Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Apa yang kau rencanakan, Knox?


__ADS_3

Menunggu, sebuah kata yang amat berat ditanggung hati kala di tengah pencarian kami terhadap Knox dan kawanannya. Rasa takut dan cemas menyelimuti perasaanku sekarang. Tak tenang rasanya bahkan di saat aku harus beristirahat dan melupakannya sejenak.


“Desa ini memang diselimuti kabut atau semacam itu, ya?” tanya Alya.


“Seharusnya tidak setebal ini, apalagi sekarang sudah siang. Seharusnya tidak ada selimut seperti ini,” jawab Luceyl.


“Lalu, semua ini apa? Apakah karena ulah mereka?” lanjutku.


“Tapi Lena sudah menggunakan mantra semacam pemurnian, seharusnya sudah tidak ada efek semacam itu lagi di sini,” balas Eil.


Kepala desa datang menghampiri kami kemudian berkata, “Tidak. Semua ini bukan karena kehancuran tempat ini, tapi seluruh langit.”


“Maksudmu semua langit ini mulai hancur?” tanya Leora dengan wajahnya penuh takut. Semua orang terkejut termasuk Luceyl dan Eil itu sendiri. “Bagaimana ini? Langit akan hancur!” teriak Gras panik.


“Aku masih belum mengerti yang dimaksud ‘hancur’, apakah hilang begitu saja?” tanya Zilei. Eil lantas menjawab, “Kami menyebutnya runtuh.”


“Runtuh… R—Runtuh ke dunia kami tinggal?” sahut Ellie. Luceyl dan Eil mengangguk kepada Ellie.


“Kalau begitu kita harus cepat-cepat cari makhluk bejat itu!” lontar Ethan geram.


“Tapi ke mana?” tanya Athar.


“Apa kita hanya ingin diam melihat seluruh planet ini hancur?” lanjut Ethan.


Salah seorang yang tak sadarkan diri itu sontak bergerak dan mengeluarkan suara. Perhatian kami teralihkan langsung kepada dirinya. Ethan langsung menghampirinya seraya berkata dengan lantang, “Ke mana Knox pergi? Cepat jawab aku!”


Aku langsung mencoba menenangkannya, “Tenanglah… Kalau kau seperti ini tidak akan cepat menyelesaikan semuanya…”


“A—Aku di mana?”


Perlahan aku dan Alya menjelaskan apa yang sudah terjadi kepadanya sejauh yang kami tahu. “Jadi aku sebelumnya adalah pasukan Knox?”


“Tunggu, kau tidak mengingatnya?” tanya Stella.


“Selama ini mereka di bawah kendali dan efek dari asap hitam Knox. Mungkin setelah dimurnikan mereka jadi tak ingat,” jelas Luceyl.


“Apa yang paling terakhir kau ingat?” tanya Athar.


“Aku melewati seperti cahaya yang besar dan tinggi, lalu tiba-tiba aku berada di sini.”


“Berarti sejak mereka masuk ke alat itu semuanya sudah di bawah pengaruh Knox,” ucapku. “Apa kau mengalami apa pun sebelum terbangun? Kau bermimpi?” tanya Alya melembutkan suaranya.


“Surga… Aku mendengar suara orang menyebutkan surga berkali-kali.”


“Surga? Ada tempat semacam itu di sini?” tanya Gras.

__ADS_1


“Bukankah tempat ini memang sudah seperti surga?” sahut Leora.


Terlihat kepala desa yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Lantas ku bertanya padanya apakah ada sesuatu. Kepala desa menjawab dengan kepala tertegun, “Kata itu seperti tidak asing di telingaku. Seperti sebuah tempat yang sudah lama hilang.”


“Takhta Raja Semesta?” sahut Luceyl.


“Kau pernah mendengarnya?” tanya kepala desa.


“Raja Semesta sudah ribuan tahun lamanya menghilang, tiada penggantinya. Dan tempat itu berada di dunia yang sekarang kita pijak. Itu yang aku ingat dari buku yang pernah ku baca,” papar Luceyl.


“Dan akan tiba gelombang kehancuran. Hanya dua sosok yang mengetahui tempat itu. Kehancuran itu sendiri dan…” tambah Alya.


“Seorang Pahlawan…” sambungku.


Semua orang terdiam sejenak sembari melihat ke arahku.


“Aku tidak tahu kalau ada kalimat seperti di buku yang kubaca,” balas Luceyl.


“Entah… Kalimat itu ada di bagian akhir buku yang ku baca bersama Malka,” ucap Alya. “Tunggu, kalau Pahlawan tahu tempat itu…”


“… berarti kau tahu tempat itu, bukan, Pahlawan?” lontar Leora kepadaku.


“Aku Pahlawan? B—Bisa saja itu bukanlah aku.”


“Apa kau bisa menggunakan kekuatan dari bunga itu?” tanya Alya.


“Akan kucoba…”


Aku tidak tahu apa yang ku lakukan, hanya membayangkan dan berharap agar dapat menemukan tempat yang dimaksud kepala desa. Terpejam mataku membayangkannya. “Ada cahaya keluar dari bunga itu!” lontar Lukas. Aku langsung membuka mata dan benar, butiran itu melayang-layang dan akhirnya pergi ke suatu tempat, kemudian berputar-putar di sana.


