Sungai Rindu

Sungai Rindu
Kalah


__ADS_3

"Tapi kau tidak boleh lari dari tanggung jawab." Aska masih menahannya.


Kenzo menarik sudut bibirnya. "Di sini kan banyak pegawai yang sudah tahu pekerjaannya. Leka masih baru, bisa belajar dengan yang lain. Kalau mau cepat pulang juga tidak masalah karena pegawai baru gajinya masih dihitung perjam."


"Oh." Aska akhirnya memberi jalan Kenzo dengan ragu-ragu.


Kenzo segera berlalu, ia melangkah ke luar restoran.


"Sayang, kamu pulang saja. Nanti gajimu perjamnya aku ganti."


"Kamu gimana sih? Kau mulai mengaturku? Aku sedang bekerja di sini, jangan ganggu aku!" ucap Leka setengah berbisik. masalahnya masih ada tamu yang makan di sana yang butuh ketenangan.


"Bukan begitu Sayang. Aku takut kau sakit. Kau dari tadi bekerja terus padahal kau belum makan malam." Aska mengecilkan volume suaranya.


"Bukan urusanmu!" umpat wanita itu kesal. Sekilas ia melirik ke arah pintu depan melihat sosok kenzo yang hilang di balik pintu. Ia kemudian kembali fokus pada pekerjaan.


Ya allah, kenapa begitu cepat kau pergi? Apa kita masih bisa bertemu lagi? Kelopak matanya memanas, tapi ia coba tahan.


Kenzo masuk ke dalam mobil yang dikendarai Bodyguardnya. Mobil bergerak meninggalkan restoran. Kenzo berusaha tak melihat ke belakang, menguatkan diri mampu melewati semuanya.


Malam semakin larut. Leka, Runi beserta Baby Sitter-nya diantar Aska pulang ke rumah.


"Besok aku tidak bisa mengantarmu tapi aku bisa menjemputmu pulang, seperti hari ini."


"Tidak perlu! Aku kan minta kamu tidak usah menggangguku dulu." ucap Leka membuka pintu mobil, tapi sebelum pintu terbuka Aska meraih lengan Leka hingga tubuh wanita itu bergerak mundur. Kesempatan itu dipakai pria itu untuk mengecup pipi Leka.


"Stor kiss."


Baby Sitter dan Runi telah keluar sehingga tidak melihat kejadian itu.


"Bang ... kita bukan mahramnya!"


"Kecuali kau menerimaku kembali."


Leka mengerucutkan mulutnya.


"Ayolah Sayang, kenapa kamu ngambek sedemikian lamanya. Aku sudah lelah berusaha mengerti kamu, tapi aku tak kunjung mengerti juga."


Leka tak menjawab. Ia segera keluar.


"Dagh Sayang." Aska melambaikan tangan dengan senyum termanisnya. Mobil pun berlalu.


Leka tak peduli. Ia segera membuka pintu pagar, tapi sebelum masuk, ia menatap rumah besar di sampingnya itu. Kenzo, apa benar-benar kau akan pergi?


Leka membiarkan Baby Sitter itu masuk lebih dulu membawa Runi.


Walau sudah larut malam, Leka sulit memejamkan mata. Pikirannya mengembara, mengingat keputusan Kenzo. Kenzo, maafkan aku. Apa karenaku kau pergi? Kalau kau pergi memang benar-benar karena untuk bekerja, aku harap kau cepat pulang dengan selamat. Kenzo, aku doakan kamu selalu dalam lindungan tuhan. Amin.


Leka bergeser mendekati Runi. Di dekapnya gadis kecilnya itu sebelum ia benar-benar bisa tertidur.


Kenzo sama sekali tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Keputusannya sudah bulat, ia tak ingin menengok ke belakang. Ia berharap suasana baru di luar sana bisa membuatnya melupakan Leka.


Pagi itu, sehabis sholat subuh, Leka membuka gorden ruang tamunya. Ia melihat mobil Kenzo melintas di depan rumahnya.


Kenzo ... Leka hanya bisa menghela napas melihat mobil itu pergi.


Pagi itu pesawat ke Milan berangkat tanpa kendala. Kenzo menatap dari jendela, pesawat naik pelan-pelan meninggalkan Jakarta. Cakrawala terlihat cerah dengan awan berarak mulai menutupi kota yang memberinya banyak kenangan yang indah dalam hidupnya. Akankah ia sanggup pulang kembali ke sini?


Leka, maafkan aku. Aku tidak bisa mendampingimu dan membantumu lagi, tapi sebagai gantinya, ada orang tua Aska yang datang membantu. Doakan saja aku. Doakan aku bisa melupakanmu dan Runi agar kamu bisa melanjutkan hidupmu lebih baik lagi tanpa diriku. Leka, semoga kau bahagia.


