
Kemudian aku bertemu dengan orang tuaku di depan sekolah dan sudah menungguku. Saat aku menghampirinya. dengan bangga ayahku mengusap-usap kepalaku. Aku menjadi murid terbaik di angkatan ini. Ibu juga tersenyum lebar dan haru melihatku yang lulus dengan predikat terbaik.
Aku dan orang tuaku pulang bersama ke rumah. Kami tidak berjalan dengan Alya dan ibunya. Mereka sudah keluar dari sekolah terlebih dahulu, kemudian disusul oleh kami di belakangnya.
Tak terasa waktuku di desa ini tidak kurang dari sehari lagi. Setelah sampai di rumah, aku belum sempat berganti pakaian, hanya melepas topi dan jubah. Aku langsung menuju ke rumah Alya sebagai salam perpisahan. Aku berlari selama perjalanan. Kali ini aku tidak boleh ceroboh. Saat aku sudah dekat dengan
rumahnya, terlihat sepi dan tidak ada siapa-siapa di sana.
Kemudian aku mengetuk pintu dan memanggil Alya. Tak lama Alya membukakan pintu dan mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya. Aku pun masuk ke dalam rumahnya. Seketika itu aku terkejut.
“Selamat jalan, Malka! Kami akan merindukanmu!” teriak Ellie, Ethan, dan Gras.
Alya yang masih memegang kenop pintu langsung menepuk pundakku.
“Aku membuat pesta perpisahan kecil-kecilan,” cakap Alya, lalu ia pergi ke belakang mengambil makanan.
Aku yang terkejut seketika sedih dan terharu. Tanpa kusadar air mata menetes dari mataku. Kemudian mereka memelukku. Kami berpelukan dan saling meneteskan air mata. Alya yang dari belakang membawa makanan lantas melihat kami. Lalu ia berlari menaruh makanan tersebut dan berlari memeluk kami.
“Kenapa kau harus pergi?” tanya Gras menaikkan nadanya seperti hal ini tidak akan terjadi.
Aku yang sedang menangis tak sanggup menjawabnya. Mulutku tertahan dan tersedu-sedu. Beribu-ribu khayalan terpikir di benakku.
“Apa benar aku dapat kembali ke sini lagi?”
“Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan mereka dan desa ini?”
“Apa yang akan teman-temaku lakukan setelah aku tidak ada di antara mereka?”
“Mengapa ini harus terjadi?”
Dan masih banyak pertanyaan yang terlintas di kepalaku.
“Kau berjanji akan kembali, kan? tanya Ellie kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca dan penuh harap.
“Aku berjanji. Suatu hari nanti kita akan mencapai tujuan kita bersama-sama,” jawabku menenangkannya.
__ADS_1
Aku pun mengelap pipiku yang basah dengan tanganku. Kemudian kami makan bersama yang dibarengi dengan obrolan yang semakit larut semakin membuat kami sedih. Bercerita awal mereka bertemu denganku, dan menceritakan susah senang yang kami alami selama ini.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Aku harus menyiapkan segala persiapanku untuk berangkat besok. Sebelum kami semua pamit dan berpisah. Kami meneriakkan nama perkumpulan kami.
“Synnefá!” teriak kami bersama. Dengan mengangkat tangan yang dikepal dan penuh tekad.
Kemudian kami pamit dengan Alya dan ibunya. Satu per satu aku berpelukan dengan mereka. Mengingat kembali semua kejadian yang kami alami bersama. Namun aku harus menatap masa depan dan tidak berpaku pada masa lalu. Apapun yang terjadi semua sudah tertulis sebagai takdir yang sudah ditentukan. Saat aku membuka pintu, aku melihat semua wajah teman-temanku dengan saksama. Memasang memori kuat bahwa inilah temanku, suatu saat kita akan bertemu kembali entah kapan, dimana, dan bagaimana. Mungkin kita bertemu saat kita sudah sukses.
Aku berjalan pulang dengan perasaan sedih yang menghantuiku setiap saat. Mataku yang berkaca-kaca berusaha menahan jatuh air mata. Setiap suasana desa yang kulihat akan terus kukenang sampai aku dapat kembali ke desa ini lagi. Tak terasa aku sudah sampai di rumah, kemudian aku masuk dan menyiapkan segala persiapan untuk besok. Kemudian aku bersiap untuk tidur.
Setiap aku memejamkan mataku, aku selalu teringat semua kejadian tersebut. Aku tidak bisa tidur. Aku sudah berganti-ganti posisi, mencari posisi yang nyaman. Namun semuanya sia-sia. Mataku hanya tidak dapat tertutup.
