
Kami mulai merancang di sebuah lembaran besar. Tapi tidak memakan waktu lama, melihat banyak coretan sudah membuat kami pusing. Pada akhirnya kami langsung merakitnya sesuai pemahaman kami.
“Obeng,” ucap Ellie.
“Ini,” balasku sambil memberikan obeng.
“Empat baut.”
“Siap.”
“Malka ini paku, bukan baut,” lanjut Ellie yang tersadar saat meletakkannya di mata obeng. “Maaf, maaf. Aku kurang fokus,” balasku.
Sementara Sid hanya menyaksikan kami tanpa tahu harus melakukan apa.
“Apa kau hanya menonton kami saja?” sindir Ellie.
“Baik, baik, aku akan membantu,” balas Sid.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami berhasil membuat alat yang bisa menciptakan api dari energi langit. Tidak terlalu hebat, sekedar api kecil seperti pemantik api pada umumnya. Namun setidaknya kami merasa seperti menemukan sebuah penemuan.
“Wah, sekali coba bisa langsung bekerja,” gumam Ellie.
“Syukurlah, walaupun belum sempurna…” lanjutku.
“Benar-benar api,” sahut Sid tidak percaya.
Kami telah satu langkah maju ke depan. Ellie tampak berpikir untuk dapat membuat fenomena ledakan seperti di dalam senjata api, sedangkan Sid masih norak dengan alat itu.
“Sip. Sekarang saatnya membuat senjata,” ucapku.
“Ha? Tapi bagaimana peluru itu bisa meluncur jika hanya dengan api kecil ini?” tanya Ellie terkejut heran.
“Kita tidak tidak membuat senjata peluru. Sebenarnya aku tahu sebuah senjata yang sangat ampuh sebatas memanfaatkan gelombang energi langit,” jawabku.
“Lalu, kenapa kita susah-susah membuat alat api ini?” lanjut Ellie tak habis pikir.
“Aku hanya penasaran apakah kita benar-benar bisa membuat api, hehe…”
“Kau belum pernah merasakan tanganku, ya? Tapi ya sudahlah, aku juga bisa tahu alat ini sepertimu,” balasnya agak kesal.
Selanjutnya kami memikirkan cara untuk membuat senjata seperti yang kuucapkan barusan. Aku sendiri heran dengan cara kerja senjata gelombang yang pernah ditunjukkan oleh Lydia. Bagaimana caranya membuat energi langit menjadi gelombang?
Berulang kali kami mencoba memampatkan energi langit itu, tapi tetap tidak berhasil. Energi yang jenuh itu justru mudah terbakar dan meledak. Sebuah penemuan lagi tentunya, tapi tidak sesuai dengan tujuan kami sekarang.
Hmm… Kali ini lebih menantang daripada alat sebelumnya. Kita tidak bisa memampatkan atau mengisinya pada suatu medium.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan penjelasan Pappous waktu itu.
__ADS_1
“Sepertinya aku tahu! Kalau kita tidak bisa membuatnya karena diam, berarti kita cukup membuat energi itu bergerak bebas di dalam,” ucapku.
“Apa itu berbeda dengan energi yang ada di dalam tabung itu?” tanya Ellie heran.
“Berbeda. Energi itu tidak bergerak bebas. Kita perlu membuatnya memantul tanpa henti,” jawabku. “Berarti kita cukup mengocok tabung ini, bukan?” sahut Sid.
“Itu bisa dilakukan, tapi efeknya tidak akan lama setelah kau berhenti mengocoknya. Dengan tabung polos seperti itu, energi itu hanya akan saling bertumbukan dan tidak stabil…
Ini prinsip yang kuingat saat merancang alat raksasa di menara itu. Kita perlu memberikan semacam sekat-sekat agar energi itu lebih stabil dan teratur,” jelasku.
Kami langsung membuatnya. Setelah memberikan sekat-sekat itu, aku menggunakan pemancar dari oven gelombang mikro yang sudah tak terpakai. Dengan beberapa modifikasi tentunya. Prototipe pertama sudah jadi.
Tidak mirip dengan senjata bahkan jauh dengan senjata gelombang milik Knox Corp, namun yang terpenting saat ini adalah alat ini bisa bekerja.
“Kita tidak bisa melakukannya pada orang,” ucapku.
“Bagaimana kalau kita gunakan orang itu?” sahut Ellie menunjuk Sid.
“Jangan aneh-aneh kau!” lontar Sid.
“Ayo kita coba pada tanaman,” lanjutku.
“Tanaman? Bisakah?” tanya Ellie.
“Entah, kita coba saja dulu,” balasku.
