
Ragaku diam tak bergerak bagai patung seraya menatap layar kaca yang sudah tak lagi Knox di sana. Kepalaku penuh dengan dua patah kata yang disebutnya, berputar-putar teringat wajah sosok di dalam mimpi. Terjawab sudah rasa penasaran yang kurasa sejak lama muncul. Pipiku terasa basah saat memikirkannya lebih jauh.
“Malka? Halo?”
Apakah sosok cahaya itu berusaha berkomunikasi denganku sejak lama? Seakan seutas benang merah mulai terhubung satu sama lain. Diriku seketika tergerak untuk melangkah secepatnya.
“Malka? Apa kau mendengarku?”
“O—Oh… M—Maaf, aku malah melamun.”
“Apa sesuatu terjadi? Kau tahu maksud yang dikatakan Knox?”
“Eee… Mungkin. Kita harus cepat.”
“Tapi aku belum pernah membuat hal yang kau katakan itu. Selama ini aku tidak menyangkut dengan urusan politik.”
Aku sendiri juga belum kepikiran bagaimana cara untuk mengeksekusi ide itu.
“Bagaimana kalau aku datang ke tempatmu? Kau di mana sekarang?”
“Aku di rumah sakit…”
“Kau baik-baik saja, kan?”
“Aku berada di reruntuhan pada malam itu.”
“Astaga! Maaf aku baru mengetahuinya. Semoga kau dan semuanya lekas pulih.”
“Terima kasih. Tentang tadi, sepertinya tidak masalah kau datang ke sini.”
“Baiklah, akan kuusahakan untuk datang hari ini.”
“Tut,” aku menutup telepon. Seraya mengembalikkannya pada Zilei, mereka bertiga tampak penasaran dengan diriku yang terkejut tadi. “Kau tidak asing dengan ‘Avadananthe Risidious’?” tanya Sara. Seketika kepalaku pusing sesaat setelah mendengar kata itu.
“Pasti kau mengetahui sesuatu…” gumam Zilei serius. Pada akhirnya aku menceritakan mimpi yang kualami pagi ini. Aku tidak bisa mengatakannya dengan benar, karena kepalaku terasa sakit saat memikirkannya. Sara terpukau.
“Wah,seperti mendapat bisikan dari malaikat…”
“Kau tidak mengarang, kan?” tanya Zilei curiga.
Tak lama waktu berselang, Alya datang dengan wajahnya yang cemas. Ia pun mendatangi kami. “Kau keluar tidak bilang-bilang, membuatku khawatir saja.”
“Maaf, aku tidak betah di dalam kamar terus-terusan…”
“Syukurlah kau sudah baikan. Bagaimana dengan yang lain?” lanjut Alya.
“Masih di sana,” jawab Athar.
Terlintas di benakku tentang kondisi teman-temanku yang terkena reruntuhan itu. Rasa penasaran untuk melihatnya langsung mengalahkan rasa tidak enak pada mereka. Aku pun meminta untuk bisa melihat mereka.
“Kau tidak boleh bergerak terlalu banyak, Malka…”
Setelah berbagai banyak permohonan, akhirnya mereka menuruti permintaanku. Kami semua berjalan menuju ruangan kawan-kawan kami. Namun mereka berjalan terlalu cepat sementara aku kesulitan bersama tiang infus.
“Pelan-pelan…”
“Kau sendiri yang memaksa ingin pergi ke sana,” balas Zilei dengan tatapan dinginnya. Aku masih berjalan menghampiri mereka. Kepalaku tertunduk memperhatikan langkah di antara banyak pasien yang tergeletak.
Tepat di pandanganku ada Alya yang sedang membungkuk dengan tangan di belakang, aku terhenti heran.
__ADS_1
“Alya?”
“Sini biar kugendong.”
“E—Eh? T—Tapi…”
“Naiklah pelan-pelan.” Ia melepaskan kantong infus dari gantungan tiang lalu memberikannya padaku. “Athar, tolong kau bawa tiang ini,” tambah Alya.
“Merepotkan saja,” cetus Zilei.
“Tidak membantu apa-apa lebih baik diam saja,” balasku pelan. Ia langsung menoleh kepadaku dengan tatapan tajamnya.
Tibalah kami di depan pintu sebuah ruangan, terlihat serupa dengan ruanganku. Zilei membuka pintu, terlihat Lukas yang tengah duduk di samping Ellie tengah terbaring tak sadarkan diri. Alya menurunkanku di tepi kasur, dan aku duduk.
“Kau sudah baikan, Malka?” tanya Lukas.
“Aku sudah merasa lebih baik. Tapi tubuhku masih perban semua.”
“Sama seperti Ellie…”
Lukas mengusap-usap tangannya perlahan.
“Kau selalu begitu?” tanyaku penasaran.
“Iya. Kata dokter ini bisa membantu alam bawah sadar Ellie.”
Tanpa sadar pandanganku beralih pada Alya tanpa kata-kata. Ia pun tersenyum.
“Aku juga melakukannya.”
