Sungai Rindu

Sungai Rindu
Telepon


__ADS_3

Zack merapikan selimut adiknya. Gadis itu tidur dengan boneka teddy bear pemberian Zack. Ia baru menyadari adiknya sudah mulai beranjak dewasa dilihat dari kesehariannya yang mulai pendiam dan tidak suka berlari-lari lagi bersamanya. Gadis itu juga makin cantik saja. Zack membungkuk dan mengusap kening Lydia. "Kakak makin hari makin pangling saja sama kamu Dek," bisiknya.


------------++++----------


Terdengar bunyi hp Leka berdering. Itu pasti Aska. Leka yang hampir tertidur, mengangkat hp-nya dengan malas. "Ya, halo."


"Leka, akhirnya kamu mengangkat hp-mu juga. Apa kamu tidak rindu pulang ke rumah kita?"


Apa yang di sebut rumah? Aku tidak tenang tinggal bersamamu. "Tidak."


"Leka, jangan begitu. Apa kau tidak rindu tinggal bersamaku? Aku rindu tinggal bersamamu."


"Tidak."


"Leka ... jangan begitu. Aku ini suamimu. Daripada kau tinggal di sana seperti kacung, di suruh ini di suruh itu. Kau tinggal di rumahmu kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Tidak terbatas waktu."


"Lalu denganmu apa bedanya? Toh, diluaran kau menyebut aku pembantu."


"Mau berapa lama kita begini Leka? Kau pasti pulang kan?"


"Aku lelah denganmu. Aku ingin berpikir tenang dulu apa aku ingin meneruskan pernikahan ini atau tidak."


"Leka, kita punya anak. Jangan biarkan ia tanpa ayah, Leka."


"Lho, bukankah kamu tak ingin mengakuinya?"


"Bukan begitu Leka, belum saatnya."


"Sudah, aku ingin tidur. Sudah malam."


"Leka, aku mencintaimu."


Leka segera mematikan hp-nya. Kesal. Kenapa baru sekarang pria itu menyatakan itu padanya setelah sekian lama ia menunggu kalimat itu keluar dari mulutnya. Sudah sekian lama dan ia baru menyatakannya sekarang? Apa ia hanya ingin membuat hatiku kembali porak poranda? Sudah, sudah dari awal ia melakukan itu padanya. Serasa di sayang, kemudian di hempaskan, serasa di sayang, kemudian di hempaskan. Berkali-kali. Tinggal dengannya serasa tinggal dengan badai yang menghempas dirinya ribuan kali, menghempas hatinya hingga berdarah-darah ribuan kali dan ia sudah lelah. Tangannya tak lagi cukup kuat berpegangan bila datang badai berikutnya. Tempat perlindungannya kali ini bisa setidaknya membuat ia menata hati dan pikirannya. Ia cukup merasa bersalah pada Kenzo dan Arya karena membohonginya dengan statusnya sekarang ini tapi ia sangat berterima kasih kepada mereka berdua karena telah menyediakannya tempat untuk berteduh untuk luka batinnya selama ini dengan Aska. Setidaknya mereka menganggap ia ada.


Lagipula, ia bisa tidur dengan putrinya kembali. Dilihatnya Runi tidur dengan nyenyaknya di sampingnya. Ia kembali tidur di samping Runi.


-------------++++-----------


Pagi itu pagi yang bersejarah. Setidaknya bagi keluarga Chris. Salwa telah menyelesaikan sarapannya. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu.


Zack, Reina dan Chris hanya memperhatikannya saja dari meja makan.


Terdengar suara klakson motor. Salwa mengambil tasnya dan berlari mendatangi Chris dan Reina mengambil punggung tangan mereka dan menciumnya. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Salwa kembali berlari keluar. "Kamu beneran mau nganterin aku ke kantor? Kan arah kantor kita beda arah."


"Lah, katanya kalau cinta, laut kan kusebrangi, gunung kan kudaki. Timbang beda arah mah gampil, masih di darat enih." Rojak memberikan helm ektra pada Salwa.


Satpam dan bodyguard di sana tak dapat menahan senyum. Bahkan ada yang membekap mulutnya agar tidak tertawa.


"Ah, kamu mah bikin geger." Salwa mendorong helm Rojak ke samping.


"Aduh, udah ah, naik! Ribet bener nih cewek satu. Gua kawinin juga lu, ntar malem!"


Beberapa satpam tak bisa menahan tawa. Mereka bahkan tertawa terpingkal-pingkal karena geli melihat bercandaan mereka berdua.


