
Dalam aula yang amat besar, penuh dengan seluruh pegawai Knox Corp. Perjalanan panjang sudah kami tempuh untuk bisa di titik sekarang. Sudah saatnya periode pertama masa kerja kali ini tutup buku. Aku dan para kepala divisi lainnya duduk berjajar dengan presiden perusahaan. Agenda pembuka penuh dengan penampilan dari para pegawai yang berbakat. Riuh tepuk tangan menggemuruh di seluruh sudut ruangan.
Hingga akhirnya tiba pada inti acara, Knox memberikan sambutan dan pidatonya. Suasana hening dan kami semua menyimakkannya.
“Terima kasih kepada seluruh pegawai di seluruh tingkat, kita sudah melewati masa penuh sulit, namun pada akhirnya kita bisa berada di titik sekarang.”
Seluruh hadirin bertepuk tangan. Kemudian ia melanjutkan pidatonya. Aku merasa bangga bisa bekerja di perusahaan ini. Terbayang padaku lima tahun lalu saat aku didaftarkan oleh ayahku ke tempat ini. Lucu rasanya saat mengingat bertemu Jack pertama kali di sini. Beberapa kali pula aku merasakan nostalgia saat inspeksi langsung ke Mennora. Seketika aku menjadi rindu setelah empat tahun berpisah dengan Alya.
“Selanjutnya, saya persilakan Saudara Harry untuk pembacaan laporan.”
“Terima kasih, izinkan saya membacakan laporan yang sudah kita capai selama lima tahun ini. Tentu dengan berbagai tantangan dan halangan kita hadapi. Berikut semuanya yang terdokumentasi…” Ia menyebutkannya satu per satu. Lagi-lagi itu mengingatkan kami dengan setiap langkah di perusahaan ini.
Setelah itu, pembicara diberikan kepada kami para kepala divisi untuk menceritakan segala pengalaman yang kami alami. Tak jarang suasana penuh dengan gelak tawa. Seperti acara hiburan dari kami berlima.
“Kalian ingat saat kita diundang oleh kerajaan? Ada salah satu di antara kita yang setengah sadar,” ujar Cathy.
“Betul sekali, saat itu aku sadar kalau terlalu bersemangat juga tidak baik,” sahut Ryne. Sementara Pappous hanya memalingkan kepala ke kami berempat dengan rasa tak bersalah. Orang-orang tertawa melihat tingkahnya.
“Nah ini, persis seperti ini. Oh, ada yang kurang ‘bwah bwah bwah…’,” sahutku.
“Tapi aku tidak seperti seseorang yang tidak mengerti candaan…” sindir Pappous dengan wajahnya yang konyol.
“Wah tepat sekali, seperti orang polos di tengah-tengah tawaan orang-orang,” lanjut Lydia dengan senyumnya.
“Seperti sedikit lagi akan ada perdebatan panas, kawan-kawan…” ucap Ryne. Aku dan Lydia saling bertatap tajam, pada akhirnya tertawa bersama.
“Aku juga sangat beruntung bisa bekerja di sini. Kalau berangkat kerja mataku selalu segar. Bukankah begitu, kawan-kawan?” lontar Pappous.
“Betul!” sahut para laki-laki.
“Jadi izinkan aku memberi gelar pada sang Ratu kita di sini. Nona Cantik, Catherine Fournier!”
Semua orang bertepuk tangan dan bersiul senang. Sontak wajah Cathy memerah dan salah tingkah. Ia terlihat linglung dan tak tahu harus berbuat apa. Knox dan Harry juga ikut meramaikannya.
“Mari kita dengarkan satu dua patah kata darinya…”
“Aaa… T—Terima… kasih… banyak…” ucap Cathy gugup. Wajah dan tingkahnya yang seperti itu membuat para lelaki meleleh dan tak tahan.
“Imutnya…” gumamku. Ia terlihat seperti anak kecil.
“A—Aku tidak tahu harus berkata apa… Kakek Tua…” tuturnya pelan. Pappous kian menjadi-menjadi. Seperti cacing kepanasan. Kemudian menjadi setengah sadar, persis seperti ketika minum-minum saat itu.
“Dewi sudah turun dari surga…”
Setelah agenda yang di luar dugaan itu, pada akhirnya pembicara dikembalikan kepada Knox untuk pidato penutup.
__ADS_1
“Sekian untuk acara peringatan lima tahun perusahaan ini berdiri. Segala kontribusi kalian sudah menjadi piagam yang patut dibanggakan. Sebuah kehormatan jika dapat bertemu kalian di periode kerja berikutnya. Terima kasih.”
Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai menggetarkan seluruh isi ruangan. Seperti biasa acara dilanjutkan dengan pesta bersama. Yang berbeda kali ini adalah tempatnya yang berada di aula yang amat luas. Kami para kepala divisi bersama Knox dan Harry kembali ke balik ruang aula. Kami bersamalaman dan mengucapkan selamat satu sama lain. Sementara keributan sudah terdengar dari balik dinding ini.
