
Sudah lima bulan berlalu setelah pertemuan aku, Ryne, dan Lydia. Kami beramai-ramai pergi ke bangunan perancangan alat dan kendaraan yang akan digunakan, tepatnya hari ini. Kelima kepala divisi ikut serta untuk mengiringi perjalanan alat pertama, tentu termasuk diriku. Rencananya alat ini akan dibawa ke titik yang sudah ditentukan sebelumnya, namun bukan Mennora. Aku sedikit bernapas lega mendengarnya.
Sesampainya di bangunan itu. Terlihat keduanya yang raksasa itu sudah jadi. Lagi-lagi aku terkesima dengannya. Memiliki desain modern dan sedap dipandang. Sungguh sesuatu yang amat baru di mataku. Kendaraan itu datang menjemput alat yang ada di bangunan sebelah. Aku semakin takjub, melihat kendaraan itu benar-benar melayang di atas jalan. Lalu dengan derek raksasa, alat itu dinaikkan ke atas kendaraan.
Kami berlima menyaksikannya bersama-sama.
“Tidak salah aku memilih kalian,” ujar Knox bangga. Kami tersenyum padanya.
“Ini merupakan langkah awal kita untuk rencana yang lebih besar ke depannya…” lanjutnya. Ia menatap alat besar itu. Kemudian ia pamit lebih dulu karena ada urusan.
“Oh iya, menara itu sudah selesai dibangun?” tanyaku.
“Tentu sudah,” jawab Cathy.
Berbagai pengawalan dikerahkan untuk mengamankan situasi sekitar kendaraan. Penemuan besar itu pastinya menarik berbagai perhatian. Orang-orang ramai memenuhi trotoar hanya untuk melihatnya. Media seluruh penjuru benua juga meliputnya. Sepertinya hari ini adalah hari yang besar.
“Kau sudah memastikan semua pengamanan?” tanyaku pada Lydia.
“Tingkahmu seperti ketua saja,” balasnya.
“Aku memang penanggung jawab dari tugas ini.” Aku merasa jengkel padanya.
“Baiklah, baiklah. Pengamanan di semua jalur sudah aman terkendali, setidaknya untuk sekarang.”
“Untuk sekarang?” Aku tidak menangkap perkataan terakhirnya.
“Yah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.” Aku dan dia menatap panas satu sama lain.
“Hei, kalian anak kecil. Jangan bertengkar di sini. Huft… inilah kenapa aku kesal dengan anak-anak…” ujar Pappous.
“Aku tidak mengerti alur pikiranmu. Katamu kau suka anak muda,” celetuk Cathy.
“Mereka masih anak kecil, bukan anak muda.” Cathy semakin bingung dengan pernyataan itu. Sementara Ryne hanya bersikap tenang menyaksikan kami berdua.
“Lihatlah dirimu, Nona Cantik. Kau masih muda, tapi tampak dewasa. Hanya saja aku sedikit benci dengan sikap tempramenmu itu. Sedikit-dikit kesal, marah, begitu terus.”
“Siapa yang tidak kesal melihatmu, Pak Tua?”
Terjadi gesekan amarah antara aku dan Lydia, serta Cathy dan Pappous. Ryne akhirnya bersuara. Ia tidak ingin kami tampak memalukan di depan banyak orang.
“Sudahlah kalian berempat. Jaga wibawa kalian.” Pada akhirnya kami kembali tenang, meskipun masih ada rasa jengkel yang tersisa.
“Senjata apa yang kau buat untuk ini, Anak Kecil?” tanya Pappous. Lydia kembali kesal mendengarnya. “Siapa yang kau bilang anak kecil?” Dengan jarinya, Pappous menunjuk kepala hingga ke kaki Lydia. Ia menjadi geram, wajahnya tampak sudah tak tahan.
“Untung saja aku masih punya rasa sopan padamu, Kakek.”
Sambil menunjukkan senjata itu, Lydia menjelaskan senjata yang ia ciptakan bersama timnya. Sebuah senjata seperti senapan, namun dengan ukuran yang lebih besar. Tapi anehnya aku tidak melihat tempat menaruh peluru. Lantas ia mengatakan kalau peluru yang diperlukan tidak seperti peluru logam yang biasa kita lihat. Seperti penemuan divisi lainnya, senjata ini juga menggunakan energi langit.
__ADS_1
“Lalu, diapakan energi langit itu?” cetus Pappous.
“Dengarkan dulu saat orang bicara,” balas Lydia.
Sebuah peluru yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata, itulah energi langit. Keuntungannya, kita bisa mengatur kegunaan senjata ini, entah hanya untuk melumpuhkan atau bahkan membunuh. Kekurangannya, bisa menjadi senjata paling mematikan di tangan yang salah. Energi itu dikompresi sesuai tekanan yang diinginkan.
“Bukankah itu sama seperti energi jenuh seperti alat buatan Pak Pappous?” tanyaku.
“Bisa dibilang mirip seperti itu,” jawabnya.
“Lantas, bukannya malah akan terlihat wujudnya?” lanjutku. Pappous kemudian menyahuti pertanyaanku.
“Tunggu, tunggu. Jadi selama ini kau mengira energi langit sama seperti awan?” Aku hanya mengangguk kebingungan. Mereka berdua menepuk jidat setelah mendengarku.
