
Sekejap aku terkejut dan tak tahu harus berkata apa setelah mendengarnya. Aku malah panik sendiri. Aku ingin menyangkalnya, tapi sulit sekali rasanya.
“B—Bukan itu maksudku!” lontarku gugup.
“Tidak apa-apa. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun,” balasnya.
“M—Memang tidak. Jangan berpikir yang tidak-tidak,” lanjutku sebal, sementara Ellie tertawa kecil. “Kau lucu sekali. Wajahmu membuatku tertawa,” ucapnya.
Tak lama kemudian datang Lukas menghampiri kami.
“Kalian sedang apa?” tanya Lukas penasaran.
“Lukas, kau tahu? Malka—”
Aku langsung menutup mulut Ellie dengan tanganku. Lukas semakin heran dengan tingkah kami berdua. “Apa ada sesuatu pada kalian?”
“Tidak, tidak. Kami sedang membicarakan tentang senjata ini,” jawabku.
“Ah… Kudengar kalian membuat senjata-senjata itu juga?” tanya Lukas.
“Iya, aku banyak belajar darinya,” jawab Ellie. “Oh iya, Malka. Lukas juga pandai membuat dan merakit sesuatu sepertiku, lho,” lanjutnya.
“Biasa saja, kok. Kau jauh lebih pandai dariku,” balas Lukas tersipu.
Kami banyak mengobrol tentangku dan Lukas. Perlahan-lahan aku lebih mengenal Lukas begitu juga sebaliknya. Ia merupakan sosok yang terbuka, ramah, dan mudah terbawa dengan suasana, jadi kami tidak pernah bosan. Persis seperti Ellie. Sempat terlintas di benakku kalau mereka berdua cocok.
“Kalian akrab sekali, ya, padahal baru seminggu bertemu,” ucapku.
“Tentu, pekerjaan akan lebih seru dan cepat selesai kalau tidak ada rasa canggung,” balas Lukas. Aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana caranya bisa seperti ini. Seorang Lena saja masih terasa canggung saat berbicara padanya.
“Benar, tapi semua itu kembali ke masing-masing orang,” sahut Ellie.
“Berarti kalian berdua memang cocok,” celetukku tanpa sadar.
“Hahaha! Bisa saja kau, Malka,” gelak Ellie.
“Kau memang tidak peka, ya,” lanjut Lukas. Aku menjadi bingung mendengarnya.
“Peka kenapa? Bukankah kau yang harus peka?” tanyaku.
“Ternyata kau benar-benar polos seperti anak-anak,” balas Lukas. “Kau pasti kesulitan Ellie. Belum lagi saingannya banyak,” tambahnya.
“Kau benar. Apa aku harus melampiaskannya padamu?” balas Ellie. Lantas mereka berdua tertawa menghiraukanku yang terdiam kebingungan.
Setelah obrolan cukup panjang dengan mereka berdua, tiba-tiba saja aku dipanggil oleh Ethan. Di sana juga ada Alya, Athar, Leora, dan Zilei. Aku pun mendantanginya.
__ADS_1
“Malka, apa kau bisa menggambarkan denah gudang senjata itu?” pinta Ethan.
“Aku tidak sepenuhnya ingat, apa tidak apa-apa?”
“Tak masalah, setidaknya kami punya gambaran,” balasnya.
Aku menggambarkan denah gudang senjata itu. Bebarapa bagian kugambar detil, sedangkan ada pula yang tidak karena aku tidak pernah memasukinya. Usai beberapa saat, sebuah denah telah tergambar di atas kertas yang cukup lebar.
“Baiklah, terima kasih, Malka,” ucap Ethan. Aku berniat meninggalkan mereka tanpa tujuan. “Kau ingin ke mana?” tanya Zilei dengan nadanya yang datar.
“Entah, aku juga tidak tahu,” jawabku.
“Kalau begitu, ikut dengan kami membahas rencana saja,” sahut Leora.
Aku mengikuti pembahasan mereka. Suasana serius, berbeda dengan pembicaraanku bersama Ellie dan Lukas. Beberapa kali diwarnai dengan perdebatan, membuatku tak nyaman berada di sini. Sejauh ini aku hanya mendengarkan mereka.
“Malka, apa kau tahu posisi tempat gudang itu berada?” tanya Athar.
Seingatku ada beberapa gudang senjata milik Knox Corp tersebar di kota ini. Yang paling besar berada tak jauh dari kantor perusahaan induknya, tempat aku bekerja dulu. Aku menjawab gudang besar itu berada dibalik toko interior dan dekor yang sangat terkenal di sini. Athar tampak terkejut mendengarnya.
