Sungai Rindu

Sungai Rindu
Arahan Kenzo


__ADS_3

"Sudah makan ya?" tanya Kenzo pada Ani.


"Oh, sudah Pak."


"Runinya?"


"Juga sudah Pak. Di suapi Ayahnya."


"Mmh ...."


"Papa!" Runi mengangkat tangannya minta di gendong.


Kenzo menggendong Runi. "Kamu belum tidur siang, mmh?"


Gadis kecil itu menggeleng.


"Tidur ya? Mmmmm ...." Kenzo meraih dagu kecil Runi dan menggoyang-goyangkannya. Gadis kecil itu tertawa senang.


"Senangnya jadi Runi. Banyak yang mencintainya sekarang," ujar Arya.


Kenzo menyerahkan Runi pada Ani. "Tidurkan saja, sudah waktunya." Pria itu ingat, Runi belum tidur dari tadi.


"Iya Pak."


Di sore hari Aska sudah kembali ke rumah Chris. Ia bertemu Salwa.


"Kak, bener Kakak udah nikah Kak?"


Aska hanya memperlihatkan wajah kesalnya.


"Sekarang sudah cerai," sahut Chris datar.


"Hah? Gimana ceritanya Pa?"


"Sudahlah. Panjang ceritanya. Kau bisa tanya Mamapmu sana."


"Iya Map? Gimana Map?" Salwa langsung menggandeng Reina. Tentu saja Reina tersenyum mendengarnya. Mereka langsung memisahkan diri.


"Aska, Papa mau bicara."


Mereka mendatangi sofa ruang tamu dan duduk saling berhadapan.


"Rencanamu apa setelah ini?"


"Rencana apa Pa?" Aska terlihat bingung.


"Ck!"


"Oh, nanti aku akan mengunjungi Leka kembali."


"Bukan itu ... Apa kau tak punya rencana ke depan sama sekali setelah punya istri dan anak di sampingmu?"


"Tapi Leka tidak bersamaku ...." keluhnya.


"Aduuh ...." Chris menggaruk-garuk kepalanya. "Maksudku, rencanamu ke depan setelah punya istri dan anak, apa? Walaupun mereka tidak bersamamu tapi setidaknya kamu punya keinginan untuk keluarga kecilmu, seperti tabungan pendidikan untuk Runi, misalnya. Runi itu anakmu, sudah pasti, walaupun Leka belum tentu menjadi istrimu kembali."


"Jangan bilang begitu Pa."


"Hahh ...." Chris menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, begitu sulitnya bicara pada Aska soal kenyataan yang sedang di hadapinya. "Apa rencanamu ke depan Aska?"


"Ingin mendapatkan Leka kembali."


Chris menyentuh dahinya. "Lalu?"


"Dapat posisi GM HRD."


Chris menatap Aska dengan tanda tanya besar di kepala. "Hanya segitu ambisimu?"


"Memangnya kenapa Pa?"


"Kau tidak ingin berusaha mendapat lebih untuk anak istrimu? Kau kan masih muda. Papa tak melihat kamu berusaha untuk keluargamu?"


"Usaha kok Pa, untuk jadi GM. Makanya kan Leka aku sembunyikan, agar tak ada gosip miring tentang aku."


"Apa? Jadi itu sebabnya kamu menyembunyikan istrimu? Karena ingin dapat jabatan?" Nada suara Chris meninggi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu tindakan yang egois Aska, mementingkan diri sendiri."


"Eh mmh ...." Aska panik terlanjur bicara. "Aku melakukan itu untuk kebaikan bersama. Untuknya juga."


"Tapi karena itu kamu harus bilang pada semua orang, Leka pembantu, itu salah. Bahkan anakmu harus memanggilmu 'Om', coba. Di mana hati nuranimu menjadi seorang bapak dan suami yang dicintai. Harusnya, suami istri itu ibarat pakaian. Istrimu pakaian untukmu dan kamu pakaian untuknya. Sama-sama saling menutupi aib masing-masing, bukan malah memperburuknya. Apa kamu tahu bagaimana sakitnya mantan istrimu merasa diperlakukan? Inilah hasilnya. Setelah berpisah, mungkin akan sangat sulit untukmu kembali padanya mengingat luka seperti apa yang kau torehkan. Papa juga melihat ada Kenzo diantara kalian berdua."


Aska yang menunduk, segera melirik pada Chris saat mendengar nama Kenzo. "Itu anak pak Arya memang begitu Pa. Dulu aku pacaran sama Nena direbutnya. Sekarang istriku juga jadi incarannya."

__ADS_1


"Apakah semua itu benar, atau dugaanmu saja?"


