Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Lumiatia


__ADS_3

Pemandangan indah menemani perjalanan kami. Aku yang terkesima dengan lukisan semesta di planet ini. Yang kulihat dari jendela adalah panorama hijau dan warna-warni bunga-bunga. Sungguh indah. Ternyata dunia sangat luas. Aku yang hanya seorang anak rumahan sebelumnya kini terkesima akan keindahan yang ditawarkan alam.


Aku mendapat kursi di sebelah jendela. Ayah dan ibuku duduk di sampingku. Di kereta ini memiliki barisan kursi tiga di kanan dan dua di kiri. Perjalanan kami


memakan waktu sekitar lima jam perjalanan.


Terlihat dengan jelas langit biru yang cerah. Aku menatapnya dari jendela. Burung-burung beterbangan dan angin sejuk yang berhembus menembus jendela yang sedikit terbuka. Aku hanya bisa melihat langit dan mengingat kembali kejadian yang kualami sebelumnya.


“Aku tidak akan lama…” gumamku pelan dengan telapak tanganku menempel pada jendela kereta.


Kemudian waktu perjalanan aku habiskan dengan tidur di kereta. Dengan istirahat, mungkin aku akan siap untuk mengeksplorasi kota Lumiatia sebelum melanjutkan perjalanan ke kota metropolitan. Kemudian aku terbangun. Tak lama setelah aku bangun terdengar suara pemberitahuan bahwa kereta segera sampai di Lumiatia.


Setelah kami sampai di stasiun Lumiatia. Kami turun dengan membawa tas masing-masing. Kami segera menuju ke sebuah penginapan yang tak jauh dari bandara menggunakan Pinishi. Pinishi merupakan transportasi umum yang menggunakan kendaraan beroda tiga yang bernama Triklyo. Transportasi andalan masyarakat Lumiatia ini sering ditemukan di tempat umum, seperti stasiun, bandara, tempat penginapan, dan lain-lain.


Saat kami menaiki kendaraan tersebut aku bertanya kepada sang Sopir.


“Kalo boleh tahu. Kendaraan apa ini? Aku baru pertama kali melihatnya,” tanyaku penasaran.


“Namanya Triklyo. Kendaraan roda tiga dengan satu roda depan dan dua roda belakang seperti yang kau lihat tadi. Baru pertama kali ke sini ya?” balasnya menjelaskan kepadaku sambil mengendarai dan memerhatikan jalan.


“Iya. Baru kali ini,” jawabku.


“Kalo begitu selamat datang di Lumiatia. Sebuah kota yang tak pernah tidur. Kota yang ramai namun sangat aman. Orang-orang bilang kau dapat melempar uangmu ke luar jendela dan kau masih dapat menemukannya di lain hari di tempat kau melemparnya. Orang-orang juga menyebutnya sebagai kota metropolitan kedua setelah Centra,” cakap sang Sopir menjelaskan kepada kami.


Aku melihat gedung-gedung di balik jendela. Suasana yang ramai namun tertib. Terlihat banyak aktivitas yang dilakukan di kota ini. Orang-orang berpakaian rapih dan keluar dari gedung-gedung tinggi. Taman yang lebih luas dan indah serta ramai dengan anak-anak. Tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi setiap saat. Dari persimpangan kulihat banyak anak-anak yang  sedang mengelilingi kota menggunakan sepeda.


Tak lama kemudian kami hampir sampai di penginapan. Dari sini sudah terlihat bangunan megah yang tak lain dan tak bukan adalah bandara. Sudah terdengar suara-suara dengungan pesawat terbang yang melintas di atas kami.


Kami pun tiba di tempat penginapan. Ayahku membayar kepada sang Sopir tak lupa dengan tipnya. Setelah itu kami masuk ke dalam gedung tersebut.


Lampu gantung yang elegan, dinding yang dipenuhi motif-motif dan lantainya berlapiskan marmer. Itulah yang pertama kali aku lihat saat memasuki gedung ini. Aku sangat menganga terkesima melihat kemewahan yang ada di gedung ini. Di ruang depan gedung terdapat beberapa orang perempuan yang berdiri di belakang meja kerjanya dengan posisi kedua telapak tangan dan jari saling bersentuhan. Mereka menyambut kedatangan kami.


“Aneh apa yang mereka lakukan di sana?”


Di dalam benakku terheran-heran. Namun aku hanya mengikuti ayahku dan ibuku menuju ke tempat mereka berada. Setelah kami menghampirinya salah satu dari perempuan tersebut berbicara.


“Selamat datang di penginapan Amethyst. Kami akan selalu melayani anda dengan kualitas penginapan yang mewah dan elegan. Kami juga akan memberi anda pengalaman yang menyenangkan dan tak


terlupakan,” cakap salah satu perempuan itu.

__ADS_1


Kemudian ayahku membalasnya kembali mengangguk tersenyum dam memberikan sebuah kertas yang aku sendiri tidak tahu. Kemudian perempuan itu memberinya sebuah kunci dan ayahku bergegas menuju kamar.


“Ayo, Nak,” ucap ayahku sambil memegang kunci yang baru saja diberikan.


Kami berjalan menuju kamar. Kemudian aku bertanya.


“Perempuan itu siapa, Yah?”  tanyaku heran.


“Mereka adalah resepsionis. Melayani tamu yang ingin menginap di sini.”


Kemudian ayahku menjelaskan semua seluk beluk tentang penginapan dan pelayan-pelayannya. Aku baru mengetahuinya sekarang. Selama ini banyak hal yang aku tidak ketahui sama sekali.


