
Hening.
Hening, semua orang berlutut di hadapanku. Hening, suara angin sendiri yang berhembus tenang. Hening, sekelilingku tertunduk ke arahku.
Hening…
“A—Ap—Apa maksudnya…?” gumamku terkejut.
“Anda pahlawan kami semua, Tuan Malka, Pahlawan…” jawab kepala desa. “Berikan kami pesan darimu, Tuan.”
Seluruh orang memandangku. Aku terdiam menahan rasa malu di atas panggung ini. Aku melihat kepala desa. Tampak dirinya yang sangat berekspetasi padaku, tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Semua ini terjadi begitu saja. Semua ini mendadak. Satu langkah ke hadapan, menalan liur penuh gugup.
“A—Aku…”
“M—Mohon kerja sama kalian semua…”
“T—Terima kasih…”
Seketika semua orang bersorak-sorai sambil mengangkat tangan. Matahari sudah tak tampak lagi, hanya cahayanya yang tersisa. Aku turun dari panggung dan menumui teman-temanku. Mereka semua tampak senang tak percaya.
“Wah, selama ini kau pahlawan!” lontar Leora dan membuatku malu lagi karenanya. “H—Hentikan! Aku belum bisa menerimanya…” balasku.
“Bunga Jasminum, akhirnya aku tahu arti yang sebenarnya…” gumam Luceyl.
“Apa maksudnya?” tanya Gras. Luceyl dan Eil bersama-sama menjelaskan bunga-bunga yang terpasang di jubah.
“Jadi, bunga ini hanya satu-satunya bisa digunakan seseorang? Dan bunga itu memilih Tuan Malka?” sahut Zilei dengan nada menyindirku.
“Benar sekali,” jawab Eil.
Kepala desa kemudian menghampiri kami, lalu berkata, “Ikut aku, ada yang ingin kuberikan pada kalian.” Kami mengikuti kepala desa itu berjalan. Sepertinya aku tahu akan pergi ke mana dan benar saja, kami terhenti di depan bunga Lavandula yang bermekaran.
“Petiklah satu-satu dari masing-masing kalian. Lalu pasang ke jubah kalian.”
Mereka melakukannya, sementara aku menyaksikan. “Kau tidak memetiknya juga?” tanya Kellos. “Aku sudah memakainya,” jawabku. Ia melihat bunga itu yang sudah terpasang di jubahku.
“Dengan ini kalian bisa membuat senjata yang kalian inginkan,” lanjut kepala desa.
Aku menceritakan tentang diriku yang membawa mereka semua berkat bunga ini, “Kalian cukup membayangkannya, dan energi langit akan mengabulkannya.”
“Apa pun itu?” tanya Gras. Aku mengangguk kepadanya. Terlihat Gras yang memejamkan matanya dengan kuat sambil menahan napas. “Hah!” hembusnya, namun tidak terjadi apa-apa. Ia melakukannya berkali-kali, tapi tetap saja.
“Kau membayangkan apa?” tanya Stella.
“T—Tidak! B—Bukan apa-apa, hehe…” jawab Gras cengengesan.
“Bilang saja kau ingin makanan,” celetuk Sara.
“Kau tidak bisa membuat makanan dari energi langit,” lanjut Eil.
Tiba-tiba saja kepala desa tertawa dan membuat kami terdiam. “Tapi percaya tidak percaya, energi langit bisa membuat apa pun yang kalian inginkan, lho…” sambungnya. Aku terkejut mendengarnya. “Benarkah?” lontar Gras bersemangat.
“Ada beberapa kisah tentang petualang yang bisa melakukannya, dan mereka tidak pernah lapar di mana pun mereka berada,” lanjut kepala desa.
“Aku baru mendengarnya…” gumam Eil.
“Orang yang kau kenal pernah melakukannya,” ucap kepala desa.
“Benarkah? Siapa dia?” ujarnya penasaran, tapi kepala desa itu hanya terdiam. Saat Eil berpaling ke Luceyl, Luceyl langsung memalingkan wajahnya. “Luceyl… Kau benar-benar bisa…?”
__ADS_1
“Bagaimana cara melakukannya?” Gras langsung memegang tangan Luceyl dan sangat ingin melakukannya. “Kau tidak bisa menggunakannya begitu saja,” balas Luceyl.
“Tapi kalau dipikir-pikir, berarti kalian bisa membuat makanan sendiri. Kenapa tidak seperti itu saja daripada harus berburu di hutan?” tanya Leora heran. Luceyl menghela napas, lalu menjelaskan semuanya, “Aku lupa bilang pada kalian. Setiap orang punya batasan untuk menggunakan energi langit.”
“Jadi tidak bisa dipakai begitu saja?” tanya Alya.
“Kalau kalian melewati batas itu, kalian bisa langsung pingsan. Bahkan ada kasus beberapa di antaranya tidak sadar sampai beberapa hari.”
“Tapi, bukankah kau sering terbang? Apa itu tidak memakai energi langit?” lanjutku.
“Pakai, tapi hanya sedikit. Sangat jarang orang kelelahan karena terbang, biasanya anak kecil.”
Setelah percakapan yang semakin tak tentu arah itu, pada akhirnya mereka mencoba membuat senjata mereka masing-masing. Mereka memejamkan mata dengan tangan yang seakan memegangnya. Tapi berbeda dengan Zilei, dia tampak tak melakukan apa-apa.
“Kenapa kau hanya diam?” tanyaku penasaran.
“Hanya melihat mereka. Wajah mereka cukup menghibur.”
“Kau tidak melakukannya?” lanjutku.
“Aku sudah melakukannya,” ucapnya sambil mengangkat tangan kirinya, seketika muncul sebilah pedang tepat di tangannya. Aku terkejut melihatnya, “Wah, kau bisa melakukannya secepat itu?”