"Benar Pa. Tadi pagi saja mereka asyik pacaran berdua di taman belakang. Waktu aku tanya Nena, dia tidak mengakui pacaran dengan Kenzo."


"Oh, begitu yang terjadi tadi pagi hingga istrimu menabrakkan diri ke mobil, heh?" Chris melipat tangannya di dada.


Aska menunduk.


"Lalu urusannya denganmu apa? Kau masih mencintai Nena?"


"Enggak Pa." Aska mengecilkan volume suaranya. "Aku hanya terbawa emosi karena dulu urusannya belum tuntas."


"Aska, kamu harus fokus. Sekarang kamu punya anak istri yang perlu tanggung jawabmu. Kamu sudah tidak bisa melirik wanita lain."


"Iya Pa."


"Sekarang kamu mau apa, itu yang penting."


"Aku mau pulang saja."


"Askaaa ... bukan itu maksud Papa ...." Chris mulai kesal. Susah sekali mengajak Aska bicara serius karena pada dasarnya Aska tidak suka bekerja di perusahaan. Ia lebih senang menggeluti segala sesuatu yang berhubungan dengan olahraga dibanding kerja. "Usahamu untuk menafkahi anak istrimu di masa depan bagaimana?"


"Kan sudah kerja sama Papa."


"Kau tidak ingin berbisnis sendiri?"


"Bisnis apa?"


"Bisnis bisa apa saja Aska, bisa mulai dari hobimu."


"Olah raga?"


"Iya, mungkin menjual alat-alat olah raga atau kamu coba jadi produsennya."


Aska diam dan berpikir.


"Ya sudah, coba kamu pikirkan. Soal modal Papa akan berikan."


"Bener Pa?" Ada seulas senyum yang terbit di bibir Aska.


"Tentu saja. Kamu kan anak Papa." Chris berdiri.


"Tapi sebelum itu, kamu harus belajar bisnis dulu. Nanti Papa bawa kamu menemui orang-orang saat Papa berbisnis nanti."


Aska melepas pelukannya. "Iya Pa."


"Yang semangat."


"Iya." Aska pun pamit pulang.


Sementara itu di rumah sakit, hp Kenzo kembali berbunyi. Ada notif masuk. Pria itu, yang sedang mengobrol dengan Ayahnya itu, langsung melirik Leka yang ternyata telah terbangun. Ia memeriksa notifnya.


Kak, haus.


Kenzo melirik Arya yang langsung tahu ada apa. Arya menunjuk dengan dagunya, menyuruh anaknya mengurus Leka.


Kenzo akhirnya menghampiri wanita itu. "Kamu diinfus. Belum boleh makan dan minum karena rahangmu cidera."


"Mmmm ...." Leka menyentuh tenggorokannya.


"Tenggorokanmu kering ya?" Kenzo kebingungan.


Ternyata Arya mendatangi mereka. "Ada apa?"


"Leka haus Yah, tapi kan dia belum bisa membuka rahangnya karena sakit."


"Mmh? Bisa kok dengan sedotan. Tapi ... ia cidera rahang bagaimana ya, aku kurang paham kata dokter tadi."


Terdengar ketukan di pintu. Pintu terbuka dan muncul seorang dokter dengan seorang suster.


"Ibu Jaleka ya?"


"Oh iya, Dok." sambut Arya.


Dokter muda itu datang menghampiri. "Boleh saya lihat rontgennya?"


Kenzo memberikan map besar yang di ambil dari atas meja nakas. Dokter itu memeriksanya. Entah kenapa, Arya ikut-ikutan melihat rontgen itu yang di terawang lewat lampu langit-langit ruangan. "Ini sepertinya rahangnya geser ya?"


"Sepertinya begitu. Eh, maaf. Ini ...."


"Berarti tinggal geser lagi aja ke tempat semula."

__ADS_1


"Iya, tapi itu harus ...."


"Aku bisa melakukannya." Arya melangkah mendekati Leka.


"Eh, tapi Pak, kami tidak bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi nanti bila Bapak bertindak sendiri." Dokter itu berusaha memberi tahu.


Namun Arya sudah berada di dekat Leka dan menyentuh bagian rahang wanita itu lalu meraba-raba. Leka terlihat panik. Kenzo yang berada di samping Leka, berusaha meraih tangan Ayahnya agar tak melakukannya. "Ayah, jangan Yah. Bahaya."


"Tenang! Percaya sama Ayah." Arya berusaha menepis Kenzo.


"Pak bahaya itu!" cegah Dokter itu lagi.


Arya menyentuh rahang Leka dan sekali gerakan ....