----------++++----------


Aska baru saja keluar dari toilet ketika hp-nya berbunyi. Ia tidak mengenali nomor yang dilihatnya. "Halo."


"Halo, Bapak Aska?"

__ADS_1


"Iya, dengan saya sendiri."


"Iya, begini Pak. Kami dari perusahaan Turi Plastik, ingin menanyakan kabar tentang kerjasama proyek pengadaan plastik kemasan untuk Frozenfood-nya Pak, bagaimana hasilnya?"


Oh, wanita brengsek yang menyiram Leka waktu itu ya? Huh! Bodoh! Masih bertanya saja.


"Maaf, sepertinya tidak berminat ya?"


"Tapi Pak, kami sanggup menurunkan harga dari harga pasar Pak."


"Tapi maaf ...."


"Bagaimana kalau kita bagi keuntungan Pak, berapa persen untuk Bapak."


"Untuk apa? Perusahaan ini milik orang tua saya, kenapa harus pusing?"


"Tapi di banding gaji seorang Manager, berapa sih Pak? Kami sanggup memberi keuntungan setara gaji Manager setahun, setiap transaksinya."


Tawarannya cukup menggiurkan, tapi ia bergeming.


Aska berdehem sambil merapikan dasinya. "Sebentar lagi jabatanku juga naik, untuk apa aku pusing masalah ini."


"Oh, begitu Pak. Maafkan kalau begitu, tapi kalau-kalau bapak berubah pikiran, kami siap melakukan negosiasi kembali."


Ia mematikan hp-nya. "Huh, ada-ada saja."


Ia masuk ruangan. Di sana terjadi keriuhan. Semua orang bersorak-sorai.


"Ada apa?"


"Oh, Zaki terpilih jadi GM." jawab salah seorang staf pria.


"Ah, yang bener?"


"Iyaaa. Tuh ... lihat."


" Oh, iya. Makasih Ka."


Aska kembali ke tempat duduknya. Ia kesal. Sebegitu banyak pengorbanan dalam hidupnya sampai-sampai rumah tangganya kini berada di ujung tanduk, ia tidak menang. Ia bahkan kehilangan istrinya. Posisinya sebagai anak PresDir juga bukan jaminan untuknya mendapatkan posisi itu.


Ia melihat kemenangan yang kini di raih sahabatnya. Biarlah. Toh, temannya yang satu ini memang kompeten di bidangnya. Ia tahu, Zaki walaupun hidupnya berantakan setelah beristri dua, ia tetap bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Bahkan sejak hidupnya porak-poranda ia sepertinya fokus pada pekerjaan. Mungkin ini yang menjadikan temannya mendapatkan posisi ini.


Di sore hari, kembali Aska di ganggu oleh sebuah telepon. Ia melihat itu dari nomor yang sama. "Ya, halo ...."


"Bagaimana kalau kita ketemu dulu, Pak?"


Heh, pantang menyerah juga orang-orang ini? Baiklah, dari pada gak ada hiburan setelah kekalahan. Leka juga masih lama, pulangnya agak malam. Kalau ditemani dia agar sedikit cemberut sekarang. Entah kenapa dia punya konsep 'gila' ingin sendiri sedangkan wanita yang sudah janda harusnya merasa kesepian. Seperti aku yang butuh 'dihibur' setelah kekalahanku ini. Lagipula, kini tak ada lagi Kenzo yang akan menjadi ancaman buatku di sisi Leka, jadi aku tak perlu mengawasi mantan istriku itu dengan begitu ketat. "Di mana?"


Pria itu menyebut nama sebuah hotel. Aska menutup hp-nya. Ia akhirnya datang ke tempat yang dituju sepulang kantor.


Sebuah kafe dengan konsep sedikit temaram seperti klab malam, Aska mencari-cari siapa yang menghubunginya tadi siang.


"Pak Aska!"


Panggilan itu membuat Aska menoleh ke salah satu sudut ruangan. Dua orang pria muda dengan pakaian kantor duduk menantinya.


"Oh, ya." Aska datang menghampirinya. "Apa kalian dari pihak perusahaanTuri?" tanyanya, karena ada seorang lagi wanita yang berparas cantik tapi dengan pakaian yang terbilang seksi.


"Oh, iya. Saya Bagus dan teman saya Ratip, Pak." Pria itu berdiri dan bersalaman bersama temannya dengan Aska. "Dan ini Celine." Pria itu memperkenalkan pada wanita itu. "Silahkan duduk Pak." Pria itu memberi tempat duduk di samping wanita itu.


Aska kemudian duduk. Pria itu kemudian memanggil pelayan untuk menyediakan minuman yang telah ia pesan sebelumnya. Pelayan itu membawakan minuman yang telah di pesannya.


