
Kami tiba di perbatasan Enhaud. Terlihat tenang dan damai, seperti tidak terjadi apa-apa di kota ini. Untung saja tidak ada pengecekan kendaraan. Kami bisa langsung melintas.
Kami tidak langsung pergi ke pusat kota kecil ini. Berhenti di pinggiran kota, kami berusaha ingin mencari informasi terlebih dahulu. Ada penginapan kecil di sini. Kami berniat untuk bermalam di penginapan ini. Sejauh ini kami tidak dicurigai oleh orang-orang di sini. Mungkin pergerakan aktivis tidak menjangkau daerah
ini.
“Wuah… Lumayan panjang perjalanan kita…” ucap Ellie sambil meregangkan tangan. “Kau tidak tidur tadi, Malka?” tanya Leora.
“Tidak, aku tidak bisa tidur selama di dalam sana,” jawabku.
“Kau pasti mulai kelelahan dan mengantuk sekarang,” sahut Gras.
“Tidak. Tidak masalah, aku masih bisa terjaga,” lanjutku. Namun tiba-tiba saja kepalaku terasa berat dan pandanganku semakin berbayang. Tanpa sadar mulutku terbuka lebar menguap. Mereka hanya melihatku.
“Hehehe… Hanya sedikit mengantuk, kok,” ujarku cengengesan.
Hari sudah petang. Kami menggunakan hari yang tersisa hanya untuk istirahat saja, sebelum akhirnya berlanjut kala esok. Selama itu pula aku tertidur pulas di atas kasur yang cukup empuk. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat mataku terpejam.
Pagi hari sudah menyambutku ketika bangun tidur. Perutku sangat lapar sekarang.
Aku pergi ke kantin penginapan. Untung saja kantin itu sudah buka. Aku langsung memesan menu sarapan. Hanya ada aku seorang di meja makan. Bersantap pagi, setelahnya aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat luar.
Bangunan di sini cukup jarang. Cukup banyak kendaraan yang sekedar melintas menuju dan dari tengah kota. Hamparan tandus jarang hijau memenuhi pandanganku. Berbeda dengan daerah yang pernah kukunjungi, hampir tidak ada aktivitas di sini.
Aku pun kembali ke dalam ruang lobi, sekedar duduk-duduk santai sembari menyaksikan televisi. Kejadian kemarin masih banyak bergumam di sana. Terlihat di layar beberapa orang ditangkap oleh petugas dari Knox Corp dan satuan keamanan kota. Aku merasa lega karena sudah berada sangat jauh dari sana.
Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan menyapaku. Ternyata Alya.
“Eh? Kau sudah bangun dari tadi?” tanya Alya.
“Iya. Yang lain masih tidur?” balasku.
“Tadi tidak ada siapa-siapa lagi selain aku yang keluar,” jawabnya. Terdengar suara perut Alya yang sudah keroncongan.
“Kau sudah sarapan?”
“Sudah. Kantin sudah buka, kok,” jawabku.
Ia melangkah sedikit lalu berhenti menatapku seperti ingin mengajakku.
“Ingin kutemani?” Ia hanya mengangguk-angguk.
Kala di kantin ia langsung memesan, sementara aku menunggunya di meja makan. Ia datang sambil membawa nampan berisi menu sarapannya. Tampak sama seperti sarapanku. Aku hanya menyaksikannya.
“Aku hanya makan sendiri, tidak masalah, kan?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku akan tetap menemanimu,” jawabku.
Ia melanjutkan beberapa suap sebelum memulai percakapan. “Sepi sekali rasanya. Sepertinya kemarin kau lelah sekali. Bagaimana rasanya di belakang?”
“Panas! Tak kusangka akan benar-benar seperti sauna. Aku sangat tidak nyaman.”
“Hahaha! Tapi aku melihat yang lain sepertinya baik-baik saja,” balas Alya.
“Entahlah. Aku dan Zilei yang tetap bangun kemarin,” lanjutku.
Aku meminum segelas air yang sempat kutitip pesan dengannya tadi. Ia menelan suapannya lalu bertanya, “Kalian tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?”
Aku terkejut sambil menyemburkan air dari mulutku. Wajah Alya langsung basah karena berada tepat di hadapanku. Ia segara mengambil tisu.
“Maaf. Tak kusangka kau akan bertanya itu,” ucapku.
“Santai, aku jadi lebih segar juga berkatmu. Bagaimana jawabannya?”
