Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Malam Bersejarah


__ADS_3

“Gedebum!”


Suara dentuman yang amat keras terdengar di seantero kota Pharlouse. Ledakan yang keras membuat menara yang amat tinggi itu terbelah menjadi beberapa bagian, kemuudian perlahan tumbang ke samping. Pada saat itu pula terdengar suara sirene yang saling bersahutan. Bangunan tertinggi di kota tersebut runtuh ke tanah.


Sementara kami memandangnya dari kejauhan. Terlihat banyak helikopter beterbangan di sana. Reruntuhan yang terbentur tanah juga mengeluarkan suara yang sangat keras. Seperti ada suara teriakan dari kota itu, tapi samar-samar.


“Semoga saja tidak ada banyak korban di sana…” gumam Leora.


Menyaksikan dengan kepala sendiri membuatku merasa bersalah dengan semua yang kami perbuat. Asap tebal membumbung tinggi. Kota seketika menjadi gelap, hanya rona merah menyala dari tengah kota. Api itu semakin besar seperti api unggun raksasa.


“Kerusakan di sini akan lebih besar dari yang sudah-sudah,” ucap Ethan.


“Kita harus cepat-cepat pergi dari sini,” lanjut Athar.


Jalan yang kami lalui semula gelap, kini terang dengan kilap yang membara. Berhembus angin yang berasal dari kota itu, rasanya hangat.


“Kuharap secepatnya hujan. Aku tidak ingin tanganku ternodai lebih kotor lagi,” gumam Ellie pelan.


Lena yang mendengar perkataanya lantas mencoba seorang diri untuk memanggil hujan dengan tongkatnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Saat itu aku sadar saat ada cahaya biru terang melayang dari tongkatnya. Cahaya itu menerangi bak truk, lalu perlahan pergi menuju langit.


“Lena…?” lontarku terkesiap melihatnya.


Seketika terdengar suara gemuruh dari atas. Rintik-rintik mulai turun dan membuat suara di atas terpal yang terpasang di bak truk. Aku menjulurkan tanganku keluar, tetesan air itu terasa dingin.


“Kota itu seperti badai…” ucap Kellos tak percaya.


Gumpalan awal tebal menyelimuti langit kota Pharlouse. Petir-petir yang menyala membuatnya terang. Aku dan teman-teman menyaksikannya seraya truk ini pergi menjauh.


“Apinya pelan-pelan hilang!” lontar Gras senang.


Aku melihat Lena yang sedang menghadap ke kota itu. Tampak matanya yang hampir mengeluarkan air mata. Wajahnya seakan-akan senang melihat kekelaman ini berakhir. Sekarang, aku tidak memandang Lena sebelah mata. Aku teringat dengan semua “sihir” yang ia keluarkan. Aku sadar kalau semua itu untuk kebaikan yang dijunjung dirinya.


“Perasaanmu tersampaikan, Lena…” benakku seraya tersenyum memandangnya.


“Malka? Apa ada sesuatu?” tanya Lena menatapku heran.


“Ah! Tidak! Umm… Banyak yang tidak bisa kami lakukan tanpamu. Kami sangat berterima kasih padamu,” balasku.


Seketika Lena terkejut mendengarku lalu tersipu.


“S—Sama-sama…”


“Lukas, waspadalah. Ada predator yang diam-diam beraksi,” sindir Zilei. Aku merasa jengkel pada Zilei, sementara Lena menjadi salah tingkah.


“Aku hanya memberi pujian padanya!” lontarku kemudian memalingkan pandangan. Kepala tongkat itu seperti bersinar sekilas sebelum akhirnya padam.


“Apa itu benar-benar tongkat sihir?” benakku.


Kota Pharlouse sudah lama hilang dari pandangan. Kebisingan hanya terdengar dari truk ini. Hawa di sini semakin dingin saja. Angin yang berhembus melewati sela-sela dinding bak truk menggetarkan tubuhku. Aku langsung mengambil kain dan pakaian yang bisa kupakai untuk menghangatkan diri.

__ADS_1


“Brr… Dingin sekali…”


Kebanyakan dari mereka sudah terlelap. Mereka yang kedinginan lantas meringkuk. Aku meletakkan beberapa kain yang masih ada. Aku kembali ke tempat semula, bersandar pada dinding, pandanganku perlahan gelap dan tubuhku menjadi rileks.


“Aaaaa!”


Teriakan terdengar dari segala sisi. Suara tembakan dan barang-barang yang hancur membisingkan telingaku. Perlahan membuka mata, aku sangat terkejut saat melihatnya.


“A—Apa yang terjadi?”


Orang-orang berlarian, beberapa dari mereka terjatuh setelah terkena tembakan. Suara tembakan beruntun bersamaan dengan suara lontaran sekumpulan orang, mereka saling bertikai. Tanganku seketika basah oleh sesuatu.


“D—Darah?”


Telapakku berlumuran tanpa tau sebabnya. Saat menjauhkan tangan dari pandangan, seseorang yang tak sadarkan diri tepat berada di hadapanku. Kedua matanya masih terbuka lebar membuat aku syok. Aku tidak bisa bergerak sama sekali.


