Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kawan SMA


__ADS_3

Kali ini keberangkatanku ditemani oleh Ayah ke perusahaan tersebut. Tempatnya cukup jauh dari rumahku. Perusahaan ini terletak di jantung kota Centra. Lalu lintas di sini agak padat. Sepertinya kami akan sedikit terlambat. Aku dan ayahku pergi ke Knox Corp menggunakan transportasi kebanggaan kota yaitu Pinishi.


Tampak keramaian dari kejauhan. Sebuah gedung yang sangat tinggi dan orang-orang juga bingung dengan keberadaannya yang berdiri tegak seperti hanya dibangun semalaman. Aku dan ayahku turun dari kendaraan dan mendatangi keramaian tersebut. Ternyata sudah banyak orang-prang yang menunggu untuk seleksi pekerjaan tersebut.


Pekerjaan yang didaftarkan oleh ayahku tidak main-main. Pekerjaan yang ditawarkan adalah kursi-kursi pejabat perusahaan. Tidak semua orang bisa mendaftarkannya. Hanya lulusan-lulusan yang terbaik saja yang mampu untuk mendapatkan kursi tersebut. Sekalipun ada orang bobrok yang mendaftarkan diri, ia akan langsung tersingkirkan oleh kontestan lainnya.


Aku yang melihat proses seleksi agak sedikit bingung dan terheran-heran. Seleksi terlihat seperti ajang kontes bakat. Hanya dengan wawancara dan menunjukkan kemampuannya. Aku mendapat urutan yang masih cukup panjang. Aku hanya bisa menunggu di ruang tunggu seleksi sedangkan ayahku menunggu di ruang tunggu khusus pengantar.


“Malka Syahnivir.”


Sepertinya namaku sudah dipanggil. Aku langsung menuju ruang wawancara dan ada seorang yang menggunakan jas rapih dengan kertas-kertas di tangannya. Aku duduk dengan rileks dan tenang. Aku berusha membuang rasa tegang yang ada.


“Sudah siap?” tanya orang yang akan mewawancaraiku itu.


“Ya,” jawabku penuh yakin.


Wawancara kali ini diisi dengan pertanyaan yang tidak membingungkan dan aku bisa menjawab semuanya. Dan sekarang saat untuk unjuk kemampuanku. Aku pandai menelaah berbagai kondisi dan mengatasinya. Orang tersebut memberikanku beberapa skenario masalah dan aku disuruh untuk menemukan solusinya. Itu terlihat mudah bagiku.


Aku juga ditanya tentang kemampuanku bela diri. Aku menunjukkannya sesuai dengan apa yang telah kupelajari waktu itu. Walaupun ada beberapa yang lupa tapi aku menunjukkannya dengan penuh keyakinanku. Orang tersebut sampai ternganga dan terkesima melihatnya. Setelah itu seleksiku selesai.


Aku keluar dari ruang wawancara dan menemui ayahku yang sudah menunggu di depan gedung. Sekarang kami hanya bisa menunggu sampai dihubungi oleh perusahaan tersebut. Akhirnya kami pulang kembali ke rumah. Aku merasa sangat lega dan sangat yakin dengan hasilnya nanti. Aku ingin bekerja mengisi waktuku agar tak sia-sia.


Hari demi hari terus berjalan. Seminggu setelah hari seleksi ayahku dihubungi oleh perusahaan tersebut. Dan benar saja, aku diterima di perusahaan itu dan mendapat jabatan yang cukup tinggi. Aku belum tahu aku mendapat divisi apa sampai aku datang ke kantor besok. Yang diterima oleh ayahku hanya informasi kalau aku diterima oleh perusahaan tersebut dan diminta untuk datang besok.


Aku sangat senang sekali mendengarnya. Waktuku di kota ini tidak akan sia-sia. Apalagi waktu tinggal kami yang cukup lama di sini yakni sekitar lima tahun lebih bahkan hampir enam tahun. Besok adalah penandatanganan kontrak dan bertemu langsung dengan kepala perusahaan yang amat besar ini.


Keesokan harinya aku kembali ke perusahaan itu untuk penandatanganan lembar kontrakku. Saat aku sampai di sana sudah ada presiden perusahaan Knox Corp. Namanya sama seperti nama perusahaannya yaitu Knox. Aku berkenalan dengannya.


