
Kirana benderang berpendar menembus rindang daun-daun di tengah redup bersama bayangan pepohonan. Suara pijak kaki bersentuh ranting dan gemerisik daun yang bergesekan. Teriring angin menghembus lembut menerpa tubuh menyejukkan raga. Beginilah, dunia yang tidak tersentuh oleh ketamakan manusia. Indah lagi menyedapkan pandangan.
Menyusuri hutan yang sama, namun berbeda arah. Seiring langkah menjauh, semakin dalam percakapan kami. Luceyl dan Eil banyak bercerita tentang dunia tempat mereka tinggali, begitu pula Leora yang bersemangat bercerita. “Damai sekali tinggal di sini. Andai saja aku bisa memilih untuk lahir di mana, pasti aku memilih lahir di dunia ini.”
“Hehe… Kau berlebihan, ini tak berbeda dengan suasana pedesaan di dunia kalian,” balas Luceyl tersenyum. Aku terkejut mendengarnya yang seolah tahu tentang itu. “Kau pernah ke dunia kami?”
“Tidak pernah, tapi entah kenapa aku pernah merasa tinggal di dunia kalian.”
“Apa kau juga merasakan hal yang sama, Eil?” lanjut Alya.
“Aku juga begitu, tapi aku tidak terlalu ingat. Seperti ingatan yang kalian lihat di mimpi-mimpi.”
Kepala desa yang berada tak jauh dariku membuatku terpancing untuk menanyakan sesuatu. “Kami, manusia, punya sejarah bagaimana kami tercipta dan dari mana kami berasal. Apakah kalian juga tahu asal muasal kalian?”
Seketika semua makhluk langit itu berhenti dan membuat kami, manusia, terkejut heran melihatnya. Aku menjadi panik melihat semua orang memandang ke arahku.
“A—Apa aku salah bertanya?”
“Semua atas ketidaktahuan Tuan Pahlawan. Kita kembali jalan!” lontar kepala desa kemudian kami melanjutkan perjalanan. Ia langsung mendekatkan mulutnya ke telingaku seraya berkata, “Pertanyaanmu itu sangat tabu bagi kami.”
“M—Maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Aku memaklumimu. Sedikit menghilangkan rasa penarasanmu, kami tidak jauh berbeda dengan manusia seperti kalian. Kau tahu legenda Raja Semesta?”
“Raja Semesta? Aku pernah membacanya.”
“Kira-kira seperti itu, kita sudah hidup berdampingan sejak awal peradaban ada.”
“Baiklah, terima kasih sudah tetap ingin memberitahuku.” Setelahnya kepala desa tersenyum. Terbesit di kepalaku tentang percakapan barusan. “Raja Semesta? Legenda itu benar-benar ada?” gumamku dalam hati. Aku ingin bertanya lagi padanya, tapi aku merasa tidak enak.
“Lebih baik kutahan saja. Semoga saja akan terjawab nanti…”
Perhatianku langsung teralihkan oleh Leora yang berteriak, “Bunga itu bercahaya!” Aku memandang bunga itu, berbeda dengan yang pernah kutemui sebelumnya. “Kau terpanggil olehnya,” sahut Luceyl. “Kalian tetap berjalan saja, kami ingin ke bunga itu sebentar,” ucapku pada kepala desa.
“Semua tetap berjalan!”
Kami menghampiri bunga yang berkilauan itu. Rupawan, itulah kata pertama yang terlintas di kepalaku. Eil memetik salah satu di antaranya, berwarna merah muda dan kelopaknya yang mirip terompet. “Apa kalian melihatnya? Ukiran indah di kelopaknya,” tanya Eil.
“Ukiran? Aku hanya melihat kelopaknya yang indah,” balas Gras.
__ADS_1
Leora memasang bunga itu ke jubahnya. Jubah itu bercahaya kemudian hilang kembali. “Apa ada yang berubah?” tanya Ellie. Leora menggerakkan tubuhnya, tidak ada apa-apa. “Coba kau lihat kelopak ini sekali lagi,” ucap Luceyl. Wajah Leora langsung berubah menjadi sangat senang.
“Aku melihatnya! Wah, indah sekali…”
“Bunga Ivy Gloria, sangat indah terlebih saat pagi hari. Bunga ini memberi kemampuan penglihatan tajam bagi pemiliknya,” papar Eil.
“Ah, pantas saja Leora jadi bisa melihat detil kelopak ini…” gumamku.
“Kalian berdua juga memilikinya,” sahut Stella.
“Tentu, makanya banyak dari kami yang pandai memanah,” balas Luceyl.
“Baiklah, ayo kita kembali sebelum ketinggalan makin jauh,” ajak Athar.
“Tunggu, bunga itu sepertinya memanggilku,” sambung Alya lalu berlari menghampiri bunga tersebut. Kami pun mengikutinya. Bunga yang cukup besar dan kelopaknya bagai mahkota.
“Bunga Hibiscus, membuat pemiliknya tak cepat lelah dan juga membuatnya lihat bergerak. Ada banyak arti dari bunga ini. Bunga ini cukup terkenal,” jelas Luceyl.
