Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kau ingin membuat keributan?


__ADS_3

Hari petang kala kami melangkah pergi dari gubuk kayu tempat memasak. Waktu berjalan seperti biasa, namun ada yang berbeda, di antara aku—dan Alya. Canggung rasanya, bahkan hanya untuk dapat saling bertatap. Leora dan Luceyl memisahkan tegak kami berdiri bersama. Luceyl menghela napas melihat ke kanan dan kiri, tempat aku dan Alya berdiri.


“Apa yang membuat kalian menjadi seperti ini?” tanya Luceyl. Sementara aku dan Alya hanya terdiam, tiada balasan. Wajahku tertunduk, mengingat kejadian tadi, membuat dadaku sesak seketika.


“Tahu begitu aku lanjut pura-pura tidur saja…” gumam Leora.


“Kalian mempermasalahkan masalah tadi?” lanjut Luceyl.


“Orang-orang bilang, kau bisa melakukan itu kalau kau saling mencintai,” papar Leora. “Aku pernah mendengarnya. Tapi melakukannya untuk sesuatu yang darurat tidak salah juga, kan?” balas Luceyl.


“Tapi sulit untuk tidak berpikir seperti itu…” desis Alya pelan. Aku yang juga mendengarnya sontak memalingkan kepala, semakin sesak kurasakan.


“Seharusnya jika kalian tidak biasa saja tidak perlu secanggung ini.”


“Kau belum pernah menjadi wanita, kau tidak akan pernah tahu,” sahut Leora.


“Bukankah justru kalian merasa jijik satu sama lain? Sangat jarang aku melihat seperti ini…” lanjut Luceyl heran.


“Eee… Kau tidak salah, sih. Bagaimana menjelaskannya…” gumam Leora.


“Jangan-jangan… kalian…?”


Aku terkejut mendengarnya dan langsung membalasnya.


“Kami tidak seperti itu!”


Rupanya Alya juga mengatakannya juga bersamaan. Lekas Luceyl tertawa lepas dan Leora terkikik melihat tingkah kami berdua.


“Hahaha! Pantas saja! Maaf selama ini aku tidak peka.”


“Wajah kalian sangat lucu, sama-sama merah,” sambung Leora. Aku langsung memalingkan wajah karena malu. Rasanya dadaku ingin meledak jika terus seperti ini. Sementara Alya turun lantas jongkok sembari menutupi wajahnya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Luceyl. Leora mengecek dahinya dengan telapak tangan. “Kau demam?”


“B—Bukan…” tuturnya pelan.


“Ngomong-ngomong, kita sudah sampai. Tempat biasa aku berlatih panahan sehari-hari,” sahut Luceyl, “Kalian ingin berlatih bersama?” ajaknya.


“Tentu, kita ingin melawan makhluk yang kau sebut jahat itu,” jawabku.


“Baiklah. Alya, lebih baik kau duduk di sebelah sana terlebih dulu, sambil beristirahat,” balas Luceyl. Kemudian aku dan Leora mengikuti Luceyl, hanya beberapa langkah, menuju sebuah tempat, kini kami berhadapan dengan beberapa boneka tiruan sebagai target memanah.


“Aku hanya membawa satu, mungkin kita bisa saling bergantian,” ucap Luceyl.


Pertama, Luceyl memberi contoh memanah yang biasa ia lakukan. Tidak ada perbedaan yang ia lakukan, sama seperti panah yang biasa kulihat. Kemudian ia memberikan busur itu kepada Leora. Ia pun mengambil posisi.


“Duk!”


Anak panah itu tertancap tepat di dahi boneka itu. Aku baru ingat kalau Leora selama ini memang menggunakan panah. “Wah, keren…” gumamku terpanah, sementara Luceyl tercengang melihatnya, “J—Jago sekali…”


“Aku memang biasa menggunakan ini di dunia kami, hehe…” balas Leora cengar-cengir. Selanjutnya, giliranku untuk memanah. Aku mencoba memegang busur itu seperti yang mereka lakukan, namun sepertinya agak sulit untuk menyeimbangkannya.


