
Makan malam bersama keluarga setelah beberapa waktu lamanya. Jika sebelum-sebelumnya aku pulang larut malam dan mereka sudah tertidur, kali ini cukup berbeda. Malam yang hangat yang penuh dengan obrolan ringan, cerita-cerita, dan candaan. Rasa rinduku terbayar saat menikmati riunbread dan chamnion soup yang dibuat langsung oleh Ibu. Masa kontrakku sudah habis, begitu pula dengan Ayah yang sudah lebih dulu sejak beberapa hari lalu.
“Kau sudah memberikan berkas pemberhentian kontrak baru?” tanya Ayah.
“Akan kukirim besok, Yah.”
“Baiklah, usahakan dari pagi, kita akan berangkat besok siang.”
“Eh? Besok siang? Cepat sekali. Apa kita tidak jalan-jalan dulu?”
“Ayah sudah harus lanjut kerja pekan ini. Maaf Ayah baru memberitahumu tiba-tiba. Semua tiket sudah dipesan, tapi tidak masalah jika kau ingin di sini dulu sendiri.”
“Tidak apa-apa, Ayah. Aku juga sudah rindu dengan teman-teman di sana.”
Setelah itu aku kembali ke kamar untuk merapikan barang-barangku. Sepintas kamar ini terlihat berbeda dari biasanya. Seperti akan kehilangannya. Kulihat seluruh sudut ruangan. Sesudah merapikan barang-barang, kulanjutkan untuk bersiap tidur. Tanpa sadar tubuhku bergerak mengelilingi rumah. Tetes air mata keluar dengan sendirinya.
Kembali ke kamar, berpeluk pada bantal, air mata terus mengalir keluar. Tanpa mengeluarkan suara apapun, bantalku sudah basah olehnya. Hingga aku benar-benar tak sadar. Ketika sadar kembali, sudah terlihat cahaya terang dari balik jendela.
Menjalani pagi seperti biasa, mengambil berkas, lalu berangkat. Dengan seragam dan jas yang kugunakan untuk terakhir kalinya, setidaknya terakhir kali untuk beberapa waktu yang lama, akhirnya aku sampai di gedung kantor. Dari depan terlihat seperti biasa. Tampak sekumpulan orang yang sepertinya akan melakukan inspeksi. Aku pun masuk ke dalam.
Pandanganku sedikit berubah saat sudah berada di lorong menuju ruangan Knox. Entah hanya pikiranku saja, terlihat lebih sepi di sekitar sini. Saat melihat ruang kerja para pegawai, hanya ada sedikit pegawai. Mereka menyapaku, tentu aku membalasnya. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi aku merasa sedikit tak enak karena sudah bukan wewenangku.
Aku mengetuk pintu, terdengar suara Knox dari dalam mempersilakanku masuk. Membuka pintu, tapi sangat gelap di dalam. Aku tetap masuk sambil terheran-heran.
Ada yang mengganjal pijakan kakiku, aku tetap melangkah masuk.
“Aduh!” Terlintas suara di sebelahku. Terlalu gelap untuk mengenalinya.
Tiba-tiba lampu menyala.
“Selamat jalan, Malka!” teriak semua orang.
Aku terkejut melihatnya. Mereka berbaris rapih dan berpose. Dekorasi di mana-mana, dan sebuah kain rentang yang beruliskan “Selamat Jalan, Malka!” penuh warna-warni.
Seketika aku tertawa sendiri.
“Hahaha! Seperti kejutan ulang tahun. Terima kasih semuanya!”
“Pappous yang mengambil tema,” sindir Cathy.
“Habisnya memang untuk anak kecil, bukan? Sama seperti anak yang di sana,” balas Pappous. “Siapa yang kau sebut anak kecil?” sahut Lydia kesal.
“Sempat-sempatnya begini saat memberi kejutan…” gumam Ryne tak habis pikir.
“Hahaha! Kalian akrab sekali! Ini yang aku inginkan dari para pegawai, tak dibataskan oleh dinding jabatan.”
“Ngomong-ngomong, terima kasih sudah bersama kami selama lima tahun ini, Anak Muda. Kau ingin memberikan berkas itu, bukan?” tambah Knox.
“Iya, Pak. Aku ingin memberikan ini,” jawabku.
“Tak perlu formal-formal, lebih akrablah denganku,” balasnya. Harry datang mendekatiku. “Katanya kau langsung berangkat siang ini? Maaf kami tidak bisa mengantar kepergianmu sampai bandara.”
__ADS_1
“Tidak perlu repot-repot, seperti ini saja sudah sangat membekas di kepalaku. Kalian semua memang terbaik!” balasku.
“Tunggu, kau tahu dari mana?”
“Ada tulisan seperti itu di sini,” jawab Harry sambil menunjukkan selembar kertas dari berkas yang kuberi.
“Baiklah, saatnya minum-minum!” lontar Pappous bersemangat.
“Kau hanya ingin minum-minumnya saja.” celetuk Cathy.
“Mau minum bersamaku?”
“Huh, minum saja sendiri, Kakek Tua.”