“Mungkin aku harus keluar dan melihat dunia lebih luas.”


Kalimat tersebut muncul di kepalaku. Aku tidak ingin menjadi anak rumahan saja. Aku ingin keluar, melihat seluruh kejadian di luar sana. Banyak yang belum aku ketahui.


Saat kami tiba di kamar yang sesuai dengan yang di nomor kunci itu, kami segera masuk dan meletakkan semua bawaan kami. Lega sekali rasanya. Aku yang sudah istirahat sebelumnya di kereta rasanya tidak ingin tidur sekarang, apalagi sekarang masih sore dan langit sangat cerah. Setelah beristirahat sejenak melepas sedikit penat, aku meminta izin kepada ayahku untuk pergi jalan-jalan keluar di sekitar penginapan.


“Ayah, apa aku boleh pergi melihat-lihat kota?” tanyaku penuh harap agar diizinkan.


“Kau sudah bisa berjaga diri, kan?” tanya ayahku.


“Baiklah kalau itu yang kau mau. Jagalah dirimu baik-baik,” jawab ayahku yang mengizinkanku untuk pergi keluar penginapan.


Aku yang sedang berapih-rapih kemudian membuka kenop pintu kamar dan bergegas pergi.


“Kembalilah sebelum gelap, nak!” seru ayahku yang menaikkan nadanya.


“Oke!” balasku yang bersiap berlari menuju lift.


Kemudian aku berlari menuju lift dengan penuh semangat. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk mengenal kota ini sedikit. Kami menginap di hotel ini hanya semalaman, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan kami menggunakan pesawat esok hari.


Aku memasuki lift. Tak lama saat pintu ingin tertutup, ada seorang pelayan yang sedang berlari mengarah kepadaku sambil mendorong troli makanannya. Lantas pintu yang hampir tertutup total aku buka kembali. Namun karena pelayan itu berlari cukup cepat, kakinya tersandung karpet lantai dan terjadi di dekat pintu lift. Aku pun menolongnya dan merapihkan bawaannya yang sedikit berserakan. Untung hanya sebuah sendok, garpu, dan celemek serta tidak ada yang terluka.


“Terima kasih banyak,” ucap pelayan itu.


Aku membalasnya dengan mengangguk senyum. Kemudian pintu lift tertutup dan bergerak turun menuju lantai dasar. Pelayan yang sedang merapihkan seragam dan bawaannya yang sedikit teracak, kemudian bertanya kepadaku.


“Baru pertama kali ke kota ini?” tanya pelayan itu tersenyum.

__ADS_1


“Iya. Aku dari desa  dan ingin pergi ke Centra,” jawabku dan membalas senyumannya.


“Kota metropolitan itu? Kau ingin mencari kerja, ya?” tanya pelayan itu penasaran.


“Tidak. Kami pindah karena pekerjaan ayahku,” balasku sambil sedikit menggelengkan kepala.


“Sayang sekali. Aku dengar akan ada penerimaan lowongan kerja besar-besaran di sana. Kalau kau pintar, kau bisa menjadi manajer perusahaan besar,” cakap pelayan itu.


Aku hanya tersenyum dan melihat petunjuk posisi lift sekarang. Tak lama lagi kami sampai di lantai dasar. Aku dan pelayan mengobrol bersama dan berkenalan.


Tak terasa lift sudah sampai di lantai dasar. Suara bel lift berbunyi menandakan lift sudah berhenti di lantai tujuan. Pintu lift pun terbuka dan kami berjalan keluar lift. Sebelum aku dan pelayan itu berpisah, dia menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Aku menjawabnya bahwa aku hanya ingin melihat kota-kota ini sebentar. Setelah itu ia berterima kasih kepadaku atas kejadian sebelumnya lalu kami berpisah dan pelayan itu pergi meninggalkanku di belakang.


Aku yang masih di depan lift masih terkesima dengan keindahan gedung ini. Melangkah perlahan, menyaksikan sekeliling yang penuh dengan marmer dan lukisan. Kemudian aku sampai di ruang depan dan melihat pelayan itu lagi di meja resepsionis.


“Nak, kau ingin melihat-lihat kota, kan?” tanya pelayan itu saat aku ingin   melewatinya.


“Iya,” jawabku.


“Baiklah. Mari, ikuti aku,” balasnya dan mengajakku keluar dari gedung menuju tempat Pinishi menunggu.


“Kau dapat menggunakan ini secara gratis. Aku sudah menanyakan atasanku dan beliau menerima tawaranku. Kau mendapat pelayanan khusus untuk hari ini, Nak,”   ucap pelayan itu sambil membukakan pintu kendaraan tersebut padaku.


“Benarkah? Aku sangat berhutang padamu,” balasku kaget namun senang bersamaan.


“Tidak masalah. Anggap saja sebagai balas budi karena sudah menolongku,” ujarnya dan tersenyum kepadaku.


Aku yang baru pertama kali menginap di sini sangat berterimah kasih padanya dan sangat senang. Aku bisa berjalan-jalan mengelilingi kota tanpa banyak menguras banyak tenaga.


“Oh iya. Karena kau baru pertama kali, aku mengatakan pada sopir untuk membawamu tur kota dan kau bisa turun di tempat-tempat yang dituju nanti,” tambah pelayan itu sebelum aku jalan.


“Baiklah. Terima kasih banyak!” balasku penuh gembira.


Kemudian aku dibawa oleh si sopir yang yang akan membawakanku tur kecil mengelilingi kota.


“Panggil saja aku Goi,” ucap si Sopir itu kepadaku.


“Malka. Salam kenal!” balasku.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2