Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Tikus Percobaan


__ADS_3

Suasana hening seketika. Aku masih terheran-heran dengan sosok Harry yang tersambung banyak selang. Aku menatap serius pada Knox.


“Apa yang kau lakukan pada Harry?”


“Wah, kau tidak menanyakan kabar kolega— maksudku ‘Presiden Perusahaan’ ini?”


Aku merasa jengkel melihat tingkahnya yang tampak sombong itu.


“Melihatmu saja aku sudah tahu jawabnya.”


Tiba-tiba saja terdengar suara senjata tepat di belakang kami. Ternyata puluhan petugas sudah mengarahkan senjatanya pada kami. Sontak kami reflek mengambil posisi siap melawan kapan saja. Wajah Knox menjadi serius kemudian mondar-mandir jauh di depan kami. Langkah sepatu amat terdengar dari sana.


“Apa yang terjadi pada Harry? Sebentar lagi kalian akan melihatnya. Aku sangat berterima kasih pada kalian yang sudah datang tepat waktu. Yah, meskipun sedikit terlalu cepat…”


“Apa maumu?” lontarku geram padanya.


“Mauku? Huh, mudah saja. Tapi pertama-tama, kalian harus pemanasan dulu…”


“Serang mereka!”


Aku terkejut mendengarnya yang tiba-tiba teriak begitu. Petugas-petugas itu langsung menarik pelatuk senjata. Aku sempat menghindarinya, namun tidak dengan Kellos. Ia yang melindungi Lena lantas terkena gelombang pelumpuh di kanan kakinya.


“Aku akan ke sana!” teriak Gras sambil berlari menghampirinya.


“Jangan!” balas Kellos.


Seorang petugas membidikkan senjata tepat ke arah Gras akan pergi. Aku yang sedang bertarung hanya bisa melihatnya sekilas-sekilas. Aku ingin memberitahunya, tapi sepertinya sudah terlambat.


“Menunduk!”


Ellie langsung memeluk Gras dan mendorongnya ke belakang.


“Maaf aku tidak menyadarinya…” ucap Gras merasa bersalah, sementara Ellie langsung beranjak dan melawan para petugas yang berada di sekitarnya.


Dorongan Ellie pada Gras itu membuat tas yang dibawa Gras terlempar cukup jauh. Gras ingin menggapainya, namun terhalang oleh petugas-petugas yang siap menembaknya. Gras terlihat tidak bisa apa-apa tanpa tasnya itu. Aku langsung menghampirinya.


“Tetaplah di belakangku,” ujarku.


Aku melawan mereka yang terus menembakkan gelombang pelumpuh bertubi-tubi. Aku sedikit kewalahan untuk menghindarinya.


“Mundur sedikit ke belakang, Malka!”


Aku mengikuti perkataan Gras walaupun tak tahu apa maksudnya. Saat aku mundur ke belakang, Gras langsung melempar sebuah ramuan ke arah mereka.


“Uhuk, uhuk!”


Asap aneh langsung keluar dari botol ramuan yang pecah itu. Mereka tak melakukan apa pun selain batuk-batuk. Aku rasa ini saat yang tepat untuk menyerang mereka.


“Tunggu sebentar! Kau akan kena efeknya juga nanti,” ujar Gras. Aku baru sadar kalau asap itu masih melayang-layang di sekitar mereka. Kemudian terlihat cahaya terang yang menyelimuti mereka. Aku memandang arah cahaya itu berasal. Aku baru ingat kalau cahaya ini berasa dari Lena. Lagi-lagi para petugas itu dibuat tertidur olehnya.


“Hah… Hah… Mereka banyak sekali…” tutur Lena kelelahan.


Setelah melewati ombak petugas yang tak ada habisnya, akhirnya aku bisa menarik napas sejenak. Tersisa Knox sendiri di hadapan kami. Sontak ia tepuk tangan dan menyeringai menyaksikan kami.


“Aku cukup menikmati aksi kalian,” ujarnya seraya mundur perlahan.


“Me… nyerah… lah…” hembusku terengah-engah.


“Optimasi Raga Berhasil. Seluruh Proyek Selesai.”


Lagi-lagi suara aneh itu kembali terdengar ke seluruh ruangan. Aku menghadap ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada hal buruk terjadi. Seperti orang panik.

__ADS_1


“Apa maksudnya dari ‘optimasi’ itu?” tanyaku pada Knox.


“Sesuai namanya saja. Seharusnya kau sudah tidak asing dengan ini, bukan?”


Optimasi? Raga? Aku memang sering mendengar kata optimasi selama aku bekerja di perusahaan ini dulu. Sering terdengar saat sedang pemasangan alat-alat besar. Tapi kali ini aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sini—


Tunggu, sepertinya aku sudah mulai mengerti—


“K—Kau bereksperimen pada Harry? Anakmu sendiri?” tanyaku tak percaya.


“Dia juga menginginkannya.”


Aku benar-benar tak habis pikir dengan semua yang mereka lakukan. Jelas-jelas eksperimen langsung pada manusia sebagai kelinci percobaan menyimpang dari etika. Aku yakin kalau banyak ilmuwan di luar sana yang tidak tahu dengan eksperimen ini.


“Kau penasaran dengan hasilnya? Sekarang saatnya kalian yang kujadikan alat percobaan dari penemuanku!”


Knox menekan sebuah tombol. Sontak terdengar suara sirine dan peringatan. Lampu merah berkedap-kedip membuat suasana mencekam. Asap disinfektan menyelimuti ruangan ini. Derik peralatan terdengar di mana-mana.