Lagi-lagi ada pesta setelah kejutan, padahal hari ini adalah hari kerja. Tapi aku tidak ambil pusing, kami berbincang dan melepas tawa. Seluruh pegawai dari divisiku ikut merayakannya, termasuk Jack. Aku banyak mengobrol dengannya. Tak terasa waktu sudah menjelang siang, sudah saatnya aku pamit dari perusahaan ini.
“Datanglah kemari kapanpun. Kami akan menyambutmu di sini.”
“Baiklah, terima kasih banyak. Sampai jumpa semuanya!”
“Dadah!” sahut semua orang.
Aku berjalan meninggalkan ruangan menuju lantai dasar. Jack ikut menemaniku. Aku merasa khawatir dengan pekerjaannya.
“Apa kau tidak sibuk? Terlebih kau merangkap dengan jabatanku dulu.”
“Tidak masalah, aku sudah izin untuk mengantarmu.”
“Kau ingin mengantarku sampai rumah?”
“Tentu, hari sudah mulai panas, lebih baik kuantar daripada naik kereta, bukan?”
“Pemikiranmu itu yang membuat kota macet,” balasku menaiki kendaraan.
“Sesekali tidak masalah, hehe…” Ia masuk ke bangku kemudi.
“Tunggu, kau bisa mengemudi?” tanyaku.
“Pasti, salah satu syarat tak tertulis seorang asisten ialah bisa mengemudi.”
“Baru kali ini aku melihatmu, bawa dengan benar, ya…”
“Tenang saja aku sudah berpengalaman, dan sudah berlisensi.”
Sepanjang perjalanan penuh dengan obrolan. Hingga terjadi sesuatu di luar dugaan, lalu lintas di sini sangat padat. Kendaraan hanya bisa bergerak sangat pelan, seperti siput. Aku tidak tahu apa yang membuatnya macet begini. Jack juga sama herannya. Aku menjadi panik saat melihat waktu yang semakin termakan di jalan.
“Apa kau tidak tahu jalan pintas?”
“Tahu, tidak jauh dari sini. Tapi kita tidak bergerak sama sekali sekarang.”
“Apa sebaiknya aku naik kereta saja?”
__ADS_1
Jack menyalakan radio untuk mengetahui situasi terkini. Ternyata semua rute perjalanan kereta terhenti. Alasan yang masuk akal. Semua orang menggunakan kendaraan pribadi dan taksi sekarang.
Beberapa saat kemudian, akhirnya kendaraan kembali berjalan perlahan. Jack langsung berbelok memasuki sebuah jalan yang cukup sempit. Hanya muat satu kendaraan. Setidaknya ini lebih cepat daripada lewat jalan raya, meskipun sesekali kami kewalahan saat ada kendaraan lain dari arah yang berlawanan.
Sesampainya di rumah, Ayah dan Ibu sudah berada di depan. Mereka tampak panik. Aku langsung berlari.
“Kenapa, Yah?”
“Taksi yang Ayah pesan bermasalah, semua taksi juga sudah penuh.”
Jack yang mendengarnya sontak menyahuti kami.
“Di depanmu sudah ada ‘taksi’. Aku kuberi tumpangan.”
“Kau yakin? Kau akan terlambat kembali ke kantor nanti,” balasku.
“Tak masalah, hanya untuk hari ini.”
“Terima kasih banyak, Jack,” tutur Ibu.
Aku bergegas masuk ke dalam untuk mengecek barang-barang, sementara barang-barangku sudah bersama Ayah.
“Sudah semua,” ucapku.
“Sip, ayo kita langsung berangkat.”
Setelah memasukkan barang-barang dan naik ke dalam, Jack langsung menginjak pedal. Lekas kami berangkat. Melewati berbagai jalan pintas yang Jack ketahui. Sesekali Ayah memberitahu beberapa jalan yang belum Jack ketahui. Mereka berdua asyik mengobrol tentang jalan-jalan di kota ini. Sementara aku hanya memandang kota dari balik jendela.
“Kapan aku bisa ke sini lagi?” pikirku.
Setibanya di bandara, waktu sudah sangat mepet. Tanpa berbincang panjang, kami langsung berpisah dengan Jack.
“Sampai jumpa!”
“Dadah! Kabari aku kalau sudah sampai!”
Pintu keberangkatan sudah dibuka. Kami menaiki pesawat, lepas landas, menembus lautan awan. Tidak banyak terjadi selama perjalanan. Banyak kuhabiskan dengan istirahat. Tetapi ada yang mengejutkanku tiba-tiba. Sebuah cahaya biru di luar pesawat itu. Persis seperti yang kulihat ketika berangkat ke Centra.
Namun aku hanya melihatnya sekejap, sebelum mataku memaksa untuk terlelap. Pandanganku gelap.
Seakan-akan semua berlangsung singkat. Aku tersadar dan menggerakkan tubuhku dengan pandangan yang masih penuh samar.
Anehnya, rasa letih tak menghilang. Terdengar suara keributan di sekitarku. Seorang wanita tepat berada di hadapan wajahku.
“Kau tidak apa-apa?”
Aku masih setengah sadar.
“Uhh… Aku di mana?”
Bersambung~
__ADS_1