Melihat bunga yang besar seperti itu membuatku terpikirkan sebuah ide. Aku langsung memetiknya tanpa pikir panjang lalu memanggil Alya untuk mendekat. Aku memintanya untuk berbalik arah lalu memasangnya di rambutnya yang terikat. Aku terkesan dengan Alya yang sangat cocok dengat bunga itu.
“Kau terlihat lebih cantik…”
Tiba-tiba saja jubah itu bersinar, lalu sekuntum bunga yang terpetik dengan sendirinya lalu melayang menuju jubah itu. Bunga yang terikat dengan rambut juga berkilau indah, seakan menyatu dengan rambut Alya.
“Sempat-sempatnya kalian…” gumam Ellie.
“Kalian kenapa?” tanyaku pada Luceyl dan Eil.
“T—Tidak apa-apa…” balas Eil terbata-bata.
“K—Kau memang laki-laki sejati…” lanjut Luceyl.
Pada akhirnya kami kembali menuju rombongan. Tidak lama setelahnya kami keluar dari hutan rindang itu. Sepertinya kami berada di dataran hijau, pohon-pohon tidak serindang sebelumnya. Aku merasakan ada kehidupan tidak jauh dari sini.
Kepala desa meminta kami untuk bersiaga dan berjalan perlahan. “Di depan sana ada desa, dan sepertinya desa itu sudah hancur.”
Aku bisa melihat kabut hitam seolah menyelimuti desa itu dari kejauhan. Saat semakin mendekat, terlihatlah semuanya. Makhluk cahaya itu tergeletak di mana-mana beserta busur panah di dekatnya. Aku meminta kepala desa untuk menahan rombongan terlebih dulu. Bersama teman-teman kami memeriksa desa ini.
“Malka, sepertinya ada beberapa orang di sana,” bisik Lukas.
__ADS_1
Kami langsung bersembungi di balik reruntuhan. Terlihat tiga sosok yang diselimuti asap hitam tipis dan jubahnya berbeda dengan kami. “Kurasa mereka dari pasukannya Knox,” ucap Ethan. Mereka terlihat sudah tak berdaya dan hanya bersandar dengan tangan menutupi lukanya.
“Bunga di sana berkelap-kelip…” gumam Lena.
Bunga itu berada di seberang tempat kami bersembunyi. Mau tidak mau kami harus memutar agar bisa ke sana. “Aku dan Kellos akan menemanimu. Kalian tunggulah di sini,” ucapku.
Melangkah perlahan, menghindari suara sedikit pun. Sangat berantakan di sini, hingga membuat kami sulit untuk melangkah. Bunga-bunga itu sudah semakin dekat—
“Aaaa!”
Aku terkejut mendengarnya. “Ada apa Lena?” tanyaku. “A—Ada sesuatu bergerak di leherku…” Sebuah serangka hinggap di sana. Lantas Kellos langsung mengambil serangga itu lalu membuangnya.
“S—Si—Siapa di… sana?”
Suara itu terdengar pelan dari arah tiga orang itu. Salah seorang dari mereka tampak bergerak terseret-seret menjauh dari kami. Alya dan yang lainnya keluar dari persembunyian dan menghampiri mereka. Sementara itu kami akhirnya sudah berada tepat di hadapan bunga-bunga itu.
“Bunga-bunga itu mengeluarkan sinar dan melayang-layang ke atas, tidak seperti biasanya…” gumam Kellos.
Lena memetiknya kemudian memasang pada jubahnya. Seketika langit menjadi lebih cerah dengan angin yang berhembus kencang sekejap mata mengibarkan jubah kami. Sinar cahaya putih keemasan menyelimuti Lena. Tubuhku terasa sejuk berada di dekatnya. Lalu sinar-sinar itu beterbangan tak tentu arah pergi menjauh, meninggalkan jejak tumbuhan yang langsung tumbuh dan bermekaran.
“Wah indah sekali…” gumamku.
Kami menghampiri teman-teman bersama tiga orang yang sudah tak berdaya itu. “Gunakan tongkatmu untuk mereka,” ucap Eil. Lena mengikuti apa yang Eil katakan.
“Asap hitam itu hilang!” lontar Gras. Jubah mereka juga berubah menjadi seperti yang kami kenakan. “Mereka sudah menjadi bagian dari kami,” kata Luceyl.
“Apa ini efek dari bunga yang Lena dapat barusan?” tanyaku penasaran.
“Benar, bunga Lilia. Melambangkan kesucian dan kemurnian. Cukup jarang yang memilikinya. Biasanya hanya ada pada dukun penyembuh.”
“Dukun penyembuh?” tanya Leora.
“Sebutan bagi yang pandai menyembuhkan dan memurnikan ether,” sahut Eil.
“Sama seperti dokter kalau di dunia kita,” sambung Zilei.
Mereka bertiga tidak sadarkan diri. Tidak lama berselang, rombongan datang memasuki desa. Kepala desa datang menghampiri kami.
“Kita beristirahat dulu di sini, sambil menunggu mereka bangun.”
__ADS_1
Bersambung~