Aku dipersilakan masuk ke dalam ruangannya dan duduk di bangku yang telah disediakan. Aku diberi selembar kertas kontrak olehnya. Aku membaca kertas kontrakku dengan perlahan dan saksama.


“Sebelum menjabat saya akan menjalani pelatihan fisik selama tiga bulan.”


Kalimat tersebut kubaca di bagian bawah lembar kertas tersebut. Aku sedikit terkejut dan bingung yang dimaksud dari pernyataan itu.

__ADS_1


“Apa maksud pernyataan ini?” tanyaku kepada Knox dengan heran.


“Sebelum kau menjabat kau akan melakukan pelatihan,” jawabnya dengan santai.


“Untuk apa?” tanyaku kembali kepadanya dengan penuh bingung.


“Aku tidak ingin pejabatku memiliki akal namun tidak memiliki otot. Dunia ini keras, Bung. Kau butuh perlindungan diri sekalipun kau sudah merasa aman,” cakapnya menjelaskan kepadaku dengan lagaknya yang sedikit tengil.


“Baiklah. Lagipun hanya tiga bulan,” ucapku.


“Silahkan tanda tangan kontraknya. Kau akan menjabat selama lima tahun sebelum diperpanjang,” kata Knox kepadaku sambil memberikan pulpen.


“Jadi aku bisa saja lebih dari lima tahun?” tanyaku heran.


“Iya. Tergantung dengan produktivitasmu dan reputasimu. Aku akan menawarkannya kembali nanti saat penghujung masa jabatan,” jelasnya kepadaku.


Aku pun menandatangani lembar kontrak tersebut. Aku akan mengikuti pelatihan fisik mulai besok. Setelah tiga bulan itu aku akan mulai menjabat dan saat itulah perusahaan ini mulai berjalan. Aku berjabat tangan dengan Knox kemudian pergi meninggalkan ruangan. Ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggu setelahku.


Aku berjalan keluar meninggalkan gedung dan hampir sampai di gerbang utama gedung ini. Secara tidak sengaja dan tidak direncanakan aku bertemu dengan Jack. Ternyata ia juga diterima bekerja di perusahaan ini. Kami saling menyapa dan mengobrol singkat. Ia tinggal di sisi timur kota sendirian. Orang tuanya masih bekerja di desa. Jack pindah ke kota untuk meningkatkan taraf hidupnya dan ingin menjadi orang yang sukses.


Setelah mengobrol ringan dan singkat di depan gerbang. Aku berpisah dengan Jack. Jack masih harus bertemu dengan Knox untuk penandatanganan kontraknya. Kami semua yang diterima di sini belum mengetahui akan mendapat pekerjaan di bidang apa. Tapi Knox berbicara kepadaku bahwa aku akan ditempatkan di divisi pengembangan riset. Ia pun belum tahu nama yang tepat untuk itu. Oleh sebab itu ia akan mengadakan rapat pertama setelah pelatihan nanti. Kira-kira begitulah katanya.


Aku sudah kembali ke rumahku. Ayah dan ibuku sudah menungguku dan menanyakan kabarku di sana. Aku menceritakan semuanya dan mereka bangga kepadaku. Aku hanya perlu menunggu besok untuk hari pertama pelatihan fisik. Sepertinya aku juga akan bertemu dengan Jack kembali di sana.


Cuaca yang berawan dan sedikit gelap menyambut hari pertama pelatihanku ini. Di sini temperaturnya cukup sejuk. Tidak seperti biasanya yang terik dan hangat. Hanya sedikit orang yang pergi berjalan kaki dan semuanya menggunakan kendaraan. Mungkin mereka ingin berjaga-jaga agar tidak basah saat tiba-tiba hujan.


Aku pergi menuju lapangan perusahaan yang ternyata letaknya hanya di belakang gedung utama. Saat aku berangkat ke sana hujan senpat merintikkan isinya. Namun semuanya reda saat aku hampir sampai di lokasi. Sudah banyak orang-orang yang menunggu di sana. Tampangnya yang gagah dan berwibawa menyelimuti diri mereka semua. Memang mereka semua adalah orang-orang yang terpilih, termasuk aku.


