
Leka mengambil hp-nya. Saat ia ingin mengetik dengan ujung jarinya, ia berpikir sebentar. Tentang Runi, tentang pernikahannya, tentang keinginannya dan akhirnya ia sampai pada satu kesimpulan yang sudah dibulatkannya.
Hp Kenzo berbunyi. Pria itu membukanya. "Eh, maaf. Dia memilih untuk menetap di Jakarta dan bekerja di restoran kami." Ia menyerahkan hp-nya pada Chris. Pria bule itu sempat mengerutkan dahi tapi menerima hp itu dan membacanya. Pria ini, dia ada di antara Leka dan Aska dan punya kesempatan yang sama besarnya bila Aska salah melangkah. Mmh ....
"Terima kasih." Chris mengembalikan hp Kenzo.
Aska yang berdiri dekat kursi sofa terlihat geram melihat Leka mengirim pesan pada Kenzo, tapi apalah daya, Leka sudah lepas dari tangannya akibat tindakannya sendiri sehingga cemburunya harus ia redam karena sia-sia.
"Ok, sekarang teknisnya biar kami laki-laki yang mengurusnya. Kalau nanti ada pertanyaan kamu bisa bicara dengan kami langsung, para orang tua." Chris memberi kode Kenzo dan Arya untuk berkumpul di sofa tamu untuk pembicaraan selanjutnya.
Duduk di kursi sofa, Aska, Arya, Chris dan Kenzo membicarakan rumah yang akan di sewa Chris. Arya mengusulkan sebuah rumah mungil yang masih kosong yang kebetulan terletak di samping rumah Kenzo. Rumah itu hampir di beli orang tapi di cancel(tidak jadi). Rumah lainnya yang kosong letaknya sangat jauh dan tidak strategis tempatnya. Kemudian Chris akan mengisi rumahnya dan Kenzo menyumbang satpam penjaga rumah dan Aska tetap menyewa Baby Sitter itu, lalu kesepakatan selesai. Chris, Arya dan juga Kenzo kemudian sibuk menyiapkan dengan menelepon agen yang dituju. Arya menelepon kantornya, Chris menelepon designer interiornya dan Kenzo menelepon agen penyedia jasa sekuritas. Hanya aska yang sibuk memikirkan langkah selanjutnya.
"Jadi wanita itu istri Kak Aska?" Salwa terlihat syok mendengarnya dari Nena.
"Iya. Namanya siapa ya tadi?" Nena coba berpikir.
"Leka." sebut Salwa lemas.
"Oh, iya."
"Oh, I love this. Secret wife, like in a novel.(Oh, aku suka ini. Istri rahasia, seperti di novel-novel)" David tersenyum.
"Oh, Grandpa ...." Nena hampir tertawa.
"Kok Kakak gitu sih, udah main rahasia-rahasiaan sama aku. Udah punya anak berarti sudah berapa tahun aku dibohongi ya?" Salwa menebak-nebak.
"Mungkin 2 - 3 tahun."
"Anaknya masih kecil jadi mungkin sudah 2 tahun."
"Itu tandanya kamu sudah dewasa." Rojak yang sedari tadi diam kini ikut bicara.
"Apanya? Kok sudah dewasa malah berbohong?" Salwa mengerucutkan mulutnya.
"Karena ada sesuatu yang ingin dilindunginya, dibahagiakan, dan dibantu tanpa orang itu perlu tahu ia sudah mengusahakannya."
"Siapa?"
"Siapa saja."
"Ah, kamu mah, pakai bahasa susah. Aku gak ngerti."
Rojak tertawa. "Sebenarnya semua tergantung dari bagaimana hubunganmu dengan Kakakmu. Deket gak?"
"Kan kami kembar."
"Buktinya kamu gak tau kembaranmu sudah nikah."
"Kenapa jadi serius gini ngomongnya dah?" Sekarang Salwa yang mengeluarkan bahasa Betawinya.
"Habis aku bingung, keluargamu banyak yang bule. Ntar gua ngomong asal-asalan pada gak ngerti." Rojak mengusap belakang kepalanya.
"Oh, pacarmu orang Betawi ya Sal?" Nena tersenyum.
"Banget!"
Nena tertawa.
"Tapi Grandpa tahu kok, bahasa Betawi." ujar David.
"Alhamdulillah dah ...." ucap Rojak senang.
Mariko mematikan hp-nya. Ia kemudian menceritakan kepada anak-anaknya berita dari Ayah mereka.
