Sungai Rindu

Sungai Rindu
Keperluan Runi


__ADS_3

"Kita mau ke mana Mas?" tanya Leka saat mobil berbelok menjauhi arah rumah mereka.


"Kan kita mau belanja keperluan Runi."


"Keperluan?"


"Kan Runi mau punya kamar baru, kamarnya juga harus disiapkan khusus untuk anak-anak."


"Mmh, seperti apa Mas?" Leka tidak mengerti dengan cerita suaminya.


"Ya semuanya. Kamarnya di ganti wall paper-nya(kertas dinding), terus tempat tidur, interkom, karpet. Pokoknya semua interior dalam kamarnya dirubah hingga ia nyaman bermain di sana. Boneka dan mainannya juga di tambah biar dia gak bosan berada di kamarnya."


"Tapi dia masih anak-anak, Mas. Gak ngerti. Main apa saja, bisa dia. Kadang aku kasih tutup panci pun dia senang dan main saja tanpa pikir panjang."


"Hah, Leka. Jangan begitu. Kamu tidak ingin memberikan yang terbaik untuk Runi?"


"Kalau mainan kan tidak begitu penting Mas. Mas suka beri barang-barang mahal sih, padahal banyak barang murah yang bagus. Sayang kan buang-buang uang untuk barang mahal tapi pakainya cuma sebentar?"


"Aku ingin buang-buang uang Leka, uangku banyak dan terus bertambah jadi jangan khawatirkan itu."


"Tapi tetap saja lebih bagus menyimpannya untuk sesuatu yang lebih penting daripada sekedar menghambur-hamburkannya. Kan di luar sana, banyak juga orang-orang yang membutuhkan dan sangat sulit mendapatkannya. Kita yang diberi kemudahan, kenapa tidak bantu orang-orang itu, bukankah lebih berkah?"


Kenzo teringat pada waktu ia masih SMA, Arya pernah mengingatkannya pada hal yang kurang lebih sama dan istrinya kembali mengingatkannya pada hal itu. "Ayah juga pernah bilang begitu, bahwa setiap apa yang kita lakukan akan dihisab termasuk bagaimana cara mendapatkan uang dan menghabiskannya."


"Nah, itu tandanya Mas harus lebih bertanggung jawab."


"Tapi kekayaanku setiap hari terus bertambah dan aku tidak tahu cara menghabiskannya. Lagipula aku hanya ingin memanjakan Runi, apa itu tidak boleh?" Wajahnya sedikit kecewa.


Leka tersenyum senang. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Kenzo. "Boleh, tapi jangan beli yang mahal-mahal saja. Yang standar, tidak apa-apa."


"Mmh."


Mobil pun meluncur ke sebuah Mal besar dan mereka turun di pintu utama. Leka memperhatikan motor yang mengikuti mereka di belakang yang dinaiki dua orang pria berbadan kekar. Salah satunya ikut turun. Mobil dan motor itu kemudian pergi ke tempat parkir bersamaan.


"Apa bodyguard-mu harus lebih dari satu?" Leka bertanya heran.


"Itu standar dari Ayah, tapi mengingat kejadian tadi di restoran, aku sepertinya akan menyewa juga khusus untukmu."


"Untukku?"


"Iya. Mungkin saat kau tidak bersamaku, agar aku tidak khawatir."


Mereka kemudian naik ke lantai dua. Di sana ada toko besar khusus untuk keperluan anak-anak. Dari interior, tempat tidur, mainan, pakaian, gendongan, kereta bayi, hingga wall paper dan hiasan kamar ada tersedia di sana.


"Kamu tidak pilih warna pink untuk wall paper-nya?"


"Aku kok gak begitu suka warna pink ya Mas. Apa warna biru saja?"


"Biru itu biasanya untuk yang laki-laki. Bagaimana dengan warna kuning?"

__ADS_1


"Mmh ... boleh juga."


Namun kemudian, mereka tidak jadi menggunakan wall paper. Toko itu menawarkan seniman untuk melukis dinding dan mereka meminta salah satu dinding di kamar Runi untuk dilukis gambar karakter kartun kesayangan Runi. Winnie the Pooh.


Kemudian mereka juga belanja tempat tidur, pernik kamar, baju, dan kereta bayi untuk memudahkan membawa Runi jalan-jalan. Ketika hendak membayar, Aska dan Monique masuk toko itu. Mereka terkejut melihat pertemuan itu.


