Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Tur Keliling Kota


__ADS_3

Selama perjalanan aku melihat sekelilingku. Aku yang norak berpindah ke kiri dan ke kanan jendela. Suasananya sangat berbeda dengan Mennora. Jalanannya yang bukan berlandaskan tanah kering dan gedung-gedungnya yang kokoh bukan terbuat dari kayu. Kali ini tempat yang kutuju pertama kali adalah pasar kota. Kata Goi, di sana sangat ramai dan menjual apapun yang mungkin tidak ada di desa.


Setelah sampai, Goi memarkirkan Triklyo-nya dan mempersilahkanku untuk melihat-lihat pasar ini. Sedangkan ia hanya menunggu di sini. Aku yang sempat mengajaknya juga namun ia menolaknya, karena takut merepotkanku yang akan mengeksplor tempat ini.


Di depan pasar terdapat sebuah gerbang selamat datang yang di gantungkan dengan lampu-lampu tradisional. Karena hari masih terang, jadi lampu tersebut belum dinyalakan. Aku cukup penasaran dengan suasana pasar ini saat malam hari. Tertulis di papan itu bahwa pasar ini buka sehari semalam penuh. Benar, kota ini tidak pernah tidur.


Kemudian aku masuk melewati gerbang itu dan melihat barisan-barisan penjual yang berjajar dengan rapi. Orang-orang yang lalu lalang berjalan serta para penjual yang berteriak menawarkan dagangannya. Tak sedikit juga mereka memberi sedikit sampel makanannya untuk dicicipi. Aku yang berjalan terus semakin ke dalam pasar.


Restoran, bar, toko-toko, bahkan sampai pedangang kecil ada di sini. Aku sangat terkesima dengan suasana pasar ini. Berbeda jauh dengan desa. Di pasar ini tak hanya di ramaikan oleh golongan tua saja, namun orang-orang muda sepertiku juga banyak di sini. Terlihat gadis-gadis yang sedang berjalan dan pemuda-pemuda yang pergi menuju bar.


Aku melihat ada sebuah tempat pertunjukan di sana. Ada para perempuan cantik nan elok yang menyambut tamu di depannya. Saat aku melewatinya, aku terhenti karena dihalau oleh mereka.


“Hai pria tampan. Tertarik masuk ke dalam?” goda salah satu dari mereka yang menghalangi jalanku.


“A—…” balasku namun mulutku dibungkam dengan jari telunjuk yang menempel di bibirku.


“Spesial untukmu, kau boleh menikmati apa saja di dalam,” ucap salah satu dari mereka dengan jari telunjuknya menutup bibirku.

__ADS_1


Tiba-tiba aku ditarik oleh mereka ke dalam tempat pertunjukkan ini. Aku sendiri tidak tahu pertunjukkan apa yang ditampilkan di sini. Saat di dalam aku disambut oleh resepsionis. “Penginapan di dalam pasar?” tanyaku di dalam kepalaku.


Entah dari mana asalnya tiba-tiba namaku sudah ada di dalam reservasi itu. Aku sontak terkejut melihatnya. Kemudian perempuan-perempuan itu membawaku masuk ke sebuah ruang pertunjukkan. Ku lihat banyak sekali gadis yang menggunakan pakaian yang sedikit vulgar. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi.


Di dalam ruangan ini terdapat sebuah panggung besar di depan, sofa-sofa yang empuk dan nyaman, serta meja untuk menyajikan makanan. Tak lupa dengan gadis yang menemaniku di sisi kanan dan kiri. Aku dibawa ke sebuah tempat duduk yang sudah dipesan atas namaku. Aku sendiri bingung siapa yang memesannya.


“Apa ini termasuk layanan dari tempat aku menginap?” pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benakku.


Setelah aku duduk, aku langsung terkejut lagi karena mereka ikut duduk di sampingku. Mereka menempel pada tanganku sehingga aku merasakan setiap lekuk tubuhnya. Pipiku langsung memerah dan rasanya aku hampir mual. Mereka juga memijit-mijit pelan lengan-lenganku. Aku tidak bisa menahan semua ini.


Setelah makanan telah dihidangkan, tak lama kemudian pertunjukkan dimulai. Pertunjukkan yang ditampilkan merupakan tarian yang eksotis dan menawan. Setiap gerakannya seperti memiliki maknanya masing-masing. Tarian ini juga mengikuti tema yang berubah setiap harinya. Tema kali ini adalah binatang. Mereka menggunakan kostum dari beberapa hewan yang ada di planet ini. Namun tetap saja, kostum itu menurutku cukup terbuka.