"Rojak ah!" Salwa yang duduk di belakang pria itu kesal.


"Anggap aja sodakoh, bikin orang ketawa." Rojak menjalankan motornya.


Di rumah Kenzo, pria itu baru saja selesai mandi. Tentu saja masih dengan wajah tersipu-sipu di mandikan Leka.


"Kakak sepertinya sudah agak sehat ya Kak?"


"Iya alhamdulillah. Aku hari ini sudah tidak minum obat pereda nyeri. Paling tidak aku sudah bisa beraktivitas."


"Sebentar, aku siapkan sarapannya Kak."


"Siapkan di bawah saja. Aku ingin makan di meja makan."


"Oh ... begitu?"


"Temani aku makan ya, bersama Runi."


"Tapi ...."

__ADS_1


"Aku butuh orang yang mengambilkan aku lauk dan nasi."


"Ah, iya Kak. Akan di siapkan." Leka keluar dengan membawa pakaian kotor Kenzo dan wadah air. Pria itu kemudian mendatangi lemari dan mengambil pakaian dalamnya dan celana panjang longgar, kemudian ia menggantinya di kamar mandi.


Beberapa menit kemudian ia turun dari lantai 2. Jalannya sudah seperti orang normal.


"Sudah sehat Kak, sudah gak pusing?" Sahut Leka dari meja makan. Ia menata piring dan sendok di bantu seorang pembantu.


"Sudah tidak apa-apa. Eh, Runi."


Gadis kecil itu berlari-lari ke arah Kenzo. "Papa!"


"Di gandeng saja ya Sayang, Papa tidak bisa menggendongmu."


Runi menggenggam jari telunjuk yang diulurkan Kenzo tapi saat berdiri pria itu malah membungkuk. "Aduh, susah juga ya? Ya, sudah. Begini saja." Tiba-tiba Kenzo mengangkat gadis kecil itu yang membuat Runi berteriak kegirangan, ia meletakkan Runi di bahunya dan memeganginya hingga sampai di dekat meja makan. Ia kemudian menurunkan Runi di lantai.


"Agih(lagi) ...."


"Eh, gak boleh Runi. Omnya masih sakit."


"Papa!" Kata gadis kecil itu masih merengut.


"Biar Runi duduk di tengah-tengah saja. Kamu di seberangku."


"Tapi dia masih kecil Kak, duduk di kursi malah gak kelihatan."


"Tidak apa-apa, kursinya jangan ditarik mendekat saja."


Mereka kemudian duduk. Leka mengambilkan lauk dan nasi untuk Kenzo, kemudian untuk dirinya dan Runi. Mereka lalu makan bersama.


"Karena aku sudah tidak minum obat lagi, kamu punya waktu kosong hingga sore hari. Jadi kamu bisa melakukan apa saja terserah hingga sore. It's your free time."


"Apa?"


"Oh, kamu tak mengerti bahasa Inggris ya? Itu waktu bebasmu."


"Bisa sih Kak bahasa Inggris, pelan-pelan. Kalau mendadak bingung."


Kenzo tertawa. "Dengar saja. Nanti juga lama-lama bisa."


"Tidak tau Kak."


"Kalau mau keluar berbelanja, ada mobilku yang siap mengantarmu ke mana saja. Mau ke Mal atau ke pasar, silahkan saja."


"Benarkah?"


"Iya, kau berdua Runi. Pergilah ...."


"Tidak enak rasanya naik mobil milik orang lain."


"Jadi mau kutemani?"


Leka tersipu-sipu. "Tidak usah Kak, tidak jadi."


Kenzo tertawa kecil. "Baiklah, kalau aku pergi ke Mall, kau mau menemani?"


"Boleh." Jawab Leka malu-malu.


"Yah, sudah. Dekat makan siang ya?"


Bel berbunyi. Seorang pembantu bergegas ke arah pintu. Seseorang masuk, seseorang yang di kenal.


"Ayah, makan Yah."


"Ayah sudah sarapan."


"Oh, maaf Pak, saya menemani Kak Kenzo makan." Leka berdiri.


"Oh, tidak apa-apa, kau duduk saja." Arya menarik kursi di samping Kenzo.


"Sekarang kesulitanmu apa? Sekarang kan kamu sudah sehat kan? Cuma di mandikan saja kan yang penting?"


"Ayah!" Kenzo memukul Ayahnya dari samping. Wajahnya tersipu-sipu.


"Lho, kenapa? benar kan?"


"Ayah, jangan ngaco deh!" Kembali Kenzo memukul karena malu pada Leka, tapi kali ini Arya menghindar dan tertawa. Leka pun ikut tertawa melihat ayah-anak ini mirip kakak beradik.

