Sungai Rindu

Sungai Rindu
Keras Kepala


__ADS_3

"Zack, tolong temani Lydi. Papa mau bicara di dalam sebentar."


"Iya Pa."


Zack dan Lydia duduk berdampingan di kursi panjang di ruang tunggu. Lydi meletakkan kepalanya di bahu Zack, dan pemuda itu merengkuh bahu Lydia. Zack tak ingin banyak bicara karena Lydia terlihat rapuh.


Chris bicara dengan polisi yang bertugas, ia kemudian meminta dipertemukan dengan Rafi. Pria bule itu kemudian dibawa ke sebuah ruangan lain yang berisi 2 sel yang tidak besar. Satu sel biasanya terdiri dari beberapa orang. Rafi langsung berdiri ketika Chris datang. Petugas itu meninggalkan mereka sehingga mereka lebih leluasa berbicara. Chris mendekati Rafi.


"Apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?"


"Sst!" Rafi meletakkan telunjuknya di depan bibir. Ia memanggil Chris mendekat agar orang lain di sel itu tidak menguping pembicaraan mereka.


Chris menurut.


"Aku tadi hanya bertemu Romi dan aku berani sumpah sejak menikah dengan Anna aku tidak pernah menyentuh barang haram itu lagi." terang Rafi. Romi adalah mantan anak buahnya saat menjadi Gembong Narkoba.


"Tapi dia masih kan?"


Rafi mengangguk.


"Kenapa tidak kau katakan saja begitu?"


"Sekarang polisi sedang mencari Gembong Narkobanya."


"Apa dia ...."


Rafi mengangguk.


"Lalu kenapa kamu ...."


Rafi menggeleng.


"Rafi ... kau gila!" bisik Chris marah. "Kau ingin Lydia kehilangan seorang ayah?"


Rafi hanya diam. Kalimat tadi tidak juga membuat Rafi sepertinya ingin berubah pikiran. Chris terlihat geram. "I'm done with you!(aku sampai di sini saja denganmu!)" Ia marah dan meninggalkan Rafi.


Chris segera membawa Lydia dan Zack naik ke mobil. Dalam perjalanannya pulang pria bule itu tak habis pikir kenapa Rafi melindungi Romi padahal sepertinya Romilah orang telah diberi kerajaan bisnis narkoba itu oleh Rafi mengingat Romi dulu adalah tangan kanan Rafi. Pria itu tinggal memberitahu siapa Gembong Narkoba yang sekarang dan pasti ia bisa bebas melenggang keluar dari penjara. Kenapa ia tidak bisa melakukan itu dan malah membiarkan polisi menangkapnya juga, apa selama ini ia masih terlibat menjalankannya diam-diam tanpa sepengetahuan mertuanya? Sebab yang Chris tahu, mertuanya masih mengawasi pria itu hingga kini. Apa karena mertuanya itu tidak bisa berbahasa Indonesia, makanya bisa kecolongan?


Berbagai praduga berputar di kepala Chris tanpa tahu ujungnya. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. "Kita ke toko bunga saja," ucap Chris pada bodyguardnya.


Segera setelah sampai, Chris mencari istrinya sampai ke dalam toko. Ia menceritakan masalah ini semuanya. "Aku tidak mengerti dengan gaya mereka berdua hidup, dan kini aku juga tidak mengerti cara berpikir keduanya. Sepertinya mereka baik-baik saja dengan cara mereka hidup! Hanya orang lain saja yang melihatnya geram!"


Reina mendengar curahan hati Chris atas pasangan Anna-Rafa yang terlihat baik-baik saja hidup terpisah selama bertahun-tahun. Ia hanya bisa tersenyum. "Ya begitulah rahasia suami istri itu, hanya mereka yang tahu kebenarannya, apakah mereka nyaman dengan itu atau tidak dan tidak semua orang bisa mengerti itu."


"Hehhhh ...." Chris berdiri dengan bertelak pinggang. Ia menundukkan kepala untuk berpikir. "Sepertinya hanya istrinya yang bisa menyelesaikan masalah rumit ini. Kau punya nomor Anna kan? Tolong beritahukan masalah ini padanya."


"Iya Sayang." Reina segera menelepon Anna. Ia menceritakan semua masalah Rafi pada istri pria keturunan India-Indonesia itu. Tak lama ia menutup hp-nya.


"Apa katanya?" tanya Chris penasaran.


"Ia masih tour seminggu lagi, setelah itu ia baru bisa ke Jakarta."