Pertunjukaan diakhiri dengan penampilan penutup yang lebih meriah dari sebelumnya. Aku terpana dengan pertunjukkan mereka. Tak jarang juga sesekali mulutku menganga karena keindahan pertunjukkan ini.


Tak terasa pertunjukkan sudah selesai. Aku diantarkan keluar dan diberi minuman penutup. Aku merasa sedikit pusing dan lemas setelah pertunjukkan tadi. Aku berjalan pelan dan meninggalkan tempat tersebut. Tak lupa mereka mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Aku yang masih lemas dan memegang gelas minuman tersebut, lantas aku meminumnya. Tiba-tiba rasa penat semua yang ada diriku hilang. Aku menjadi bisa mengelilingi pasar ini lagi.


Aku sudah ada di dekat pintu gerbang pasar sisi seberangnya. Tak terasa aku sudah melihat dan melewati pasar bagian dalam. Kemudian aku kembali ke gerbang awal aku masuk. Dan bersiap melanjutkan tur.

__ADS_1


Di dalam perjalanan, aku menceritakan apa yang kualami di pasar itu. Goi yang mendengarkanku hanya tersenyum dan tertawa kecil. Mungkin menurutnya ini hal yang lucu karena reaksiku yang pertama kali menyaksikan pertunjukkan tersebut. Aku juga menanyakan tentang reservasi yang telah tertulis atas namaku. Dan benar saja, Goi berkata bahwa tur kali ini juga sudah memesan beberapa tempat untukku yang ingin mengenal kota ini.


Kali ini Goi membawakanku menuju sebuah restoran yang terkenal di kota ini. Menurutnya restoran ini tidak kalah enaknya dengan restoran-restoran mewah di Centra. Goi menceritakan pengalamannya menyantap hidangan di sana. Aku hanya mendengarkan sambil melihat-lihat kota ini dari dalam jendela.


Kami sudah sampai di restoran yang terkenal itu. Goi memarkirkan kendaraanya di lantai bawah tanah. Sebelum itu ia menurunkanku di pintu utama. Di sana sudah ada karpet merah yang tergelar. Aku disambut oleh pelayan yang ramah dan baik. Aku diantarkan ke sebuah meja yang lagi-lagi sudah ada namaku di sana. Kemudian aku duduk di meja yang telah disediakan.


Pelayan tersebut tidak memberikanku buku menu sama sekali. Ia berkata bahwa aku hanya perlu menunggu dan hidangan istimewa akan datang kepadaku. Sambil menunggu ada seorang pianis yang memainkan piano dengan merdu dan elegan. Aku mendengarkan dan menikmati setiap ketukan piano yang dimainkannya. Sungguh permainan musik yang mengesankan.


Tak lama seorang pelayan membawa hidangan yang masih tertutup. Kemudian hidangan tersebut diletakkan di meja. Cara penyajian dan menyantapnya seperti dengan table manner. Hidangan pertama yang disajikan adalah makanan pembuka. Hidangan tersebut berisikan roti riunbread yang dimodifikasi menjadi hidangan mewah. Aku menyantapnya perlahan dengan rapih dan sopan sampai tak ada yang tersisa. Di samping hidangan ini ada juga minuman anggur yang manis dan lembut.


Kemudian dilanjutkan dengan hidangan utama yang sangat mewah sampai-sampai sayang untuk disantap. Yang terakhir ditutup dengan hidangan penutup yang segar. Betapa beruntungnya aku. Padahal aku tidak membawa uang sepeserpun. Berawal dari niatku yang hanya ingin mengelilingi kota dengan berjalan kaki namun aku diberikan sebuah tur yang sangat mengesankan dan tak terlupakan ini.


Setelah semuanya selesai, aku diantar oleh pelayan menuju pintu utama lagi. Di sana sudah ada Goi dengan kendaraannya menungguku. Aku keluar dari pintu dan berjalan di atas karpet merah tersebut menghampiri Goi. Setelah aku masuk ke dalam, Goi melanjutkan perjalanan tur kota yang singkat namun tidak terlalu singkat.


Langit sudah menampakkan warna jingganya. Mentari mulai meredup dan sudah banyak lampu-lampu kota yang menyala. Tur pada hari ini diakhiri dengan tempat persinggahan terakhir, yaitu taman kota.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2