Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Pertunjukkan


__ADS_3

Aku terkejut melihat mereka bukan petugas seperti yang kukira.


“Alya? Kenapa kalian ada di sini?” tanyaku heran. Mendengar percakapan itu membuat Stella, Kellos, dan Lena keluar dari balik dinding itu.


“Harusnya kami yang bertanya, kenapa kalian bisa sampai ke daerah ini?” lanjut Leora. Aku, Stella, dan lainnya menjadi bingung mendengar perkataan Leora.


“Maksudmu? Kami sedang mencari pintu masuk ke menara,” sahut Stella.


“Kalian malah pergi ke sisi seberang menara,” sindir Zilei.


“Tapi kami memang tidak menemukan pintu masuk ke sana!” lanjut Stella kesal.


“Bilang saja kalian tersesat,” ujar Zilei. Mereka berdua kembali bertikai satu sama lain. Aku sudah bosan melihat mereka yang selalu seperti itu.


“Itu sebabnya aku memisahkan mereka berdua…” gumam Alya.


“Kau memisahkan mereka tapi komposisi tim kami tidak mendukung jarak jauh sama sekali,” balasku padanya pelan.


“Bukankah sudah ada Lena?” lanjut Alya.


“Tiga jarak dekat dan satu jarak jauh? Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan,” ucapku.


“Kita memang kebanyakan jarak dekat, sih…”


“Sekarang bukan ajang diskusi. Apa kalian tidak lihat mereka sudah menodong senjata ke arah kita?” sahut Zilei sambil menunjuk para petugas yang sudah mengepung kami. Kami semua terkejut saat menyadarinya.


“Eh? Sejak kapan ada mereka?” tanya Leora.


“Jangan bergerak! Letakkan semua senjata kalian!” lontar seorang petugas.


Perlahan-lahan kami meletakkan senjata kami ke lantai. Namun tanpa aba-aba apa pun tiba-tiba saja Zilei melempar pedangnya ke petugas. Saat itu juga kami langsung sigap menyerang mereka juga meskipun sedikit terlambat. Beberapa petugas itu sudah terlebih dulu menarik pelatuk.


“Aduh! Aku tidak bisa bergerak…” ucap Sara yang tersungkur setelah terkena gelombang pelumpuh sementara. Salah satu gelombang itu juga mengenai tangan kiriku. Terasa lemas dan tak bisa digerakkan sama sekali, aku hanya bisa menggunakan tangan kanan sembari menggenggam pedang.


“Sulit juga bergerak dengan satu tangan,” gumamku kesal.


Aku mengayunkan pedang melawan salah seorang dari mereka. Entah kenapa tenagaku seperti hilang separuh karena ini. Petugas itu dengan mudahnya menghindar dari seranganku. Ia tidak bisa menembak karena posisiku yang sangat dekat dengannya. Tapi aku terlalu meremehkannya.


“Arghh!”


Petugas itu melangkah sambil mengarahkan senjatanya tepat ke hadapanku. Aku hanya bisa menjauh terseret-seret sebisa mungkin. Seketika Alya menendang petugas itu dari samping dengan sangat keras. Ia mengulurkan tangannya kepadaku.


“Terima kasih,” ucapku menggapai tangannya.


Akhirnya semua petugas itu sudah lumpuh dan terkapar. Jumlah mereka yang cukup banyak membuat kami sedikit kewalahan.


“Lumayan juga untuk pemanasan,” ujar Zilei.


“Sepertinya akan cukup bahaya kalau kita bertemu petugas lebih dari ini,” ucap Lukas khawatir. Sebuah ide terlintas di kepalaku.


“Apa kita tidak menyamar saja dengan seragam mereka?”


“Berarti kita juga menggunakan senjata mereka?” lanjut Leora.


“Mau tidak mau, akan lebih mudah kalau kita masuk tanpa ada keributan,” jawabku.

__ADS_1


“Baiklah, kali ini aku setuju denganmu,” balas Zilei kemudian melepas seragam zirah dan pelindung kepala seorang petugas di sana.


“Ada perempuan juga?” ucap Alya terkejut saat membuka helm.


Aku sudah mengenakan semua perlengkapan petugas itu. Beban seragam ini lumayan terasa bagiku. Pantas saja mereka tidak ada yang lincah.


“Baiklah, kalian semua sudah memakainya?” tanya Alya.


“Sudah. Cukup berat, ya…” balas Leora.


“Permisi…” terdengar suara perempuan dari lantai. Ternyata Sara yang masih tergeletak di sana. “Aku tidak ingin sendirian seperti ini,” lanjutnya.


Leora memberikan ramuan perlahan ke dalam mulut Sara. Sepertinya ramuan itu butuh waktu untuk memulihkannya.


“Apa kita hanya akan menunggunya?” tanya Zilei. Sara mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dengan paksa. “Jangan dipaksakan,” tutur Leora.


“Setiap detiknya sangat berharga untuk kita. Apa kita berpisah lagi?” lanjut Stella.


“Tapi akan sulit nanti untuk berkumpul lagi,” balas Lukas. Zilei yang sudah tak sabar lantas mengambil satu set seragam dari petugas yang tersisa.


“Apa yang kau lakukan?” tanyaku padanya.


“Mempercepat waktu,” jawabnya kemudian menghampiri Sara. Sara langsung tersenyum curiga sambil menggodanya. “Hmm? Apa kau punya niat terselubung?”


