
Semua target seketika terjatuh tak sadarkan diri. Suasana langsung mencekam. Banyak orang yang berhamburan. Tentu tidak semua orang termasuk aktivis yang tahu tentang rencana kami saat ini. Suara teriak dan histeris terdengar hingga tempat kami berada.
Tiba-tiba terjadi sesuatu di luar dugaan. Terdengar suara dentuman yang sangat keras lalu disusul dengan asap yang membubung tinggi ke langit.
“Apa yang terjadi?” lontar Alya panik.
“Tim penembak, laporan darurat saat ini. Ganti,” ucap Ellie.
“Tim penembak di sini, ada bom meledak di beberapa titik. Ganti.”
Berita di televisi langsung muncul. Kami mendengarkannya.
“Berlindung! Berlindung! Berita terkini, terjadi beberapa ledakan di sekitar gedung Knox, administratif, dan istana!”
Lalu Knox kembali terlihat di layar.
“Terkutuklah kalian! Aku sudah menduga ini. Entah kalian menyusun semua ini atau berbeda pendapat, tapi ini sudah melewati batas. Untuk semua masyarakat kami mohon untuk tetap tenang dan berlindung. Kami akan segera mengatasinya…
Untuk seluruh demonstran, kami perintahkan untuk bubar! Bubar! Jika masih menentang di sini kalian akan tahu akibatnya!”
Semuanya langsung jauh dari rencana yang sudah dibuat. Kami benar-benar tidak menyangkanya. Ternyata ada aktivis yang tidak satu misi dengan kami.
“Misi gagal, semua tim kembali ke markas masing-masing. Ganti,” ujar Ethan.
“Pastikan tidak ada pihak tak dikenal di sekitar kalian. Selalu beri laporan posisi dan sekitar. Ganti,” lanjut Athar.
Untuk berjaga-jaga, kami langsung merapikan tempat ini lalu bergegas menuju markas bawah tanah. Benar-benar kacau. Di mana-mana memberitakan tentang ledakan dan penembakan para penjaga.
Bahkan Sang Raja juga muncul di layar kaca. Semua pandangan tertuju padanya.
“Saat ini, kota Centra kami tetapkan berstatus darurat pemberontak.”
Sementara semua orang masih berlarian di jalan-jalan. Para petugas yang tersisa dan tambahan bergerak mengusut ledakan bom itu.
“Bagaimana ini? Kota ini sudah tidak aman lagi bagi kita?” lontar Leora panik.
“Kita harus segera pergi dari sini,” sahut Gras.
“Sekarang benar-benar di luar kendali kita. Kita mulai dengan kendaraan dan tujuan kita sekarang,” balas Ethan.
“Mau tidak mau kita pakai kendaraan truk itu. Kalau tujuan, aku sendiri belum memikirkannya,” jawab Alya.
Suasana hening sejenak. Waktu terus berjalan sementara kami masih berdiam tempat di sini. Aku merasa sangat cemas sekarang.
“Kenapa kalian santai-santai sekali? Cepatlah,” ucapku.
“Diam dulu! Perlu waktu untuk berpikir. Lagi pula mereka masih sibuk dengan ledakan itu,” cetus Zilei kesal.
“Menurutku kita bisa pergi ke dekat menara. Kita mulai dari misi-misi kecil yaitu menghancurkan menara,” balas Stella.
Lagi-lagi kehebohan berita mengalihkan perhatian kami.
“Berita terkini lagi pemirsa, terjadi ledakan lagi di beberapa titik dekat dengan menara. Beberapa bom berhasil dijinakkan. Untung saja hanya kerusakan ringan, semua menara tetap beroperasi. Berikut pernyataan dari Knox.”
“Kita akan memperketat seluruh area sekitar menara. Seluruh masyarakat seluruh penjuru benua tidak perlu khawatir tentang energi. Semuanya terkendali…
Terkait status darurat pemberontak, kami akan memberantas seluruh aktivis radikal dan pemberontak yang memiliki senjata, dan peralatan mengancap lainnya.”
