
Chris mengangkat hp-nya. "... Oh, aku sedang di toko bunga sama istri. Ada apa? Mau ke sini ya? Mmh ...." Dari kursi di beranda, ia melambaikan tangan ke arah perparkiran. Di situ ada Aska yang turun bersama Zack dan Lydia dari mobil milik Aska. Zack dan Lydia berlari ke arah Chris.
"Papa, aku dibeliin es krim sama Kakak," sahut Zack memperlihatkan bungkusan plastik yang di bawanya. Plastik tembus pandang itu berisi sebuah wadah es krim berukuran sedang.
Chris memanggil Aska dengan tangannya. Pria itu mendekat. "Apa Pa?"
"Ada Aska di sini." Chris memiringkan hp-nya. "Kau sudah makan?"
"Belum, tapi nanti saja."
"Mau pecel ayam atau pecel lele?"
"Ha?"
"Arya mau bawa makanan. Dia sedang makan itu, katanya enak. Kau mau coba?"
"Boleh juga. Ayam saja."
"Ya sudah, 2 pecel ayam Ya. Iya ... ok." Chris menutup teleponnya.
"Kenapa cuma dua? Mamap enggak?"
"Oh, Papa dan Mamap sudah makan tapi hanya penasaran saja. Lagipula rasanya aneh kalau pesan hanya 1 bungkus saja."
"Oh."
Chris, ayah angkat Aska, bule yang beribukan orang Indonesia. Banyak makanan Indonesia yang ia tidak tahu tapi sangat antusias kalau di tawari. Apalagi sejak menikah dengan ibu sambung Aska, ia mencoba makanan pedas.
"Kamu makan apa sih, belum kenyang makan di rumah, beli es krim sebesar itu?" Tanya Chris sambil meneliti apa yang di makan Lydia dan Zack di hadapannya. Zack makan es krim dengan Lydia dari wadah yang sama.
"Kan satu berdua?" Mulut Zack mulai kotor dengan es krim.
"Iya." Mulut Lydia tak kalah kotor.
Untung saja di dalam plastik disediakan tisu.
"Itu lap dulu mulut kalian." Chris mengingatkan.
Anak-anak mengambil tisu dan mengelap mulut mereka.
Aska masuk ke dalam toko dan melihat ibunya sedang merangkai bunga untuk pelanggan. Ia kemudian melangkah mengitari rak-rak di dalam toko.
"Kakak?"
Dilihatnya Salwa sedang merapikan sebuah rak.
"Tumben di sini." Aska menghampiri.
"Sekali-sekali lah Kak."
"Ngak pacaran?"
"Sama Kak Evan? Dia lagi ada keperluan."
"Asal jangan punya pacar lagi aja di luar sana."
"Eh, enak saja kalau ngomong." Salwa menciprati Aska dengan air dari ember di dekatnya.
Aska menghindar dan tertawa.
Tak lama Arya datang dengan keluarganya. Tama segera turun dan mendekati Chris. "Papa." Ia memeluk Chris.
Chris pernah menolong Mariko yang koma hingga melahirkan Tama. Pemuda itu diasuh Chris hingga umur 4 tahun. Tama kemudian diambil lagi oleh Mariko setelah bangun dari komanya dan menikah dengan Arya. Chris masih sering mengunjunginya, atau Tama mengunjungi Chris karena merasa masih keluarga.
"Kamu dari mana tadi?"
"Olah raga Pa."
"Bohong ya! Olah raga apa itu, cuma sebentar." Aiko datang menyusul.
"Ih, kan olah raga juga."
"Ngak lah."
__ADS_1
"Eh, sudah-sudah. Kok bertengkar dari tadi gak selesai-selesai?" Arya menyusul dengan Mariko menghampiri. "Ini." Ia meletakkan bungkusan plastik di atas meja kayu di beranda.
Aiko melihat Zack dan Lydia sedang makan es krim mengelilingi meja. Matanya berbinar ceria. "Es krim ya? Mau dong!" Ia segera duduk di samping Zack.
Zack memberikan sendoknya. Aiko dengan senang menyendoki es krim itu ke mulutnya. "Mmh, enak."
"Iyalah, es krim." Zack menyandarkan punggungnya.
