
Aku, Stella, Kellos, dan Lena langsung terkejut mendengar suara raungan itu. Aku langsung menghadap ke bawah, terlihat sebuah naga besar dengan wajah gusarnya menatap ke arah kami. Sontak naga itu terbang mendekati kami.
“Astaga naga apa itu?” lontar Kellos.
“N—N—N—Naga!” lanjut Lena.
“Hewan dongeng itu benar-benar ada?” ujarku tak percaya.
“Bukan saatnya terkejut melihat monster itu. Semua ambil posisi kalian!” seru Stella.
Kami langsung mengambil posisi siap. Naga itu menggerung seraya terbang mengelilingi kami. Aku yang ingin menyerangnya jadi sangat kesulitan saat sadar kalau senjataku adalah pedang.
“Aku sulit menggapainya!” lontarku.
“Aku juga!” lanjut Stella.
“Apalagi aku!” sahut Kellos dengan perisai di tangannya.
Kondisi kami benar-benar tidak mendukung saat ini. Hanya ada satu penyerang yang bisa menjangkau naga itu, namun Lena masih amat lelah setelah mengeluarkan mantra tadi.
“Mau tidak mau kita harus cepat-cepat keluar dari sini!” ucapku melihat pintu.
Tiba-tiba saja naga itu menghembuskan api panas dari mulut dan mengarah tepat di hadapanku sementara aku masih melihat ke arah pintu. Stella langsung berteriak, “Malka, awas!” sambil berlari kemudian mendorongku dengan kencang.
Suara deritan jembatan terdengar keras, disusul dengan semburan api yang mengenai sisi jembatan itu. Besi-besi yang terangkai seketika melengkung dan bewarna merah bara. Sementara Lena hanya tergeletak diam ketakutan lantas tak sanggup melihat apa yang terjadi tepat di depan matanya.
“Sepertinya aku harus naik ke atas sana,” ucapku.
“Bagaimana caranya?” tanya Kellos.
Akhirnya Stella berdiri dengan menyiapkan tangannya, sementara Kellos berada jauh dariku. Aku memberi aba-aba kepada mereka. “Sekarang!”
Aku dan Kellos berlari sekencang mungkin. Di tengah jembatan, aku menginjak tangan Stella lalu melompat ke perisai yang dibawa oleh Kellos. Pada saat yang sama, naga itu berada cukup dekat denganku. Aku terlontar dan berhasil naik ke punggung naga.
“Lumpuhkan dia, Malka!” teriak Kellos penuh semangat.
Naga yang aku tunggangi sontak memberontak untuk menjatuhkanku dari punggungnya. Aku menjadi kesulitan dan kehilangan keseimbangan. Untung saja aku bisa memeluk erat. Monster itu terbang tak tentu arah dengan sangat cepat. Aku berusaha untuk melukai naga itu dengan pedangku, namun…
“Sisiknya sangat keras! Pedangku tidak bisa menembusnya!”
“Apa kau tidak tahu titik kelemahan naga?” tanya Stella.
“Setahuku bagian yang tidak dilindungi sisik!” jawabku.
“Berarti seperti mata, rongga mulut, dan semacamnya…” gumam Kellos.
“Kalau begitu, serang matanya!” lontar Stella.
“Bergerak saja susahnya minta ampun, gimana aku menyerang matanya?”
Lena beranjak dan berniat untuk membantuku dengan tongkatnya, tapi ketinggian dan naga besar itu membuatnya ketakutan. Kellos langsung menghampiri dirinya.
“Kau tidak perlu memaksa diri…” ucap Kellos pelan sambil memeluknya. Sementara Lena tidak berkata-kata. Stella berjaga dengan pedang digenggamannya.
__ADS_1
“Sepertinya aku harus menggunakan cara itu,” ujarku. Aku mengumpulkan energi langit untuk menguatkan pedang. Di lain sisi, Lena memejamkan matanya sambil memeluk tongkat. Seketika keluar cahaya yang lebih terang daripada sebelumnya.
“K—Kau melakukannya lagi?” tanya Stella terkejut.
Cahaya itu melayang lalu masuk ke dalam pedangku. Pedang itu langsung berkilau cahaya benderang, terasa sangat ringan di tanganku. Aku menguatkan tanganku bersiap untuk menusuk punggung naga yang keras itu.
“Terrriimmma kassihh, Lennna!”
Aku menusuknya sekuat tenaga. Naga itu langsung meraung dengan sangat kencang. Ia terbang makin tak tentu arah. Seketika saja sayapnya mengenai sisi jembatan dan membuat jembatan itu hampir putus. Deritan besi-besi semakin terdengar keras.
“Pelan-pelan ke pintu seberang,” ucap Stella pada Lena dan Kellos. Mereka pun melangkah perlahan. Sementara naga semakin berontak. Aku melebarkan luka di punggungnya dengan pedang. Sontak naga itu menyembur api ke mana-mana.
“Awas!” lontarku. Mereka bertiga langsung berlindung di balik perisai Kellos.
Aku berada di atas dekat dengan langit-langit bersama naga itu. Luka itu sudah cukup terbuka. Aku mengambil ramuan lalu menuangkannya jauh ke dalam. Monster itu langsung tumbang dan jatuh tepat di atas jembatan.