“Jadi mereka itu tidak terlihat?”
“Tentu saja.”
“Berarti senjata itu punya peluru setara nuklir? Itu bisa meledak juga, bukan?”
“Berbeda dengan alat raksasa itu. Peluru ini terkompresi, jadi sudah teratur. Tidak seperti energi jenuh yang sangat tidak stabil dan bisa meledak kapan saja,” jelas Lydia. Akhirnya aku menemukan titik terang tentang energi langit yang selama ini banyak kupertanyakan. Satu per satu mulai terjawab.
Setelah kendaraan itu mulai memasuki padatnya kota, kami berpisah untuk ke posisi masing-masing. Pappous mengecek ulang alat itu, Ryne menginspeksi bagian kemudi kendaraan, Cathy yang berada di depan memastikan rute yang dilewati, sementara aku mengikuti Lydia yang ada di bagian pengawalan.
Aku sedikit tergelitik melihat dirinya yang memegang senjata itu. Besarnya tampak tak sebanding dengan tubuhnya. Namun sekilas tampak gagah dengan barang itu. Aku jadi ingin mencobanya juga.
“Baiklah, tapi jangan kau tarik tuasnya.” Aku pun melihat-lihat senjata yang sudah ada di tanganku. “Ini bisa membunuh orang?”
“Aku menyetelnya untuk melumpuhkan saja.”
“Apa aku boleh mencobanya?” pintaku.
“Kau orangnya sangat penasaran, ya? Seperti remaja mencari jati diri.”
“Kita seumuran, sepertinya itu juga berlaku padamu,” balasku.
Lydia pun memanggil salah satu anggota pengawal untuk dijadikan kelinci percobaan olehku. Memang terlihat egois dan kejam, tapi rasa penasaranku sudah tak terbendung lagi. Untung saja orang itu rela dengan permintaanku. Lydia mengajarkanku untuk menyetel peluru senjata itu.
“Ubah menjadi ini, kau hanya akan melumpuhkan salah satu bagian tubuh selama satu menit.” Kemudian ia mengajarkanku cara untuk memegangnya. Tapi entah kenapa aku merasa kalau ia terlalu dekat.
“Tanganmu harusnya seperti ini, yang ini begini. Sip, sudah.”
“Terlalu dekat…” Aku masih heran kenapa wanita seperti Ellie dan Lydia tidak merasa tidak nyaman saat berada sangat dekat dengan lawan jenis. Entah, atau mungkin itu hanya perasaanku saja yang berlebihan.
“Silakan memberi aba-aba kapanpun kau mau.”
“Baiklah, setelah hitungan tiga. Aku mengarahkan ke tanganmu.”
__ADS_1
Aku mengambil ancang-ancang, sementara orang itu mempersiapkan diri.
“Kau sudah siap?”
“Siap, Pak.”
Aku menembakkannya. Benar-benar tidak terlihat apapun. Bahkan aku mengira kalau aku hanya menarik tuas tanpa peluru. Aku tidak merasakan tolak balik atau rekoil sedikitpun. Walau aku sendiri juga belum pernah menggunakan senjata yang beredar, tapi sensasinya agak berbeda dari yang sudah pernah kulihat
sebelumnya.
Tangan orang itu bergetar kaku hanya sepersekian detik setelah aku menarik tuasnya. Seperti menggunakan sihir. Aku memintanya untuk menggerak-gerakkan tangan itu, namun tidak bisa.
“Apakah senjata ini memiliki efek samping?”
“Sejauh ini tidak ada. Tenang saja, hasil sementara kedokteran kalau peluruh yang kau tembakkan itu hanya memberikan efek kejut pada saraf.”
Orang itu tampak khawatir saat mendengarkan kami.
“Tanganmu baik-baik saja. Sama seperti saat tanganmu keram.”
“Kalau begitu bukankah akan berdampak pada otak?”
“Entah, anehnya tidak berdampak apapun dari penelitian itu,” jawabnya.
Beberapa saat berlalu, tangan orang itu bisa digerakkan kembali. Ia mengatakan kalau ia tidak merasakan apapun. Dalam sekejap sudah bisa bergerak normal tanpa efek pegal.
“Syukurlah kalau begitu. Mungkin senjata ini bisa digunakan oleh kepolisian.”
“Aku masih cemas kalau senjata itu diproduksi masal,” sahutku.
“Aku juga berpikir begitu pada awalnya,” balasnya. Lydia mempersilakan orang itu untuk kembali ke posisinya.
“Siap, laksanakan!”
“Jenderal Lydia Aralle, tampak bagus,” benakku. Tiba-tiba aku menjadi teringat dengan pertanyaan yang sempat terlupakan. “Oh iya, berarti kau punya latar belakang militer?”
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku dari sekolah, sama sepertimu. Aku juga mengikuti bela diri, seringkali menggunakan senjata.”
“Eh? Maksudmu seperti pisau, tongkat, dan semacamnya, kan?”
“Senjata api.” Aku terkejut terheran-heran mendengarnya lalu terdiam.
“Ayahku seorang militer.”
“Sip, itu menjawab semuanya,” balasku.
Padahal ia dapat mempersingkatnya hanya dengan mengatakan perkataan terakhirnya.
__ADS_1
Bersambung~