
Keesokan harinya, kala pagi datang, kami menyantap sarapan untuk memulai hari. Masing-masing dari kami sudah memiliki rencana, tentang apa yang akan kami lakukan setelah ini. Hingga tidak ada makanan tersisa di atas meja. Kebanyakan dilahap oleh Gras, semuanya pun juga sudah menyadarinya.
“Baiklah, saatnya kita berangkat,” ucap Leora.
“Eergghh!” Gras bersendawa kencang. Ia duduk santai sambil mengusap-usap perutnya. “Maaf, hehe…”
Leora, Stella, Zilei, Kellos, dan Lena berangkat. Setahuku mereka ingin pergi ke lapangan dan berlatih di sana. Bisa saja mereka berniat untuk bertemu Master. Sudah lama aku tak bertemu dengannya, rasanya ingin ikut juga bersama mereka.
“Kalian akan membahas rencana di mana?” tanyaku pada Alya dan Ethan.
“Sepertinya di ruang tengah rumahku. Akan ada Gras dan Ibu di dapur, kan?” balas Alya. “Tentu, Ibu sesekali bisa ikut pembicaraan kalian berdua.”
Tentu itu ide yang bagus, menurutku. Mereka berempat bisa berkumpul, karena posisi dapur dan ruang tengah tidak terpisah dan tanpa sekat.
“Bagaimana dengan kalian berdua? Tidak boleh di tempat sepi, lho,” tanya Ethan.
“Pertanyaanmu seperti mencurigai kami…” gumamku.
“Hahaha! Aman, aman. Kami ingin pergi ke toko perkakas,” lanjut Ellie. Aku tidak tahu sebelumnya. Kupikir kami akan berada di halaman sekedar merakit-rakit. Tapi idenya tidak buruk juga. Aku juga ingin mampir ke suatu tempat.
“Benar, sekalian mampir ke rumahku juga,” sahutku.
“Sip, hati-hati di jalan. Jika kau perlu membawa beberapa peratalan, itu semua ada di halaman belakang. Tidak banyak, tapi sepertinya dapat membantu kalian,” balas Alya.
“Baiklah, sampai nanti.”
Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol. Terlihat sebuah menara menjulang tinggi menembus awan. Sepertinya menara itu masih tetap terlihat dari desa sebelah, tapi aku tidak menyadarinya saat berada di Suthmein. Kami sering melihat ke arah menara itu, karena hanya itu yang sangat kontras di pandangan kami.
“Pada akhirnya kau membuat menara itu…” gumam Ellie.
“Yah… Aku hanya menjalankan tugas. Kalau bukan aku, menara itu akan tetap berdiri,” balasku. “Aku juga tidak mempermasalahkan itu,” lanjutnya.
“Syukurlah kau mengerti. Kau masih ingat dengan alat yang kau otak-atik itu, kan? Menara itu juga memilikinya, tapi dengan ukuran super besar,” ucapku.
“Tentu. Aku juga sudah membuat replikanya,” balasnya.
Seketika aku amat terkejut mendengarnya.
“Kau membuat replikanya? Bagaimana bisa?”
Ternyata alasan di balik Ellie mengotak-atik alat kala itu adalah untuk mengamati tiap komponen dan alur kerja alat itu. Aku tidak menyangkanya sama sekali. Sekarang muncul banyak pertanyaan terhadap rasa heran dan penasaranku tentang replika buatannya.
“Kau pasti sangat penasaran, bukan? Tahan pertanyaanmu, kita akan melihatnya di toko perkakas itu,” ujarnya.
Setibanya di toko perkakas, tampak seorang penjual yang tidak asing bagiku. Wajahnya langsung bersemangat saat menyadari kedatanganku.
“Malka! Lama tak berjumpa!” lontarnya.
“Hai! Kau masih mengingat namaku? Padahal aku hanya bertemu denganmu hitungan jari,” balasku. “Hahaha! Siapa yang tidak kenal denganmu? Kau salah satu orang sukses dari desa ini,” lanjutnya. “Aku juga banyak mendengarmu dari gadis ini,” tambahnya.