“Sepertinya mereka menunjukkan jalan,” ucap Athar.


“Apa kita akan langsung jalan sekarang?” tanya Sara.


“Sekarang sepertinya sudah telat, mungkin kita bisa jalan besok,” jawabku.


“Kita harus jalan sekarang,” ucap Ethan sontak menarik perhatian semuanya.


“Tapi, bagaimana dengan yang lain? Tidak bisa semuanya jalan sekarang,” balas Alya. “Kalau begitu, kita-kita saja yang jalan dulu. Yang lainnya menyusul,” sahut Zilei. “Bagaimana menurutmu, Malka?” tanya Leora.


Aku juga bingung dengan situasi saat ini. Memang kita semua sedang dikejar oleh waktu, namun meninggalkan orang-orang di sini membuatku cemas dengan keselamatan mereka.


“Jika kita jalan sekarang, apa lebih baik kita bagi menjadi dua?” ujarku.


“Kalian semua jalanlah bersama…” ucap kepala desa.

__ADS_1


“Kepala desa…” gumam Alya.


“Tapi, bagaimana dengan semua orang yang berada di sini?” tanyaku.


“Semua orang di sini adalah orang-orang yang juga akan melawan mereka. Apa yang kau takutkan, Pahlawan,” sahut Zilei tepat di sebelah kepala desa. Aku terdiam. Ucapan Zilei ada benarnya. Kepala desa lanjut berkata kepada kami.


“Terbanglah… Nasib seluruh planet berada di tangan kalian…”


Kami berkumpul dan siap berpisah dengan mereka semua. Aku bersama teman-teman, Luceyl, dan Eil, memberikan salam, tiba-tiba saja jubahku dan tongkatnya Lena bercahaya terang. Gelombang cahaya keluar ke segala penjuru arah, angkasa kembali cerah dan tidak ada kabut lagi.


“A—Apa yang berusan terjadi?” gumam Alya. Tersenyum kepala desa ke arahku, lantas membuka bibirnya.


“Semoga keselamatan selalu menyertai kalian dan Anda, Pahlawan.”


Menembus awan angkasa terbanglah kami mengikuti butiran cahaya yang menuntun arah yang kami tuju. Melihat ke bawah mencari kehidupan yang kiranya masih tersisa. Namun, tiada selain hamparan hutan, bukit-bukit, perairan, dan ragam panorama.


“Apakah tidak ada desa atau kota di dekat sini?” tanyaku.


“Sepertinya kita mengarah ke utara, semakin kita ke sana semakin jarang kehidupan terlihat,” jelas Luceyl.


“Kita pergi ke kutub utara?” lanjut Gras.


“Mungkin dunia kalian menyebutnya begitu. Aku sendiri belum pernah pergi sejauh ini,” kembali jawab Luceyl.


Angkasa mulai menghitam dan mentari mulai menutup wajahnya. Aku hampir tak bisa melihat ke bawah yang sudah mulai gelap gulita. “Kami ingin menunjukkan sesuatu pada kalian,” ucap Luceyl. “Apa itu?” tanya Leora bersemangat. “Ikuti kami,” balas Eil. Mereka membawa kami ke atas, menuju angkasa.


Melewati batas, batas lapisan awan yang menyelimuti langit, memisahkannya dengan dunia ketiga, angkasa. Mataku terpejam menahan kapas putih yang menerpa wajahku, mencoba sedikit membuka untuk melihat, hingga akhirnya terlihat sesuatu di balik kapas tersebut.


“Bintang! Lihatlah!” lontar Leora.


Butiran kartika berkilauan dari segala penjuru arah. Jauh di sana tampak awan yang berwarna-warni. “Nebula? Baru kali ini aku melihatnya langsung…” gumamku yang sudah tak dapat merangkai kata lewat bibir. Tak seperti yang kulihat dari tanah, ruang antarbintang yang kulihat saat ini sangat—sangat indah, penuh rona.


“Seperti ini rasanya berenang di antara bintang-bintang…” decak Alya pelan, matanya terbuka lebar tertuju pada lautan semesta.


Sungguh mulut ini tak bisa berkata-kata. Terdiam mengindahkan seluruh fantasi yang selama ini hanya terpendam di angan-angan. Luruh hati memandang mahakarya membentang luas menyejukkan mata.


“Ada sesuatu di sana!” seru Kellos sambil menunjuknya.


Awan hitam menggeliat melewati lapisan awan yang lainnya. Pandangan semua orang sontak tertuju ke sana. “Itu pasti Knox! Ayo kita ke sana!” teriak Ethan membara.


Di balik lapisan itu, gumpalan kabut hitam yang amat besar menyelimuti tempat itu. “Dadaku terasa sesak…” tekan Ellie seraya mendekapkan hidungnya. Aku tak tahu bagaimana caranya untuk bisa menghampiri manusia iblis itu.


“Apa yang kau rencanakan, Knox?”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2