Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Tur Kecil


__ADS_3

Wuah… Mataku masih sulit terbuka. Pandanganku berbayang-bayang. Aku mengucek kedua mata, akhirnya perlahan terlihat jelas. Langit-langit bercahaya sebuah lampu. Cahaya mentari biasanya memaksaku bangun, tapi kali ini ia tidak hadir. Apakah yang lain sudah bangun? Aku memalingkan kepala ke samping.


“Inilah kalau kau begadang hingga larut malam,” ucap seorang wanita.


Suara siapa barusan? Jelas-jelas kamar ini hanya ada aku, Lukas, dan Zilei. Apa aku masih bermimpi? Mereka berdua tidak ada di sini…


Tiba-tiba pipiku terasa hangat. Aku jadi mengantuk lagi karenanya. Pandanganku perlahan menggelap.


“Aduh, aduh, aduh,” lontarku pelan. Sedari rasa hangat seketika ada yang menepuk-nepuk pipiku.


“Sempat-sempatnya mau tidur lagi. Ini sudah mau siang, lho.”


Aku melompat saat sadar melihat dirinya.


“S—Sara! Apa yang kau lakukan di sini?”


“Ayolah. Apa kau benar-benar ingin seharian di kamar saja?” balas Sara.


“Ke mana yang lain?” tanyaku.


Kemudian terdengar suara keributan dari kamar sebelah, yang tidak bukan ialah kamar Sara, Leora, dan Alya. Sara memberi handuk hangat kepadaku. Setelahnya kami berdua pergi ke sumber suara itu.


“Apa yang terjadi di sini?” ujarku pelan.


“Aku mau jalan-jalan dulu! Kita juga masih lam— oh, selamat pag— siang, Malka!” sapa Leora sambil memegang baju Alya.


“Kenapa ramai-ramai seperti ini?” lanjutku.


“Leora ingin kita berkeliling di kota ini,” jawab Alya.


“Benar! Aku tidak mau kita buang-buang kesempatan di kota ini! Sebelum hal buruk terjadi!” lontar Leora bersemangat dan.


“Keras kepala sekali,” sindir Zilei.


“Apa kalian tidak ingin menemaniku seorang saja?” ucap Leora sedih.


“Bukan begitu. Aku dan Lukas akan membahas rencana selanjutnya dan mempersiapkan peralatan,” jawab Alya.


“Kalau Ziliei?”


“Aku ada urusan. Lebih baik aku pergi sekarang,” jawab Zilei lalu bergegas pergi. Leora menatap Sara dengan mata memohon.


“Aku sudah ada janji dengan seseorang. Ah, sudah waktunya aku pergi juga.” Sara menjadi yang kedua pergi meninggalkan kami.


“M—Malka…?”


“Y—Yah, aku tidak ada rencana apa-apa, sih…”


“Benarkah? Yey! Ayo kita pergi!” seru Leora. Ia berlari sambil menggenggam tanganku erat. Aku sampai terkejut dibuatnya.

__ADS_1


“P—Pelan-pelan Leora! Aku tidak akan ke meninggalkanmu, kok.”


“Selamat bersenang-senang!” sahut Alya dari dalam kamar.


Sungai dan perahu menjadi pemandangan yang mencolok sesaat kami keluar dari penginapan. Ia memanggil seseorang di sebuah perahu layar itu. Perahu itu benar-benar berhenti, lalu Leora mengajakku untuk menaikinya.


“Apa kita boleh menaikinya?” tanyaku padanya.


“Tentu, alat transportasi di sini ya perahu ini,” jawabnya.


“Kalian ingin pergi ke mana?” tanya pengendara ramah.


“Hmm… Aku bingung. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?” balas Alya kemudian tiba-tiba bertanya kepadaku. “Kenapa tiba-tiba bertanya padaku? Bukankah kau sudah membaca buku tentang kota ini?” lanjutku.


“Apa kalian baru datang di sini?”


“Ya, kita baru saja tiba kemarin. Dan ini kali pertama kita ke sini,” jawab Leora.


“Kalau begitu, aku ada beberapa tempat rekomendasi untuk berwisata. Apa kalian berkenan?” lanjut pengendara perahu.


“Baiklah, kita ingin sebuah tur kecil darimu!” balas Leora menggebu-gebu.


Perahu itu pun berlayar perlahan menjauh dari tepi sungai. Sejauh mata memandang ke depan penuh dengan perahu-perahu. Pengendara perahu itu memberi penjelasan tentang kota ini, seakan-akan sedang mengikuti tur.


“Sebelumnya selamat datang di kota Riveure, ‘Kota Sungai’. Hampir separuh lebih kota ini berupa sungai. Kota ini seperti jantung, dan sungai-sungai adalah pembuluhnya. Menghubungkan ke semua kota di sekelilingnya.”


