
Kendaraan yang dikendarai oleh Kachia membawa kami pada suatu rumah. Kendaraan berhenti dan semuanya turun. Aku sedikit heran.
“Selamat datang di rumahku!” seru Leora. Wajahnya penuh ceria dan sekilas membuatku terhanyut dengan parasnya. Aku hanya terdiam.
“Baiklah, aku harus kembali bertugas. Jangan lupa untuk cek setiap pekan,” ujar Kachia. Kami berpisah dengannya, lalu ia pergi meninggalkan kami.
“Silakan masuk,” ucap Leora. Aku melangkah masuk. Dari depan tampak mirip dengan rumah-rumah di Mennora. Halaman rumah yang penuh dengan bunga-bunga yang indah. Aku teringat Mennora, lantas bertanya.
“Apa kita ada di Mennora?”
“Bukan, kita berada di Suthmein, selatan dari Mennora.”
“Berarti kita cukup dekat dengan Mennora? Di sana kampung halamanku,” balasku.
“Betul, tapi sepertinya cukup sulit untuk ke sana dalam waktu dekat.”
Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Aku masih terhenti di depan rumah. Leora pun mempersilakanku lagi. Akhirnya aku melangkah masuk.
Terlihat rumah kayu yang tertata rapi dan sedap dipandang. Penuh dengan pot kecil yang tertanam bunga-bunga. Seluruh peralatan dan barang juga terbuat dari kayu. Tidak jauh dari rumahku di Mennora. Akan tetapi, aku sedikit heran saat tidak ada seorang pun di sini selain kami berdua.
“Kemana kedua orang tuamu?” tanyaku.
“Aku sudah sendirian di sini sejak tiga tahun lalu.” Aku menjadi panik mendengarnya. “Maaf sudah bertanya seperti itu padamu.”
“Tidak apa-apa, aku juga punya teman sepertiku,” balasnya tersenyum. Aku paham betul dengan kalimat itu. Aku membalas senyum padanya.
Aku duduk di bangku ruang tengah. Ia pergi ke belakang, sementara aku melihat sekitar. Tidak terbayang di benakku kalau rumah ini hanya ditinggali oleh satu orang saja. Aku belum tentu bisa mengurus rumah sendiri. Lagi-lagi rasa rindu akan Ayah dan Ibu terpintas di kepalaku. Aku hanya bisa tersenyum sendiri dan berpikir untuk terus melihat ke depan. Leora datang dengan nampan yang ia bawa.
“Apa ada sesuatu? Kau tersenyum sendiri,” tanya Leora.
“Bukan apa-apa. Mmm… Harum sekali…”
“Tentu, ini teh yang kutanam di halaman belakang.”
Kami menikmati teh bersama-sama. Masih banyak yang belum kutahu tentangnya. Pada akhirnya kami saling bertukar informasi satu sama lain.
“Apa kau bekerja?” tanyaku.
“Tidak, aku hanya berjualan.”
“Berjualan? Aku tidak melihat apapun di sini.”
“Tunggu sebentar,” balasnya lalu beranjak lagi ke belakang. Kemudian ia kembali dengan kantung roti yang penuh dengan riunbread. Seketika aku teringat sesuatu, tapi samar-samar. Seperti tidak asing dengan kantung roti ini.
“Aku berjualan di desa ini dan sesekali aku juga berjualan di Mennora,” jelasnya.
__ADS_1
Aku masih berpikir keras untuk kembali mengingatnya.
“Apa kau yang pernah menolongku saat itu?”
“Entah, seingatku aku pernah menolong seseorang yang sedang berlari sambil membawa buku…” gumamnya.
“Itu aku! Aku ingat sekali kejadian waktu itu,” lontarku bersemangat.
“Tapi kenapa kau waktu itu langsung menghilang?”
“Hmm… Aku juga tidak terlalu ingat waktu itu.”
“Wah, pasti bukan suatu kebetulan bisa bertemu lagi,” ucapku.
“Tentu, aku percaya kalau takdir itu benar-benar ada…” balasnya.
Kembali mengingatkanku pada pertanyaan awalku. Aku lanjut bertanya tepat saat Leora menyalakan televisi.
“Kenapa kita belum bisa ke Mennora?”
Terdengar suara berita dari televisi tersebut.
“Terjadi longsor di perbatasan Mennora dan Suthmein. Akibatnya koneksi kedua desa itu terputus. Masyarakat terpaksa memutar cukup jauh.”
“Langsung terjawab…” gumamku.
