
Aska melihat baju Leka yang basah membuatnya menempel pada lekuk tubuh wanita itu. Segera ia membuka jaketnya dan menutupi tubuh mantan istrinya itu dengan memakaikannya di luar. Ia menyatukan depan jaketnya agar bisa menghangatkan sekaligus menutupi pandangan orang pada pakaian yang mencetak tubuh Leka dari depan.
"Kau bawa baju ganti?"
"Bawa," jawab Leka datar.
"Ayo ganti sebelum masuk angin."
"Iya." Sempat Leka melirik Nena yang dibantu Mariko duduk. Wanita itu terbatuk-batuk karena ada air yang sempat tertelan.
Leka sempat menghampiri tasnya yang ditumpuk dekat Ani yang duduk bersama Runi sebelum ia melangkah ke arah hotel.
"Unda?" tanya Runi, tapi Leka sudah melangkah ke arah hotel diikuti Aska.
"Di sini saja Dek, nanti Bundanya kembali."
Runi bersandar pada Baby Sitter-nya menatap Ibunya yang kemudian masuk ke dalam hotel.
Kenzo sekilas melirik ke mana Leka pergi sebelum akhirnya menemani Ibunya menolong Nena.
Aska menunggui Leka di depan toilet wanita. Tak berapa lama, wanita itu keluar.
"Kau tak apa-apa?" tanya Aska khawatir.
"Tak apa-apa gimana?"
"Kau kedinginan?"
Leka hanya menatap Aska sekilas sebelum meninggalkannya.
"Eh, tunggu. Kita minum dulu di sini." Aska meraih tangan Leka dan mendatangi sebuah kafe tak jauh dari tempat mereka berdiri. Leka hanya diam dan mengikuti pria itu melangkah.
Kafe sesiang itu masih belum ramai. Aska memilih duduk di sebuah kursi yang bermeja sedikit berada di pinggiran dinding luar yang terbuka karena kafe itu sedikit terbuka di bagian depannya.
"Kita minum di sini dulu ya, pesan minuman hangat."
Leka menarik kursi di depannya tanpa berkata apa-apa dan duduk di sana. Aska segera melihat menu. "Ini ada wedang jahe, kau mau? Atau wedang ronde, kelihatannya enak."
"Terserah."
"Jangan begitu dong. Kau mau yang mana?" Pria itu tersenyum sehangat mungkin menanyakan pendapat wanita itu.
Leka menatap pria di depan, mantan suaminya. Sejak kapan ia berubah menanyakan pendapatnya? "Biasanya kau tak pernah bertanya, kau memilihkan untukku. Kenapa sekarang kau berubah?" Leka mengernyitkan alisnya.
"Lekaaa ... jangan begitu. Aku sekarang sedang menyenangkanmu."
"Untuk apa?"
"Karena aku mencintaimu."
"Lalu kenapa kau menceraikanku?"
"Anggaplah aku khilaf, tapi perasaanku padamu tak pernah berubah."
"Pernikahan itu bukan mainan."
"Kata siapa mainan? Aku tidak menganggap pernikahan itu mainan."
"Kalau kau tidak menganggap pernikahan itu mainan, tidak akan semudah itu kamu menceraikanku. Iya kan?"
"Lekaaa ... sudaaah ... Yang sudah berlalu, biarkanlah. Yang penting sekarang aku ingin kau segera pulang ke rumah. Kau mau kan?" Aska meraih tangan mantan istrinya dengan kedua tangannya.
Leka menepisnya. "Aku tidak mengerti cara berpikirmu. Padahal kamu mati-matian tidak ingin kita bercerai, tapi saat bertemu Pak Arya, kamu menceraikanku."
"Aduuh, jadi maunya kamu itu bagaimana?" Aska menjenggut rambutnya karena frustrasi. "Bukankah kau ingin kita bercerai? Kita sudah bercerai kan?"
"Ya sudah." Leka berdiri.
__ADS_1
"Eh, eh, eh, bukan gitu maksudku." Aska meraih tangan Leka agar segera duduk. "Atau jangan-jangan ... kau merindukanku juga kan?" Bibirnya tersenyum nakal.
Leka mengerut dahinya menatap Aska. Bibirnya mengerucut. kembali ia menepis tangan pria itu. "Bisa tidak kau serius sedikit?"
Tepat pada saat itu, Kenzo masuk ke hotel. Ia mencari toko yang menjual pakaian wanita. Tanpa sengaja ia melihat Leka dan Aska di Kafe hotel itu.
