
Petugas itu langsung tak sadarkan diri, walaupun sempat mengeluarkan suara. Untung saja suara tersebut tak terlalu kencang untuk membisingkan sekitar.
Kami perlahan semakin dekat dengan pintu masuk. Terdapat sebuah menara pengawas kecil, menyorotkan lampu sorot dengan sangat terang. Petugas di depan sana bolak-balik dengan senjata yang sama dengan milik kami.
“Bagaimana? Kita tidak bisa melumpuhkan mereka sebelum pengawas dahulu,” ucap Zilei. Kami terdiam berpikir untuk menemukan sebuah cara.
“Mau tidak mau, kita harus dahulukan pengawas itu,” balas Alya.
“Kita butuh dua orang ke sana,” lanjutku.
“Kenapa tidak seorang saja?” tanya Leora.
“Akan mencurigakan kalau lampu sorot itu berhenti bergerak. Setidaknya butuh satu orang untuk menggerakkannya,” jawabku.
“Kalau begitu, kalian berdua saja yang pergi,” ujar Lukas.
Aku dan Zilei berpisah dengan mereka, lalu mengendap memutari tepian halaman di balik semak-semak. Sebuah tangga panjat yang akan berisik jika dipijak.
“Jangan sampai bersuara,” bisik Zilei.
Memanjat tangga satu demi satu, kami berusaha meredam suara sekecil mungkin. Membuatku sangat tegang. Sampai-sampai aku bisa mendengar napasku sendiri. Zilei berada di atasku, perlahan mengendap menuju belakang pengawas itu terlebih dulu, kemudian disusul olehku.
Zilei memberi aba-aba hitung mundur dengan jarinya. Hanya ada satu petugas di atas sini. Saat jarinya mengepal kami langsung bergerak. Zilei mengurus petugas itu, sementara aku langsung mengambil lampu sorotnya.
“Kau tetap seperti ini dulu, aku akan menghampiri yang lain?” ucap Zilei.
“Eh? Sendirian saja?”
“Memangnya ingin ramai-ramai? Saat di bawah sana sudah bersih, kau langsung datangi kami,” balasnya kemudian turun ke bawah. Aku tetap menggerakkan lampu itu.
“Yah… setidaknya ini lebih mudah daripada harus berurusan dengan petugas itu…”
Terlihat dari atas teman-temanku yang berjalan sembunyi-sembunyi ke belakang petugas itu, lalu melumpuhkan mereka. Leora melambaikan tangan ke arahku. Terdengar suara teriak dari mulutnya, untuk Zilei langsung menutupnya. Terkejut diriku hampir membuatku panik.
Seketika terdengar suara orang berlari dari dalam menara. Teman-temanku langsung bersembunyi di samping pintu itu. Saat pintu terbuka, aku menggerakkan lampu.
“Tidak ada siapa-siapa. Eh—,” ucap seorang petugas kemudian tersadar melihat beberapa orang tergeletak. Dengan cepat Alya dan Zilei melumpuhkan mereka berdua. Akhirnya aku bisa turun dan menghampiri teman-temanku.
“Untung saja kita tidak ketahuan,” ucapku.
“Ingat kita sedang diam-diam di sini. Kecilkan suaramu,” ujar Zilei pada Leora.
“Maaf…” balas Leora tertunduk.
Masuklah kami ke dalam menara itu. Melewati pintu, terlihat sebuah ruang seperti kantor depan di perusahaan Knox, hanya saja tidak sebesar di kantor tempatku bekerja dulu. Di samping ruang dekat dinding terdapat tangga melingkat menuju atas. Tidak ada orang lain di sini. Melangkah semakin dalam, mereka terkejut melihat semua ini.
__ADS_1
“Menara ini juga ada kantornya?” tanya Alya.
“Sepertinya begitu, rancangan awal menara yang kutahu juga akan ada kantor kecil seperti ini,” jawabku.
“Tapi, untuk apa ada kantor di tempat pembangkit listrik?” lanjut Leora.
“Tentu saja untuk operasionalnya, dan juga pengamatan energi langit agar bisa diteliti lagi,” sahut Zilei sambil menatap sebuah plat informasi menara.
“Benar… Kau mengatahuinya?” tanyaku.
“Dari yang tertulis di sini, sangat menunjukkan kalau menara ini punya banyak fungsi,” jawabnya. Aku pun datang untuk melihat plat itu juga. Saat aku berada dekat dengan Zilei, ia langsung pergi meninggalkanku.
“Tidak boleh lama-lama di sini,” ucapnya.
“Oh iya, kita akan memasangnya di mana saja?” tanya Lukas. Sementara aku masih melihat plat itu.