__ADS_1


"Tuh kan? Aku saja geram melihat mereka bergerak lambat!!!" Chris benar-benar berusaha menahan amarahnya.


"Sayang ...." Reina mendekat dan membelai rahang suaminya yang mengeras. "Anna beranggapan bahwa prosedur polisi itu lama sehingga bisa saja Rafi dibebaskan, tapi kalau pun ternyata suaminya tersangkut, tetap saja prosedurnya memakan waktu karena akan bergeser ke sesi penyelidikan. Ia tahu prosedurnya, makanya terlihat santai begitu." Reina menyentuh dagu Chris dengan ujung jarinya.


"Mmh." Chris mulai mengerti tapi tak ayal ia masih bingung akan tingkah laku mereka berdua hingga harus menggaruk-garuk dahinya. "Yah, terserah sama mereka sajalah, aku pusing memikirkannya."


Chris kembali ke mobil tapi tidak menemukan Zack. Ke mana dia? Rupanya dia pergi ke restoran.


"Mbak, mau beli Salad Buah 1 yang besar ya?"


"Salad buah ya?" jawab Leka.


"Eh, Zack. Kamu mau beli Salad Buah ya?" Aska duduk di tempat yang sedikit tersembunyi hingga tidak terlihat oleh Zack. Ia berdiri menghampiri.


"Eh, Kakak." Zack menatap Aska. "Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia bekerja di rumah Kakak ya?" Ia menunjuk Leka. Rupanya Zack tidak tahu, mantan istri kakaknya yang disebut Salwa adalah Leka. Yang ia tahu Leka adalah pembantu di rumah Aska.


"Oh, itu. Dia sekarang jadi pacarku." jawab Aska dengan senyum yang dibuat-buat.


Tentu saja Leka sebal. Kenapa tidak berterus terang saja sih kalau dulu dia berbohong? Kenapa malah membuat kebohongan baru?


Namun Zack cepat tanggap. Ia langsung mengerti apa yang terjadi. "Oh ... dia yang di sebut mantan sama Kak Salwa?"


Kini Aska pura-pura tertawa karena kebohongannya telah ketahuan adiknya. Leka yang sudah membungkus pesanan Zack langsung dibayar oleh Aska.


"Biar Kakak saja yang bayar."


Leka memberikan uang pria itu pada bagian kasir, lalu meninggalkannya.


"Leka, Leka tunggu ...." Aska tak bisa mengejar Leka yang pergi ke pintu belakang begitu saja. Ia menunggu uang kembalian dan barang belanjaan yang langsung diberikan pada Zack. Ia mengantar paksa adiknya itu untuk ke luar restoran agar ia bisa mengejar Leka. "Sudah ya, kamu cepat pulang saja."


Aska mengejar Leka ke pintu belakang sementara Arya dan Mariko yang berada di dapur ikut melihat kejadian itu. Arya yang sedang bersandar pada sebuah meja sambil melipat tangannya di dada, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lihat, dia tidak berubah."


"Saitei!"


"Apa itu?"


"Manusia rendah!"


"Ooo ...." Arya mengangguk-anggukkan kepala.


Zack yang kembali ke mobil, memperlihatkan bungkus belanjaannya pada Lydia dengan senangnya. "Nanti kita makan ini berdua di kamar ya?"


Lydia yang masih terlihat bingung hanya diam membisu dan mobil pun meluncur ke jalan.


------------+++----------


"Makasih Kak."


"Makasih Oniichan."


Kedua adik Kenzo begitu senangnya menerima bungkusan belanja dari kakaknya, mereka masing-masing memeluknya erat.

__ADS_1


"Ini juga buat Mama sama Ayah, tolong ya?" Kenzo menyerahkan pada Aiko.


"Iya, Oniichan."


"Niichan pergi dulu." Kenzo segera masuk ke dalam mobilnya. Ia kembali menyetir sendiri dan bodyguardnya mengikuti di belakang dengan motor. Sesekali ia melirik bungkusan yang berada di kursi di sampingnya. Ia kemudian memasuki perparkiran restoran yang sedikit jauh karena ia sendiri ragu-ragu. Ia melihat dari kaca pintu mobilnya, Leka yang terus dibuntuti Aska. Juga ada kedua orang tuanya.