“Tahan napasmu,” kata Luceyl.


Lalu aku menarik tali busur itu hingga sangat kencang. Saat dilepas anak panah melesat dengat kencang, tapi tidak menuju sasaran. Pada saat yang sama muncul seseorang dari arah panah itu mengarah. Aku langsung panik melihatnya.


“Shet!”


Perempuan itu menangkap anak panah itu tepat di tangkainya. Ia menggenggamnya saat benda tersebut sudah berada tipis di depan wajahnya.


“B—Berbahaya sekali…” decakku tak percaya.


“Salam yang hangat,” ucap perempuan itu kemudian datang menghampiri kami.

__ADS_1


“Bisa-bisa kau dekat dengan makhluk seperti mereka, Yeil,”  lanjut perempuan itu.


“Mereka punya tujuan yang sama dengan kita.”


“Mengalahkan makhluk yang sama dengan mereka? Menyedihkan sekali.”


“Sesama makhluk seperti kita saja bisa saling bertentangan, mereka juga sama.”


“Baiklah, baiklah. Dan kalian sedang latihan di sini?”


“Iya. Aku sedang latihan dengan Malka, Leora, dan yang di sana Alya.”


“Kukira kalian sudah pandai menggunakan senjata,” balas perempuan itu sambil mematahkan tangkai anak panah yang ia pegang. Leora yang tidak terima dengan perkataan tersebut lantas merebut busur dari tanganku lalu melesatkan anak panah ke sasaran. Lagi-lagi mengenai kepala boneka itu.


“Sepertinya aku salah menilai kalian…” gumam perempuan itu.


“Memang aku tidak pandai menggunakan panah, sih, hehe…” sahutku.


“Lalu, apa yang biasa kau pakai?”


“Pedang,” jawabku.


“Pedang? Apa itu?” tanya Luceyl.


“Eh? Kau tidak tahu pedang? Senjata yang bentuknya seperti pisau tapi lebih besar dan panjang,” jelasku.


“Akan mudah patah kalau seperti itu…” gumam Luceyl.


“Makanya pedang terbuat dari besi agar tak mudah rusak.”


“Besi?”


Aku menepuk jidat setelah mendengarnya. “Berarti senjata kalian satu-satunya hanya panah ini?” tanyaku tak percaya.


“Serius? B—Bagaimana kami menyerang mereka?” lanjut Leora.


“Mungkin kalian bisa membuatnya di sini. Tapi sebelum itu, tidak mungkin kalian datang hanya bertiga, bukan?” ujar perempuan.


“Iya, yang lainnya masih berkemah di perbukitan seberang hutan,” jawabku. Seketika perempuan itu mengajak kami untuk pergi mengikutinya, “Ikuti aku.” Sementara aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. “Kau ingin membawa kami ke mana?” tanya Luceyl, namun perempuan itu menjawabnya dengan, “Rahasia.”


“Apa kita tidak berkeliling desa dulu?” ucap Leora. Sepertinya ia sangat penasaran dengan suasana desa ini. “Tidak ada yang harus ditunjukkan,” jawab Luceyl,  “Semuanya sudah terlihat dari ujung ke ujung.”


“Tapi setidaknya aku ingin tahu tempat-tempat jika ingin berkunjung,” balas Leora yang masih bersikeras untuk bisa melihatnya.


“Kalau kau tetap ingin tahu, kita tidak perlu berkeliling,” balas Luceyl, lalu ia meminta kami untuk saling bergandengan tangan. “Kau ingin membawa kami terbang?” tanya Alya, dan benar saja, Luceyl membawa kami ke angkasa. Tampak seluruh sudut desa dengan bangunan yang semua terbuat dari kayu.


Setelah menjelaskan beberapa tempat, ia membawa kami turun kembali, perempuan itu sudah menunggu. Jubah kami bercahaya sesaat menapakkan kaki. Perempuan itu terkejut melihat ke arahku.


“Ada apa?” tanyaku heran.


