
Setelah sholat, Arya di bantu Tama memasang jaring net untuk voli pantai di tempat yang sudah disediakan. Mereka menyewa bola dan jaring net pada pihak hotel. Tama bergabung dengan Aska dan Kenzo bergabung dengan Arya. Mereka menjadi 2 tim dan memulai permainan.
Awalnya terlihat biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan permainan mulai memanas. Secara langsung bisa dilihat Aska sering menyerang Kenzo dengan pukulan tiba-tibanya.
Arya hanya tersenyum. Ia mencoba untuk tidak ikut campur. Lagipula, voli pantai adalah salah satu keahlian Kenzo yang lain. Ia dengan mudahnya menghindar setiap lemparan bola yang menuju kearahnya.
"Ih, sadis!" hanya Nena yang protes.
Leka, karena tak enak pada Kenzo, ia langsung berdiri sambil menggendong Runi dan pergi. Ia bisa melihat betapa kesalnya Aska pada pria Jepang itu.
"Leka kau mau ke mana?" Aska tiba-tiba keluar dari arena permainan dan mengejar mantan istrinya.
"Mmh? Hanya jalan-jalan."
"Ayo, temani aku beli minuman."
"Eh?"
Aska meraih tangan Leka dan membawanya kembali ke hotel.
"Hah, Kakak!" Tama melempar bola ke bawah, kesal. Mereka tak bisa bertanding karena kurang orang.
"Bagaimana dengan aku?" Mariko mengangkat tangannya.
"Mama?" Tama menoleh pada Arya.
"Boleh juga."
Aiko tertawa. "Go, go, go Mama ...."
Tinggal Nena yang melihat Kenzo menatap ke arah hotel. Sepertinya iya, wanita itulah yang menarik hatinya.
Di dalam hotel Leka dan Aska kembali ke Kafe yang sama. Aska memesan minuman. Setelah itu ia berpindah tempat duduk di samping mantan istrinya dan mendekatkan wajahnya pada Runi yang sedang memeluk tubuh Ibunya. Wajahnya terlihat sudah sangat mengantuk.
"Mmh ...." Pria itu menyentuh wajah Runi.
"Sudah Bang, jangan di ganggu. Dia sudah mau tidur ...." Leka mengingatkan.
"Kalau gitu, Bundanya aja deh!" Aska langsung mengecup kening Leka. "Stor kiss."
"Abang ...." Leka berdiri, ia terlanjur membangunkan Runi yang hampir tertidur. Gadis kecil itu merengek karena terganggu.
"Iya, iya, iya, jangan marah dong. Abang cuma rindu aja." Azka menarik Leka duduk.
Leka mengerucutkan mulutnya. Ia mengusap punggung Runi agar tidur kembali.
"Berapa lama lagi kita begini, Sayang? Aku susah, harus mendatangi rumahmu dulu baru bisa bertemu denganmu."
"Aku kan sudah bilang tadi padamu, jauhi aku dulu. Aku ingin berpikir."
"Ada apa sih sebenarnya? Mungkin saja aku bisa membantumu."
"Aku tidak yakin."
"Kenapa?"
"Mengurus masalahmu saja, kamu tidak mampu."
__ADS_1
Aska terdiam.
Hari beranjak sore. Mereka pun berkemas pulang, tapi kali ini formasi mereka berubah. Aiko pindah ke mobil Kenzo agar tidak berdesakan di dalam mobil Arya, dan Tama pindah ke mobil Aska.
"Kenapa Leka gak mau pindah ke sini sih?" keluh Aska.
"Ya, orangnya gak mau, mau gimana?" ujar Tama menerangkan.
Mobil mereka pulang beriringan hingga rumah Arya. Aska melihat mantan istrinya turun dan menyeberang bersama Baby Sitter-nya. Setelah menurunkan Tama, mobilnya pun ikut menyeberang.
"Eh, kita ke mana lagi?" protes Nena.
"Berisik!" ujar Aska kesal. Ia memarkirkan mobil tepat di depan rumah Leka.
Wanita itu baru saja akan membuka pintu pagar rumahnya terkejut, Aska membuntutinya.
"Boleh, aku masuk?" Aska segera turun dari mobilnya.
"Eh? Mmh." Leka membuka pintu pagar dan membiarkan mantan suaminya masuk ke dalam rumah.