Orang-orang berlarian pergi dari tempat ini, namun tubuhku beku bagai patung. Hingga akhirnya ada beberapa orang berseragam zirah mengarahkan senjatanya kepadaku. Tubuhku gemetar tiada henti. Perasaan berada di ujung maut membuatku kehilangan akal. Aku melihat ia yang siap menarik pelatuk kapan saja.


“A—A—A—”


“Dor!”


“Aaaa!”


Aku berteriak sekencang yang kubisa. Tiba-tiba saja mulutku didekap oleh seseorang. Sontak aku langsung melawannya. Namun tangannya sangat kuat untuk bisa lepas.


“Sshh! Tenanglah!” bisik seseorang tepat di telingaku.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Leora khawatir.


“Mmm! Mm! Mmmm!”


Mulutku masih ditutup oleh tangan seseorang.


“Zilei, Malka sudah sadar,” ucap Leora.


Ia langsung melepas mulutku dari tangannya. Akhirnya aku bisa menarik napas lega.


“Hah… Hah… Kita… ada di mana…?” tanyaku terengah-engah.


“Kita sudah sampai di Westra,” jawab Leora.


Terlihat teman-teman sedang berkumpul mengelilingi sebuah meja. Leora menjelaskan kalau kami sedang membahas rencana berikutnya. Aku yang masih lemas ini hanya bisa mendengar percapakan mereka dari atas sofa.


“Kita tinggal dua jam perjalanan dari sini untuk sampai ke Centra. Sekarang kita akan mempersiapkan semuanya sebelum beraksi di kota itu,” papar Ethan.


Pembicaraan ini terus berlanjut hingga beberapa jam ke depan. Aku tidak banyak bicara. Berbagai pendapat dikemukakan di sini. Tak jarang juga terjadi perdebatan di antara mereka. Aku tidak fokus, menyaksikan mereka membuaku jadi mengantuk.


“Baiklah, sudah diputuskan!” ujar Ethan.

__ADS_1


“Eh? Apa yang kalian putuskan?” lontarku terbangun kebingungan.


Mereka semua terlihat seperti mengabaikanku lalu pergi dengan kesibukannya masing-masing. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan. Leora datang menghampiriku. Ia berusaha menjelaskan kondisi saat ini, tapi tidak banyak.


“Tugas-tugas penting sudah ditangani oleh mereka. Kita cukup mempersiapkan senjata dan barang-barang kita,” lanjut Leora.


Pada akhirnya aku menuruti perkataannya. Pekerjaan kami lebih dahulu selesai karena tidak banyak yang harus dipersiapkan. Kemudian Ellie datang kepadaku dengan tergesa-gesa.


“Apa sesuatu terjadi?” tanyaku cemas.


“Kita kekurangan senjata untuk pasukan kita. Apa kau punya ide?” tanya Ellie.


“Kekurangan senjata? Pasukan?” lanjutku heran.


“Panjang menjelaskannya. Yang penting, kau tahu cara mengatasinya?” balas Ellie.


Aku terdiam berpikir tak tentu arah karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ellie hanya menatapku dengan wajah serius. Aku hanya bisa menarik kesimpulan dari ucapannya tadi. “Masalah kita adalah kekurangan senjata, kan?” tanyaku.


“Iya,” jawabnya.


“Kalau begitu, kita suruh mereka membuat senjatanya sendiri-sendiri saja,” ucapku.


“Jawabanmu di luar ekspetasiku… Senjata yang mereka buat belum tentu kuat dan berguna…” balasnya kecewa.


“Jangan salah. Mereka lebih tahu senjata apa yang mereka inginkan. Tentang kuat atau tidaknya, ada satu cara untuk mengatasinya,” paparku.


“Apa itu?” tanya Ellie bingung.


Tengah malam, saat suasana kota benar-benar sepi. Semua orang berkumpul di tengah tanah lapang yang amat luas. Ratusan… mungkin ada ribuat orang yang hadir saat ini. Mereka berkumpul menghadap Ethan yang ternyata memimpin semua ini.


“Malam ini dan malam-malan selanjutkan akan menjadi sejarah besar bagi kita semua!” Ethan melanjutkan


orasi di depan khalayak itu.


Kami menyaksikannya dari belakang. Tak kusangka kalau kami akan menggerakkan orang sebanyak ini. Namun aku diherankan akan satu hal.


“Apa di kota ini tidak ada polisi?” tanyaku.


“Semua kantor polisi di kota ini sudah diambil alih dan dimanipulasi,” jawab Alya.


Aku langsung mengerti saat melihat Gras yang sedang mendengar ucapan Alya.


“Kau benar-benar jenius, Malka! Aku tidak kepikiran untuk menambahkan energi langit pada senjata mereka,” lanjut Ellie. Aku hanya diam tersipu.


Semuanya sudah siap, Ethan sudah berada di penghujung orasinya.


“Semuanya, ayo kita tegakkan kebenaran!”


Semua orang bersorak dengan serempak.

__ADS_1


“Synnefá!”


Bersambung~


__ADS_2