"Silahkan di minum dulu Pak," ucap pria itu.


Aska melihat minumannya sedikit berbeda dari yang lain. Di sajikan di gelas yang lebih kecil dan berwarna putih. Ia langsung menegak banyak. "Hoek, apa ini? Rasanya tidak enak. Aku pikir air mineral." Ia memperhatikan gelasnya.

__ADS_1


"Oh, tidak Pak. Ini rasanya enak kok. Coba Bapak minum lagi."


Aska mencoba sekali lagi. Rasanya tetap sama, hanya kepalanya mulai pusing saat ia meminum untuk kedua kalinya. "Benar, sama." Saat itu ia mulai mabuk. "Jadi kalian mau bicara apa?"


"Begini Pak. Oh, tapi minuman Bapak tinggal sepertiga. Saya tambahkan dulu ya Pak." Pria itu memanggil pelayan tadi untuk membawakan botolnya langsung agar bisa menambahkannya sendiri.


"Minuman ini sedikit pahit di mulut. Tidak enak." Aska terlihat mabuk, dari suaranya terdengar jelas. "Bikin pusing kepala, tapi tidak apa-apalah. Aku coba lagi." Ia menuang sendiri minumannya dan meminumnya.


"Eh, nona ini bisa memijat kepala Bapak kalau Bapak sakit." Pria itu memberi kode kepada wanita itu untuk segera beraksi.


Wanita itu dengan senangnya bergelayut di bahu Aska yang kokoh itu. Pria tampan yang sedang mabuk, siapa yang tidak mau?


"He, kau mau apa?" Aska tersenyum pada wanita di sebelahnya.


"Ya mau disayang lah Pak," ucap wanita itu genit.


Aska menarik pinggang Celine hingga wanita itu tersenyum malu.


Bagus mengeluarkan hp-nya dan hendak mengambil foto Aska, tapi tiba-tiba seorang wanita cantik datang menggebrak meja.


"Hei, berani-beraninya kalian memperdaya teman saya!"


Bagus terkejut. Begitu juga temannya.


"Mau kulaporkan polisi, hah??" gertak wanita itu.


"Eh, enggak mbak." Tubuh pria itu mengkerut.


"Pergi sana!"


"Eh, iya mbak." pria itu dan temannya terlihat ketakutan dan langsung pergi.


Wanita yang bernama Celine itu juga terlihat bingung dan ketakutan.


"Semuaa!!!"


Wanita penghibur itu segera bergeser dan pergi.


"Ho, hebat juga aku ya? Berhasil menakut-nakuti mereka." Wanita itu terlonjak senang.


"Eh, kenapa mereka pergi ... semua," Aska terlihat bingung. Ia benar-benar mabuk. Ia menatap wanita di depannya. "Monique, kenapa kau mengusir mereka semua. Aku jadi tak punya teman ...." Bicaranya mulai ngawur.


Monique mendekat dan duduk di samping Aska. "Ka, mereka orang jahat. Kenapa kamu berteman dengan mereka?"


"Aku kesepian, aku tidak punya teman, huhuu ...." Aska menangis seperti anak kecil di hadapan Monique. Ia kemudian bersandar di bahu wanita itu.


Monique memeluknya. "Memang kamu kenapa?"


"Aku kalah. Temanku yang mendapatkan posisi GM itu. Padahal aku sudah bekerja keras untuk itu." Kembali Aska menangis.


"Ya sudah, aku ada di sini untuk menghiburmu." Wanita itu tersenyum senang.


"Sungguh?" Aska menghapus air matanya.


"Iya. Kau mau makan apa?" Monique melingkarkan tangannya pada lengan Aska.


"Aku mau pulang."


"Lho kok pulang? Kamu kan gak bisa nyetir. Kamu mabuk. Bahaya kalau menyetir."


"Tapi aku mau tidur saja, aku sediiih ...." Kembali Aska menangis.


"Ya sudah, menginap saja di hotel ini."


_____________________________________________

__ADS_1


Bagi pembaca novel ini yang merasa tokoh di novel ini banyak, sebenarnya gak juga karena ini sambungan dari novel sebelumnya, Senandung Cinta Jilbab Reina 1 dan 2 yang mengisahkan tokoh, Reina-Chris, Arya-Mariko dan Rafi-Anna. Sungai Rindu adalah season 2 tentang anak keturunan mereka. Bagi yang kurang familiar dengan tokoh-tokohnya di sarankan untuk membaca dulu novel Senandung Cinta Jilbab Reina agar bisa mengerti jalan ceritanya. Jangan lupa beri semangat Author dengan like, vote, komen, hadiah dan juga koin.😁 Terima kasih. Salam, Ingflora💋


__ADS_2