"Asyik kita tetanggaan!" Aiko meloncat-loncat.
"Kak Aska jadi gimana Ma?" tanya Tama. Ia khawatir pada Kakaknya yang satu lagi.
__ADS_1
"Katanya mau coba rujuk."
"Siapa yang suruh?" Aiko mendekati meja makan dan bersandar padanya.
Mariko yang duduk di kursi di samping meja makan, meletakkan tangannya di atas meja. "Aska sendiri yang mau."
"Lho, dia yang memceraikan istrinya sekarang minta balik. Gimana sih?" Aiko semakin bingung.
"Mungkin khilaf, Mama gak tau." Mariko berdiri dan pergi ke kamar.
"Mama mau ke mana?"
"Mama mau ambil kunci rumah yang di samping rumah Jo, di kantor Ayah." ucap Mariko dari dalam kamar. Ia keluar dengan membawa kunci motor.
"Sini Ma, aku anterin." Tama mengambil kunci motor dari tangan ibunya.
Sementara itu designer interior yang di hubungi Chris datang dan pergi lagi bersama Chris keluar.
Reina menoleh pada Aska yang duduk santai di kursi sofa sibuk dengan hp-nya sementara Runi diurus Baby Sitternya. "Ka, coba kamu belajar mengurus anakmu, selagi kamu di sini."
"Oh, i-iya Map." Aska sedikit kesal Arya dan Kenzo memperhatikannya karena ia memang tidak begitu dekat dengan Runi.
Kenzo yang menyadari segera berdiri. "Yah, apa kita pulang saja ya?"
"Aku menunggu berita dari Uda Chris." Namun Arya melihat keengganan Kenzo berada di sana sehingga ia mencari jalan keluar. "Mmh, kita menunggu di kantin saja. Tanggung pulang. Sebentar lagi Jum'atan."
Arya dan Kenzo keluar. Leka yang memperhatikan dari pembaringan, melihat keluarga kecilnya telah terbelah dua. Disaat keluarga kecilnya akan diakui, badai datang bertubi-tubi menerpanya. Penghianatan, kecelakaan dan perceraian. Ia sudah tidak bisa lagi membedakan, mana yang benar mana yang salah, semuanya terasa sama. Sama-sama menyakitkan.
Ia melihat Runi sedikit nyaman dengan neneknya, Reina. Gadis kecil itu dipangku dan mendengarkan neneknya itu bicara.
Ah, sayang sekali. Ini adalah mimpi buruk yang belum berakhir. Walaupun mantan mertuanya akan menafkahinya, tapi tak pelak lagi kini hidupnya hancur lebur tak bersisa. Ia kini adalah seorang janda, yang tidak punya tempat tinggal dan menumpang karena kebaikan hati mantan mertuanya. Rasanya hidupnya sangat menyedihkan sekali mendapat belas kasihan mantan mertuanya. Ingin rasanya ia menghilang dari situ, dari semua orang yang di kenalnya di situ tapi ada Runi. Ia harus memikirkan Runi.
Lama Leka berpikir keras. Ia yang kini janda bertekad ingin berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia sudah tidak mau lagi berhutang budi dengan orang lain, ia benci di kasihani, ia sudah muak. Hanya satu nama yang saat itu terlintas di kepalanya. Wanita itu kemudian mengeluarkan hp-nya dan mengirim pesan pada seseorang.
Arya dan Kenzo sedang berada di kantin. Di sana juga ada Chris dan designer interiornya berdua sedang berdiskusi. Hp Kenzo berbunyi. Ada notif masuk. Pria itu sedikit terkejut karena setahunya, hanya nomor Leka saja yang notifnya di nyalakan. Apakah mungkin ....
Kak, tolong aku. Aku tidak jadi pindah ke rumah yang ditunjuk mantan mertuaku. Tolong mintakan semua pakaianku pada Bang Aska. Aku akan pilih sendiri rumah yang akan aku sewa.
Arya tentu saja terkejut tapi ia ingat nasihat Chris. "Ia percaya padamu, kamu bagaimana?" Ia mengembalikan hp anaknya. "Kau harus belajar berpikir sendiri sekarang, dan bertanggung jawab atas perbuatanmu."
Kenzo sedikit bingung dan terdiam sejenak. Ia kemudian berdiri dan mendatangi meja Chris. Ia menerangkan pada Chris perubahan itu.