“Cih. Akan sangat sulit untuk kita bertindak sekarang,” celetuk Artha kesal.
“Dengan anggota sebanyak ini, menurutku bisa dibagi menjadi dua tim. Lalu berpencar ke dua menara sekaligus,” lanjut Lukas.
__ADS_1
“Berarti kita pergi ke tengah-tengah dari daerah menara itu?” tanya Ellie. Lukas menanggapi pertanyaannya dengan mengangguk.
“Tapi, bukankah semua menara dan kota terhubung satu sama lain? Jika ada satu menara hancur, kota itu tetap mendapat pasokan energi dari menara lain,” sahut Alya.
“Tidak juga. Menara juga punya kapasitas produksinya sendiri. Beban menara bisa saja bertambah, atau mungkin tidak kuat memasoknya,” ucap Zilei.
“Masalahnya, kita tidak tahu berapa kapasitas menara itu bisa menanggung beban,” balas Ethan. Aku teringat sesuatu. Sambil menunjuk peta, aku menjelaskannya.
“Setahuku ada daerah terluar, maksudku sangat jauh dengan menara. Namun kedua menara itu berdekatan. Kedua menara itu ada di sini dan sini, lalu kedua terhubung di Enhaud. Dari sana baru terhubung dengan beberapa desa terluar itu.”
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami dari tadi?” tanya Athar.
“Aku juga baru ingat barusan,” jawabku.
“Jadi, kau mengusulkan untuk kita pergi ke Enhaud? Lalu membagi dua tim ke dua menara itu?” lanjut Alya.
“Iya, tapi di Enhaud ada transmisi cabang yang cukup besar. Entah tempat itu ketat penjagaan juga atau tidak,” jawabku.
“Kalau ada sekalipun, setidaknya kita masih tinggal di pinggir daerah itu,” sahut Ellie. Sepertinya kami sudah mulai menemukan titik temu.
“Sip, untuk saat ini kita pergi ke Enhaud dulu. Seletah itu baru kita bahas tindakan kita selanjutnya. Apa ada yang ingin menyanggah atau usul lain?” ujar Ethan.
“Hanya Malka yang tahu tentang itu semua. Dia pemenang rapat kali ini,” sindir Zilei.
“Bagaimana?” tanya Ethan pada yang lain.
“Aku setuju,” jawab Leora, begitu juga mereka semua.
“Baiklah, sudah kita putuskan. Athar, kau siapkan kendaraan. Alya, kau pantau jalan kami menuju kendaraan nanti. Aku akan memperhatikan kondisi dari televisi dan komunikasi dengan aktivis lain sekaligus membuat rute. Sisanya bereskan semua senjata, alat, dan ramuan. Jangan ada yang tersisa di sini,” papar Ethan.
Kami berkumpul untuk membangun rasa semangat dan kompak.
“Synnefá!”
“Sudah semua?” tanya Ethan.
Ellie dan Lukas berkeliling ke tiap sudut ruangan untuk mengecek ulang.
“Aman. Tidak ada apa-apa lagi,” ucap Lukas.
Kami membawa semuanya, menaiki lift, dan bertemu dengan Zilei. Kondisi di sini aman. Kami bergegas menuju kendaraan di area parkir. Kendaraan itu sudah menyala dan kami langsung menaikinya.
“Tidak ada yang tertinggal, kan?” tanya Athar. Kami langsung melakukan absen singkat untuk memastikan.
“Semua sudah naik,” ujar Sara.
“Baiklah, kita berangkat!” lontar Athar.
Athar, Alya, dan Ethan berada kabin truk, sedangkan sisanya di dalam bak truk, termasuk aku. Athar mengendarai, Ethan memperhatikan rute, dan Alya membantu keduanya. Tidak banyak yang kami lakukan di dalam bak truk selain mengobrol.