“Apa susahnya dari imajinasi?” jawabnya.
“Eh? Kau tidak kelelahan?” sahut Luceyl heran.
“Tidak, biasa saja.”
“Apa maksudnya dari kelelahan?” tanyaku.
“Untuk membuat senjata seperti itu harusnya memakan banyak energi. Makanya banyak dari kami membuatnya sendiri atau membeli senjata dari pengrajin kayu,” papar Luceyl. “Tapi aku tidak kelelahan juga?” lanjutku.
“Aku bisa!” lontar Leora sembari memegang busur panah miliknya. Begitu pula dengan yang lainnya. Namun tak lama kemudian mereka langsung merasa lemas, Gras lantas berlutut tak tahan kuasa.
“Hah… Hah… Lelah sekali aku. Aku ingin tidur…” gumamnya kemudian tersungkur ke atas tanah dan terlelap.
Melihat hampir semuanya seperti itu membuatku semakin panik. “Apa kita tidak bisa membuatnya pulih seketika walau hanya sementara?”
“Apa maksudmu?” tanya Luceyl.
“Semacam minuman atau apa pun itu yang bisa membuat mereka pulih—” jelasku namun langsung disambung oleh Zilei.
“Ramuan.”
“Oh, ramuan. Akan sedikit sulit untuk membuatnya, dan ramuan seperti itu tidak banyak dibuat,” jawab Luceyl. Terpikirkan lagi di benakku sebuah ide.
“Apa aku tidak bisa membuatnya? Cukup dengan membayangkannya, bukan?”
“Bisa, tapi itu sama saja dengan memberi energi milikmu kepada mereka.”
“Apa yang akan terjadi padaku?”
“Entahlah, aku tak tahu pasti. Tapi melakukan itu bisa membuat mereka ketergantungan dengan energimu.”
Tiba-tiba terdengar keramaian dari tempat yang sebelumnya adalah panggung. Ternyata puluhan bangku dan meja sudah tersusun rapi, layaknya ingin melakukan pesta. “Apa yang mereka lakukan?” celetukku terkecoh pemandangan khalayak.
“Sepertinya teman-temanmu tidak bisa lanjut hingga malam,” ucap kepala desa. Kemudian teman-temanku di bawa menuju rumah kepala desa untuk istirahat, sementara aku, Zilei, Luceyl, dan Eil masih berada di sini bersama kepala desa. Aku melangkah ikut bersama mereka.
“Aku akan menemani mereka—”
__ADS_1
“Kau pemain utama di acara ini, Tuan…” ujar kepala desa tersenyum.
“M—Maksudmu?”
“Bersulang!” lontar Eil.
“T—Tidak!”
“Ah!”
Tiba-tiba aku berada di dalam sebuah ruangan, di atas kasur yang empuk. “Hanya mimpi?” gumamku. Aku berniat untuk beranjak, namun seketika kepalaku terasa sakit. “Apa yang terjadi semalam? Aku tidak bisa mengingatnya…”
“Permisi, Tuan. Saya ingin masuk ke dalam,” ucap seorang wanita dari luar pintu. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengizinkannya. “Masuklah.” Wanita itu masuk sambil membawa sebuah handuk. Tidak, bukan itu yang mengalihkan perhatianku, melainkan dirinya yang mengenakan pakaian pelayan.
“S—Siapa kau?”
“Saya Rondeyl, Tuan. Anda bisa memanggil saya Deil jika Tuan berkenan.”
“Apa kau perlu sesuatu, R—Rondeyl?”
“Saya ingin membantu Tuan untuk bersiap-siap. Kepala desa sudah menunggu Tuan di bawah.”
“Maaf, aku bisa melakukannya sendiri…”
“Baiklah, Tuan. Akan ku letakkan di sini.”
Setelahnya, aku mengenakan pakaian yang belum pernah kupakai sebelumnya. “Wah… seperti pahlawan di dunia fantasi saja…” ucapku di hadapan cermin. Sesampainya di bawah, ternyata teman-temanku juga sudah siap. Pakaian mereka serupa dengan pakaian Luceyl dan Eil yang merupakan petualang.
“Apa kalian sudah siap?” tanya kepala desa.
“Gwwrrhh!”
“Ehehe… Perutku belum siap sepertinya…” ucap Gras cengar-cengir.
Akhirnya kami selesai santap pagi, tidak memakan banyak waktu. Gras langsung menghabiskannya sejak awal. Kami kembali berkumpul di depan pintu rumah.
“Apa kalian sudah siap?”
“Siap!” lontar kami serentak.
Pintu terbuka, ratusan dua makhluk berkumpul di satu titik bersamaan. Aku terkejut semuanya sudah siap dengan persenjataan mereka. “Dari tadi mereka sudah menunggu kita?” tanyaku, sementara kepala desa hanya tersenyum. “Majulah, dan ucapkan beberapa kata untuk mereka.”
Aku tidak mengira kalau aku yang akan berbicara di depan. “B—Biasanya Ethan yang melakukannya…” gumamku.
“Sekarang kau pemimpin kami semua, Pahwalan,” ucap Ethan tertunduk, lantas seluruhnya tertunduk lagi dan membuatku malu.
“S—Sudah… Baiklah aku mengerti.”
Aku ingat beberapa kata yang sering diucapkan Ethan, dan aku menyampaikannya. Suaraku seorang terlantang keras di tengah keheningan. Hingga akhirnya aku melontarkan sepatah kata yang tak boleh dilewatkan.
“Synnefá!”
“Synnefá!”
Seketika hatiku terasa amat senang bercampur kesal kepada seseorang. Seseorang yang sudah mengacaukan semuanya.
“Saatnya kita memberi pelajaran…”
Bersambung~
__ADS_1