Hari telah berganti. Aku masih belum bisa memejamkan mataku. Sampai ketika aku terlelap saat hari sudah fajar. Sepertinya aku akan mengantuk kelelahan pagi nanti. Aku juga masih memikirkan apa maksud dari mimpi sebelumnya. “Av— Av—… Apa itu?” pertanyaan di dalam kepalaku sambil mengingat-ingat kembali
mimpi itu.
Sang fajar sudah terbit dan hari mentari akan muncul. Aku bersiap-siap mengemas semua perlengkapanku. Jangan sampai ada yang tertinggal. Aku memasukkan semua pakaian dan lainnya ke dalam tasku. Kami tidak memindahkan parabotan dan alat rumah tangga lainnya karena kami sudah disiapkan tempat tinggal di sana oleh perusahaan ayahku bekerja.
Semuanya sudah siap. Sebelum menutup dan mengunci pintu rumah. Aku memastikan bawaanku kembali. Dan benar saja, merpati kecil permberian ibuku tertinggal di kamarku. Untung saja ayahku belum mengunci pintunya. Aku kembali ke atas dan mencari benda kecil itu berada. Sedangkan orang tuaku menungguku di depan sambil mengobrol dengan orang-orang yang melintas.
Aku yang sedang mencari dengan tergesa-gesa, sampai-sampai buku pelajaranku terjatuh dari lemari. Betapa cerobohnya aku. Namun aku melihat sebuah kertas yang terselip di buku tersebut. Aku pun mengambilnya dan membuka lipatan kertas itu. Aku membaca tulisan demi tulisan dengan perlahan.
Aku merindukan lukisan memori kita bersama
Sampai aku mendapati sebuah rasa
Yang belum pernah ada sebelumnya
Namun aku tidak bisa mengungkapkannya
Aku hanya bisa menunggu sampai saat itu tiba
Tiba
Kemudian bersama
__ADS_1
Selamanya…
Sekarang, aku hanya ingin kau
Peka
Dari seorang yang hanya tertawa dan cerita bersama
Seketika aku terdiam dan teringat semua kejadian yang pernah kualami bersama teman-temanku. Namun aku masih bingung. “Darimana surat ini?” tanyaku di dalam kepalaku. Tak lama aku menemukan merpati kecil yang kucari. Tetapi saat itu juga terpikir di kepalaku pertanyaan-pertanyaan.
“Kapan waktu itu tiba?”
“Apa yang Ibu maksud aku tidak akan sendiri?”
Kepalaku pusing banyak memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Kemudian kubawa merpati kecil itu dan juga membawa surat tersebut. Aku masih penasaran siapa yang menulis di kertas ini. Tulisannya bagus dan rapih, tak kalah dengan tulisan-tulisan buku. Namun aku tak mengenalinya.
Aku kembali ke bawah dan menuju depan rumah. Ayah yang sedang asyik mengobrol. Setelah itu ayahku menutup dan mengunci pintu rumah. Kemudian kami berjalan menuju ke stasiun. Tak sedikit juga kami berhenti mampir dan mengobrol sejenak dengan orang-orang sekitar.
Saat kami mendekati stasiun terlihat dari kejauhan keraimaian yang sedang menunggu. Ketika kami sampai, orang-orang menyambut kepergian kami. Di sana juga ada Alya, Ellie, Ethan, dan Gras. Mereka memberikan selamat jalan kepada kami dan orang yang pergi juga. Ada pula Jack dan teman-teman sekolah yang lain. Setelah lulus memang orang-orang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan atau menyambung pendidikannya.
“Sampai jumpa,” ucap Alya dengan matanya berkaca-kaca.
“Kami tunggu kau kembali ke sini,” tambah Ellie.
Mereka melihatku dengan senyum dan penuh haru. Ethan dan Gras juga melihatku melangkahkan kaki menaiki kereta. Seketika Gras merengek dengan keras dan semua orang menoleh tertuju kepadanya. Aku yang melihatnya juga sedih bahwa kita akan berpisah.
Alya yang melihat ibuku kemudian tersenyum dengan matanya yang membendung air mata.
Tak lama kemudian kereta berangkat dan kami meninggalkan mereka yang telah mengisi saat-saat terakhir masa sekolah. Kenangan yang akan kurindukan. Setiap jarak yang berlalu semakin membuatku teringat dengan semuanya.
“Kulihat kau saling tersenyum dengan ibunya Malka? Kau sudah saling kenal?” tanya Ellie penasaran kepada Alya.
“Sepertinya apa yang dikatakan perempuan di taman itu benar. Aku hanya bisa berharap dan menunggunya,” balas Alya dengan menggenggam sebuah benda di tangannya.
Alya, Ellie, Ethan dan Gras kemudian meninggalkan stasiun. Mereka berharap suatu saat kita semua akan bersatu kembali.
__ADS_1
Sedangkan Ellie masih bingung dan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Alya.
Bersambung~