Lydia terus memperhatikan Aiko yang menyendoki es krim sementara Zack hanya diam saja melihat. "Hei, sudah nyobanya. Kasihan yang punya."
Aiko terhenti dan melirik Zack.
"Ngak, ngak apa-apa. Aku sudah kenyang." Zack memberi tahu.
Aiko kembali melirik Lydia. "Gak apa-apa, wek!" Ia meledeknya. Kembali ia menyendoki es krim itu.
Lydia paling tidak suka kalau Aiko datang. Ia suka meminta sesuatu dari Zack dan pemuda itu selalu memberikannya. Kalau ditanya pada Zack, pemuda itu bilang kasihan. Dia selalu begitu, di sekolah juga sama. Zack selalu mengalah pada siapapun. Itu yang tidak di sukai Lydia. Karena dengan kebaikannya banyak gadis teman sekolahnya yang suka pada Zack selain juga karena Zack tampan.
"Hei anak kecil, berhenti makan es krim orang dong!" Ledek Tama pada adiknya, dan Aiko mengerucutkan mulutnya. Tentu saja, Lydia senang.
Chris asyik mengobrol dengan Arya sedang Mariko masuk ke dalam toko. Aska melihatnya. "Oh, sudah ada makanannya?"
"Ada tuh di beranda."
"Makasih Tante."
"Iya, gak apa-apa."
Aska bergegas keluar. Ia mengambil satu bungkus dari atas meja dan segera pergi ke restoran Arya. Restoran itu hanya beda 2 toko dari toko bunga Reina. Di sana, karena Aska kenal dengan pegawainya, ia makan di dapur. Restoran itu sedang ramai jadi tak mungkin ia makan di meja tamu.
Ia mengambil minuman kemasan dari lemari es dan mulai makan.
"Enak sepertinya ...." Rakas yang lewat menyapanya.
Aska hanya memberi senyuman. Rasanya bahagia sekali bisa makan karena perutnya mulai kelaparan, dan ia menghabiskan makanan itu hingga tinggal tulang ayamnya saja.
Rakas kembali melewatinya. "Wah, habis? Enak apa lapar Pak?" Ledeknya.
Aska kembali ke toko ibunya. "Enak Om, beli di mana?" Tanyanya pada Arya.
"Oh itu dekat komplek perumahanku tapi di luar. Dia baru buka sepertinya."
"Di sebelah mana?"
Arya memberi tahu letak tempat itu pada Aska.
"Oh, aku tahu itu. Sudah sekitar sebulan kosong tidak ada yang menempati. Pedagangnya pindah jualan ke tempat lain sepertinya."
"Yang jualan sekarang cantik lho, banyak yang godain. Hati-hati kepincut." Ledek Arya. Ia memang melihat sendiri banyak yang membeli karena penasaran ingin melihat wajah wanita itu dari dekat, tapi ternyata bukan itu saja. Jualannya juga enak sehingga ramai.
"Om bisa aja." Aska tertawa.
Sementara itu, Leka membereskan jualannya karena habis. Bukan saja orang beli untuk makan di sana, yang di bawa pulang pun banyak. Bukan itu saja, banyak yang mengira ia janda dan menggodanya. Mengajak mengobrol hal-hal yang tidak jelas hingga ia harus sibuk berbasa-basi.
"Mbak, ya ... habis." Seorang ibu-ibu muda mendatanginya.
"Iya, maaf Bu sudah habis."
"Iya, tadi suami pulang nyicipi punya saya. Dia suka. Habis ya? Cepat sekali."
Leka hanya bisa tersenyum sambil membersihkan meja.
"Mbak suaminya ke mana? Kerja ya? Kok gak kelihatan. Kemarin kan saya bangun Mbak, malam. Mbak hanya berdua di rumah ini." Ibu itu menatap Leka.
Leka bingung menjawabnya.
"Mbak dari kampung ya? Saya juga. Mbak ... maaf, apa benar bukan janda? Mbak ditinggal suami merantau, terus nyusul?"
"Eh, seperti itulah." Leka akhirnya menjawabnya dengan enggan.
"Saya kasih tahu saja Mbak, hati-hati kalau nikah sama orang jauh, banyak yang nipu. Ngaku bujang tahunya berbini, beranak."