“Sshh!” balas Ellie malu.
“Hahaha!” Penjual itu datang mendekatiku lalu berbisik, “Sepertinya dia menyukaimu, Nak. Uppsss… Jangan sampai dia tahu…”
__ADS_1
Hah? Jadi selama ini Ellie menyukaiku? Tapi… sejak kapan dan apa yang membuatnya suka padaku? Ia juga tidak memperlihatkan apa pun yang terlihat seperti suka pada orang lain. Tapi dari wajahnya Ellie, ia merasa malu saat penjual ini mengatakannya. Jadi ia benar-benar suka padaku?
Tanpa sadar wajahku juga memerah seperti Ellie.
“Hei! Apa yang kau katakan padanya?” seru Ellie sebal.
“Hanya rahasia laki-laki,” balas penjual.
Kepalaku sedikit pusing memikirkannya. Aku pun menggeleng-geleng kepala.
“Sudah, sudah. Aku sudah tidak sabar ingin melihat alat replika itu,” ucapku.
“Maaf, hehe… Sekarang mari ikut aku,” balas penjual itu.
Ia mengajakku dan Ellie untuk masuk ke dalam. Mereka berdua berjalan ke depan, sementara langkahku sedikit pelan melihat berbagai peralatan, perlengkapan, dan perkakas yang dipajang di dinding. Bahkan juga ada pedang dan tameng, seperti yang pernah kulihat di mimpi buruk waktu itu.
“Malka, cepatlah ke sini! Kau sudah tidak sabar melihatnya, bukan?” lontar Ellie jauh di depanku. “Baiklah!” Aku langsung berlari menghampiri mereka.
“Apa kau sudah siap, Nak? Satu, dua, tiga!” Penjual itu mengangkat sebuah kain yang menutupi replika. Terlihat sebuah alat yang sangat persis dengan yang kubawa kala itu. Benar-benar mirip, tampak asli. Aku ragu kalau Ellie mencuri alat itu.
“Kau benar-benar membuatnya? Bukan mencuri?” tanyaku.
“Hahaha! Kau tidak percaya? Penjual ini ikut membantu merakitnya,” balas Ellie.
“Kau bisa memanggilku Sid. Selamat datang di toko perkakas ‘Liro’!”
“Liro? Apa artinya?” tanyaku penasaran.
“Namaku, Atsali Sidero. Salam kenal,” jawabnya.
“Ya memang seperti itu asal nama toko ini,” lanjutnya.
Sedikit membuatku jengkel, tapi tidak masalah. Aku kembali terfokus pada replika itu. “Dari mana kalian mendapat bahan-bahan ini?” tanyaku.
“Kami mendapatnya dari pedagang yang datang ke sini,” jawab Ellie.
“Sebenarnya dia mencurinya,” sahut Sid.
“Hanya sedikit. Mereka punya banyak sekali, jadi aku tidak mempermasalahkannya,” balas Ellie.
Yah… Walaupun pedagang itu tetap merasa rugi saat menyadarinya. Namun apa boleh buat, sudah berlalu juga.
Ellie pun menyalakan alat ini. Dan benar saja, alatnya benar-benar berfungsi seperti yang asli. Aku sangat kagum padanya. Jika saja ia mendaftar pekerjaan di sana, pasti sudah diterima. Aku sendiri awalnya tak tahu cara kerja alat itu sebelum dijelaskan oleh Pappous.
“Wah, benar-benar bekerja…” gumamku.
“Aku juga tidak habis pikir dengan gadis ini. Jenius sekali,” sahut Sid.
“Hahaha, kalian berlebihan…”
Sudah cukup dengan replika yang menakjubkan itu, sekarang waktunya membuka lembaran besar di atas meja, mengambil pensil dan penggaris.
“Jadi, ini niat kalian untuk datang ke sini?” tanya Sid.
__ADS_1
“Tentu, tidak mungkin sekedar memamerkan alat itu,” jawab Ellie.
