Sungai Rindu

Sungai Rindu
Yang Baru


__ADS_3

Mobil pengantin akhirnya sampai di rumah Kenzo. Leka dan Kenzo turun di belakang sedang Baby Sitter Runi menggendong Runi keluar dari depan. Mobil disopiri Bodyguard Kenzo yang baru sedang sopir mobil pengantin itu terpaksa membawa mobil pria Jepang itu di belakang bersama Bodyguard-nya yang lain.


"Aku ingin mengambil barang-barangku yang sudah dimasukkan dalam tas," ucap Leka.


"Tidak usah. Suruh Baby Sitter-mu saja. Dia bisa bersama yang lain mengurus itu. Tinggal kau ambil Runi darinya. Kita tunggu saja di kamar."


Leka menurut. Ia mengambil Runi. Kenzo membantu Leka memegangi kerudungnya yang menjuntai ke lantai agar istrinya bisa berjalan sempurna. Sebelumnya wanita itu masih bisa berjalan dengan membawa sendiri kerudungnya yang panjang, tapi karena menggendong Runi ia sedikit kesulitan membawa sendiri kerudungnya.


Sesampainya di kamar, Kenzo membantu membukakan kerudung panjang istrinya. Leka menggantinya dengan yang sederhana. "Mmh, kenapa Kak?" Ia melihat Kenzo seperti terpaku saat ia mengganti kerudungnya.


Pria itu baru pertama kalinya melihat istrinya tanpa jilbab dari dekat. Rasa penasaran membuat ia mendatanginya.


"Ah, ngak ...." Kenzo mencoba mendekap istrinya dari belakang yang berada di kursi meja rias tapi sulit, ia terlihat bingung. "Eh, maaf."


Saat Kenzo mundur, Leka langsung berdiri dan melangkah maju dengan meraih tubuh lelakinya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat pria itu terkejut.


"Eh?"


Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher suaminya, berjinjit lalu ....


Cup!


Ia memberi kecupan singkat pada bibir pria itu. Kenzo benar-benar tidak menyangka dengan kejutan ini. Ia membeku.


"Biar tidak penasaran," ucap Leka tersipu-sipu. Ia lalu 'melarikan diri' dengan mendatangi tempat tidur dan menemani Runi yang sedang bermain sendirian.


"Ah ... ya." Kenzo sendiri bingung bagaimana bereaksi dengan kecupan singkat itu, tapi bukan itu yang mengejutkannya. Keberanian istrinya memulai lebih dulu membuat ia bingung bereaksi. Apa ini sifatnya yang asli atau wanita itu berusaha membantunya mencapai tujuannya yang sebenarnya tidak seberani itu. Ia berniat hanya ingin sekedar mendekapnya, dan menciumnya setelah mereka mulai dekat. Leka ternyata telah mendahuluinya.


"Kakak, kenapa berdiri di situ? Apa tidak capek?" Leka memanggilnya ke tempat tidur.


"Eh, ya." Kenzo duduk di tepian tempat tidur, tapi ia masih terlihat bingung.


Wanita itu memperhatikannya. "Kenapa Kak?"


"Eh, tidak." Sejenak pria itu diam. "Maaf kondisiku seperti ini."


"Papa." Runi yang berguling-guling di tempat tidur mulai bosan. Ia berdiri dan menghampiri Kenzo.


Bersamaan dengan itu, Leka juga mendekati pria itu. "Memang, Kakak mau apa Kak?" Wanita itu memberi senyum manja nan menggoda.


Karuan Kenzo makin dibuat bingung karenanya. Apalagi ada Runi di sisinya. Ia hanya bisa menelan saliva. "Eh ...."


"Coba cium Papanya Nak," perintah Leka pada Runi.


Gadis kecil itu menurut saja dengan memeluk leher Kenzo dan mencium pipinya. Leka kemudian mengikuti dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan kembali mengecup bibir suaminya. "Ini bagian bunda kan Nak?" Ia menunjuk bibir pria itu sambil menatap Runi yang tersenyum lebar sambil memamerkan giginya yang belum banyak.


Kenzo akhirnya tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu padanya.


Tak lama Leka membereskan barang-barangnya yang di bawa Ani ke kamar. Rumahnya juga kembali di bongkar dan perabotnya kembali di letakkan di tempat semula.


"Kak, Kakak mau di masakin apa untuk makan siang?" Leka berbaring berdampingan dengan suaminya dengan masih bersama Runi.