“Bunga itu… T—Tidak mungkin…”


“Bunga? Oh, ini ku dapatkan di perbukitan,” jawabku.


“Tapi… Bagaimana bisa?”


“Maksudmu?” Aku jadi bingung terhadapnya. “Bagaimana bisa kau mendapatkannya?” Kemudian aku menjawabnya seperti biasa. “Tapi temanmu tidak bisa mendapatkannya, bukan?” lanjutnya. “Iya hanya aku,” jawabku.


“Memangnya kau tahu bunga itu, Eil?”


“Aku pernah mendengarnya, tapi aku lupa namanya. Aku baru pertama kali melihat seseorang bisa menggunakan bunga itu.”


“Aku juga baru melihatnya. Apakah memang selangka itu?” lanjut Luceyl.

__ADS_1


“Mungkin bisa jadi kau satu-satunya,” jawab perempuan itu sembari melihatku.


Kami kembali melanjutkan perjalanan yang belum kutahu tempat yang dituju. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, mungkin lebih baik tidak sekarang.


“Oh iya, aku lupa mengembalikannya,” ucap Leora memberika busur kepada Luceyl.


“Tunggu, kalian tidak membawa senjata ke sini?” tanya perempuan itu. “Saat pergi kami membawanya, tapi setibanya di dunia ini senjata itu hilang,” jawabku.


“Oh iya, tadi kau bilang mungkin di sini ada barang yang kami cari. Berarti ada semacam tambang di sini?” lanjutku.


“Tambang? Maksudmu barang yang kau dapatkan dari dalam tanah?” tanya Luceyl. Aku mengiyakan pertanyaanya. “Tapi sekarang kita berada di langit,” balas Luceyl datar. Aku baru sadar, tapi ada yang mengganjal pikiranku, “Bukankah kita sedang berpijak di atas tanah sekarang?”


“Tanah duniamu berbeda dengan tanah di duniaku.”


Aku baru tahu kalau tanah yang kami pijak sekarang sebenarnya adalah energi langit yang berwujud padat. Luceyl menjelaskan bagaimana “tanah” itu bisa menghidupi makhluk hidup yang berada di atasnya.


“Berarti semua alam ini berasal dari energi langit?” tanya Leora.


“Tentu saja.”


“Jika energi itu terkuras habis, seluruh alam ini akan hilang?” lanjut Leora.


“Tepatnya akan runtuh ke dunia kalian tinggal.”


“Sama seperti yang dikatakan buku itu…” gumam Alya.


“Buku?” tanya perempuan itu.


“Bukan apa-apa…” jawab Alya, kemudian ia melanjutkan, “Kau tetap ingin kami seperti orang asing di matamu?”


“Maksudmu?” tanya perempuan.


“Bagaimana aku memanggilmu?” lanjut Alya.


“Oh iya, tadi Luceyl memanggilmu Yel,” sahutku.


“Yeil? Itu panggilan Luceyl,” jawab perempuan itu. “Eh? Apa aku salah dengar?” balasku. “Hirieyl, salah dia juga yang tidak mengingatkanku untuk berkenalan dengan kalian,” jawab Hirieyl.


“Hiri—Hiriyeil?” Aku kesulitan memanggil namanya.


“Eil, panggil saja begitu.”


“Eil? Yeil? Panggilan kalian mirip. Apa tidak tertukar?” tanya Leora.


“Kalau kalian mengucapkannya dengan benar tidak akan tertukar,” jawab Luceyl.


“Baiklah kita sudah sampai,” ucap Hirieyl.


Sebuah rumah kayu terlihat lebih kokoh dibanding dengan yang lainnya. Luceyl terkejut saat sadar kalau Eil membawa kami ke sini. Ia menjadi kesal kepada Eil.


“Apa maksudmu membawa kami ke sini?”


“Sudah seharusnya kita ke sini, bukan?”


“Kau ingin membuat keributan?”


Aku ingin menghentikan perdebatan di antara mereka berdua.


“Tenang, tidak baik berisik di dep—”


“Diam!”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2