
Melangkah sambil memandang sekeliling memang cukup seru, cukup ramai, dan cukup membuatku tidak sadar. Perutku terasa kekenyangan, padahal baru memakan setusuk cum-cumi bakar itu. Aku tahu betul, sekarang masih pagi.
“Eergghh!” Sendawaku agak kencang. Leora dengan jelas mendengarnya.
Orang-orang menoleh ke arahku, tentu aku merasa malu. Lantas Leora tertawa kecil di sampingku. “Hihihi… Kau suka menghibur ya, Malka.”
Sampailah kami di ujung pasar, meskipun jalan itu masih terbentang panjang mengarah ke desa tetangga. Langit yang semula teduh kini menjadi terik, apalagi matahari hampir mencapai puncaknya. Keringat mulai bercucuran dari kepalaku. Tanganku mengelap keringat itu dengan baju. Kala itu pula aku teringat untuk membeli baju.
“Leora,” panggilku.
“Ya?”
Sesuatu menjanggal kepalaku, rasanya berat untuk memberi tahu tentang pakaianku. Sungguh menderita tidak memiliki uang. Sekalipun tahu kebaikan seseorang, tetap saja tidak bisa bagi orang yang tidak seperti ini sebelumnya. Seperti terjerumus ke dalam jurang yang hampa. Hanya cahaya redup yang menyala di dalamnya.
“Tidak jadi…” lanjutku. Leora kebingungan denganku.
Kami telah keluar dari pasar, dan kembali ke tengah desa. Teriknya siang membuat bajuku basah lagi dan lagi. Reflek tanganku mengibas-ngibas baju agar sejuk.
“Sudah siang, apa kita mau makan siang dulu?” usul Leora.
“Boleh, kita bisa kembali dulu ke rumah,” balasku.
“Bukan, kita bisa pergi ke tempat makan di sekitar sini.”
“Eh? Aku tidak perlu, lagi pula aku tidak punya uang,” lanjutku gelagapan.
“Dari tadi alasanmu itu terus. Alasanmu tidak diterima.”
Aku hanya terdiam.
“Ayo ikut aku. Aku tahu tempat makan yang enak,” ajaknya.
Kami tiba di tempat makan itu. Terlihat sederhana dan tidak terlalu ramai. Aku duduk berhadapan dengan Leora, lalu datang seorang pelayan. Sepertinya ia tinggal di sini.
Leora memesan makanan, sementara aku hanya menyimaknya.
“Kau ingin apa, Malka?”
“Aku tidak tahu ingin memesan apa. Mungkin air putih saja,” jawabku.
“Malka! Kau tidak boleh seperti itu!” balasnya kesal. “Baiklah, aku yang akan memesan untukmu.” Aku tidak tahu harus membalas apa.
Menunggu sejenak, terasa canggung untuk memulai pembicaraan. Leora sudah berkali-kali memulainya, tapi aku hanya membalasnya singkat.
“Apa kau sedang tak merasa baik hari ini?”
__ADS_1
“Umm… Entahlah… Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikanmu.” Leora mendekatkan kepalanya di depanku. “Lihat aku.”
Aku pun melihanya. Wajahnya tampak amat serius, tak pernah kusangka.
“Kita bukan sedang jual beli. Hentikan rasa berat hatimu itu. Aku melakukan ini memang karena keinginanku. Apa kau tidak mau aku melakukan keinginanku?”
Kepalaku tertunduk dan terdiam.
“Jangan menghalangi keinginanku.”
“Baiklah…”
Hidangan tiba, tersajikan di atas meja. Aroma harum memenuhi ruangan ini. Uap hangat terus keluar dari setiap hidangan itu. “Selamat menikmati.”
“Selamat makan.” Kami menyantap makan siang tanpa kata-kata di antara kami. Hingga tak tersisa makanan, aku merasa lebih baik.
“Uwah! Lezatnya…!” lontar Leora mengusap-usap perutnya.
Leora meninggalkan uang di atas meja, lalu kami pergi keluar dari tempat makan itu. “Terima kasih atas hidangannya!”
“Silakan datang lagi!”
Masih ada sebagian desa yang belum terpijak olehku. Leora melihat kanan dan kiri sambil memikirkan sesuatu. Sepertinya ia sudah tahu tujuan kami selanjutnya.
“Ya, aku menikmatinya. Pertama kali aku memakannya.”
“Wah, meski desa kita sebelahan, tapi kau belum pernah memakannya…
Sip, sekarang saatnya kita membeli baju untukmu,”
“Lagi?” tanyaku tak percaya.
“Seharusnya kau merasa bersalah sudah memakai pakaian yang sama denganku. Penuh keringat pula…” gumamnya. “Benar juga, ya…” balasku.