"Mmh? Kan ada tukang masak? Lagi pula di luar, pembantu, satpam dan Bodyguard-ku sedang memindahkan barang-barang jadi mungkin sulit buat kamu bergerak. Sebaiknya kita di kamar saja beristirahat. Apa kamu tidak lelah?"


Leka seperti tersenyum dalam kebingungan. "Bingung kalau tidak ada yang dikerjakan." Ia yang biasanya sibuk, malah kebingungan ketika tiba-tiba kehilangan kegiatan kesehariannya.


"Mungkin, mulai dari membersihkan make up, berganti baju yang nyaman dan beristirahat di sini dulu bersama-sama."


"Boleh, juga." Leka meninggalkan tempat tidur dan mengambil pakaian ganti di lemari. Ia berganti pakaian di kamar mandi. Saat keluar, ia mendapati suaminya telah tertidur dengan Runi. Gadis kecil itu tertidur dengan memeluk lengan Kenzo yang tengah di gips. Leka tersenyum melihat mereka berdua tertidur dengan nyenyaknya.


----------++++----------

__ADS_1


Arya mematikan hp-nya. Wajahnya terlihat gusar. Ia baru saja tiba di rumah dan akan berganti pakaian, tapi setelah menerima telepon ia berpikir ulang untuk tidak menggantinya.


"Kenapa Mas? Kok bengong?" Mariko yang baru masuk kamar melihat suaminya yang diam mematung di tepian tempat tidur.


"Kakakku, Kak Puput. Suaminya kena stroke hingga badannya sulit bergerak."


"Ya allah ... Lalu?"


"Ia menyerahkan perusahaannya padaku. Itu kan perusahaan milik Ayah, sedang Ayah juga sakit-sakitan di Jogja. Untung ada istri barunya yang merawatnya. Mengenai perusahaan itu ...." Arya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin nanti aku urus setelah pulang dari Jepang saja. Lusa kan kita ke Jepang mengantar Otousan(Bapak)."


"Mmh."


"Ayo, kita tengok dulu suami Kak Puput di rumah sakit. Anak satu-satunya yang perempuan itu juga lagi di pesantren, jadi gak bisa keluar nengok orang tuanya di rumah sakit." Arya menarik Mariko keluar kamar.


"Ya sudah."


----------+++----------


Kenzo terbangun saat menyadari sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Awalnya ia terkejut melihat Runi dan Leka sedang tidur di sisinya tapi kemudian ia baru menyadari bahwa ia baru saja menikah. Tentu saja mereka ada di kamarnya tertidur di sampingnya.


Senang rasanya melihat wajah-wajah mereka yang selalu dirindukan kini terbaring tidur di sampingnya. Hingga saat inipun ia masih tak percaya, keduanya ada di kamarnya. Tak perlu lagi merindu. Karena kalaupun rindu, sungai kecil dan sungai besar itu telah menunggu dan siap untuk mengalirkan rindu-rindunya melalui canda tawa bahagia dan kehidupan mereka bersama.


Aneh tapi nyata. Saat mencoba ikhlas dengan apa yang mungkin hilang, Allah menggantinya dengan yang lebih indah. Pernikahan. Ini sesuatu yang tak pernah ia tahu karena selama ini Leka tidak pernah berterus terang tentang perasaannya padanya. Setelah melamarnya barulah ia tahu, istrinya juga punya perasaan yang sama dengannya. Dulu ia mengira, Leka menerimanya jadi pacar karena ia adalah seorang majikan. Ada rasa enggan dalam diri wanita itu hingga kemudian wanita itu mulai menjauhinya.


Jodoh memang sulit ditebak. Saat berkali-kali memisahkan diri, berkali-kali itu juga mereka kembali dipertemukan. Seiring berjalannya waktu, Allah mempersatukan mereka.


"Kak, sudah bangun?"


"Mmh."


"Sebentar lagi Zuhur, kita sholat sama-sama ya Kak?"


"Eh, iya? Panggil apa ya?"


"Panggil 'Mas' seperti ayahku."


Leka tersenyum.


"Kenapa?"


"Rasanya aneh saja ada orang Jepang yang dipanggil Mas."


"Oh." Kenzo melirik Leka. "Tapi rambut asliku sedikit pirang."


"Oh, masa?"


"Ini Rambutku dihitamkan karena permintaan Ayah, biar mirip Ayah."


Leka mengangkat tubuhnya sedikit dan mengerut alis menatap Kenzo.


"Kenapa?"


"Kenapa rambut aslimu pirang? Apa ada keturunan orang bule?"


