Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Mimpi Buruk


__ADS_3

“Permisi, kau tidak apa-apa?” tanya Harry. Aku baru tersadar kalau sedang berada di hadapan Harry. Aku menjadi sangat gugup.


“A—Aku baik-baik saja!” lontarku. Mulutku terasa tertahan untuk berkata-kata. Aku berusaha untuk tetap tenang, tapi tidak bisa. Rasa cemas dan rasa bersalah bercampur jadi satu. Hatiku penuh banyak harap agar aku tidak terkena sanksi atau apapun itu. Harry diam terheran-heran melihat tingkahku.


“Tarik napas dalam-dalam…” ujarnya. Aku mencoba untuk melakukannya dan menjadi sedikit lebih tenang.


Aku duduk dengan cakap lalu memperhatikannya. Ia juga terdiam menatapku. Seketika suasana menjadi hening. Aku tidak mengerti kenapa dia hanya diam.


“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Sontak aku terkejut mendengarnya. Aku menjadi panik. “Apa yang dia tanyakan tadi?” benakku.


“M—Maaf, apa bisa diulang, sepertinya aku kurang fokus.”


“Apa inspeksimu kemarin lancar?”


“Iya, aman terkendali. Sesuai dengan dokumen yang kau berikan waktu itu.”


“Syukurlah… Kita bisa melangkah maju ke depan,” balasnya. Aku mencoba untuk memberanikan diri. Rasa penasaranku sudah puncaknya. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” Harry mempersilakanku dan menyimaknya dengan saksama.


“Boleh kutahu dari mana kau dapat dokumen itu?”


“Mennora? Seseorang memberikan dokumen itu padaku.”


“Boleh kutahu siapa dia?”


“Aku tidak tahu namanya. Ia hanya menyebutkan kalau ia hanya membawakan dokumen itu dari tim penelitian.”


Apa dia Jack? Tapi agak janggal sepertinya kalau itu benar-benar dia. Seharusnya mereka sudah saling kenal. Apa ini rencana mereka? Kalau seperti itu, berarti Harry sudah tahu semuanya?


Semua pikiran dan prasangkaku berputar-putar di kepalaku. Tidak baik rasanya jika terus berpikir negatif. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Harry kembali heran dengan tingkahku. Kepalaku menjadi pusing karenanya. Terasa berat dan pandanganku menjadi buram. Aku menahan kepalaku, tapi sepertinya sudah tak bisa.


“Malka!” seru Harry khawatir. Pandanganku menjadi hitam semua.


Saat aku membuka kedua mataku, terlihat langit-langit dan lampu di hadapanku. Ternyata aku sedang berbaring. Aku memandang sekitar. Tempat yang asing bagiku. Seperti di ruang rawat. Apa aku sedang berada di rumah sakit? Tidak lama, datang seorang wanita dengan seragam seperti dokter menghampiriku.


“Sudah merasa baikan?”


“Iya…” Aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba rasa sakit muncul. “Berbaring saja, sepertinya kau belum pulih sepenuhnya.”


“Apa aku di rumah sakit?” tanyaku heran. Ia tersenyum dan menggeleng pelan ke arahku. “Tidak, kau tidak sedang di rumah sakit…”


“Kau masih berada di tempatmu bekerja, ini ruang kesehatan. Terlihat mirip rumah sakit, ya?”


Aku baru tahu kalau kantor ini juga memiliki ruang kesehatannya sendiri. Tampak seperti rumah sakit. Dengan peralatan dan fasilitas lengkap, pastinya orang akan mengira kalau ini adalah rumah sakit.


“Oh iya, aku di sini sebagai dokter. Jika kau merasa kurang baik, datanglah kemari.”


Pintu terbuka. Ternyata Jack yang datang ke sini. “Apa aku boleh ke dalam?” Dokter itu mempersilakannya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi denganmu? Kau baik-baik saja, kan?”


“Aku tidak apa-apa. Tadi aku bertemu dengan Harry dan dia— ah—” Tiba-tiba kepalaku menjadi sangat sakit. Dokter menenangkanku. “Maaf, sepertinya dia harus istirahat,” ucap sang Dokter kepada Jack.


“Istirahat yang banyak, Pak. Kutunggu kehadiranmu di kantor.” Ia pun keluar dari ruangan.


“Kenapa aku menjadi seperti ini?” gumamku.


“Kau terlalu banyak pikiran dan stress, sebaiknya tenangkan dirimu dan beristirahatlah,” jawabnya. Aku memejamkan mataku, lalu terlelap tidur.