"Ya ... lantas alasan apa kau marah saat kita bercerai, kalau bukan karena kau juga merindukanku?" Kembali senyum itu Aska perlihatkan.
"Kau suka meremehkan hal-hal yang penting, Bang."
"Aku sudah berusaha bertahan demi keutuhan rumah tangga kita, tapi kamunya yang ingin bercerai." Rengek Aska. Ia menatap mantan istrinya yang diam membisu. Ia kembali meraih tangan Leka. "Sudah ya, kita baikan lagi. Kamu pulang ke apartemen kita ...."
Leka segera menarik tangannya.
Pemandangan itu sedikit banyak membuat Kenzo semakin bingung. Ia berusaha pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Di balik sebuah dinding toko, ia bersembunyi dan bersandar. Sesak rasanya. Ia terlanjur mencintai wanita itu, dan sulit merelakannya, tapi ia harus ikhlas, karena Leka bukan untuknya. Pria itu berusaha berdiri tegak dan menghapus air matanya yang terlanjur jatuh. Ia kembali fokus mencari toko pakaian.
Ternyata toko itu tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian memilih-milih pakaian dan jilbab untuk Nena, lalu membayarnya. Sesegera mungkin ia pergi dari tempat itu walaupun matanya masih tetap mencari. Ia melihat Aska menyentuh tangan wanita itu di atas meja. Sedih, pasti, tapi entah kenapa ia masih ingin melihatnya.
Arya sedang duduk di atas pasir sambil menggulung pinggiran bawah celana jeansnya ketika hp-nya berbunyi. Ia mengambilnya.
"Ya Da."
"Aku dengar Leka sudah keluar dari rumah sakit. Bagaimana kondisinya?"
"Alhamdulillah, sehat. Hanya biru di pipinya masih terlihat."
"Benar sudah sehat?"
"Iya, kemarin aku geser rahangnya dan sekarang sedang bersama Aska, bicara di dalam hotel."
"Oh." Sementara Chris terdiam.
"Ada apa Da?"
"Leka tinggal di mana sekarang?"
"Begitu, mmh ... Bisa tidak kalau aku yang membayarnya, tanpa setahu Leka?"
"Oh, kalau itu aku tidak tahu Da. Aku harus tanya Jo dulu."
"Iya, segera tanyakan karena Leka dan Runi masih tanggung jawabku. Aku tak enak padamu dan Kenzo. Maaf, jadi merepotkan."
"Iya, gak apa-apa Da, tapi Jo sedang tak di sini."
"Ok, tidak apa-apa. Aku juga bingung dengan perubahan Leka. Mungkin dia masih terluka dan labil karena perceraian ini hingga ia menolak semua bantuan yang berasal dari keluargaku. Biarlah. Anakku yang bikin masalah, soalnya. Aku tak bisa apa-apa. Aku sepertinya harus bersabar karena ini masalah sensitif. Harus hati-hati mengurusnya."
"Iya Da, nanti aku kabari." Arya menutup hp-nya.
Saat itu Kenzo kembali. Arya segera memanggilnya. Kenzo memberikan plastik belanja berisi pakaian pada Mariko dan menghampiri Arya. Nena yang duduk di pasir bersama Mariko masih mendekap handuk yang mengelilingi tubuhnya.
"Kenapa Yah?"
"Pak Chris, dia ingin membayar sewa rumah Leka tanpa sepengetahuannya. Menurutmu bagaimana?"
"Oh ... aku tidak bisa. Aku sudah janji dengannya. Kalau mau membantunya, lebih baik secara langsung ke orangnya saja soalnya aku pantang mengingkari janji."
"Ya sudah, nanti Ayah beri tahu Pak Chris."
"Huacimm!!" Keluar cairan bening dari hidung Leka.
"Ah, Sayang! Sebentar ...." Aska mengambil 2 lembar tisu dan membersihkan hidung mantan istrinya itu. "Eh, sebaiknya aku pesankan saja wedang jahe untukmu. Apa kita makan siang di sini saja?"
"Runi di luar sendirian."
"Kan ada Baby Sitter-nya."
"Aku tidak terbiasa lama-lama jauh dari Runi. Aku khawatir."
__ADS_1
"Ya sudah, pesan minuman saja." Aska segera memesan minuman pada pelayan.
"Sekarang kau tinggal di mana?"
"Di sebelah rumah Kenzo."
"Kau jadi mengambil rumah itu? Siapa yang membayar?"
Leka diam sejenak. "Kenzo."
"Lekaaa ...."