"Ayah kandungku. Ia orang Itali."


"Oh, kau juga bisa bahasa Itali?"


"Oh, cuma sedikit."


"Wow, kau hebat sekali bisa macam-macam bahasa."

__ADS_1


"Tidak juga. Karena aku berbisnis dengan banyak orang jadi mau tak mau bisa dengan sendirinya. Kamu pun pasti bisa seiring waktu, karena akan mendengarnya setiap hari."


Leka menatap Kenzo. "Aku tak bisa membayangkan kalau rambutmu pirang. Rasanya aneh."


Kenzo tertawa. "Jangankan kamu, aku pun merasa begitu."


Mereka berdua tertawa.


"Leka ...."


"Mmh?"


"Terima kasih kamu mau menerima lamaranku."


Leka menjatuhkan padangannya karena malu. "Itu karena aku suka sama Kakak, eh Mas."


"Aku mencintaimu."


"Aku pikir Kakak, eh Mas membenciku karena Mas pergi terus ke luar negri sejak kejadian itu."


Kenzo kembali teringat saat Leka di bawa kembali oleh Aska karena pria itu mengaku bahwa Leka adalah istrinya saat itu. "Aku mencintaimu."


Leka pelan-pelan mengangkat pandangannya pada pria di hadapannya itu, ia mencoba memastikan.


"Aku mencintaimu Leka. Aku sangat mencintaimu. Aku pergi karena berusaha melupakanmu. Aku pikir aku adalah penghalang kamu berbaikan lagi dengan mantan suamimu, karena aku merasa akulah manusia penggoda itu."


Leka kehilangan kata-kata. Ia mencoba menggapai tangan Kenzo. Sebaliknya, pria itu meraih tangan istrinya dan menciumnya dengan sepenuh hati. "Bahagianya aku, kau menerimaku jadi suamimu."


Leka menitikkan air mata. Tentu saja air mata bahagia. Belum pernah selama hidupnya ia sebahagia ini. Ia berharap pernikahan ini sekali untuk selamanya. Hingga maut memisahkan mereka dan tuhan mempertemukan mereka kembali di surgaNya.


Azan Zuhur berkumandang. Mereka berdua bangkit memenuhi sholat zuhur dan meninggalkan Runi yang masih tidur sendirian di atas tempat tidur. Sholat dengan imam yang baru dan kebahagiaannya yang menanti mereka di muka.


Sehabis sholat, Kenzo membawa istri dan anaknya ke rumah Arya tapi Ayahnya sedang tidak ada. Akhirnya Kenzo makan siang dengan membeli take away untuk adik-adiknya Tama dan Aiko serta Ojiichan. Sambil makan siang mereka mengobrol di meja makan. Runi juga menyelesaikan minum susunya sebelum bermain dengan Aiko.


"Kak, kenapa cincinnya tadi gak dipakai?" Tama mengingatkan.


"Oh, ada nih cincinnya Kakak kantongi. Kakak beli di Milan. Waktu itu Kakak asal beli saja, niatnya untuk melamar. Kakak tidak terpikir akan diterima jadi mungkin tidak muat atau kebesaran." Kenzo mencoba mengeluarkan kotak kecil itu dari kantong celananya tapi tak bisa karena tangannya di gips.


"Sini Kak." Tama membantu mengeluarkan. "Coba Kak, pakai Kak. Kali aja muat."


Tama dan Aiko membantu memasangkan cincin polos tanpa nama itu pada jari Kenzo dan Leka, dan ternyata pas. Mereka bertepuk tangan termasuk Ojiichan.


"Jodoh ini Kak!"


Wajah Leka dan Kenzo terlihat malu-malu tapi bahagia.


"Inshaallah," ucap Kenzo dengan senyum bahagianya.


Tak lama mereka pamit dan kemudian pergi mendatangi hotel tempat kerabat Leka menginap. Leka memperkenalkan Kenzo, suaminya dan mengobrol bersama mereka hingga waktu makan malam tiba. Mereka sempat makan malam bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah.


Di perjalanan pulang, Leka bersandar pada lengan suaminya itu. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Kenzo.


"Kau lelah?"


"Tidak, aku hanya ingin bersandar padamu."


_____________________________________________


Masih dengan novel romantis yang bernuansa balas dendam dan nikah beda usia ini, adalah salah satu novel karya Liana Kiezie yang baru, cocok untuk pilihan teman minum teh atau lagi bete. Cus kepoin kuy.


__ADS_1


__ADS_2