Aku turun dari kendaraanku dan menghampiri mereka semua. Pelatihan belum dimulai. Untung saja aku tidak terlambat. Lalu lintas sangat padat sekali tadi. Lebih padat dari biasanya.


Jack sudah ada di sana. Aku menghampirinya dan seperti biasanya waktu kuisi dengan pembicaraan dengannya. Sambil menunnggu pelatihan dimulai.


“Tak kusangka aku bekerja di tempat yang sama denganmu,” ucap Jack kepadaku sambil tersenyum.

__ADS_1


“Iya. Aku juga. Kita semua adalah orang sukses,” balasku dengan penuh yakin dan bersemangat.


“Kau pernah mengikuti bela diri sebelumnya?” tanya Jack penasaran.


Sebelum aku menjawab pertanyaannya seseorang datang dan segera memulai pelatihan. Pelatihan diawali dengan perkenalan dan beberapa permulaan dasar. Setiap orang memperlihatkan kemampuan bela dirinya untuk mengetahui kemampuannya masing-masing. Aku melihat Jack terengah-engah karena belum pernah belajar bela diri sama sekali.


Sekarang giliranku. Aku menunjukkan semua yang telah kupelajari walaupun ada beberapa yang lupa. Jack yang melihatnya sangat terkesima dengan kemampuanku begitu juga dengan yang lain. Ternyata banyak dari mereka yang belum mengenal bela diri sama sekali dan melihat kemampuanku yang sudah dikatakan bagus. Pelatih mengacungi jempol kepadaku dan beberapa dari mereka bertepuk tangan kepadaku.


Mereka terkesima dengan aksi bela diriku. Walaupun beberapa orang juga ada yang sama sepertiku. Namun hanya sepersepuluh dari total orang yang mengikuti pelatihan ini. Kemudian saatnya beberapa pelatihan dasar. Aku mengikuti arahan dan ragaan dari pelatih. Begitu juga dengan yang lainnya. Tak lama kemudian kami semua beristirahat beberapa menit.


“Bagaimana bisa kau melakukannya tadi? Kau pernah belajar sebelumnya?” tanya Jack penuh heran kepadaku sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


“Iya. Aku sempat belajar bela diri bersama Alya dan teman-temanku,” jawabku dengan botol minum di genggamanku.


“Apa? Alya bisa bela diri?” tanya Jack dengan reaksinya yang sangat terkejut.


“Iya. Apa itu salah?” balasku dan aku sendiri juga bingung kepadanya.


“Tidak masalah. Aku hanya tidak menyangkanya. Kau sangat beruntung, Mal. Senang rasanya jika menjadi seperti dirimu,” cakapnya kemudian ia menepuk bahuku.


“Kau sudah berkali-kali mengatakan itu,” ucapku kepadanya.


“Lagi-lagi kau membuatku iri, Mal,” balasnya dan membuatku sedikit terkejut mendengarnya.


“Suatu saat kau akan mendapatkan bagiannya. Bahkan mungkin kau akan melebihiku,” cakapku kepadanya kemudian merangkulnya.


“Kuharap begitu,” ucap Jack penuh harap.


Tak terasa perbincangan membuat waktu istirahat berlalu dengan cepat. Sekarang saatnya kembali berlatih. Kami yang mengikuti pelatihan ini tidak merasa tertekan karena kami diajarkan dengan perlahan-lahan dan tidak ada penegasan yang cukup berarti. Hanya sekedar memberikan kami semangat.


Langit sudah meredup dan hari sudah petang. Kami bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu aku pergi menuju jalan raya untuk menaiki Pinishi lalu pulang. Sebelum aku meninggalkan tempat ini aku berpisah dengan Jack. Rumah kami berada di arah yang berseberangan. Aku di sisi barat sedangkan Jack berada di sisi timur. Kemudian aku menaiki kendaraan tersebut dan bergegas pulang.


Kegiatan rutin tersebut terus berulang selama tiga bulan. Kami berlatih dan memperdalam ilmu bela diri. Pelatihan diadakan setiap hari kerja seperti biasa.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2