“Aneh-aneh? Tentu tidak! Aku hanya duduk penuh bosan seharian di sana.”
“Kau tidak mengobrol dengan Zilei?” lanjutnya.
“Tidak. Tidak habis pikir ada orang yang seperti dia,” jawabku.
Ia mengambil suapan terakhirnya. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya. Sementara ia sedang mengelap mulutnya, aku berkata, “Aku masih belum tahu detil tentang kalian yang bertemu dengan Ahtar dan lainnya.”
“Lalu…?”
“Selanjutnya? Kami berkenalan lalu kami mengajak mereka, ternyata mereka juga ingin ikut dengan kami sejak awal bertemu,” jawabnya.
“Apa saja yang kau kenal dari mereka?” lanjutku.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” balas Alya heran.
“Aku penasaran dengan mereka. Tidak apa-apa, kan?”
“Aku juga bingung untuk menjawabnya. Yang aku tahu, mereka juga pandai bela diri, apalagi Athar. Kalau Lukas ia pandai peralatan sepeti Ellie, sedangkan Sara aku belum terlalu tahu tentangnya.”
“Sebenarnya kalau itu aku juga sudah tahu, sih,” balasku.
“Lalu? Apa yang ingin kau tahu?” lanjutnya.
“Maksudku, apakah ada hal lain yang belum kutahu? Atau mungkin karakter mereka kalau kau tahu.”
“Hmm… Apa, ya…? Kalau Athar, sih, dia orangnya baik dan selalu bisa diajak bicara. Obrolan kami sering terasa seru, mengalir terus. Oh iya, hobi kami sama,” jelasnya sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan rasa ragu. Aku malah menjadi bingung mendengarnya.
__ADS_1
“Singkatnya, dia hampir mirip sepertimu,” tambahnya.
“Ah, aku mengerti sekarang. Kulihat kalian tampak sangat akrab,” balasku.
“Begitulah, hehe… Lebih ke arah penasaran dengan orang baru, sih, menurutku,” ucapnya. Aku ikut tersenyum mendengarnya.
Tidak lama kemudian, beberapa teman kami datang ke kantin juga. Mereka tidak menyangka melihatku dan Alya berduaan. “Wah, masih pagi padahal,” sindir Sara.
Setelah sarapan, kami berkumpul di kamarnya Ethan. Membahas misi kita selanjutnya. Aku banyak bicara membantu menjelaskan tentang letak kedua menara dari daerah ini. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membagi menjadi dua tim, mulai menjalankannya besok pagi.
Cukup panjang pembicaraan hingga tersadar saat waktu sudah menunjukkan hari sudah mulai petang. Kami bersantap siang di kantin itu lagi. Setelah itu kami bersiap masing-masing. Lagi-lagi, tempat dan waktu mempertemukanku dan Alya lagi.
“Bagaimana dengan truknya?”
“Katanya boleh dititip di sini,” jawabnya.
“Oh iya, kenapa kau tidak bersama Athar?” tanyaku.
“Aku takut kalo komposisi tim nanti berat sebelah,” jawabnya.
“Benar juga, sih. Aku baru menyadarinya sekarang,” balasku.
“Sepertinya nanti kita bisa lebih mudah karena ada kau,” lanjutnya. Entah mengapa aku justru tersipu mendengarnya.
“B—Biasa saja, kok. Aku juga sudah mulai lupa.”
“Hei, hei… Apa kau tersipu?” ujarnya menjahiliku.
“T—Tidak! U—Untuk apa aku malu hanya dengan itu?”
“Hahaha! Kau lucu, Malka.”
Keesokannya harinya kami sudah berada di stasiun untuk membeli tiket ke dua daerah yang berbeda. Keretaku akan mengarah ke barat lebih selatan, sementara satunya ke arah sebaliknya. Keretaku tiba lebih dulu di stasiun.
“Baiklah, kami duluan, ya,” ucap Alya.
“Sip. Nanti saling berkabar saja,” balas Athar.
Beberapa saat kemudian, kereta yang kami naiki pun berangkat. Kami melambaikan tangan dari balik tangan. Aku meletakkan tas ke atas bagasi.
“Kalau dilihat-lihat lagi, kalian cerdas sekali bisa membuat tas seperti itu,” ucap Sara.
“Terima kasih. Aku juga masih belajar,” balasku.
Leora tampak bersemangat sekali.
__ADS_1
“Menuju Riveure!”
Bersambung~