“Ide siapa yang menutup dengan terpal, sih?” tanya Ellie sebal.
“Bukankah ini bekas dari misi mengambil senjata-senjata itu?” balasku.
“Tapi di sini panas sekali, seperti sauna,” sahut Gras.
“Apa kita bisa melepasnya?” lanjut Kellos.
“Jangan, justru kita juga mengumpat dari para petugas,” balas Zilei.
“Tapi, aku sudah tak tahan,” ucapku lalu melepas bajuku. Gras, Kellos, dan Lukas ikut meniruku. “Kau tidak melakukannya juga Zilei?” tanya Ellie.
__ADS_1
“Baiklah kalau itu maumu,” balas Zilei.
Sara melihat ke arah kami, lalu terhenti saat memperhatikan Gras.
“Kau tidak ada niat untuk olahraga?” tanya Sara.
“Apa kau menghinaku? Aku sudah olahraga, kok. Tapi memang sejak awal begini, aku hanya bisa pasrah,” jawabnya.
“Lihatlah tubuh mereka, sudah seperti roti sobek. Terlebih kau, Malka. Kau pasti selalu olahraga, ya, kan?” lanjut Sara menggodaku.
“Berhenti menggodaku!” lontarku kesal.
“Tidak perlu malu-malu. Tuh, seperitnya Gras tidak tahan melihatmu,” balasnya.
Sontak aku terkejut mendengarnya. Pandanganku langsung mengarah ke Gras.
“Roti sobek… Roti sobek…”
Ellie mengetuk kepala Gras menyadarkannya.
“Aduh!”
“Aku benar-benar membawa roti sobek,” sahut Leora sambil memegang roti itu.
“Wah, terima kasih!” lontar Gras kegirangan.
“Eh? Kau dapat itu dari mana?” tanyaku heran.
“Masih ada makanan di markas, jadi aku bawa saja semuanya,” jawab Leora.
Perbincangan panjang membuat kami lelah sendiri. Pada akhirnya suasana menjadi tenang dengan wajah kelelahan dan kepanasan.
“Hah… Andai saja aku bisa melakukan seperti kalian,” hembus Ellie.
“Kalau begitu, lakukan saja. Aku tidak mempermasalahkannya,” sahut Zilei dingin.
“Baiklah,” lanjut Sara melakukannya. Kami semua terkejut melihatnya, terkecuali Zilei. “A—Apa yang kau lakukan, Sara?” tanya Leora tak percaya.
“Seperti yang kalian lihat. Wuah… terasa lebih baik sekarang…” balas Sara.
Jika dilihat-lihat lagi, sosok Sara sangat membuat kami terkunci pandangan. Tubuhnya nan elok dan cantik terpancarkan di saat-saat seperti ini. Gras, Kellos, dan Lukas tak henti-henti menatapnya.
“Kalau begitu, aku juga,” ucap Ellie. Leora syok melihat mereka berdua, sementara Lena tidak terdengar sama sekali suaranya.
“Lena! Lena!” lontar Kellos khawatir.
“A—Apa yang terjadi… di sini…” desis Lena pelan hampir tak sadarkan diri.
Setelah kejadian yang cukup heboh itu. Banyak dari mereka tertidur lelap, kecuali aku dan Zilei yang terus terjaga. Wajahnya terus datar tak berubah.
“Kau tidak tidur?” tanya Zilei.
“Tidak, aku tidak bisa tidur saat perjalanan. Kalau kau?”
Ia hanya terdiam. Aku pun berpaling dan menghadap ke depan dengan tatapan kosong. Tak tahu apa yang ingin kulakukan sekarang.
Tanpa sadar, suara Alya terdengar dari alat komunikasi.
“Tes, tes, apa kalian yang di belakang mendengarkan kami?”
“Iya, kami mendengarnya,” jawabku. Ia lanjut bicara.
__ADS_1
“Kita sudah sampai di perbatasan Enhaud.”
Bersambung~