“Maaf, kau bukan tipeku,” jawab Zilei dingin.


“Pfftt!” semburku menahan tawa setelah mendengarnya. Sontak wajah Sara memerah dan salah tingkah sendiri.


“Kau mempermalukanku!”


Aku berpikir kalau dirinya cantik pada saat-saat seperti ini. Tidak seperti biasanya yang agresif dan nakal.


“Aku begini karena tidak ingin membuang-buang waktu,” ujarnya.


Kami menyusuri labirin-labirin yang membingungkan ini. Aku berusaha mencari pintu tangga darurat untuk bisa ke menara. Aku terhenti pada sebuah pintu dengan simbol tangga dengan warna dasar merah.


“Ada apa, Malka?” tanya Leora heran.


“Sepertinya kita bisa lewat sini,” jawabku.


“Untuk apa? Bukankah kita sudah menyamar?” lanjut Lukas.


“Seingatku ada beberapa pintu yang memindai retina mata sebagai sistem keamanannya. Untuk jaga-jaga, menurutku kita bisa lewat tangga darurat,” jelasku.


Aku membuka pintu itu lalu terlihat tangga yang menjulang tinggi bagai tak berakhir. Melihatnya saja sudah membuatku kelelahan.


“Aku tidak ingin menggendongmu,” ujar Zilie pada Sara.


“Cih! Pria yang menyebalkan. Lagi pula aku juga sudah baik-baik saja,” balas Sara.


Ia berpegangan pada gagang tangga lalu mendaki tangga pada pijakan pertama. Seketika ia hampir terjatuh. Untung saja ia berpegangan pada gagang itu.


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku cemas.


“Selamat berjuang sampai atas,” sindir Zilei kemudian melangkah naik.

__ADS_1


Aku melihat sekitar. Aku berpikir kalau kita bisa melakukan hal lain agar pendakian tangga ini tidak sia-sia. Saat itu pula aku mendengar suara Leora.


“Huft… Apa kita tidak bisa mengurangi beban tas ini?”


Terlintas di benakku suatu ide. Lalu Alya menatapku seraya memberi kode.


“Kau tahu maksudku, kan?”


Aku membalasnya dengan mengangguk ke arahnya. Sepertinya pemikiran kami sama.


“Apa yang kalian lakukan di sana? Bantu aku memasang ini,” sahut Zilei.


“E—Eh? Zilei? Kau tahu yang kami pikirkan?” tanya Alya terkejut heran.


“Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan, yang penting bantu aku memasang dinamit ini ke tempat semacam ini di setiap beberapa lantai.


Selang beberapa lantai kami memasangnya. Tidak ada hambatan apa pun dan kami tidak melihat ada petugas. Tidak tertulis kami berada di lantai berapa. Hingga tibalah kami di puncak dengan sebuah pintu tertutup. Setelah pintu itu terbuka, terlihat ruang kontrol pembangkit energi langit.


Ada petugas-petugas yang sedang memperhatikan layar kontrol itu. Diam-diam kami melumpuhkannya tanpa menciptakan suara.


“Baiklah, ini yang terakhir,” ucap Stella.


“Tahu begitu aku tidak perlu susah-susah pakai seragam tebal dan berat ini,” ucap Zilei. Aku juga berpikiran demikian.


“Hanya menyulitkan kita naik tangga…” sahut Kellos.


Setelah memasang dinamit, kami kembali keluar dari area menara. Kami menemui Gras dan yang lainnya di sana.


“Bagaimana dengan kalian? Ada kemajuan?” tanya Gras penasaran.


“Sudah, tinggal diledakkan saja,” jawab Zilei.


“Apa kita harus pergi dari kota ini?” lanjut Leora.


“Tidak harus, kita sudah punya tempat persembunyian, kan?” sahut Kellos.


Kami langsung bersiap dengan untuk mengemas kembali barang bawaan kami sebelum meninggalkan kota ini. Athar telah lebih dulu pergi ke truk. Pada akhirnya kami tinggal menyusul Athar dengan bawaan kami. Namun Grim, orang “gila” itu, terlihat ingin ikut dengan kami.


“Aku ingin bersenang-senang dengan kalian juga!” lontarnya bersemangat.


“Kita bukan sedang bersenang-senang!” bantah Leora.


“Kau telah banyak membantu, ayo kita main bersama,” ujar Zilei seraya bersamalan dengan Grim. Leora menjadi kesal melihat tingkah mereka berdua.


“Kalian tidak mendengarkanku!”


Mesin truk menyala, sementara kami akhirnya telah naik ke dalam bak truk. Semua sudah siap untuk pergi dari kota ini.


“Kota yang indah… Selamat tinggal…” gumam Leora sedih.


“Baiklah, kita berangkat!” lontar Athar.


Kami melewati jalur yang sama seperti saat datang ke kota ini. Terbentang dinding-dinding tinggi dan kokoh bersama pegunungan menjadi latarnya. Tidak banyak bangunan yang terlihat karena terhalang oleh benteng itu. Ada satu yang sangat terlihat, yaitu menara yang menjulang sangat tinggi.


Suasana sekitar sangat sepi, tiada kendaraan selain kami. Pada saat itulah Alya bersiap menekan tombol dan Ethan yang memberi aba-aba.

__ADS_1


“Pertunjukkan dimulai!”


Bersambung~


__ADS_2