Entah kenapa ia bisa sampai di sana, padahal melihat Leka yang diekori mantan suaminya itu hanya membuat hatinya semakin tak berdaya. Tak berdaya meninggalkannya tapi melihatnya hanya menambah luka. Luka lama yang kembali tergores di tempat yang sama. Ah, ia benar-benar kembali seperti dulu, membiarkan dirinya terluka berkali-kali hanya karena ingin memandangi wanita itu, ekspresi wajahnya, gerak tubuhnya, bahkan saat wanita itu diam memikirkan sesuatu. Sekarang wanita itu sedang berekspresi wajah kesal pada pria yang sedang membuntutinya. Ia bergerak dengan lebih cepat membuat si pria hilang akal.


Ah, aku bukan stalker, yang membuntuti kehidupan pribadi orang lain dan aku bukan penggemarnya. Namun, mau tak mau saat ia membatin tentang 'penggemar', ia merasa masuk ke dalamnya. Bukankah diam-diam ia mengagumi kecantikan wanita itu? Wanita idolanya yang tak berani ia gapai karena terbentur status wanita itu.


Hah ... aku memang stalker. Apa aku berani memberikan oleh-oleh ini padanya? Tidak kan? Apa aku berani mendekatinya lagi? Juga tidak. Padahal aku sekarang ini sedang mengintipnya. Betapa bodohnya aku ini.


Kenzo akhirnya menghidupkan kembali mobilnya dan meninggalkan restoran.


-----------++++---------


Leka pulang diantar Aska.


"Leka ...."


Wanita itu tidak mendengarkan dan segera turun dari mobil. Juga Baby Sitter-nya. Mobil akhirnya melaju meninggalkan mereka.


Leka segera masuk ke dalam perkarangan rumahnya. Satpam penjaga rumahnya berdiri dan menyodorkan sebuah bungkusan plastik.


"Apa itu Pak?"


"Oleh-oleh dari Pak Kenzo."


Leka kemudian menerimanya dan membawanya masuk. Ia membukanya di kamar. Sebuah mainan untuk menulis yang bisa dihapus dengan sekali tarikan, sepertinya itu buat Runi. Satu lagi di bungkusan kecil sebuah gelang tembaga yang di sambung-sambung dengan beberapa manik-manik membuatnya terlihat unik. Leka sangat menyukainya. Ia langsung memakainya.


Indah sekali. Ia membelikannya untukku? Ini sudah malam ya? Besok saja aku berterima kasih padanya.


Leka masih memperhatikan gelang pemberian Kenzo yang melingkar di tangannya. Kenzo, terima kasih ....


------------++++-----------


Arya dikejutkan oleh notif di hp-nya pagi itu saat ia hendak keluar kamar untuk sarapan. Dari Kenzo. 'Ayah aku pergi. Maaf aku tidak pamit. Aku sampai kini masih belum bisa menentukan keinginanku. Maaf.'


Arya benar-benar kesal. Ia mencoba menelepon Kenzo tapi tak diangkat. Puncak kekesalannya, ia membanting hp-nya ke tempat tidur. Lama ia termenung. Kemudian ia mencoba menjawabnya dengan masih diliputi rasa marah.


Kenzo saat itu sudah berada di bandara. Ia sengaja tidak mengangkat telepon dari Arya agar ia tidak terpengaruhi bujukan Ayahnya, tapi ia membaca notif dari Ayahnya itu.


'Manusia mati sekali, tapi seorang pengecut, ia mati berkali-kali.'


Mata Kenzo memerah. Tanpa ia sadari, setetes air matanya jatuh. Ayah, kau benar, batinnya.


Namun kemudian menyusul notif berikutnya. 'Ayah menyayangimu. Cepatlah pulang, jangan membuat kami menunggu lama. Ayah akan selalu mendoakanmu dari jauh.'


Air mata Kenzo mengalir deras. Sambil mendekap hp-nya, isaknya yang berusaha diredamnya terlihat sangat memilukan.


Ia duduk pada sebuah kursi panjang yang tersembunyi. Di tengah suasana bandara yang cukup ramai, Pria itu berusaha tabah.

__ADS_1


Tahukah kamu Leka? Perjalanan terberatku adalah melupakanmu. Tidak sekali pun aku bisa tidur nyenyak tanpa menggelisahkanmu. Maaf aku pergi tanpa pamit. Aku takut tak mampu pergi bila melihatmu memohon padaku.


Keluarga Arya mengintip di kaca jendela ruang depan, melihat Leka yang sudah membawakan makanan ke rumah Kenzo, harus menuai kecewa. Pria itu kembali berangkat ke luar negeri tanpa pamit padanya.


__ADS_2