
Dua minggu berlalu, keadaan sudah kembali seperti sedia kala, meskipun uratan memori malam itu masih terbayang jelas di kepalaku. Bekas luka juga masih terlihat jelas di sekujur tubuhku. Namun sudah saatnya untuk tetap melangkah maju, terlebih masyarakat sudah percaya dengan kami semua.
Kali kedua kami berkumpul di tengah medan lapang nan luas. Aku bersama teman-teman membahas rencana selanjutnya di sebuah sudut lapangan.
“Baiklah, siapa pun yang punya ide, katakan saja,” ucap Ethan.
Berbagai suara terlontar dari para insan yang berkumpul. Pada akhirnya semua suara itu terkumpul menjadi sebuah keputusan.
“Sudah diputuskan. Kita akan bergerak nanti malam, seperti kemarin,” ujar Ethan.
Kala mentari menghilir, bias purnama terpantul cerah di atas belecak bentala. Angin sejuk berhembus bersama iringan rintik tipis Sang Tirta. Peristiwa malam ini tersiar ke seluruh penjuru semesta. Datang dari berbagai arah, kami, Synnefá, mengepung kota Centra yang penuh dengan barikade militer.
“Laporan dari titik 231…”
“Titik 74 melapor…”
“Lapor, titik 109…”
Ragam percakapan terdengar di radio komunikasi kami.
“Mereka mengontrol semua percakapan ini?” tanya Leora.
“Iya, aku yakin mereka bisa mengatasi semuanya,” jawab Alya.
“Memangnya hanya Lena dan Kellos?” lanjut Sara.
“Ada Cast juga yang membantu,” sahutku.
“Sayang sekali mereka berdua tidak bisa ikut malam ini,” gumam Gras.
“Yah, apa boleh buat. Mereka belum pulih sepenuhnya. Tapi pada akhirnya akan tetap ada yang bertugas di bagian itu, sih,” balas Alya.
“Apakah semua ini takdir?” ucap Stella.
“Semoga saja takdir kita cerah di depan sana,” harapku.
Seluruh pasukan sudah berada di posisi. Bersiap sedia dan dapat menyerang kapan saja komando datang, sebuah perintah mutlak dari Ethan, pemegang komando. Kami memastikan ulang kondisi seluruh pasukan.
Saat ini kami terhubung dengan komunikasi pusat, bicara dengan Cast.
“Informasi baru, akan kuhubungkan dengan siaran.”
“Baiklah, hubungkan segera,” balas Ethan.
“Selamat malam, seluruh rakyat yang sedang mencari keadilan. Percayalah, saya berada di pihak kalian. Tibalah sebuah malam yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Sebuah malam yang tiada satu pun yang menginginkannya. Sebuah malam untuk menentukan dunia ini ke depannya…
Mengingat insiden malam itu. Aku berseru kepada seluruh angkatan bersenjata, tidak boleh ada pertumpahan darah lagi di tanah ini. Barang siapa yang melanggarnya, percayalah, ia, mereka, bukanlah manusia. Aku mengutuk keras akan itu…
Sekian dari saya, seseorang yang gagal memimpin benua ini. Masa depan umat manusia ada di tangan kita semua!”
“Ah… Akhirnya, tidak ada senjata api lagi,” hembus Ellie.
“Tapi bagaimana dengan pasukan yang hanya punya senjata itu?” tanya Sara.
“Kita utamakan pasukan yang memegang senjata gelombang dulu,” sahut Zilei.
Dengan radio komunikasi, Ethan memberikan arahan terakhir sebelum penyerangan dimulai. “Pasukan senjata api, tahan posisi. Pasukan senjata gelombang, persiapan.”
“Senjata siap!”
“Maju…!”
“Synnefá!”
__ADS_1
Gemuruh gelora sorak insan-insan memayungi segala penjuru Centra. Suara bergema berturut-turut dengan semangat yang berapi-api. Aku bersama kawan-kawanku tak luput menyerang militer dengan senjata kami masing-masing. Lautan manusia bergerak menyerang lautan manusia lainnya.
“Awas Malka!” lontar Ellie. Aku menghindari arah tembakan itu.
“Di sini sudah bersih,” ujar Stella.
“Aku sudah siap!” seru Gras.
Kami memancing mereka menuju perangkap yang sudah dibuat Gras.
“Arghhh!”
Teriakan mereka saat terperangkap terbalut tali yang mengikat kuat.
“Sip, mereka tidak akan bisa lolos,” ucap Gras menepuk tangan.
Lima belas menit berjalan, penyerangan masih berlangsung. Perlahan kami berhasil menembus pertahanan militer. Mereka hanya bisa mengandalkan senjata gelombang, kendaraan tempur dan senjata lainnya seakan barang usang tak terpakai. Ethan kembali menyemangati semuanya.
“Maju terus! Jangan gentar!”
“Synnefá!”
Kami masuk ke dalam barikade pertahanan mereka. Perhatianku tertuju pada seseorang yang berlari penuh gelora dengan senjata di genggamannya seraya berteriak.
“Untuk Synnefá!”
“Dor!”
Seketika terhenti, tinta merah terpancar dari kepala, lantas tumbang tanpa sepatah kata yang terdengar. Suara menggelegar itu membisukan orang-orang seketika.
“Senjata api…!”
Huru-hara tiba-tiba pecah di tengah medan pertempuran, lautan manusia berhamburan tak tentu arah. Seakan lepas dari tujuan sebenarnya, sedangkan nyawalah yang terpenting. Letusan mesiu terdengar beturut-turut melumpuhkan manusia untuk selamanya. Semua terjadi begitu cepat. Ethan langsung memberi perintah.