“Tak kusangka kalau senjata itu ada di dalam sana,” ucapnya. “Setahuku, toko itu tutup jam sembilan malam,” lanjutnya.
“Bukannya dua puluh empat jam?” balasku.
“Dengan kondisi begini sepertinya waktu bukanya diperpendek,” jawabnya.
“Biasanya jam dua hingga empat pagi hampir tidak ada orang melintas,” ucapku.
“Berarti kita hanya punya waktu dua jam…” gumam Leora.
“Kita harus menyelesaikannya dalam waktu satu jam,” sahut Zilei.
“Cepat sekali. Akan sangat sulit untuk menyelesaikannya,” balasku.
“Semakin lama kita di sana, semakin banyak jejak yang ditinggalkan,” lanjutnya.
“Bagaimana cara membawa senjata sebanyak itu? Apa ada truk yang bisa dipakai?” tanya Alya. “Ada truk milik perusahaan ini,” sahut Athar.
“Jangan. Kami tak ingin menyeret penginapanmu ke dalam masalah ini,” balas Alya.
“Kalian tinggal di sini saja sudah sangat berisiko untuk penginapan ini. Tapi tenang saja, ada satu truk polos tanpa label apa pun. Kita bisa menggunakannya,” jelas Athar.
“Baiklah, sekarang tentang jalur masuk dan keluar dari sana,” ucap Ethan.
“Yang pasti kita tidak bisa masuk dari pintu depan,” sahut Leora.
__ADS_1
“Aku tahu beberapa tempat di toko itu. Penginapan ini salah satu pelanggannya. Di sana ada beberapa pintu masuk untuk karyawan, tapi ada kamera pengawas di setiap pintunya…
Satu-satunya jalan kita masuk ialah lewat saluran ventilasi di belakang toko. Belakang toko teradapat kanal dan jalan kecil yang muat satu kendaraan,” papar Athar.
“Kita bisa memarkirkan truk itu di sana?” tanya Ethan.
“Bisa. Jalan itu hampir tidak pernah digunakan,” jawab Athar.
“Setiap sudutnya pasti banyak kamera pengawas. Kita harus tetap hati-hati. Apa kita masuk dengan memanjat pagar?” lanjutku.
“Sepertinya begitu. Apa tidak ada alat untuk meretas kamera pengawas?” balas Arthar. Leora pun pergi untuk memanggil Gras.
“Ada,” jawab Gras, lalu mengambil alat itu.
“Alat ini berfungsi dengan jarak tertentu. Jika kamera pengawas yang berada di luar dan terjangkau oleh alat ini, sepertinya bisa diretas. Kalau ingin dari jarak jauh, harus menggunakan alamat protokolnya.” jelasnya.
“Ah! Aku mengerti sekarang. Urutannya seperti ini, Gras meretas kamera pengawas yang berada di luar gedung, lalu kita bisa lewat ke ventilasi. Kita pergi ke tempat pengawas, lalu memberi alamat protokol itu pada Gras. Saat semuanya diretas, kita bisa leluasa bergerak di gudang itu,” papar Ethan.
“Pagar pastinya akan terkunci, tapi ada lubang pos berbentuk kotak. Kita bisa membawa senjata keluar dari sana,” lanjut Athar.
“Setelah itu senjatanya dibawa ke pinggir kota,” ucap Ethan.
“Kalau begitu, Athar saja yang jadi sopir dalam misi ini,” sahut Alya.
“Sip, sekarang saatnya pembagian tugas,” balas Leora.
Kami semua berkumpul seperti pembicaraan penting sebelumnya. Terasa lebih mudah dan cepat karena ada peta gudang itu.
“Semuanya mengerti?” tanya Ethan.
“Mengerti,” jawab kami.
“Baik, yang terpenting jangan sampai miskomunikasi selama misi. Semoga semuanya berjalan lancar,” balas Ethan.
Kami mengulurkan tangan dan meletakkannya bertumpuk satu sama lain. Bersama-sama kami berteriak.
“Synnefá!”
Malam hari pun tiba, kami berangkat setengah jam sebelum jadwal misi berjalan. Beberapa duduk di kabin truk dan sisanya di dalam bak truk. Sepuluh menit hitungan mundur, kami mulai bersiap di posisi masing. Gras menyetel alat untuk digunakan. Beberapa orang berada di area luar gudang memastikan situasi sekitar.
Kami berkomunikasi dengan alat yang sudah aku dan Ellie buat sebelumnya. Kami mengecilkan suara bicara, sering kali juga berbisik.
Waktu mundur, tiga, dua, satu…
“Mulai!”
__ADS_1
Bersambung~