Ellie meletakkan pensil di atas telinganya. Sebenarnya aku sudah punya bayangan untuk membuat apa, tapi kali ini aku membiarkan Ellie berpikir. Aku penasaran dengan dirinya.
“Hmm… sepertinya kita akan membuat senjata, tapi dari energi langit… Apa kau punya ide tentang ini, Malka?” tanya Ellie.
Kukira ia akan menemukan cara untuk membuat suatu alat yang memanfaatkan energi itu, ternyata ia juga tidak begitu mengerti dengan seluruh cara kerja energi ini.
“Apa kau tahu senjata api?” tanyaku.
“Tahu, senjata yang menembak peluru, bukan?” jawabnya.
“Apa kau tahu cara kerja alat itu?” lanjutku.
“Aku sedikit mengerti komponennya, tapi ada yang sedikit samar dengan alur kerja yang ada di dalam senjata itu,” jawabnya.
“Aku tahu. Aku pernah bekerja di pabrik pembuatan senjata,” sahut Sid.
“Eh? Benarkah?” tanyaku kaget.
“Iya. Yang terpenting kau membutuhkan sebuah fenomena ledakan untuk mendorong peluru melesat kencang. Tapi aku tidak mengerti dengan energi langit yang kalian bicarakan itu,” jawab Sid.
Baiklah, sepertinya semuanya sudah lengkap. Aku bisa menjelaskan sisanya.
“Kalian tahu segitiga api? Jika kita anggap energi langit adalah sebuah zat, ia bisa bekerja sebagai bahan bakar. Sebagaimana dengan api biasa, ia juga perlu suatu kondisi agar terbakar. Umumnya dengan percikan, bukan?”
“Berarti jika kita beranggapan seperti itu, kita juga bisa menganggapnya seperti gas bahan bakar? Karena sama-sama tak terlihat. Tapi bagaimana cara membakarnya tanpa tahu energi itu ada atau tidak?” tanya Ellie.
“Yah… Kita coba saja dengan membuat percikan. Jika menyala, berarti sudah pasti ada energi langit,” jawabku.
“Baiklah, aku mengerti. Satu yang masih kupikirkan. Energi langit sebenarnya ada di mana-mana, tepatnya udara. Jika kita membuat percikan seperti ini, tidak ada pembakaran. Berarti energi langit harus dalam suatu kondisi, kan?” ucap Ellie.
“Tepat. Dengan intensitas tertentu ia akan mudah terbakar. Yang kutahu, energi langit di udara yang dekat dengan permukaan hanya sepersepuluh dari yang dibutuhkan,” jawabku.
“Sip, kita bisa menggunakan alat seperti replika itu untuk mengumpulkan energi,” balas Ellie. Mungkin aku bisa menjelaskan sedikit tentang sifat energi langit yang kutahu.
“Sebenarnya energi langit punya banyak sifat. Seperti suhu, tekanan, intensitas, kepadatan, dan apa pun itu bisa mempengaruhi karakteristiknya…
Contohnya seperti pembakaran yang sudah kujelaskan tadi. Jika energi langit adalah sebuah zat, kau tahu artinya, kan? Padat, cair, dan gas, semua itu bisa terjadi pada energi langit…
Lalu, seperti api, energi langit juga bisa berupa gelombang. Dengan menyimpannya pada sebuah medium atau zat lainnya, ia bisa menyala terang dalam gelap. Kau juga bisa mengatur gelombang dari energi langit,” jelasku.
“Wah, berarti kegunaan energi langit itu banyak sekali. Tapi kita semua tahu akibatnya…” gumam Ellie.
“Andai saja tidak ada akibat buruk darinya. Sudah pasti kujadikan banyak ladang penghasilan,” sahut Sid.
“Untuk sekarang, kumohon jangan gunakan pemikiran bisnismu dulu,” ujar Ellie.
“Oke, oke. Tenang saja,” balas Sid.
Sepertinya mereka berdua sudah mulai paham dengan penjelasanku.
“Baiklah. Kalau kalian sudah paham. Ayo kita buat senjata dari energi itu!”
__ADS_1
Bersambung~