“Pegangan!” teriak Stella. Semua orang berpegangan pada gagang jembatan. Aku bersiap untuk melompat dari naga itu.
Saat mendekati jembatan, aku langsung melompat ke jembatan. Namun lompatanku tidak secepat naga besar yang jatuh itu. Naga itu memutus jembatan dan membuat sisi jembatan tergantung ke dinding.
“Malka…!” teriak Stella kepadaku yang terjun melewatinya.
“Argghh!”
Tanganku masih sempat memegang ujung sisi jembatan. Sementara jembatan masih berayun ke dinding. Aku tidak bisa berada di sini lebih lama lagi.
“Ambil tali ini!” lontar Stella mengulur tali kepadaku. Aku pun memegang tali itu dengan erat seraya berayun bersama jembatan.
Jembatan menghantam dinding dengan sangat keras. Sebagian sisi jembatan yang berada di ujung seketika hancur berkeping-keping. Untung saja aku sempat menahan diriku pada dinding. Kemudian aku perlahan mendaki dinding sambil berpegangan pada tali itu. Kellos membuka pintu yang ada di depannya.
“Kau berat juga, ya. Cepatlah, aku tidak bisa menahannya lama-lama,” ujar Stella.
“Kulakukan secepat yang kubisa,” balasku.
Kellos dan Lena yang mendengar lantas ikut membantu Stella. Beberapa saat berlalu akhirnya aku berhasil menuju pintu. Aku melihat sekitar ruangan.
“Cukup gelap di sini,” ucapku.
“Seperti sudah tidak terawat,” lanjut Stella.
“Apa kita kembali ke tempat awal kita masuk?” sahut Kellos.
“Tidak mungkin, aku yakin kita berjalan lurus, tidak memutar,” jawabku.
“Kalau begitu, kita cari tangga ke atas untuk mengeceknya,” balas Stella.
Kami melangkah melewati tempat yang juga seperti labirin. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah tangga ke atas. Setelah naik ke lantai atas, suasana tempat ini benar-benar gelap. Namun mataku langsung tertuju pada cahaya titik kecil berwarna merah.
“Sembunyi!” bisikku.
“Apa ada sesuatu di depan sana?” tanya Stella.
“Ada banyak kamera pengawas di sini,” jawabku. Mereka baru sadar saat melihat sudut-sudut ruangan yang penuh dengan cahaya merah itu.
__ADS_1
“Kau benar, berarti kita berada semakin dekat dengan menara,” balas Stella.
Aku mendekatkan telingaku ke lantai.
“Tidak ada siapa pun selain kita di sini. Hanya ada kamera pengawas saja,” ucapku.
“Bagaimana kita melewatinya?” tanya Kellos.
“Sial. Kita tidak membawa alat peretas yang waktu itu pernah Gras pakai,” balasku.
“Tunggu, ke mana Lena?” tanya Kellos terkejut. Ternyata Lena tidak bersama kami. Sontak kami bertiga menjadi cemas dan melihat sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa.
“Aku di sini,” terdengar suara perempuan yang mengejutkan kami.
“Aaa! Suara apa itu?” lontarku.
“A—Apa tempat ini berhantu?” gumam Kellos gemetar ketakutan.
“Bukan. Ini aku, Lena.”
“Eh? Kau di mana?” tanya Stella sambil memalingkan kepala ke segala arah.
Aku bergerak seraya meraba yang ada di depanku. Tiba-tiba saja aku memegang sesuatu yang tak terlihat.
“Apa ini? Empuk sekali,” ucapku heran.
“Ah! J—Jangan menyentuhku!” lontar Lena terkejut malu.
“M—Maaf! A—Aku tidak bermaksud begitu!” ujarku gelagapan. Aku langsung menarik tanganku dan Lena menunjukkan dirinya. Stella datang menghampiri kami.
“Empuk? Jadi tadi kau memegang—”
“L—Lupakan! B—Bukan apa-apa…” balas Lena pada Stella.
Pada akhirnya kami lagi-lagi menggunakan “sihir” yang dirapalkan Lena. Kami semua benar-benar tak terlihat. Oleh karenanya kami saling bergandengan tangan. Tak butuh waktu lama, kami berhasil menuju pintu lainnya.
“Terang sekali di sana, dan ada beberapa petugas lewat,” ucapku.
Beberapa petugas berada tepat di balik pintu ini. Stella langsung membuka dengan cepat dan kami segera melumpuhkan mereka.
“Entah kenapa semua tempat yang kita lewati terlihat sama…” gumam Stella.
“Seingatku setiap menara ada jalan darurat. Ayo kita cari,” ujarku.
Kami berjalan di sepanjang lorong. Beberapa kali kami bertemu dengan petugas dan terjadi pertikaian. Suatu ketika, aku mendengar suara langkah dari balik dinding simpang lorong ini.
“Sshh! Ada lagi…” ucapku pelan.
Suara mereka semakin dekat. Semakin dekat… Aku langsung keluar dari balik dinding kemudian menghunuskan pedang pada mereka.
“Turunkan senjata kalian!” lontarku.
“Malka? Kenapa kau ada di sini?”
__ADS_1
Bersambung~