__ADS_1


"Tuh, Leka saja tertawa. Kamu terlalu berlebihan deh."


"Ayah ...." Kenzo merengut.


"Iya, iya enggak. Gitu aja ngambek anak Ayah." Arya menatap Leka. "Bagaimana pekerjaanmu? Lumayan melelahkan?"


"Tidak Pak, alhamdulillah aman-aman saja di banding jualan di pinggir jalanan."


"Oh, begitu. Apa kamu tertarik masak-memasak lagi?"


"Eh, kenapa ya Pak? Aku masak-memasak sih hobi."


"Oh, sama dengan Bapak dong. Bapak juga hobi memasak makanya Bapak punya restoran. Rencananya kalau kamu sudah selesai merawat anakku Kenzo, Bapak mau mempekerjakannya kamu di sana."


"Eh, restoran?"


"Iya, letaknya tidak jauh dari sini. Kamu bisa bawa Runi bekerja."


"Oh ...."


"Ya, kalau kamu mau kerja terus dengan Bapak sih."


"Ya, mau Pak, aku mau. Sekarang pun aku mau."


"Eh, bukankah kita harus pergi ke Mall," sela Kenzo mengingatkan.


"Oh, ada rencana toh ..." Arya meledek Leka dan Kenzo yang terlihat malu-malu. "Ya sudah besok bisa. Aku jemput sekitar jam 10. Pengenalan pekerjaan dulu."


"Tidak usah, besok aku yang antar Leka ke sana."


"Oh, ya sudah. Kalau sudah ada yang antar jemput, jadi bos gak repot."


"Ayah ...." Protes Kenzo dan Leka makin tersipu-sipu, malu.


Terdengar bel kembali berbunyi. Seorang pembantu kembali berlari ke arah pintu. Seorang wanita cantik berambut panjang datang dengan sebuah tas besar. Semua orang mengenalnya kecuali Leka.


"Oh, Rara. Apakabar?"


Rara? Rara siapa? Pacar Kak Kenzo kah?


"Hei, baik. Bagaimana kesehatanmu sekarang?"


"Baik. Ini sudah bisa keluar."


"Ok, nanti aku periksa ya?"


"Rara mau sarapan?"


"Oh, sudah. Oh, ada Pak Arya." Ia mengangguk pada Arya kemudian duduk di samping Leka.


"Ini perawatku." Kenzo mengenalkan Leka pada Rara. Mereka berdua bersalaman.


"Ini anaknya Bu?" Rara bertanya tentang Runi pada Leka. Gadis mungil yang duduk di kursi sendirian.


"Oh, iya." Leka memberi suapan terakhir pada Runi. Gadis mungil itu memakannya dengan lahap.


"Anaknya sehat ya Bu, gak rewel lagi."


"Oh, iya. Alhamdulillah."


"Aku sudah selesai. Ayo ke atas."


Mereka semua ke atas. Saat Leka hendak ke kamar, Arya memanggilnya. "Eh, nanti dulu. Perawat harus mendampingi."


"Oh, begitu. Sebentar aku tinggal Runi di kamar." Ketika Leka kembali, Kenzo sedang di periksa dengan stetoskop oleh Rara.


Wanita ini dokter ya? Kok di panggil namanya saja? Sebenarnya Rara adalah kakak kelas Kenzo di sekolah. Dia berteman dan naksir Kenzo sudah lama tapi Kenzo selalu menolaknya karena keinginan Kenzo untuk tidak menikah. Ia ikut merasa bersalah karena dia, Kenzo terkena tragedi pemukulan oleh teman-temannya yang salah satunya naksir Rara. Itu menyebabkan Kenzo tidak bisa bersekolah selama 10 tahun karena gegar otak, karena itu ia bertekad untuk menjadi dokter sama seperti ibunya agar bisa merawat Kenzo. Dua tahun belakangan setelah Kenzo di nyatakan sembuh pun Rara masih mendatanginya seminggu sekali untuk mengecek kesehatan Kenzo.


"Kamu sudah sehat begini, kenapa gak cari pacar?" Rara meledeknya sambil tersenyum manis.


"Ada. Ini." Kenzo menggenggam pergelangan tangan Leka.


"Kakak ...."


______________________________________________


Maaf Author, sedang kurang sehat. Kalau author tiba-tiba gak up. Maafkan ya? Doakan saja author cepat sembuh.🤧 Salam, ingflora.💋

__ADS_1


__ADS_2