"Eh, itu bukannya mantan pembantumu? Eh, maaf, mantan istri ya?" Monique, tipe wanita yang asal bicara, terlanjur bicara yang membuat panas suasana. Beberapa pembeli menengok ingin tahu. Tentu saja kalimat itu tidak saja membuat Kenzo dan Leka kesal tapi juga Aska. Ia mengepalkan tangannya tapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Ayo Sayang, kita bayar dulu. Jangan dengarkan orang yang mengaku berpendidikan tapi mulutnya tidak di sekolahkan!" Dengan tatapan tajam pada Monique, Kenzo meraih pinggang istrinya menuju ke kasir.


Aska malah terlihat cemburu. Ia menarik Monique ke tempat baju-baju bayi, tempat tujuan awal mereka ke toko itu. "Kamu kan minta di temani lihat baju-baju bayi. Ini, lihatlah!" Aska berusaha bermulut manis pada Monique agar tidak membuat suasana makin bertambah runyam. Ia memang tidak terima dengan ucapan wanita itu kalau Leka adalah pembantu tapi ia lebih tidak tahan lagi melihat kemesraan kenzo dan Leka di depan matanya.


"Sayang, kenapa kamu tidak membelaku tadi? Orang Jepang tadi meledek, mulutku tidak di sekolahkan!" Monique merengut kesal.


"Sudah, hal-hal kecil begitu tidak usah diributkan."


"Itu bukan hal-hal kecil. Dia meledekku ...."


"Iya ... tahu, tapi kamu sendiri yang memulai membuat orang lain merasa tersinggung dengan omonganmu. Masa gara-gara itu kamu mau aku bertengkar di depan umum sih? Udahlah lupakan saja." Aska sangat kesal pada Monique tapi coba di tahannya agar rencana pernikahannya tidak batal gara-gara hal sepele seperti sekarang ini. Ia harus kaya dan berkuasa agar ia punya kesempatan untuk mendekati Leka lagi.


Walaupun kesal Aska tidak membelanya, ia berusaha mengalah dengan fokus pada baju-baju bayi. Setelah Monique fokus pada belanjaannya, diam-diam Aska kembali mengintip Leka.


"Oh, itu wanita yang akan dinikahi Bang Aska?" gumam Leka.


"Kamu kenal?"


"Kalau tidak salah, wanita itu teman saudara kembarnya Bang Aska, Salwa."


"Aku pernah bertemu dengannya sedang makan berdua dengan Salwa di sebuah restoran, tapi aku tidak tahu namanya."


"Om, om!" Runi melihat Aska sedang mengintip Leka membuat pria itu kembali bersembunyi.


"Sudah Pak." Kasir itu mengembalikan kartu hitam Kenzo dan Leka melihat tagihannya.


"Ini mahal sekali ...," kata Leka yang tercengang melihat total pembayarannya.


Kenzo tersenyum. "Tidak apa-apa ...." Ia meraih kepala istrinya mendekat dan mencium keningnya. "Tolong bungkuskan pakaiannya dan gunting label harga pada kereta dorongnya karena kami akan pakai. Sisanya tolong di kirim ke rumah ya? Kapan di kirim?" tanyanya pada kasir.


"2 - 3 jam lagi Pak, nanti mungkin akan di telepon kalau sudah dekat."


"Ok, makasih."


Kereta bayi pun di buka. Runi mencoba menaiki kereta bayi itu. Awalnya ia sedikit bingung tapi lama-lama ia menyukainya. Ia bisa bersandar atau tiduran di dalam kereta itu sambil mengintip orang tuanya.


"Ini biar gak capek gendong dan saat ia tidur juga tidak merepotkan."


"Kalau turun tangga bagaimana?"


"Kan ada bodyguard yang mengurusnya."

__ADS_1


Leka begitu fokus dengan pengetahuan barunya, ia tidak sadar Aska mengintipnya di balik rak-rak barang jualan di sana.


Ani sedikit senang, pekerjaannya mengurus Runi semakin mudah. Ia tidak perlu menggendong Runi ke mana-mana karena sudah ada kereta bayi yang bisa meringankan pekerjaannya. Kereta itupun di dorong keluar toko bersamaan dengan keluarnya Leka dan Kenzo. Mata Aska masih mengiringi kepergian Leka dari toko itu.