Aska melihat seorang satpam yang duduk di beranda rumah, segera berdiri melihat Leka masuk. Rumah mungil itu terlihat asri dan rindang. Banyak pepohonan di tamannya yang kecil itu. Saat masuk, ia di suguhkan pemandangan luar biasa aneh, seperti pernah melihat barang-barang itu sebelumnya.
"Barang-barang ini ...." Aska menyentuh sofa di ruang tamu.
"Milik Kenzo."
Aska menutup mulutnya dengan rapat. Ada sebentuk kemarahan yang coba ia pendam. "Ah, aku hanya memastikan kamu sampai di rumah dengan aman, dan rumahnya nyaman. Ok, aku balik dulu ya?"
Aska segera pergi dari situ dan masuk ke dalam mobil. Saat menjalankan mobil, ia mulai menggila.
"Hei! Kamu sudah gila ya? Kenapa ngebut? Ini daerah rumah penduduk, Aska!" Nena harus berpegangan pada pegangan pintu mobil dan dasbor karena Aska menjalankan mobil seperti orang gila. Kadang mobil berlari kencang, membelok tiba-tiba, mengerem mendadak dan berputar arah tanpa jeda membuat mobilnya menerima makian dan bunyi klakson dari para pengguna jalan.
Untung saja itu hanya perjalanan singkat karena rumah Chris, ayahnya tidak jauh dari perumahan itu. Dengan wajah masam, Nena turun. Setelah itu Aska kembali menjalankan mobilnya seperti kesetanan. Nena hanya melihat saja mobil pria itu berlalu dengan wajah kesal.
-----------+++---------
Leka memasangkan Runi jilbab instannya. "Anak Bunda cantik ya, pakai kerudung." Ia menyentuh hidung Runi yang mungil. Gadis kecil itu semringah mendengar pujian Leka.
Terdengar suara klakson di depan rumah.
"Oh, ayo kita berangkat." Leka segera menggendong Runi dan berjalan melangkah ke luar kamar. Ada Ani yang segera menyambut mereka. Ia mengambil alih Runi.
"Ngak ada yang ketinggalan kan?"
"Insha allah Bu."
"Susu Runi?"
"Sudah Bu."
"Ok."
Mereka kemudian keluar menyambangi mobil Arya. Leka duduk di samping Arya sementara Baby Sitter-nya Ani duduk di belakang bersama Runi.
Tak lama mereka sampai di restoran Arya. Leka yang mulai mengerti tugasnya memulai pekerjaannya dengan mengecek stok barang di penyimpanan dan barang datang. Baby Sitter Runi, Ani, menemani bocah kecil itu berkeliling menjelajah restoran. Arya menyambangi toko bunga Reina yang juga baru buka pagi itu.
"Oh, halo Da." Arya menyapa Chris yang duduk di kursi kayu di beranda toko.
__ADS_1
Chris yang duduk membelakangi Arya, menoleh. "Oh, kau sudah datang. Apa Leka jadi bekerja di tempatmu?"
"Eh, iya." Arya duduk di samping Chris.
"Oh ... apa dia sedang sibuk?"
"Dia sedang bekerja. Perihal yang kau tanyakan tempo hari itu sepertinya tidak bisa. Aku sudah tanya Kenzo. Dia sudah terlanjur berjanji pada Leka."
"Ya, aku mengerti. Biarpun terlihat lugu, orang Jepang sangat memegang janji jadi aku bisa mengerti." Chris melipat tangannya di atas meja.
"Dia menyarankan bantuan langsung pada Leka di banding sembunyi-sembunyi. Aku pikir masuk akal sih, yang dibilangnya."
"Mmh." Chris menyatukan jarinya di depan wajahnya.
"Sekarang dia sedang bekerja tapi masih santai karena belum ada customer(pelanggan) jadi bisa di jeda. Kalau ada yang ingin di bicarakan, lebih baik sekarang."
"Ok, sebentar." Chris bangkit dan masuk ke dalam toko. Tak lama ia keluar bersama Reina. "Ayo kita ke restoranmu."
Mereka kemudian bersama-sama mendatangi restoran.
"Oh, Ibu, Pak ...." Leka terkejut melihat kedatangan mereka. Ia segera menyambangi mereka dan mencium punggung tangan Chris dan Reina.
"Bisa kita bicara," ajak Chris yang menarik salah satu kursi terdekat untuk duduk di sana. Arya di sampingnya.
Leka menarik kursi di tengah sementara Reina sudah duduk di kursi di samping yang satunya.