Pandanganku gelap. Beberapa saat kemudian semula buram kini terlihat jelas. Harry sudah berada di hadapanku. Aku sedang di ruangannya. Wajahnya tampak sangat serius. Aku menjadi ketakutan melihatnya.


“Bisa kau jelaskan?”


“M—Maaf, maksudnya?” Ucapanku menjadi terbata-bata lagi. Suasana di sini amat dingin, aku sampai bercucuran berkeringat.


“Tidak etis melemparkan pertanyaan kepada atasannya yang sedang bertanya.”


“A—Aku tidak mengerti apa yang Anda bicaraka—”


“Mennora. Kenapa dokumen itu tidak kau tunjukkan saat rapat?”


“M—Memang tidak ada waktu itu. Ada kesalahan sistem saat mendapat data dari tim penelitian." Rasa yang kualami sekarang seakan-seakan sebilah pisau tajam sudah menyentuh leherku.


“Tidak ada… atau kau yang meniadakannya?” Aku terdiam tanpa kata-kata. Harry beranjak dari kursinya lalu berjalan pelan di sampingku.


“Benar-benar tidak ada. A—Aku yakin itu.” Harry kembali duduk lalu mengambil sesuatu dari lacinya.


“Ini.” Ia menunjuk-nunjuk dokumen yang sudah tergeletak di atas meja itu. “Dokumen yang kau sembunyikan.”


“A—Aku tidak menyembunyikannya!”


“Tapi jelas-jelas aku menemukannya di mejamu.” Aku benar-benar terdiam bagai patung. Dadaku terasa sesak, napasku tak beraturan.


“Silakan keluar dari ruanganku.” Ia beranjak lalu membuka pintu. “Kita ketemu lagi di sini pukul empat nanti.” Aku bergegas untuk mengejarkan.


“Maaf, Pak, aku tidak bermaksud begitu.”


“Pembelaan? Akan kudengarkan,” sahutnya.


“Di sana dekat dengan pemukiman orang-orang dan bisa saja menara itu tidak baik untuk lingkungan—”


“Kita sudah siapkan rencana relokasi kalau perlu.”


“Tapi, tempat itu sangat penting— kalaupun direlokasi, masyarakat belum tentu bersedia—”


“Anggaran banyak. Kita bisa buat desa yang lebih baik dari itu.”

__ADS_1


“Tapi di sana ada banyak tempat sejarah!” Aku sudah terjebak dan hanya itu yang bisa ku katakan.


“Bersejarah bagi hidupmu, ya?” balasnya tersenyum. “Baik, pembelaan berakhir, terima kasih.” Ia pergi meninggalkanku. Aku kembali meyakinkannya. Hingga akhirnya ia masuk ke sebuah ruangan lalu menguncinya. Aku hanya bisa menunggu di luar. Ketika ia keluar, aku langsung menghampirinya.


“Pak, kumohon…”


“Sepertinya pertemuan kita percepat saja. Ini surat untukmu. Terima kasih untuk semua dedikasimu selama di sini.”


“Pak! Pak!”


“Kumohon berikan aku satu kesempatan lagi!” Aku ditahan oleh beberapa petugas keamanan. “Dengarkanlah aku!”


“Pak…!”


Seketika aku terbangun. Pandanganku kosong ke depan.


“Malka?” Terdengar suara dari sebelahku.


Ternyata Harry.


Pandanganku langsung menggelap lagi.


“Malka!”


Aku membuka mataku, pikiranku kosong.


“Aku di mana?”


“Malka! Untungnya kau sudah sadar, Nak!”


“Ibu? Apa yang terjadi?”


“Itu tidak penting, yang penting kau baik-baik saja…” Ayah dan Jack yang juga ada di sampingku. Tanpa sadar air mata keluar dari mataku. Ibu menggenggam tanganku sembari menenangkanku.


“Tidak apa-apa, semua ‘kan baik-baik saja…”


Jack mendekatiku, wajahnya terlihat sedih.


“Maafkan aku atas kejadian waktu itu. Itu benar-benar di luar dugaanku.” Aku mendengarkannya. “Tenang saja, Harry sudah mengerti. Kau akan baik-baik saja.”


Tanganku tersuntik infus, lalu seorang dokter masuk ke dalam ruangan. Ia merubah posisi tempat berbaringku. Sekarang kepalaku berada lebih rendah. Entah kenapa kepalaku terasa ringan dan sejuk. Ayah, Ibu, dan Jack pamit padaku karena hari sudah semakin larut.


“Semoga lekas pulih,” harap Jack.


Aku merasa tenang dan segala pikiran di kepalaku langsung lenyap. Namun ada rasa yang mengganjal di hatiku.


Aku harus minta maaf pada Harry secepatnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2