
Suasana senyap dan hening, menemani pagiku yang sejuk. Hanya terdengar suara hembusan angin yang melewatiku. Kuberikan salam perpisahan untuk kunjungan kali ini.
“Sampai jumpa, Ayah, Ibu…”
Aku beranjak berdiri lalu menghampiri Leora. Ia melihatku lalu berpaling pada pemandangan yang luas di bawah sana. Memang terlihat indah, terlebih kala pagi. Aku juga memandanginya. Sudah saatnya kami kembali.
“Baiklah… Sesuai ucapanku kemarin, kau masih ingat, bukan?” ucap Leora.
“Kemarin? Umm… Oh iya, kita ingin menemui teman-temanmu. Tapi… sekarang?”
“Aku juga tidak ada pekerjaan saat ini. Lebih baik daripada menganggur.”
“Bukankah kita harus menjual riunbread seperti biasa?” Aku menjadi heran.
“Tidak untuk hari ini. Aku juga butuh hari libur. Ayo!” jawabnya.
Sesampainya di taman, terlihat teman-teman Leora tengah berkumpul. Di mataku terhitung empat orang di sana. Sedikit mengganjal kepalaku. Apa mereka berkumpul setiap hari? Setiap saat? Sejak pagi hingga sore? Aku ingin menanyakannya pada Leora. Tapi ia terlalu bersemangat sampai-sampai meninggalkanku di belakang.
Kami berlajan menghampiri mereka, berlanjut dengan Leora yang menyapa, “Selamat pagi, semuanya!” Tentu mereka menjeda pembicaraan dan menyambut kami.
Mereka melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Leora penasaran.
“Pastinya yang sedang ramai dibahas orang-orang,” jawab seorang dari mereka.
Seketika menjadi hening sejenak. Entah kenapa aku hanya tersenyum tanpa kata-kata, begitu pula dengan mereka yang terus menatapku. Leora pun tersadar.
“Oh, maaf aku lupa. Ini Malka, teman baruku,” ujarnya.
“Malka Syahnivir, salam kenal.”
Lalu mereka juga memperkenalkan diri mereka masing-masing. Kellos, Stella, dan Zilei yang sudah lebih dulu aku kenal. Masih ada seseorang yang belum menyebut namanya. Ia tampak malu dan kepalanya tertunduk. Bertingkah aneh dan aku tidak tahu apa yang ingin dia ucapkan.
“B—B—B—” seperti itu ucapannya. Teman-temannya hanya cekikikan melihat tingkahnya. Aku merasa kasian dengannya, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Bellena, panggil saja Lena,” sahut Leora.
Ia menjadi gelagapan dan salah tingkah. Wajahnya penuh merah dan sepintas menarik perhatian dari lubuk hatiku. “Imut sekali…” gumamku. Kata-kata itu keluar sendiri dari mulutku. Sekejap kututup mulutku tapi mereka semua sudah mendengarnya.
“Wah, kau sependapat denganku! Memang imut, bukan?” lontar Kellos.
“Yah… Cocok denganmu yang suka anak kecil,” celetuk Stella.
“Bilang saja kau iri,” sindir Zilei dan membuat Stella tambah kesal. Adu mulut pun terjadi di antara mereka berdua. Sementara Kellos hanya cengengesan dan Lena kikuk tanpa kata-kata. “Apa kau baik-baik saja, Lena?” tanyaku.
“A—A—Aku—” Ia terdiam bagai patung dan kepalanya sangat merah. Sepertinya ia sudah tidak bisa menahannya.
__ADS_1
“Dia memang seperti itu. Selalu malu-malu,” ucap Kellos kemudian mencubit dan menarik pipinya Lena. “Jangan cubit pipiku…” tutur Lena. Ia tampak seperti orang yang setengah sadar. Kini aku tidak mendengar lagi keributan di dekatku. Sepertinya Zilei dan Stella sudah berdamai… sepertinya begitu. Mereka saling tatap sinis. Cukup dingin hingga terasa ke tubuhku.
“Pakaianmu sangat rapi hari ini, apa habis mengunjungi sesuatu?” tanya Zilei. Wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sangat drastic, aku benar-benar tak menyangkanya. Zilei pergi mendekati Leora, sedangkan Stella yang berpaling lalu kembali melihatnya dengan sebal, tapi agak berbeda.
“Oh, aku menemanti Malka tadi,” jawab Leora. Zilei melihatku dengan tatapan tajam. Tubuhku sekejap menggigil. Perasaan yang sangat tertekan.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami dulu?” lanjut Zilei.
“Ayolah, kau tahu diriku, kan? Kita juga punya urusan masing-masing,” balas Leora.
“Kau tidak peka ya, Leora. Sama seperti laki-laki kusut ini,” cetus Stella.
Lagi-lagi terjadi keributan di sini. Pemandangan di sini cukup aneh bagiku. Kellos masih memainkan wajah Lena, Stella tampak senang berdebat dengan Zilei, sementara Zilei berusaha untuk membela Leora. Sepertinya aku tahu hubungan tak kasat mata dari mereka semua. Leora datang mendekatiku.