Reina melihat Runi yang sedang bersandar pada salah satu kursi di temani Baby Sitter-nya. "Eh ... sini anak Nenek ...." Reina merentangkan tangannya.
Gadis kecil itu mendatangi Reina dengan ragu-ragu.
"Sini Sayang." Reina mengambil dan memangkunya.
"Mmh, kamu sudah terlihat sehat ya?" Chris memperhatikan wajah wanita di depannya.
Leka menunduk malu dilihat begitu rupa. Sekilas ia melihat wajah Arya yang duduk di samping Chris.
"Maaf ya, terlihat Bapak seperti mencampuri urusanmu dengan anak Bapak, Aska, tapi Bapak tidak ada niatan sebenarnya mencampuri urusan kalian. Bapak hanya mau bilang terima kasih karena telah menjadi bagian dari keluarga kami walaupun kamu hanya mantan istri Aska. Kedepannya memang kami mengharapkan keluarga yang utuh dari kalian berdua tapi itu bukan merupakan suatu paksaan. Kamu bebas menentukan pilihan bagaimanapun jadinya kelak. Bersatu atau berpisah tapi kedatangan kami bukan untuk itu. Bagi kami, walaupun kamu hanya mantan istri anakku, aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami. Apalagi kau sudah melahirkan Runi buat kami. Itu sudah suatu kebahagiaan tersendiri buat kami. Yang menjadi masalah adalah, apakah kami bisa menjadi keluargamu karena sepertinya hubunganmu yang renggang dengan Aska berimbas pada kami-kami ini yang notabene adalah kakek dan nenek Runi. Kami ingin menjadi bagian dari kamu, keluargamu, mungkin orang tuamu, kalau kamu mengijinkan, tapi sekali lagi kami butuh izinmu untuk jadi bagian dari hidupmu karena kamu sepertinya membatasi dirimu hingga kami merasa kehilanganmu," Chris menerangkan dengan hati-hati.
Leka menitikkan air mata. Ia melihat pandangan mata yang tulus dari kedua suami istri itu. "Maafkan aku." Tangisnya. "Aku tidak bermaksud begitu ... Aku hanya begitu takut terbelenggu oleh sesuatu yang aku tidak tahu sementara aku sendirian di sini. Aku hanya punya Runi yang harus aku lindungi dan aku juga takut kehilangannya ...." Isaknya. Tangisnya tak kunjung berhenti. "Aku sangat takut kalian akan membawa Runi pergi atau memaksaku menikah dengan Bang Aska sementara aku masih ragu. Maaf ... tapi aku tak kenal kalian seperti apa. Kehidupan kalian ... Aku ... aku hanya sendirian tak berdaya. Aku tidak punya tempat bicara. Hanya Kenzo satu-satunya tempat aku bicara. Teman yang selama ini aku percaya. Maaf kalau aku memilih dia yang membantuku di banding kalian karena aku benar-benar takut sebab aku tidak mengenal siapapun di kota ini dan Runi satu-satunya milikku yang aku punya." Ia masih terisak.
Chris mengambilkannya tisu. Di saat bersamaan, Kenzo berdiri di pintu masuk restoran dia mendengar semuanya. Kembali ia keluar dan terenyuh mendengar suara hati Leka. Ia menitikkan air mata. Ia tentu saja tak bisa membantu karena ini semua bergantung pada keputusan Leka. Ia hanya orang luar yang hanya bisa membantu di kala wanita itu memintanya.
"Jadi bagaimana keputusanmu?" tanya Chris lagi pada Leka.
Wanita itu telah menghentikan tangisnya, dan mengangkat kepalanya. Terlihat wajahnya yang sendu.
"Biarkan kami membayar sewa rumahmu ya?" jawab Chris pelan. "Agar tidak ada yang menggosipkanmu macam-macam karena sebenarnya kami masih keluargamu di banding keluarga Pak Arya dan kami ikhlas membantumu tanpa embel-embel syarat apapun."
Leka tertunduk diam. Chris mengambil dompet di saku celananya dan memberikan kartu hitam pada Leka. "Ini untukmu. Untuk keperluanmu."
"Tapi Bang Aska sudah memberikanku kartunya."
"Tapi kau tak menggunakannya kan? Pakai saja milikku."
Leka menerimanya. "Tapi kenapa warnanya hitam?"
Chris tersenyum. "Itu kartu tanpa batas. Kau bahkan bisa membeli rumah dengan itu."
__ADS_1
"Hah?"