Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Pijak Mendarat


__ADS_3

Hampa dan gelap. Itulah yang kulihat dan kurasakan saat ini. Aku berjalan tak tentu arah karena tak bisa melihat apa-apa. Namun dari kejauhan nampak cahaya biru yang sedikit redup. Aku mencoba menghampirinya ke cahaya tersebut. Tapi saat aku berusaha mendekati cahaya itu, semakin menjauh pula cahaya tersebut.


Tak lama kemudian di kakiku ada seperti asap yang menyelimuti kaki. Aku tidak bisa melihat pijakan kakiku karena terhalang oleh gumpalan asap tersebut. Aku yang masih bingung ini mencoba untuk terus mendekati cahaya biru tersebut.


Setelah beberapa lama aku mencoba menghampirinya, tiba-tiba semuanya terang dan silau. Aku mencoba mengedipkan mataku. Setelah itu, kulihat langit cerah sejauh mata memandang. Saat aku melihat ke bawah, ternyata yang selama ini kupijak adalah awan. Saat aku melihat sekelilingku, aku tidak melihat cahaya biru itu lagi.


Sepertinya aku tidak sendiri di sini. Aku mendengar suara keramaian namun samar-samar. Sangat kecil sekali suaranya. Aku mencoba menghampiri sumber suara tersebut. Semakin dekat, semakin besar pula suaranya. Suara keramaian orang-orang, anak-anak yang tertawa, serta suara-suara aktivitas lainnya.


Sudah semakin dekat. Sepertinya suara tersebut berada di balik gumpalan awan yang seperti bukit ini. Aku menanjakinya dan berusaha menghampirinya. Aku pun sudah hampir berada di puncak. Rasa penasaranku semakin memuncak dan tak tertahankan. Suara yang semakin jelas dan ramai ini terdengar di telingaku.


Aku sudah tipis sekali untuk mencapai puncak itu. Saat aku berhasil dan membuka mata, tiba-tiba…


Malka…


Malka…

__ADS_1


Malka…


Bangun…


Kami sudah menunggumu…


“Malka!” seru ayahku dengan nadanya yang agak pelan agar tidak membangunkan orang lain.


Aku pun membuka mata dan terbangun. Aku terkejut bahwa baru saja aku tertidur. Namun sejak kapan aku tertidur? Kejadian tadi seperti kualami dengan nyata walaupun tak masuk akal. Aku dibuat lebih pusing dan bingung karena semua kejadian tadi masih teringat kuat di kepalaku. Aneh, biasanya saat aku baru bangun tidur aku langsung lupa dengan mimpi yang barusan kualami. Apakah itu nyata?


Tak lama kemudian pesawat itu memijakkan rodanya di kota metropolitan ini. Aku yang sangat terkesima terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali memiliki mainan. Tapi aku tak sendiri. Banyak juga orang-orang yang berada di dalam pesawat ini ikut terkesima dan dimanjakan oleh tata kota yang rapih dan suasana yang sangat ramai seperti penuh warna.


Kami pun keluar dari bandara setelah mengambil semua bawaan kami dari bagasi. Kami melihat banyak sekali Pinishi namun di kota ini lebih didominasi oleh kendaraan roda empat. Kami yang agak lelah karena perjalanan yang cukup panjang ditambah istirahat kami tidak begitu nyaman. Kami langsung memanggil Pinishi dan menuju tempat kami tinggal di kota ini.


Selama perjalanan kulihat gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Pejalan kaki yang ramai yang tertib, namun tidak sesak, lalu lintas yang agak padat, serta suasana yang ternyata jauh berbeda dengan Lumiatia apalagi dengan desa. Ternyata ini telihat jauh lebih ‘kota’ daripada Lumiatia yang menurutku itu sudah luar biasa sekali.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan kami menuju tempat tinggal aku terpesona dan ternganga dengan kota ini. Aku melihat banyak sekali orang-orang yang bahagia di sini. Namun sesekali aku juga melihat ada seorang gelandangan yang duduk di pinggir trotoar menunggu sampai ada yang memberinya uang.


Kami tinggal di sisi barat kota Centra. Sengaja kami tidak tinggal di tengah kota karena taraf hidupnya yang jauh lebih tinggi daripada di pinggir kota. Namun tempat ayahku bekerja berada di tengah kota. Kota Centra sendiri berukuran berkali-kali lipat dari Lumiatia. Aku yang belum mengenal Lumiatia terkejut karena luasnya kota ini. Mungkin aku membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk mengeksplorasi seluruh kota ini.


Tak terasa tempat tinggal kami sudah dekat. Dari bandara ke sini membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam, karena lalu lintas yang padat. Bandara itu sendiri berada di sisi timur kota Centra. Jadi kami pergi dari ujung timur ke ujung barat kota Centra.


Saat kami telah sampai, aku melihat tempat tinggal yang terlihat lebih cantik dan lebih baik daripada rumah kami di desa. Tempat tinggal kami di sini sudah ditanggung oleh perusahaan ayahku bekerja. Kemudian kami mengambil barang bawaan dari bagasi kendaraan dan tak lupa memberi bayaran tambahan sebagai tanda terima kasih.


Setelah itu kami menuju pintu depan, ayahku mencari kunci pintu di tasnya. Sembari menunggu aku melihat sekitar rumah dan ternyata cukup ramai. Aku berharap semoga saja aku memiliki teman di sini agar aku tidak kesepian di kota yang liar ini.


Kemudian ayahku menemukan kunci tersebut dan membukakan pintu depan itu. Setelah pintu dibuka, kami pun masuk kedalam. Lagi-lagi aku terkesima dengan interior dan suasana rumah yang damai dan memanjakan mata. Lantai berpasangkan keramik dan dinding yang dicat corak-corak putih yang membuatnya menjadi lebih elegan.


Kami pun langsung menaruh bawaan kami dan berapih-rapih. Setelah membersihkan diri dan rapih-rapih aku mengelilingi rumah dan aku masih sangat terkesan dengannya. Sungguh sebuah rumah yang idaman. Padahal letaknya di pinggir kota.


Hari sudah mulai gelap. Memang kami menghabiskan banyak waktu cerah hari ini untuk perjalanan tadi. Aku tidak banyak menggunakan waktu malam ini dan aku pergi ke tempat tidur lebih awal. Karena masih banyak hal yang belum kuketahui dan kukenal tentang kota ini bahkan sekitar tempat tinggal kami yang baru ini.

__ADS_1


__ADS_2