“Tapi aku tidak tahu harus tinggal di mana…”
“Kau bisa tinggal di rumahku. Ada satu kamar kosong, kau bisa menempatinya.”
“Benarkah? Aku merasa tidak enak karena merepotkanmu.”
“Jangan begitu. Aku sudah menolongmu sudah sejak awal. Tidak boleh membantu setengah-setengah.”
“Terima kasih banyak.”
“Berita selanjutnya, kecelakaan sebuah pesawat yang terjadi minggu lalu masih menjadi tanda tanya. Kabar baiknya, seluruh korban sudah teridentifikasi dan dikembalikan pada keluarga masing-masing…
Tapi ada suatu kejanggalan, jumlah korban tidak sesuai dengan data penumpang perjalanan itu. Terdapat satu korban yang tidak dapat ditemukan di manapun. Lokasi jatuhnya pesawat masih diselidiki lebih lanjut…
Di lain sisi, kejadian tersebut menjadi titik munculnya protes dari Perkumpulan Aktivis Langit dan Lingkungan. Menurut tuntutan mereka, penyebab kecelakaan itu adalah menara langit yang sudah beroperasi sejak beberapa tahun lalu…
Memang masih banyak menimbulkan banyak pertanyaan. Kerajaan mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan ikuti proses penyelidikan.”
Aku dan Leora yang menyimaknya lantas berbincang tentang itu.
__ADS_1
“Kau satu orang yang hilang itu,” ucapnya.
“Aku tahu, tapi apa benar-benar karena menara?” tanyaku.
“Entah, aku tidak tahu banyak tentang langit. Bagaimana menurutmu?”
“Sebelumnya aku bekerja di perusahaan itu. Bahkan aku yang menjadi salah satu ketua dari penelitian dan proyek menara itu…
Aku pernah menilitinya sendiri, memang tampak merugikan lingkungan. Dari buku yang kubaca, energi langit yang terkuras akan membuat langit itu sendiri menjadi tidak stabil, tapi belum tau kebenarannya…
Tunggu, kalau ternyata memang benar… Berarti aku salah satu yang menyebabkan kecelakaan itu…?”
Ucapanku berakhir dengan rasa khawatir dan penuh pikiran. Terbayang di kepalaku kalau semua ini ialah salahku. Leora pun menenangkanku.
“Tenang, tenang… Kita belum tahu kebenarannya. Kau tidak melakukan kesalahan apapun…” Ia memelukku.
“Tapi bagaimana kalau memang benar?”
“Kau ingin tahu tentang takdir?” balasnya.
Aku hanya terdiam di pelukannya.
“Jika memang itu yang terjadi, maka terjadilah. Jika ternyata itu benar, maka itu benar. Pasti ada sebab dan akibat yang bisa membuatnya menjadi masuk akal. Jika itu penyebab dari kejadian ini, tentu kau tidak akan bisa menyangkalnya…
Tapi semua yang sudah kau perbuat bukan satu-satunya menciptakan kejadian ini. Kau tahu efek kupu-kupu, bukan? Banyak juga yang terdampak dari menara itu…
Jangan menarik dari sisi negatifnya saja. Kau lihat, ada banyak nyawa orang yang selamat karena teknologi yang berkembang itu…
Meskipun tetap ada sisi negatifnya, tapi memang begitulah cara kerja semesta. Aku pernah membaca satu buku, dan kutipan itu cukup bagus…
‘Semesta memiliki sistemnya sendiri untuk membuatnya tetap seimbang’…
Aku percaya, walau di ambang kehancuran sekalipun, semesta tetap akan membuatnya menjadi sedia kala.”
Sebuah penjelasan yang cukup panjang dari Leora, tapi masuk akal bagiku. Aku tidak bisa selalu menyalahkan diriku sendiri. Seperti janjiku pada Ayah dan Ibu untuk terus bangkit. Aku sangat bersyukur memiliki teman seperti Leora yang banyak membantuku pada saat-saat yang amat sulit seperti ini.
“Sangat mirip dengan yang pernah kubaca… Lagi-lagi aku berterima kasih padamu. Kau pahlawanku,” ucapku. Ia tertawa kecil mendengarku.
“Kau berlebihan. Sama-sama…” Ia ingin melepasku, tapi aku tetap memeluknya.
“Tetaplah begini sejenak…”
Sebuah hari yang penuh dengan kejadian, pikiran, dan pengtahuan baru. Sangat melelahkan. Aku tertidur di pelukannya yang hangat. Ia membaringkanku di sofa itu.
“Kau sangat kuat, Malka…”
__ADS_1
Bersambung~