Aku mana niat menikah. Karena keadaanlah kami menikah.
__ADS_1
"Mungkin saja Mbak sudah dibohonginya, kalau sudah begitu status Mbak jadi tidak jelas. Bukan apa-apa, sudah banyak yang begitu Mbak, jadi susah kawin lagi."
Leka termangu. Ibu itu menatap Leka. "Mudah-mudahan suami mbak gak gitu ya?" Ibu itu menguatkan, lalu pergi.
Malam hari, Leka selesai menyiapkan untuk jualan besok. Setidaknya ia bisa istirahat karena pagi-pagi sekali harus mengukus nasi. Dilihatnya Runi main bonekanya sendiri. Ia melangkah mendekat.
Tok, tok, tok.
Siapa ya yang bertamu jam segini? Sempat terlintas di kepalanya wajah seseorang tapi coba ia tepis, ia membuka pintu. "Candi?" Sesuai ekspektasi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Maaf, aku pikir kamu jualan juga malam jadi aku mampir."
"Oh, aku gak jualan malam karena semua aku siapkan sendiri, jadi malam aku istirahat."
"Oh, begitu. Iya ya." Candi terdiam. "Oh ya. Aku bawa martabak manis nih buat kamu." Ia menyodorkan pada wanita itu.
"Aduh Candi." Leka bingung harus bagaimana.
"Anggap dari teman lama yang kembali bertemu." Kembali pria itu menyodorkan bungkusan yang di bawanya pada Leka. Mau tak mau wanita itu mengambilnya. "Mau teh?"
"Oh, boleh?"
"Ya, masuklah." Leka segan menerima sesuatu tanpa memberinya apa-apa. Setidaknya berbasa-basi sedikit sebelum memintanya segera pulang.
Candi senang di perbolehkan masuk oleh Leka. Pintu dibiarkan terbuka.
"Maaf, aku tak punya kursi. Tidak apa-apa duduk di lantai kan?"
"Mmh, tak apa-apa. Di kampung bukannya juga begitu?" Candi membuka sepatunya dan meletakkannya dekat pintu.
Leka memindahkan martabak ke piring.
"Kau punya makanan apa?"
"Mmh?"
"Kan aku bilang, aku ke sini cari makan. Memangnya tak ada yang bisa ku makan?"
Leka terkejut, Candi ke rumahnya memang datang untuk makan malam, tapi apa yang bisa dia tawarkan?
Candi melihat barang-barang yang tertata rapi di dekat kompor yang tertutup dan ia menunjuk ke situ. "Memangnya diantara barang-barang ini, tidak ada yang bisa di makan?"
"Ini buat jualan besok."
"Jadi?"
"Eh, aku masakkan telur saja ya? Mungkin dengan tempe tahu."
"Tidak ada ayam atau lele untuk di goreng?"
"Bisa sih ...."
"Sama buatkan sambal."
"Iya."
"Ya sudah, aku tunggu." Ia mengambil piring yang berisi martabak manis dari tangan Leka kemudian pergi duduk di lantai dekat dengan si kecil Runi. Gadis kecil itu seketika menggeser duduknya menjauh.
Leka kemudian mulai memilih ayam. Sepertinya Candi akan lama karena ia juga meminta Leka membuatkan sambal. Hah, ia tahu saja cara agar bisa berlama-lama di sini. Seharusnya aku tak mengajaknya masuk, keluh Leka. Ia kemudian membuatkan minuman.
Aska teringat lagi pecel ayam yang dibelikan Arya tadi siang. Ia ingin memakannya lagi untuk makan malam. Sambalnya itu yang membuat ia ketagihan.
Ia memasuki mobilnya dan mengendarai ke arah sana. Ia mencari-cari tempat yang disebutkan Arya dan kecewa. Ia tidak jualan malam, sayang sekali. Apalagi ia memperhatikan dari seberang jalan tempat mobilnya di parkir bahwa pedagang itu sepertinya kedatangan tamu. Ada mobil terparkir di sampingnya. Ia yakin bahwa rumah di belakang lapak pedagangnya adalah rumah si penjual.
_______________________________________________
Ini ada visual Tama yang sudah besar. Jangan lupa like, komen, dan vote ya? Salam, Ingflora💋
__ADS_1