Aku mendengarkan sambil melihat ke kanan dan kiri. Benar-benar memanjakan mata. Sementara Leora asyik dengan telepon genggam yang ia gunakan untuk memotret-motret.


Terlihat sebuah jembatan berbentuk unik di depan sana. Bentuknya seperti perahu yang sedang kami naiki. Orang-orang meramaikan tempat itu dan berfoto-foto di sana.


“Itu Jembatan Patorani. Apa kalian ingin mampir sebentar?”


“Apa boleh? Aku ingin berfoto-foto juga di sana!” jawab Leora.


Kami menepi, kami bertiga pergi ke jembatan itu. Beberapa kali kami meminta pengendara itu untuk mengambil foto kami. Jembatan ini sangat lebar. Jalan, trotoar, restoran, bahkan penginapan mewah ada semua di sini. Sungguh amat serupa dengan perahu.


Setelah itu kami melanjutkan pelayaran. Jika dilihat-lihat, ada banyak kanal kecil tempat perahu kecil keluar masuk.


“Berarti banyak rumah di pinggir kanal-kanal itu?” tanyaku.


“Iya. Dan kendaraan mereka adalah perahu itu,” jawab pengendara.


Kemudian tibalah kami di sebuah bagian sungai yang melebar berbentuk seperti lingkaran. Terdapat sebuah menara patung di tengahnya. Ada sangat banyak perahu di sini. Di sekelilingnya ada beberapa cabang sungai.


“Ini adalah alun-alun kota. Semua aktivitas berpusat di sini.”


Jika dilihat-lihat, ditepinya berjajar bangunan yang lebih besar dan megah dari sebelumnya. Kami tidak melewati kesempatan untuk berfoto di depan patung itu.


Tempat selanjutnya yang kami kunjungi ialah pasar terapung. Orang-orang melakukan jual beli dari atas perahu. Suasana di sini cukup padat. Perahu terus berlayar dan keluar dari pasar itu.

__ADS_1


Tampak sebuah kanal yang cukup lebar, menghubungkannya dengan pelabuhan. Banyak perahu yang keluar masuk dari sana. Lalu kami melewati sebuah persimpangan. Tiba-tiba saja perahu yang kami naiki berhenti.


“Kenapa kita berhenti?” tanya Leora.


“Sedang lampu merah.”


Yang benar saja, di atas sungai ada lampu merah juga? Aku dan Leora tidak menyangka sama sekali. Perahu-perahu itu benar-benar berhenti berjajar menunggu gilirannya lewat.


“Apa kalian tidak sadar selama ini kita berlayar di sebelah kanan?” tanya pengendara.


“Jadi sebelah kiri ini untuk arah sebaliknya?” balasku.


“Iya.”


Fungsi sungai ini sama persis dengan jalan yang biasa dilalui kendaraan. Baru pertama kali aku melihat “jalan” seperti ini.


Lagi-lagi sungai melebar namun hanya ke sebelah kanan. Terlihat sebuah tempat duduk penonton yang tinggi dan bentukknya setengah lingkaran. Tempat itu menghadap ke sungai. “Apa itu?” tanya Leora.


“Itu teater. Setiap akhir pekan akan ada pentas yang ditampilkan di sini.”


“Tapi, di mana panggungnya?” lanjutku.


“Biasanya di atas perahu. Atau bisa juga dengan rakit yang sangat lebar.”


“Rakit? Bukankah itu rentan jika ada ombak dari perahu yang melintas?” balasku.


“Makanya di sana ada sekat tipis. Kalian melihatnya, kan?”


“Wah, benar…” gumamku.


“Oh iya. Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari ulang tahun kota ini,” ucapnya mengejutkanku dan Leora.


“Benarkah? Poster-poster itu…”


Aku baru sadar kalau banyak poster yang bertuliskan hari ulang tahun. Sejak awal pandanganku sering teralihkan oleh banyak hal yang menarik.


“Malam ini, akan ada festival di sepanjang sungai. Lalu ada pentas teater di sana. Jangan lupa untuk menontonnya, ya,” paparnya.


“Ayo kita ajak yang lainnya nanti malam!” lontar Leora.


Hari mulai memasuki petang, kami melewati menara Knox yang berada di tengah pulau itu. Kami hanya sekedar melintas hingga akhirnya pelayaran kami terhenti karena sudah di ujung kota. Ada sebuah benteng besar dan pintu masuk melintang di atas sungai.


“Kita sudah sampai di gerbang kota. Masih ingin ke tempat lain atau kembali?”


“Sepertinya kita sudahu dulu tur kecil kita,” jawabku.


“Kita akan melewati jembatan itu lagi. Sangat indah melihat matahari terbenam dari sana. Matahari itu akan ada di atas sungai ini,” lanjut pengendara.


Leora semakin bersemangat mendengarnya.

__ADS_1


“Aku tidak sabar untuk melihatnya!”


Bersambung~


__ADS_2