Orang-orang tergeletak di hadapanku sudah tak bernyawa. Aku gemetar ketakutan melihat semua ini. Teriakan terdengar di mana-mana.
“T—Tolong… a—ku…”
Suaranya terseret-seret bersama tubuhnya yang sudah tak berdaya, berusaha untuk menggapaiku. Wajahnya berwarna merah pekat. Aku terdiam syok tak tahu harus berbuat apa. Tanganku yang bergetar mencoba meraih tangannya.
“Dor!”
Tepat di depanku, wajahku terkena cipratannya…
“Aaaa!”
Aku berteriak histeris melihat seseorang kehilangan nyawa secara mengerikan. “A—Aku tidak ingin mati di tempat ini…”
Tubuhku bergetar kaku di balik tempat perlindungan. Suara tembakan bertubi-tubi terus terdengar. Tiba-tiba saja radio komunikasiku terhubung. Sepertinya insiden saat ini tersiar ke seluruh dunia.
“Masyarakat dan penguasa setempat mengecam keras tindakan militer saat ini.”
“Militer sudah melakukan pengkhianatan kepada Kerajaan.”
“Kita juga harus menyerbu mereka pakai senjata api.”
“Knox memberi perintah pada militer. Hentikan tembakan senjata api sekarang!”
Namun siaran itu justru memperkeruh keadaan. Pada akhirnya pasukan senjata api bergerak di luar komando Ethan. Pertumpahan darah benar-benar terjadi. Baik militer maupun Synnefá, semuanya sudah di luar kendali. Lantas Cast menyiarkan informasi melalui radio.
“Siapa pun yang mendengar ini, jangan terpancing amarah. Tetap pada tujuan kita tanpa membunuh orang. Tidak masalah jika ingin berlindung sampai keadaan membaik.”
Satu jam yang amat mencekam, gemuruh kontak senjata mulai mereda. Aku keluar dari tempat berlindung kemudian berkumpul kembali dengan teman-teman.
__ADS_1
“Kalian baik-baik saja?” tanya Ethan.
“A—Aku tidak ingin seperti ini lagi…” gumam Leora syok.
“Malka? Kau tidak apa-apa?” tanya Alya melihatku gemetar kaku.
Kami menghembus napas sejenak, menenangkan pikiran, dan melupakan apa yang sudah terjadi.
“Pasukan sudah masuk ke dalam Centra,” ucap Kellos melalui radio.
Kami menemui Paduka Raja dan Knox di kastil kerajaan. Pengamanan langsung mengarahkan senjatanya kepada kami.
“Turunkan,” ujar Paduka Raja.
Kami berlutut memberi salam pada Paduka Raja. Aku mulai berbicara padanya.
“Salam, Paduka Raja. Kami dari Synnefá, aktivis langit. Dengan penuh hormat, kami sangat memohon pada Paduka Raja memberhentikan semua kegiatan eksploitasi langit.”
“Saya menyambut kalian dengan sangat dari nurani saya. Saya hargai semua usaha kalian untuk menegakkan kebenaran. Namun mohon maaf, saya tidak bisa memenuhi permohonan kalian sepenuhnya, karena hampir semua teknologi yang kita gunakan sudah bergantung dengan energi langit…
Akan saya pikirkan, untuk ke depannya mungkin kita akan bertransisi mencari energi lain. Semua itu butuh waktu, saya harap kalian bisa mengerti situasi sekarang.”
“Satu permohonan lagi, Paduka Raja. Kami menuntut Knox Corp untuk menghentikan eksplorasi langit yang sedang berlangsung.”
“Apa saya boleh tahu alasannya?”
“Tentu, Paduka Raja. Kita semua tahu bahwa ada makhluk yang hidup di atas sana, entah itu dongeng, legenda, atau fakta yang orang-orang yakini. Kami yakin dengan keberadaan makhluk itu. Dengan eksplorasi tersebut, aku sangat percaya, hanya akan membuat keberlangsungan langit semakin buruk.”
Knox langsung membatah perkataanku.
“Apa buktinya? Tidak ada yang menyebutkan kalau eksplorasi bisa berdampak buruk pada langit.”
“Pikirkan saja. Menurutmu dengan semua cuaca yang tak dapat diprediksi sama sekali, gemuruh petir ada di mana-mana, dan badai panjang, apa anomali itu muncul bukan karena perbuatanmu?”
“Fenomena seperti itu sudah terjadi selama dua dekade ini. Itu tidak bisa dijadikan landasan!”
“Dan kau memperburuk semua itu!”
Adu mulut terus terjadi antara aku dan Knox. Paduka Raja langsung menengahi keduanya.
“Tutup mulut kalian! Dinginkan kepala kalian.”
“Saya mengerti maksud kalian, Saya percaya ada benarnya. Mungkin saja Knox baik niatnya, namun saya tidak bisa acuh terhadap tuntutan rakyat yang saya pimpin. Saya akan memenuhi permintaan kalian. Terima kasih sudah mewakili suara mereka semua.”
Paduka Raja melangkah mendekatiku.
“Boleh saya tahu nama kalian?”
“Baik, Paduka. Namaku Mal—“
“Arghh!”
Paduka Raja terdiam kaku, sebelum akhirnya tumbang tepat di depanku. Kami semua terkejut sementara aku memangku Paduka Raja. Aku tidak merasakan hembusan napas sedikit pun dari Paduka Raja.
“Knox menghilang!” lontar Leora.
Seketika keluar asap hitam tipis dari dada Paduka Raja. Asap yang sangat tidak asing, seperti milik Harry.
“T—Tidak mungkin…”
“Keparat kau, Knox!”
Bersambung~
__ADS_1