“Selamat, selamat.”
“Terima kasih.”
Knox dan Harry lebih dulu meninggalkan kami. Lalu kami menyempatkan untuk mengobrol sebentar.
“Bagaimana dengan kalian? Akan tetap lanjut?” tanya Ryne.
“Tentu saja, zaman sekarang susah cari kerja,” jawab Cathy.
“Sepertinya itu tidak berlaku padamu, Nona Cantik,” celetuk Pappous. Cathy menjadi kesal terhadapnya.
“Berhenti memanggilku Nona Cantik! Apalagi tadi, kau membuatku malu setengah mati.” Sikapnya kembali seperti biasa, jauh berbeda saat acara tadi. Wajahnya penuh geram. Aku tidak menyangka kalau seseorang bisa memiliki dua ekspresi yang amat berbeda, seperti memakai topeng.
“Ayolah… Aku memujimu, tahu. Tidak seperti anak kecil di sana.” Kali ini Lydia ikut terciprat Pappous. Ia juga menjadi kesal mendengarnya.
“Jangan panggil aku anak kecil, Kakek Tua! Setidaknya aku lebih dewasa dari anak polos itu!”
Sekarang giliranku ikut terseret.
“Apa maksudmu anak polos? Setidaknya aku punya tata krama tidak sepertimu!”
“Anak-anak sekarang ini tidak punya sopan santun sama sekali ke orang tua,” sahut Pappous.
“Kau tidak termasuk di dalamnya,” celetuk Cathy.
“Oh, berarti kau melihatku masih muda, bukan? Akhirnya kau sadar juga, Nona Cantik.”
Suasana di sini tidak berbeda dengan suasana di balik dinding. Tempat ini penuh keributan juga. Ryne ingin menenangkan semuanya, tapi tak tahu harus berbuat apa.
“Kalian tidak ada bedanya dengan anak kecil. Selalu ribut,” ujar Ryne.
Kami yang mendengar lantas terdiam lalu hening seketika dan melihat ke arah Ryne. Wajahnya tampak geram namun dengan aura yang berbeda. Seakan-akan membuat kami merasa tertekan.
“Maaf…” ucapku. Wajah Ryne kembali seperti semula. Ia melanjutkan pertanyaannya. “Jadi kalian semua tetap di sini, kan?”
“Sepertinya aku tidak akan lanjut,” jawabku.
“Eh? Kenapa?” sahut Cathy.
“Aku akan pulang ke kampung halaman, pekerjaan ayahku sudah selesai di sini…”
__ADS_1
“Berarti kau hanya mengisi luangmu dengan bekerja di sini?” lanjut Lydia.
“Iya… Maafkan aku, semuanya…”
“Tidak masalah, Anak Muda. Kau sudah melakukan yang terbaik di sini,” ujar Pappous sembari menepuk punggungku.
“Tumben sekali kau seperti ini, Kakek Tua,” sahut Cathy.
“Kenapa kau tinggal di sini saja? Sementara keluarga kalian pulang kampung,” tanya Ryne. Aku menunduk dan merasa tak enak untuk mengatakannya.
“Aku juga berpikir begitu, tapi aku sudah ada janji dengan teman-temanku.”
“Baiklah kalau itu pilihanmu. Kami tidak akan memaksamu,” balas Ryne.
“Kuharap kalian semua sukses selalu,” tambahku.
“Kami juga berharap segala yang terbaik untukmu.”
Kami bersama-sama pergi ke aula dan mengikuti pesta yang sedang berlangsung. Lagi-lagi Pappous langsung mengambil minuman dan bertingkah. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Sementara Cathy dikelilingi oleh para pegawai, tentu kebanyakan lelaki. Lydia tengah menikmati santapan. Sementara Ryne berkumpul dengan pegawai yang seusianya, mereka tampak berwibawa.
Aku berkeliling sambil melihat-lihat di luasnya aula ini. Sebuah pemandangan yang ramai dan gembira yang dapat kulihat sebelum pergi meninggalkan perusahaan ini. Aku menghela napas dan menjadi sedikit terharu memikirkannya.
“Tak kusangka bisa berada di sini…”
Tiba-tiba saja Jack menepuk bahuku dari belakang.
“Sendirian saja? Kau tidak ikutan?” tanya Jack.
“Melihatnya saja sudah membuatku senang.”
Jack kebingungan melihat wajahku yang tampak terharu.
“Apa ada yang salah?”
“Aku akan kembali ke Mennora…”
“Kenapa? Aku masih ingin kau bekerja di sini.”
Aku pun mejelaskan semuanya kepada Jack.
“Baiklah… Titipkan salamku pada Alya dan yang lainnya, ya.”
“Tenang saja,” balasku kemudian merangkulnya. “Terima kasih untuk selama ini.” Dengan wajah tersenyum ia juga merangkulku.
“Justru akulah yang harus berterima kasih padamu.”
__ADS_1
Kami pun tertawa bersama.
Bersambung~