"Ka, kamu di mana?" Monique mencari-cari pria itu di dalam toko. Aska buru-buru kembali.


"Iya, Sayang. Aku di sini."


"Kira-kira anak kita, cowok apa cewek Yang?" Monique menyodorkan 2 baju bayi yang beda warna. Satu warna biru dan satu warna pink.


"Eh, kita kan belum tahu jenis kelaminnya Yang, jadi gak bisa mengira-ngira."


"Kalau begitu, kita ke dokter kandungan saja sekarang, bagaimana?" Wanita itu meletakkan kembali pakaian bayi itu pada raknya.


Aska mengepalkan tangan geram. Sedari tadi ia harus mengikuti keinginan wanita ini ke sana kemari tanpa hasil. Monique tadi minta ditemani beli makanan, tapi pada saat ia lihat antrian, ia berubah haluan untuk pergi ke Mal ingin membeli pakaian bayi. Setelah di sana, ia berubah pikiran lagi untuk pergi ke dokter kandungan. Betapa memusingkannya mengikuti kemauan wanita yang satu ini, karena tidak jelas keinginannya. Rasanya, kalau tidak karena ingat ingin mendapatkan Leka kembali, ia sudah mencekik wanita itu di mobil saat ia mengendara di tengah kemacetan menuju ke Mal tadi.


"Eh, ini hari Minggu Sayang, tidak ada klinik yang buka. Besok saja ya, sepulang kantor."


"Mmh, pagi aja. Nanti aku bilang Papa deh, kamu antar aku periksa kehamilan."


Aska sebenar ingin marah. Ia tak suka diatur-atur karena biasanya dialah yang mengatur, tapi apalah daya demi sebuah obsesi.


Tenang Aska, setelah kau menikahi Monique, dengan mudahnya harta itu akan jatuh ke tanganmu. Setelah itu semuanya akan menjadi mudah. Tinggal kamu tipu-tipu sedikit wanita indo yang satu ini, dia takkan tahu. Dengan menjadikan Leka istri keduamu dan membelikannya rumah, segalanya akan menjadi mudah. Harta adalah segalanya.


Pria itu mengemas bibirnya dengan senyum palsu dan mengajak Monique keluar. "Kalau begitu, kita makan dulu ya? Aku tiba-tiba lapar ingin segera makan."


"Ya tapi kan Dinner masih lama. Baru jam 4. Ini apa, Supper?(Supper adalah makan di antara makan siang dan makan malam)"


"Ya, apalah namanya, pusing aku dengarnya. Yuk ikut aja, nanti kamu makan es krim juga gak apa-apa. Atau kue-kue." Aska menarik tangan Monique keluar dari toko itu. Ia penasaran ke mana Kenzo dan Leka pergi.


"Oh, cake. Aku suka." Monique dengan senang mengikuti.


Leka dan Kenzo memang pergi ke lantai tempat penjualan makanan, tapi rencananya hanya take away saja untuk di makan nanti di rumah. Mereka menunggunya di sebuah restoran cepat saji.


"Kau suka? Mmh, Runi?" tanya Kenzo yang duduk di samping kereta bayi Runi.


Runi tersenyum memperlihatkan giginya yang tidak banyak. Saat Kenzo menyodorkan jarinya pada gadis kecil itu, Runi menggenggamnya. Kenzo menggoyang-goyangkan tangan kecil itu membuat Runi tertawa.


Aska melihatnya. Ia menarik Monique ke sana.


"Eh, kita mau ke mana Ka?" Monique melihat kembali Leka dan Kenzo di sebuah restoran dan langkahnya menuju ke sana.


"Kamu tidak ingin mengenal anak pertamaku, Runi?" Aska mendekati Kenzo dan Leka yang terkejut melihat kedatangan Aska dan Monique.


Bodyguard Kenzo langsung menghalangi di depan.


"Hei, aku kan mau lihat anakku sendiri? Masa tidak boleh?"


____________________________________________

__ADS_1


Ada karya teman Author yang sedikit kontroversi, mengangkat tema tentang pindah agama. Author Teh Ijo dengan judul Segenggam Luka. Jangan lupa vitamin Author ya? Like, vote, komen, hadiah dan mungkin koin. Salam, Ingflora💋



__ADS_2