Mengarah pada sisi lainnya, terlihat sebuah papan bergambar jarum jahit dan kain. Saat berada di depannya, pakaian-pakaian indah dan elegan terpampang di balik jendela. Sungguh terlihat mahal… di kelasnya. Kami masuk ke dalam bersamaan dengan lonceng pintu yang berbunyi.
“Selamat datang di toko baju. Mulai dari pemesanan khusus hingga siap pakai semuanya tersedia di sini,” sambut pemilik toko.
“Aku ingin pakaian untuk temanku,” balas Leora.
Ia menjelaskan pakaian yang aku butuhkan. Sesekali aku ikut ke dalam perbincangan. Kami membeli tiga set pakaian untukku.
“Lebih baik kau coba terlebih dulu,” ujar pemilik toko. “Bilik ganti ada di sebelah sini.” Aku pun mengikutinya. Lalu mengganti pakaian di dalam bilik itu. Aku keluar dan menunjukkan pakaian yang kukenakan kepada Leora.
“Kau tampak lebih tampan, Anak Muda!” lontar pemilik toko. Sedangkan Leora terkesima melihatku. Aku sedikit heran, padahal ini hanya pakaian sehari-hari. Apakah sebagus itu? Kulihat cermin, memang tampak biasa saja.
__ADS_1
Tapi aku tidak ambil pusing, aku ikut merasa senang saat mereka berdua juga senang melihat penampilanku sekarang. Kemudian aku kembali dengan pakaian Leora yang sudah kukenakan sebelumnya. Tentu pakaian baru harus dicuci dahulu sebelum dipakai, bukan?
Leora membayarnya. Uangnya terlihat sudah tidak banyak lagi. Aku tidak ingin ia menggunakan uang tabungannya hanya untuk ini, tapi aku tidak bisa menyuarakannya. Jika ini yang ia ingin lakukan, aku cukup bersyukur dengan itu.
“Terima kasih, Leora.”
Ia membalasku dengan tersenyum.
Padahal aku hanya membeli pakaian di toko, tapi langit sudah tak lagi terik. Hari sudah sore. Kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, namun dengan jalan yang berbeda. Kami melewati taman yang ramai dengan orang-orang dari kalangan usia. Pastinya aku berhenti untuk menikmati suasana sejenak. Anak-anak kecil berlarian, para orang tua berbincang di tepian, dan orang-orang sebayaku berkumpul di bangku taman. Mengingatkanku pada Alya dan teman-teman.
Sebuah bola menggelinding ke arahku. Kemudian terdengar sorak beberapa anak yang memintanya. “Tendang ke sini, Kak!” Aku menendangnya. Mereka lanjut bermain.
“Kau tidak ikut bekumpul dengan mereka?” tanyaku.
“Di bangku taman itu? Mereka memang temanku, aku akan mengenalkanmu besok.”
“Tidak sekarang?” Aku menjadi heran dengannya.
“Aku ingin kau menggunakan pakaian baru itu besok,” jawabnya.
Kami lanjut berjalan menyusuri jalan. Terdapat sebuah warung yang penuh dengan orang tua yang sedang berbincang di sana. Mereka sedikit mengambil lebar jalan. Ketika mendekat ternyata mereka sedang menyaksikan televisi. Kecelakaan itu masih menjadi topik hangat di seluruh benua, termasuk orang-orang di sini.
Aku sedikit mendengar perbincangan mereka. Beberapa dari mereka menggunakan sebuah ikat kepala dengan tulisan “Peduli Langit”. Sepertinya mereka juga sekumpulan aktivis langit seperti yang ada di televisi. Rumor tentang menara yang merusak langit itu tersebar di mana-mana. Aku sendiri juga ikut terhanyut ke dalamnya. Tapi sekelas penelitian pun belum bisa memastikan kebenaran rumor itu.
“Tunggu, bisa saja selama ini disembunyikan?” pikirku. Tapi hampir mustahil terlebih diriku yang menjadi pion penting dalam penelitan dan proyek itu.
“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Leora.
“Ah, tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja, rumor itu sudah menyebar luas, ya…”
“Benar. Sebenarnya rumor itu sudah ada sejak lama. Bahkan aku pernah mendengarnya saat menara itu baru diresmikan. Mungkin rumor itu naik lagi karena berita ini. Apalagi para aktivis itu punya bukti baru untuk melawannya.”
“Aku baru tahu kalau mereka sudah ada sejak lama,” balasku.
“Dan yang sedang ramai sekarang adalah petisi yang akan mereka buat.”
“Petisi? Suara untuk memberhentikan pengoperasian menara? Apa kau juga akan ikut menandatanganinya?” tanyaku.
“Ya, sepertinya aku ikut. Lingkungan kita sangat penting, bukan?” balasnya.
Sebagai anggota Synnefá, sudah seharusnya aku ikut peran dalam melindungi dan mencari tahu tentang langit. Kini aku punya kawan baru dengan visi yang serupa.
“Baiklah, aku juga akan ikut denganmu, Leora.”
Bersambung~
__ADS_1