“Ada seratus lantai. Dengan jumlah barang yang kita punya, kita bisa meletakkannya berselang sepuluh lantai, masing-masing lima. Kecuali lantai dasar, kita pasang sepuluh,” papar Zilei kemudian meletakkan dinamit itu di setiap pilar dan dinding menara. Aku baru menemukan tulisan informasi jumlah lantai menara ini.
“Kau berhitung cepat sekali…” gumam Alya.
“Terima kasih dan cepatlah bergerak,” balas Zilei.
Dinamit telah terpasang di lantai dasar ini. Terdapat sebuah lift di ujung ruangan. Kami hendak menaikinya, namun pintu itu butuh akses.
“Kita tidak punya kartu atau semacamnya,” ucap Alya.
“Kau yakin? Seratus lantai…” balas Leora.
“Aku menemukan sebuah kartu dari petugas itu,” ujar Lukas.
“Kita tetap lewat tangga. Di atas sana masih ada banyak petugas. Silakan saja jika kau ingin diberi kejutan oleh mereka,” lanjut Zilei.
Pada akhirnya kami mengikuti perkataan Zilei. Entah kenapa aku melihatnya seperti sosok yang sangat bisa diandalkan. Seakan kami semua bergerak dengan seluruh instruksinya. Bergerak dalam diam, tahu-tahu sudah melakukan kemajuan. Tampak bagaikan memiliki dunianya sendiri.
“Sudah steril,” ucap Leora melangkah.
“Hei! Siapa di sana?” lontar seseorang seraya membidikkan senjata ke arah Leora.
Ternyata masih ada seseorang di sini. Kami bersembunyi di balik kegelapan, sementara Leora hanya mengangkat kedua tangannya.
“Diam di sana! Atau kutem—”
“Pletang!”
Suara pipa logam terdengar semantara petugas itu langsung terjatuh tak sadarkan diri. Aku langsung menoleh ke Zilei. Di sebelahnya ada beberapa pipa logam di dekat dinding.
__ADS_1
“Tepat sasaran…” gumam Zilei sambil menepuk-nepuk tangannya.
Kami bergegas memasang dinamit lalu naik ke lantai berikutnya. Bertemu dengan petugas, lekas melumpuhkannya. Terus berulang seperti itu.
“Huft… Huft… Apa kita bisa istirahat dulu?” hembus Leora terengah-engah.
“Tapi kita baru setengah jalan,” balas Lukas.
“Kalian sama sekali tidak lelah?” tanya Leora.
“Festival lebih melelahkan dari ini. Benar, kan, Malka?” ujar Zilei.
“E—Eh? Ah, iya!” jawabku gugup yang sebenarnya juga mulai merasa penat.
“Kalau begitu, lanjutkanlah tanpa aku,” lanjut Leora.
Kemudian Zilei memintanya untuk tetap menunggu di lantai kita berpijak sekarang. Kami melanjutkan misi tanpa Leora. Pada akhirnya kami hampir berada di puncak menara.
Kami melewati anak tangga terakhir, namun tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan beberapa petugas yang sudah mengepung kami. Kali ini kami benar-benar terpojok. Kedua pihak saling membidik senjata. Seketika saja Sara melakakan sesuatu di luar dugaanku. Petugas itu tampak kehilangan konsentrasinya.
“Sekarang!” lontar Sara.
Kami langsung menarik pelatuk dan melumpuhkan mereka dengan senjata gelombang milik kami. Pikiranku melayang ke mana-mana. Untung saja semua petugas itu lumpuh. Padahal aku sendiri tak tahu ke mana aku menembak.
“A—Apa yang kau lakukan?” ujarku syok.
“Kau benar-benar melakukannya,” ucap Zilei sembari menggerak-gerakkan seorang petugas dengan kakinya.
“K—Kau tidak merasa apa-apa?” tanyaku pada Zilei.
“Memangnya aku harus apa? Lukas juga biasa saja,” jawab Zilei. Aku langsung berpaling melihat Lukas, ia tidak terkejut melihat kejadian barusan.
“Hahaha! Kau terlalu polos, Anak Kecil,” goda Sara padaku yang masih setengah terbuka. “Pakai dulu yang benar!” lontarku memalingkan pandangan.
“Kau sangat berani, ya… Aku tidak bisa membayanginya jika ada Leora,” balas Alya.
Kami turun menggunakan lift, mengaksesnya dari kartu milik petugas yang pingsan itu. Lift terhenti pada lantai lima puluh empat.
“Ting!”
Pintu lift terbuka, tampak Leora di hadapan kami. Terkejut dirinya saat melihat diriku.
“Kau kenapa, Malka?” tanya Leora. Aku masih terguncang dengan kejadian tadi.
“Untung kau tidak ikut ke atas…”
__ADS_1
Bersambung~