waktu berbulan-bulan."
"Tidak apa-apa mbak, menetap saja di Jakarta. Biar rumah ini aku yang jaga."
"Aku tidak enak padamu Ika."
"Aku tidak apa-apa Mbak. Coba tolong di pikirkan. Aku pamit ya Mbak?"
Ika mengucapkan salam dan segera pulang dengan menutup pintu depan. Tinggal Leka yang termangu sendirian sambil menatap anaknya yang mulai tertidur.
Runi tertidur dengan menyisakan sedikit susu di botol susunya yang mungil. Leka menarik botol susu itu dari genggaman anaknya dan meletakkan di atas meja. Anak itu telah tertidur sehingga ia langsung membawanya ke kamar. Ia meletakkan gadis kecil itu dengan tak lupa melepaskan jilbabnya yang mulai basah oleh keringat. Ia mengusap kening gadis kecil itu yang sudah basah hingga ke kepala.
Aku ingin mencarinya tapi aku tak tega membawa Runi yang masih terlalu kecil ini ikut denganku. Aku harus bagaimana?
Terdengar suara ketukan di pintu depan. Leka segera berdiri dan menutup pintu kamarnya. Ia segera mendatangi pintu depan.
Siapa malam-malam bertamu di rumahku ya?
Leka mengintip dari jendela. Pria itu ... bagaimana mungkin? Leka segera membuka pintu. "Kau?"
"Leka, kau masih ingat padaku kan?" Pria di depannya, sosok yang sudah lama sekali tidak pernah Leka lihat sejak pria itu pergi 4 tahun yang lalu dan wajahnya tidak pernah berubah. Malah semakin tampan dan berwibawa.
"Candi?"
Pria itu hanya tersenyum. "Maaf, aku baru tahu ayahmu telah meninggal dunia dan aku baru ada di sini sekitar 3 hari yang lalu."
"Oh, tidak apa-apa. Aku mengerti." Leka memberikan senyuman.
Leka, kamu masih saja cantik seperti dulu. Kau makin bersinar dan aku masih belum bisa melupakanmu. "Boleh aku masuk?"
"Tapi ini sudah malam."
"Besok aku ada kerjaan jadi hanya bisa berkunjung malam."
Mau tak mau, Leka membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya. Ia menyilahkan Candi duduk di kursi meja makan karena ia tak punya kursi di ruang tamu.
Candi adalah mantan teman sekolah Leka di SMA. Mereka saling mencintai tapi Leka menolak untuk pacaran. Saat Candi ingin melamarnya ternyata orang tua Candi menolak karena Leka dari keluarga miskin. Candi yang berasal dari keluarga paling kaya di desanya juga telah di jodohkan dengan teman bisnis orang tuanya. Mereka kemudian hilang kontak saat Candi akhirnya menikah dengan pilihan orang tuanya.
__ADS_1