"Apa? Dia tidak mau? Tapi dia mau pindah ke mana? Dia kan membawa cucuku, aku kan berhak tahu." Chris benar-benar terkejut dengan keputusan Leka yang tiba-tiba berubah itu.
"Aku tidak tahu Om, hanya bisa menyampaikan."
Chris menyandarkan punggungnya dan menarik napas panjang. Sekarang segala sesuatunya kembali ke titik nol. Sebenarnya apa yang terjadi, hingga mantan menantunya itu berubah pikiran.
Ia kemudian meminta designernya pulang. Wanita itu kemudian pamit pada Chris dan pulang.
"Apalagi yang di mintanya?"
"Oh, iya. Pakaiannya pada Aska."
Chris tercenung mendengarnya. "Terdengar seperti ingin memisahkan diri?"
Kenzo mengangkat bahunya dengan wajah tidak tahu.
"Apa sebaiknya kita ke sana?"
"Terserah Om saja, aku ikut saja."
Mereka bertiga kemudian kembali ke ruang perawatan Leka.
"Leka, apa yang terjadi, apa yang kamu inginkan?" Chris segera mendatangi wanita itu di tempat tidurnya.
Reina yang sedang memangku Runi, terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Begitu pula dengan Aska. "Ada apa Pa?" katanya, berdiri.
__ADS_1
Leka kembali mengirim pesan pada Kenzo. Maaf, tolong aku ingin sendiri.
Kenzo memperlihatkan pesannya pada Chris.
"Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Chris khawatir.
Leka menggeleng. Terdengar azan Zuhur.
"Astaga, sekarang kan Jum'atan? Kita sudah telat, ini." Chris segera bangun dari duduknya.
Aska, Chris, Arya dan juga Kenzo buru-buru keluar ke masjid terdekat, tinggal Reina dan Runi beserta Baby Sitternya duduk di sofa.
Sepeninggal mereka, Reina sambil menggendong Runi mendatangi Leka di tempat tidurnya. Ia menatap Leka dengan rasa iba.
"Apa anak Ibu telah sangat-sangat melukaimu?"
Mata Leka berkaca-kaca.
"Maafkan dia ya? Ibu tidak bisa apa-apa selain meminta maaf."
Leka mengedipkan matanya.
"Mungkin kau masih sangat terluka. Apapun yang kamu putuskan Ibu minta, jangan jauhkan kami dari cucu kami ya?" Reina mengusap dahi wanita itu.
Leka meneteskan air mata yang mengalir hingga membasahi bantal tidurnya. Ia kembali mengedipkan matanya.
Setelah Jum'atan, Chris dan Aska kembali dengan membawa makan siang. Reina menyentuh tangan suaminya. "Apa yang di minta Leka?"
"Ia mau memilih sendiri rumah yang mau di sewanya, tapi ia tidak bilang di mana. Ia juga minta pakaiannya di kirim ke sini semua." Chris juga menoleh pada Aska.
Aska terkejut. "Kenapa ke sini?"
"Papa tidak tahu."
"Berikan saja yang diminta, mungkin ia masih syok." terang Reina.
Aska diam tak menjawab. Ia kembali mendekati anaknya. "Runi, sini. Mau disuapi Ayah gak?"
Runi makan suapan Aska. "Om, Om!" Gadis kecil itu memainkan tutup makanan.
"Kenapa anakmu memanggilmu 'Om'?" Chris terlihat heran.
"Iyaaa ... sudah terlanjur Pa. Jadi susah." Aska menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Tapi tadi memanggilku 'Nenek' bisa. Coba panggil Nenek. Ne-nek ...." Eja Reina.
"Nenek."
"Ayah ...." ucap Aska.
"Bukan, Ayah." sahut Runi.
Chris dan Reina tertawa.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Chris.
"Papa ...." Aska merajuk.
Chris semakin terbahak. "Salahmu sendiri, mengajari anak berbohong."
Arya dan Kenzo sedang makan di kantin. Arya menatap Kenzo ingin tahu. "Apa kau jadi ke luar negri?"
"Tidak tahu Yah. Aku bantu Leka dulu."
Arya mengangguk. Seusai makan, mereka kembali ke ruang perawatan Leka. Wanita itu sedang tidur.
"Ah, aku akan mengambilkan pakaian Leka, jadi tolong jaga di sini," ucap Chris pada Arya.
__ADS_1
"Ok."
Chris, Aska dan Reina pergi bersama, tinggal Runi bersama Baby Sitternya menunggui Leka.