“Keren… Lagi-lagi kita berhasil membuatnya,” gumam Ellie.
“Terlihat aman. Sid, kemarilah. Ulurkan tanganmu,” ucapku.
“Seperti ini?” tanya Sid.
“Tahan sebentar,” balasku lalu mengarahkan alat itu ke ujung tangannya.
“Tunggu, apa yang kau lakukan?” lontar Sid panik.
“Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku.”
Seketika jari-jari Sid menjadi kaku. Untung saja masih sesuai perkiraanku. Aku merasa bersalah karena menguji seenaknya saja.
Setelahnya aku mencoba pada sebuah tikus yang kebetulan berkeliaran di dalam ruangan ini. Sungguh malang nasib tikus itu, tapi aku berterima kasih karena sudah membuktikan kalau senjata ini juga mematikan.
“Akhirnya! Sekarang kita bisa aplikasikan prinsip ini ke senjata yang akan kita buat,” lontarku senang.
Tanpa sadar, hari sudah mulai larut dan langit mulai meredup. Ellie menyimpan seluruh alat itu di sebuah tempat rahasia miliknya. Kemudian kami berpamitan dengan Sid yang sudah ingin menutup tokonya. Sedikit mengganjal kepalaku, selama hari ini ia banyak bersama kami, apa tidak ada satu pun pembeli?
“Perkembangan tugas kita sudah mulai terlihat, padahal baru hari pertama,” ucap Ellie. “Syukurlah, lebih cepat lebih baik,” balasku.
__ADS_1
Kami pulang menuju penginapan. Aku tidak sabar untuk melihat perkembangan yang lainnya. Apalagi ramuan yang dibuat Gras.
“Kira-kira, Gras bikin apa saja, ya?”
Setibanya di penginapan, terlihat semua teman-teman sudah berada di sini lebih dulu. Zilei dan Stella terlihat sedang beristirahat di ruang tengah… dan masih saling bertatap kesal satu sama lain. Terlihat Gras sedang membuat sesuatu di dapur bersama ibunya Alya.
“Kalian membuat apa?” tanyaku.
“Halo, Malka. Kami sedang membuat racum pelumpuh. Sebelumnya kami sudah membuat ramuan stamina dan obat luka, dan campuran air lada seperti yang kau bilang,” jawab Gras.
“Wah, banyak sekali… Kalian tahu semua bahan yang dipakai?” tanyaku.
“Tentu. Tante banyak memberitahuku tentang tanaman herbal yang baru ku kenal.”
“Hahaha, tidak sehebat itu. Aku juga banyak mengenal tanaman darimu, Gras,” balas ibunya Alya. Mereka terlihat akrab sekali.
“Sepertinya kau cukup lelah, Malka. Kau bisa mencoba ramuan stamina yang kami buat,” ucap Gras sambil mengaduk panci.
“Tidak berbahaya, kan?” tanyaku polos. Mereka berdua tertawa mendengarku.
“Tenang saja. Kami juga sudah mencobanya,” jawab Gras.
Aku pun meminumnya. Betapa terkejutnya aku saat merasakan efeknya langsung dalam hitungan detik. Rasa penatku berangsur hilang, tubuhku terasa ringan, mataku langsung terbuka lebar. Aku takut kalau aku tidak bisa tidur malam ini. Mengingatkanku dengan kopi, tapi lebih kuat efeknya.
“Bagaimana ini? Apa aku bisa tidur nanti?” gumamku.
“Kami sudah buat penangkalnya. Ini obat tidur,” balas Gras.
Aku mengambil obat itu darinya. Kubuka tutup itu lalu meneguk—
“Jangan sekarang! Saat kau ingin tidur saja!” lontar Gras.
Hampir saja obat itu masuk ke dalam mulutku. Tidak lama kemudian, Alya dan Ethan baru muncul di padanganku.
“Bukankah kalian harusnya membahas di sini?” tanyaku heran.
“Kami habis melihat Leora dan lainnya beristirahat,” jawab Alya.
Oh iya, aku hampir lupa dengan mereka. Pantas saja mereka tak terlihat di sini, hanya ada Zilie dan Stella. Sepertinya mereka melalui hari yang melelahkan.
Tercium aroma lezat dari dapur. Baunya tidak seperti racun. Bukankah mereka bilang kalau sedang membuat racun pelumpuh? Ternyata mereka membawa hidangan ke atas meja.
“Kalian bilang sedang membuat racun,” ucapku.
“Yap, masih di panci itu. Masih akan membutuhkan waktu lama,” jawab ibunya Alya. Saat ini Gras terlihat sangat bersemangat.
“Sekarang, saatnya makan malam!”
__ADS_1
Bersambung~