"Aku tahu aku salah, tapi yang ada di pikiranku saat ini hanya, tak ingin berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan denganmu. Aku ingin sendiri. Aku sedang ingin menyendiri dan berpikir, tapi kau masih saja datang. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."
Minuman pesanannya datang dan mereka terdiam sejenak.
"Aku sangat merindukanmu Leka, aku ingin kau pulang. Tidak bisakah kau memaafkan kesalahan-kesalahanku yang terdahulu Leka?"
Leka terdiam. Pelan, air matanya berkaca-kaca dan kemudian menetes mengalir di pipi. "Ini sebenarnya bukan masalah kesalahanmu tapi ini tentang diriku. Diriku ini sangat kacau belakangan ini dan aku butuh menyendiri. Aku butuh berpikir jernih. Tolong tinggalkan aku sendiri."
"Leka, aku ...." Aska kehilangan kata-kata. Ia sedih melihat mantan istrinya menangis seperti ini, tapi ia benar-benar tidak tahu masalah apa yang terjadi pada istrinya itu. "Bolehkah aku sekali-sekali mengunjungimu?"
Leka hanya menunduk. Aska menghapus air matanya. "Aku akan diam tak bicara. Kau habiskan dulu minumanmu, setelah itu kita bergabung dengan yang lain."
Leka menurut.
Nena memperhatikan pakaian yang dipakainya. Kenzo membelikannya baju gamis berwarna biru dengan jilbab instannya. Penampilannya berubah dari wanita pekerja menjadi ibu-ibu muda.
Kenzo berdehem. "Maaf, aku tidak begitu tahu seleramu dan pilihannya juga tidak banyak."
"Eh, tidak apa-apa. Yang pasti aku tidak kedinginan karena baju basah."
Mereka melangkah ke pintu keluar hotel dan masih melihat Leka dan Aska di kafe itu. Nena kemudian meraih tangan Kenzo. "Kak, aku ada yang mau aku omongin ke Kakak."
"Eh, apa harus di sini." Kenzo risih melihat Leka dan Aska berdua terlalu lama, ia tidak tahan.
"Sebentar saja Kak." Nena menariknya duduk di sofa lobi hotel. Untungnya Kenzo duduk membelakangi kafe.
"Iya?"
"Aku suka sama Kakak sudah lama." Nena langsung ke tujuan. Ia takut kalau bicara berputar-putar, Kenzo tidak mengerti.
"Mmh?"
"Aku mencintaimu Kak."
Kenzo terdiam sejenak. "Tapi aku ...."
"Tidak ingin menikah, aku tahu tapi aku ingin Kakak tahu. Mungkin Kakak bisa merubah pandangan Kakak karena aku sangat mencintaimu Kak."
"Bukan begitu. Aku menyukai orang lain."
"Mmh? Be-benarkah?" Nena terkejut. Ada seorang wanita yang telah merubah pendirian Kenzo dan itu tidak gampang. Ia saja sedang mencoba, tapi wanita itu seperti membalik telapak tangan. Begitu mudahnya. Siapakah dia?
"Iya." Kenzo berucap tanpa ragu-ragu.
"Si-siapa?" Nena penasaran.
"Oh, itu tidak penting. Ayo kita kembali keluar." Kenzo berdiri dan memutar tubuhnya kembali melihat Leka dan Aska. Sesuatu yang membuat hatinya tersayat tapi selalu saja ia tak bisa melepas pandangannya pada wanita itu. Ia takut wanita itu menangis, atau sedih. Padahal pada kenyataannya Leka bicara baik-baik saja dengan mantan suaminya. Sebenarnya apa yang di kerjakannya adalah pekerjaan yang sia-sia tapi tetap saja ia ingin melakukannya. Padahal dengan begitu ia hanya melukai hatinya sendiri tanpa ada orang lain yang tahu.
"Ok, sekarang kita makan siang dulu. Setelah sholat, kita tanding voli pantai."
"Ok Yah." Tama mengiyakan.
Leka mengambilkan makanan untuk Aska. Kenzo memperhatikan. Nena melihat perhatian Kenzo pada Leka yang berbeda. Apa Kak Kenzo suka pada mantan istri Aska?
__ADS_1
Budayakan memberi like pada novel para Author bila dianggap layak karena like adalah sebentuk apresiasi yang diberikan pembaca pada penulis yang menghabiskan hari-harinya siang malam bahkan begadang, menulis dan mencari ide untuk menulis. Terus dukung Author dengan like, vote, komen dan hadiah atau mungkin koin untuk memberi semangat bekerja. Salam, ingflora.💋