Lukas bertanya tentang apa yang akan kami lakukan. Zilei menjelaskan semuanya pada Lukas. Setelah perjumpaan yang cukup singkat itu, kami melanjutkan menuju ruangan lainnya, yakni Gras bersama Ethan. Kondisinya masih sama seperti Ellie. Lalu kami masuk ke ruangan Leora.
“Wah, kau juga sudah baikan?” tanya Leora beranjak duduk di atas kasur. Stella yang berada di sampingnya sontak terkejut.
“Maaf, maaf, hehehe…”
“Ini semua salahmu, Malka. Leora jadi ketularan sepertimu,” ujar Zilei.
“Setelah ini kalian ingin ke mana?” tanya Leora.
“Melihat Kellos dan Lena,” jawabku. Ia menjadi bersemangat untuk ikut juga. Setelah mendengar banyak permohonan, akhirnya ia boleh ikut bersama kami.
Alya kembali menggendongku.
“Gendong juga,” ucap Leora pada Zilei. Ia menuruti Leora tanpa berkata-kata. Aku tersenyum melihat dirinya yang terdiam seperti itu.
“Apa lihat-lihat?” ujar Zilei sebal.
“ICU”, tertulis di depan ruang. Kami hanya diperbolehkan masuk dua orang. Bergilir, aku masuk bersama Alya. Kellos dan Lena terbaring bersebelahan. Terlihat lebih mengerikan dengan banyak selang terhubung pada hidung dan mulutnya. Sedih, air mata terkucur mengingat peristiwa malam itu. Alya juga tidak ingin berlama-lama di sini, memberi kata-kata.
“Lekas sembuh, Kellos, Lena…”
Kembali ke lobi, bersamaan Cast yang datang berjalan dari pintu masuk. Setelah memberi ucapan, kami fokus untuk langkah selanjutnya. Mengandalkan telepon pintar dan media sosial, berharap bisa menarik kepercayaan orang-orang.
Kami melihat hasil rekaman.
“Apa kau yakin dengan ini?” tanya Cast
“Entah, seperti ada yang kurang,” balasku.
__ADS_1
Melihat lagi.
“Ulang, kau kurang menghayati, Malka,” ucap Leora.
Lagi dan lagi.
“Sepertinya ini sudah bagus,” ucap Athar.
“Kita sudah belasan kali,” balas Alya.
Cast mengunggahnya. Dalam hitungan menit, jutaan orang sudah menyaksikannya. Berita penting seketika muncul di layar televisi. Menyiarkan berbagai spekulasi yang mencuat. Hadirlah Knox menyampaikan di depan khalayak.
“Ironi. Sungguh ironi. Mendikte untuk tidak memakai energi langit, tapi mereka juga menggunakannya. Pada akhirnya, semua membutuhkan energi langit.”
Sebuah penggalan ujung pidatonya yang panjang itu. Seketika dunia maya terpecah menjadi dua kubu. Tak disangka ia pandai menyangkal suara kami.
“Kita bisa pakai rekaman kamera pengawas di reruntuhan itu…”
Perkataan itu terdengar di belakang kami.
“Ellie? Sejak kapan?” gumamku.
Empat orang melangkah pergi menuju reruntuhan itu. Zilei, Ethan, Stella, dan Alya, berberkal denah arah dan informasi yang kuberikan. Tidak banyak hal yang kami lakukan selain bertukar cerita dengan Cast.
“Syukurlah, aku bisa lepas dari duniaku…” hembusnya lega.
“Memangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Yah, ada kalanya aku jenuh dengan pekerjaan. Sekarang aku benar-benar lepas dari itu semua.”
“Kau tidak pernah libur?”
“Hemm… Menyamar jadi orang biasa termasuk pekerjaan, bukan? Di sini aku tidak perlu menyamar.”
Gumpalan awan tak kian mereda, namun jam sudah menunjukkan waktu petang.
“Lama juga mereka…” gumam Leora.
Terlihat empat sosok berangsur jelas dipandang.
“Panjang umur…” gumamku.
Menyiapkan beberapa peralatan, Ellie meretas pengamanan pada data penyimpanan. Sepertinya semua berjalan lancar.
“Masih bisa diputar,” sahutku senang.
“Ada beberapa bagian yang korup, untung saja masih jelas,” jelas Ellie.
Sekian menit setelah unggahan, sebagian kubu Knox lambat laun berpindah haluan. Knox kembali muncul, namun sepertinya pemenang adu kebenaran ini sudah terlihat.
“Jangan percaya! Itu hanya manipulasi mereka saja. Era teknologi seperti ini semua orang bisa membuat seperti ini.”
Pernyataan Knox itu langsung disanggah oleh komunitas perfilman.
“Ada banyak detil di video ini yang tidak bisa dieksekusi dengan teknologi saat ini.”
Kebenaran yang kami suarakan kini sudah di telan oleh masyarakan, membuatnya bertahap menjadi krisis kepercayaan publik pada yang berkuasa. Kami sangat yakin keadaan sudah berbalik. Moral semua orang di sini meningkat pesat.
Ethan memimpin seruan sukacita, “Synnefá!”
__ADS_1
“Synnefá!”
Bersambung~