“Pelepasan Objek. Sterilisasi Menyeluruh Dinyalakan.”


“Selamat bersenang-senang dengan kawan lamamu, Malka,” ujar Knox pergi bersama para ilmuwan.


Aku menjadi panik dengan situasi sekarang. Tubuhku tergerak untuk mencari pintu keluar. Sayangnya, semua pintu sudah tertutup rapat. Kami hanya bisa menyaksikan Harry yang bangkit dari kejauhan. Tubuhnya masih tersambung dengan banyak selang.


“Aku merasakan aura monster darinya, padahal tubuhnya sama seperti manusia biasa…” gumam Leora.


Perlahan sosoknya semakin mendekat dan mulai terlihat jelas. Tiba-tiba saja Ellie menutup kedua mataku.


“Kenapa kau menutup mataku?” tanyaku heran.


“Maaf, pandangan ini tidak baik untuk anak-anak. Tanganku bergerak sendiri,” jawabnya kemudian menurunkan tangannya.


“Hahaha… Lama tak berjumpa, Malka…”


“Bisakah kau berpakaian dulu?” ucap Gras.


“Jangan khawatir…” Ia mengulurkan telapak tangan, terlihat asap hitam berbentuk bulat melayang-layang di atas tangannya itu. Wajahnya tampak senang sembari melihat asap, kemudian memandang kami dengan tatapan tajam dan tersenyum.


“Akan kubuat kalian melihat diriku untuk terakhir kalinya…”


Gras melontarkan alat kejut dari ketapel miliknya.


“Buzztt!”


Alat itu lenyap seketika oleh asap hitam aneh itu.


“A—Apa-apaan itu…?” gumam Ellie tercengang.


Ia mengendalikan asap aneh itu dari jarak jauh. Terlihat hanya tangannya saja yang bergerak. Ia kembali melihat tangannya dengan tatapan senang tak percaya.


“B—Benar-benar bekerja… Semuanya berhasil!”


“Kenapa kau melakukan semua ini? Apa tujuanmu?” gerutuku.


“Tujuanku? Kenapa aku harus memberitahumu?”


Amarahku semakin tak terbendung melihat tingkahnya yang angkuh dengan “kekuatan” barunya itu.


“Dasar manusia tak punya akal…!” teriakku sambil berlari menyerangnya.


Tiba-tiba asap pekat itu melayang cepat menyelimutiku. Aku sama sekali tidak bisa melihat. “Aaarggh!” lontarku seraya berusaha melepas asap itu.

__ADS_1


“Ti—Tidak mungkin…” gumam Ellie.


“A—Aku melayang?” tanyaku. Aku langsung memberontak untuk lepas dari kekangan Harry.


“Kau sungguh ingin kulepaskan?” tanya Harry.


“Jangan sok, dasar monster!” Ellie berlari bersama tongkatnya. Seketika saja ia terhempas oleh asap itu jauh ke belakang.


“Ellie!” teriakku cemas.


“Uhuk!” Sebercak darah keluar dari mulut Ellie, namun ia langsung bangkit dan kembali menyerang Harry. Lagi-lagi ia dibuat tak berdaya oleh asap itu.


Lena dan Kellos langsung menghampiri Ellie.


“Aku akan menyembuhkanmu…” tutur Lena. Di lain sisi, Gras melempari Harry dengan segala jenis ramuan pelumpuh yang ada di tasnya.


“Enyahlah, monster!”


Semua botol yang ia lempar langsung pecah di udara.


“Aku harus memberi pelajaran pada mulut kasarmu itu,” ujar Harry kesal.


“Gras! Mundur!” teriakku.


“Oh iya, aku lupa kau masih di atas sana,” lanjutnya melihatku. “Baiklah, aku akan melepaskan temanmu,” ucapnya pada Gras.


“Aaaa!”


“Bukk!”


Aku membentur Gras dengan sangat keras. Seluruh tubuhku penuh rasa sakit dan tak bisa digerakkan. Kurasa beberapa tulangku patah.


“Malka! Gras!” teriak Lena.


“Sekarang kami yang akan menyerangmu!” bengis Kellos.


“J—Jangan!” seru Ellie kesakitan.


“Huh, coba saja,” ujar Harry menyeringai.


Kellos memasang perisai di depan, dan Lena melebarkan serangannya dengan cahaya seperti yang sudah sudah.


“Seranganmu saja lebih lemah dari teman-temanmu.”


Lena sudah kehabisan tenaga. Ia hanya berlutut kelelahan. Harry langsung melancarkan serangan. Sontak Kellos memeluk Lena.


“Eh? Apa kalian sudah sampai batasnya?” tanya Harry. Mereka berdua digenggam oleh Harry menggunakan asap itu.


Diam-diam, Lena mengeluarkan energi langit tak kasat mata dari tongkatnya.


“Aaahh! Mataku!” teriak Harry. Seketika mereka berdua terlempar sangat kencang ke sebuah pilar.


“Gedebum!”


Suaranya amat menggelegar seperti ledakan.


“Kellos! Lena!” teriakku. Mereka tergeletak tak sadarkan diri.


Bebatuan jatuh tepat di hadapanku. Ternyata langit-langit ruang ini mulai runtuh. Pandanganku semakin samar. Sosok Harry seperti melayang di udara.


“Selamat tinggal, Tikus Percobaan…”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2