“Maaf kalau pertemuan pertamamu seperti ini. Ya… Kadang-kadang memang begini…” ucapnya. Aku punya firasat tidak baik tentang semua ini.
“Semoga aku tidak terjebak di dalam tali kusut hubungan kalian…” benakku.
“Malka?” lanjut Leora heran melihatku.
“Oh, tidak apa-apa. Kalian tampak sangat akrab, ya!” balasku tersenyum.
Beberapa saat berlalu, keadaan menjadi lebih baik. Aku merasa kalau kedatanganku ini malam membuat mereka bertengkar. Namun tidak juga, Leora bilang kalau ini sudah sekian kalinya seperti itu. Aku hanya bisa berharap. Semoga mereka disadarkan dengan perasaan masing-masing, tentu aku tidak ingin masuk ke dalamnya.
“Tadi kalian membahas tentang langit. Apa memang seramai itu?” tanyaku.
“Tapi, bukankah semua itu belum tentu benar?” lanjutku.
“Kau benar, tapi belum tentu juga salah,” jawabnya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan?”
“Hmm… Entahlah, yang terlintas baru petisi. Bagaimana dengan yang lain?” balas Kellos. “Aku juga ikut petisi, sepertinya aku akan… oh iya, bagaimana kalau kita membuat kelompok?” sahut Leora.
“Apa boleh buat, aku juga akan ikut dengan kelompok itu,” ujar Zilei.
“Kalau kau tidak ikut pun tak masalah. Tapi kelompok apa?” ucap Stella.
“Kelompok aktivis peduli langit dan lingkungan, sudah banyak yang membuatnya juga. Tapi aku tidak tahu apa yang kita lakukan,” jawab Leora.
Aku teringat dengan Synnefá, namun aku tidak bisa memberi tahu mereka.
“Kulihat televisi kemarin, ada beberapa kelompok yang memberontak di beberapa tempat. Tidak mungkin kita ikut seperti mereka, bukan?” ujar Stella.
“Mengapa tidak mungkin? Kau selalu saja pesimis,” sahut Zilei.
“Pikirkan ke depannya, Bodoh! Kau tahu arti ‘pemberontak’, kan?” Kami hanya menyaksikan mereka berdua.
__ADS_1
“Apa katamu? Lalu apa kita hanya diam saja, sedangkan planet akan hancur?”
“Sudah, sudah. Lagi pula tidak semua bisa bela diri di sini,” balas Leora.
“Aku bisa! Aku akan berusaha semampuku,” sahut Kellos.
“Kau yakin?” tanya Leora. “Tentu saja, aku sangat yakin!”
Kami melihat Lena, ia terdiam lalu terkejut saat sadar kami memperhatikannya.
“E—Eh? A—Aku tetap akan ikut kalian!” lontarnya gugup.
“Sebenarnya memberontak itu opsi paling terakhir. Kalau begitu—” Perkataan Leora disela oleh Kellos. “Bagaimana dengan Malka?”
“Aku ikut dengan kalian,” jawabku.
“Tapi, kau bisa bela diri?” lanjut Kellos.
“Tubuh sekekar ini kau sudah tahu artinya, kan?” balas Leora. Aku menjadi malu mendengarnya. “Oke, oke…” balas Kellos.
“Huh, sebatas kekar bukan berarti kau bisa bela diri,” sindir Zilei.
“Kau mendeskripsikan dirimu sendiri atau bagaimana?” sahut Stella.
“Apa? Kau tidak percaya? Baiklah, aku menantangmu due—”
Tiba-tiba datang seseorang mendekati kami. Sepertinya wajahnya tidak asing dengan yang kulihat di pasar kemarin.
“Maaf, aku mendengar kalian bisa bela diri. Aku butuh bantuan kalian,” ujarnya.
“Apa yang bisa kami bantu?” balas Leora.
“Para pedagang keliling akan pergi ke desa tetangga besok. Apa kalian bisa mengawalnya? Kami akan berikan balasan yang pantas untuk itu.”
“Apa ada masalah dengan jalan antar desa?” lanjut Leora.
“Minggu lalu, beberapa pedagang yang melinatasinya mendapat serangan dari perampok.” Waktu berlalu tidak lama untuk berpikir dahulu.
“Aku bersedia, bagaimana dengan kalian?” tanya Leora.
Pada akhirnya kami semua bersedia untuk membantunya. Bahkan termasuk Lena sekalipun. Mereka tampak tak yakin dengan itu.
“Tidak masalah. Dalam pertempuran tidak semua menjadi penyerang, bukan?” ucapku. Mereka pun akhirnya menerima Lena. Orang itu merasa senang mendengarnya.
“Terima kasih. Kita akan berkumpul di ujung pasar besok pagi.”
Bersambung~
__ADS_1