Tek ....


"Aahh ...!" Leka mengeluarkan air mata.


Arya segera melepasnya. Wanita itu segera terduduk karena saking sakit rahangnya digeser Arya. "Sakit Kak ...." Ia memeluk tubuh Kenzo yang berada di sampingnya.


"Ayah!" teriak Kenzo memeluk Leka yang masih mengeluarkan air mata.


"Tuh, pasiennya sudah bisa bicara." Arya menunjuk Leka sambil tersenyum.


Leka sendiri terkejut melihat perubahan di dirinya. Ia melepas pelukan dan menyentuh rahangnya. Ia bisa menggerak-gerakkannya dengan sempurna seakan tak pernah terjadi apa-apa di sana. Hanya saja pipinya yang lebam masih terasa ngilu saat ia sentuh.


"Kau benar, tak apa-apa?" Kenzo berusaha memastikan. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Leka.


"Iya ...." jawab Leka bingung.


Dokter segera memeriksanya.


"Sudah boleh pulang kan Dok?" tanya Arya yang berjalan menjauh.


"Eh ... iya." jawab Dokter itu canggung.


"Ya, sudah Dokter buat surat ACCnya biar saya bisa ngurus."


"Eh, ya." Dokter itu sedikit gugup. Ia meminta suster melepaskan infus dan selang oksigen pada pasien.


"Kau bisa mengunyah?" Kenzo kembali memastikan.


"Eh, rasanya."


"Nanti tolong makan es krim dulu untuk dua gusinya yang patah agar bisa memastikan menghentikan pendarahan, baru boleh makan. Makannya yang lembek-lembek dulu." Dokter menyarankan.


"Iya Dok." jawab Kenzo.


"Nanti saya resepkan obat oles buat lebamnya."


Dokter itupun pergi bersama Arya dan juga suster.


Kenzo terlihat canggung pasalnya ia tidak sengaja memeluk Leka tadi. "Maaf tadi aku ... memelukmu."


"Salah aku Kak." Leka pun tak kalah malu.


Kenzo menarik sebuah kursi, dan duduk dekat Leka.


"Kau masih pusing?" tanya Kenzo sedikit canggung. Ia mengusap belakang kepalanya.


"Eh, sedikit."


"Mmh, barang-barangmu sudah dikirim Aska tadi, jadi kalau hari ini kamu sudah boleh pulang, kamu akan tinggal di mana?"


"Tidak tahu Kak."


"Mmh, apa tidak sebaiknya kau terima saja tawaran dari mantan mertuamu, daripada kau tidak punya tempat tinggal? Mereka mengkhawatirkanmu. Kau, walaupun mantan menantunya tapi sepertinya mereka sangat menginginkanmu, apalagi kau punya Runi, cucu mereka. Mungkin itu ungkapan dari rasa kasih sayang mereka terhadapmu, kenapa kau tak menerimanya?"


Leka menatap Kenzo nanar. Ia hampir tak percaya Kenzo seakan menyuruh Leka kembali pada suaminya. Walaupun itu secara tidak langsung. Padahal, bukankah pria itu pernah menyatakan cinta padanya? Jadi maksudnya bagaimana?


"Leka, kau dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu sekarang. Jangan abaikan mereka. Syukuri keberadaan mereka karena diluar sana banyak orang-orang yang ingin berada di posisimu sekarang. Belum tentu apa yang kau dapatkan sekarang abadi, jadi pilihlah dengan bijak."


Leka termenung. "Tapi ... aku kini takut bergantung pada orang lain. Aku ingin berdiri sendiri saja. Aku merasa lebih yakin begitu."


"Ok." Kenzo menatap Leka dengan tatapan teduh yang menenangkan. "Saranku, kau ambil saja rumah di sebelah rumahku itu. Mengenai uang sewa, kau berhutang padaku yang bisa kau bayar kapan saja. Mengenai perabotan rumah, kau tinggal ambil dari rumahku. Aku pinjamkan semua jadi kau tinggal pilih. Nanti aku beri rumahmu satpam satu untuk menjaga. Mengenai Baby Sitter, boleh kau atau suamimu yang membayarnya atau hutang denganku pun tak apa-apa yang penting kau harus punya karena kerja di restoran itu harus ada yang menjaga Runi. Jelas?"


Leka mengangguk. Pria ini, bicara seakan ia tahu aku akan mengiyakannya. Apa pebisnis seperti itu ya? "Tapi, rumahmu nanti akan banyak yang kosong."


"Tidak apa-apa, aku bisa beli lagi. Lagi pula mulai Senin aku tidak ada di rumah karena akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2