Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Malam Pertempuran


__ADS_3

Keramaian bak lautan manusia berjajar melangkah pergi dari kota Westra, yang jaraknya tidak jauh dari pusat kota Centra. Banyak truk berjalan pelan dengan persenjataan di dalamnya. Aku bersama beberapa temanku berada di rombongan paling belakang. Sebelumnya, kami berpisah jadi dua tim.


“Rasanya seperti akan ada perang besar saja…” gumam Leora.


Aku merasa sangat cemas saat ini. Tak pernah terbayang di benakku kalau akan terjadi seperti ini. Banyak anak-anak dan ibu-ibu yang bersorak memberikan semangat pada kami semua. Langkah kami terhenti saat ada seorang anak kecil datang menghampiri kami.


“Kakak! Apa Kakak akan melawan orang-orang di kota?” Wajahnya penuh khawatir.


“Tidak semua. Kami tidak berniat melawan mereka. Hanya ingin melindungi langit dan lingkungan,” jawab Ellie tersenyum menenangkannya.


“Aku tidak bisa membantu banyak! Semoga kalian suka dengan pemberianku ini,” ucapnya ceria sambil menjulurkan tangan dengan roti riunbread. Leora menerimanya kemudian terdiam menatap roti itu.


“Simbol persatuan setelah perpisahan…”


“Terima kasih banyak! Kami senang menerimanya,” sahutku pada anak kecil itu.


“Sama-sama! Kakak semua harus kembali lagi, ya!”


“Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” balas Ellie sembari mengusap kepalanya.


Melanjutkan langkah, sebuah perjalanan yang cukup melelahkan daripada menaiki kendaraan. Terdengar suara baling-baling helikopter yang semakin kencang. Pandangaku tercuri untuk melihatnya saat melintas tepat di atas kepalaku.


“Mereka ada di pihak kita, kan?” tanyaku heran.


“Tentu. Ada banyak relawan dari mantan tentara dan tentara bayaran,” jawab Ellie.


“Ini benar-benar perang…” gumamku.


Kendaraan militer juga tak lepas dari pandanganku. Sementara kami berjalan, Gras sudah mulai merasa kelelahan. Langkah kami lantas melambat mengiringinya.


“Padahal baru saja kita jalan, lho,” ucap Ellie.


“Jalan kaki sejauh ini saja sudah memecahkan rekor seumur hidupku,” balas Gras.


Kami memutuskan untuk berhenti dan membenarkan alur napas sejenak. Saat itu pula aku mendegar berita yang tersiar pada televisi depan warung.


“Suasana Centra saat ini sedang dalam status siaga tinggi. Banyak warga yang dianjurkan untuk tidak keluar dari tempat tinggal atau mengungsi ke kota-kota terdekat. Jalan utama di perbatasan sisi selatan dipadati oleh kendaraan yang mengarah keluar Centra. Sedangkan perbatasan sisi timur ditutup dan sudah dipenuhi oleh tentara kerajaan.”


Seseorang berpidato di depan layar kaca yang tak lain ialah Paduka Raja yang pernah kutemui jauh-jauh waktu.


“Situasi saat ini sudah menjadi perhatian seluruh pihak. Kami tidak akan ragu-ragu untuk menumpas siapa pun yang menyerang kami. Jika kalian masih punya hati, kupinta untuk mundur dengan bijak. Aku tidak ingin banyak darah saudara-saudara kita yang membanjiri kota.”


Aku sadar betul kalau kondisi saat ini benar-benar mengerikan. Seketika muncul rasa ragu di dalam diriku. Ingin rasanya mengulang waktu agar semua ini tidak terjadi. Aku tidak ingin melihat orang-orang yang kulihat saat ini berguguran di kota nanti.


“Kau kenapa, Malka?” tanya Gras.


“A—Ah! Bukan apa-apa!” balasku terkejut.


“Kau kepikiran dengan semua ini?” lanjut Ellie. Aku memandangi kedua tanganku sambil merenung. “Apa kita harus seperti ini?”


“Ah, kau membuatku bingung untuk menjawabnya,” balas Ellie.


Sebuah truk berhenti di dekat kami. Gras tampak bersemangat setelah menyadarinya.

__ADS_1


“Ayo kita menumpang saja!” lontarnya.


Pada akhirnya kami menuruti permintaannya. Aku juga berpikir kalau itu akan menyingkat waktu dan tak banyak menghabiskan tenaga juga. Kami duduk bersama senjata-senjata yang bising saat terguncang.


“Semua senjata ini akan dibagikan?” tanya Kellos.


“Iya, semakin banyak senjata akan semakin baik,” jawab Ellie.


“Senjata mematikan sekalipun?” lanjutku.


Ellie hanya terdiam mendengarku. Suasana menjadi canggung, aku juga tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tertunduk diam seorang diri. Tanpa sadar aku tertidur hingga kemudian terdengar suara rem mendecit.


“Kita sudah sampai,” ucap Leora padaku.


Kami turun dari truk pada sebuah tempat yang tak jauh dari perbatasan. Truk itu kembali melanjutkan perjalanan hingga perbatasan. Kami menghadapkan pada sebuah tangga menuju gorong-gorong.


“Tidak lagi…” gumam Leora. Ia kembali teringat dengan saluran bawah tanah di Pharlouse yang bau.


“Satu-satunya jalan tanpa perlu melawan mereka,” balasku.


“Kau tahu jalan ini?” tanya Ellie padaku.


“Aku tahu jalur ini dari seseorang. Aku hanya tahu kalau memang ada ruangan di Knox Corp yang terhubung langsung dengan saluran ini.”


Kami menyusuri gorong-gorong ini. Entah kenapa aku merasa biasa saja, sementara beberapa dari mereka mual-mual bahkan muntah. Leora yang pernah tetap saja tidak kuat dengan tempat ini.


Tempat ini sangat hening. Hanya terdengar suara pijakan kaki, air yang berlinang, dan cicitan tikus yang sering mengagetkan Leora dan Lena. Sering kali aku mendengar suara detakan jantungku sendiri.


“Teriakanmu membuatku hampir jantungan,” ucapku.


“Kau orangnya kagetan, ya, Leora,” lanjut Ellie.


“M—Maaf!”


Suaranya menggema sangat keras. Ia langsung menutup mulutnya.


“Jangan teriak!” bisikku.


“Maaf…”


Aku merasakan keributan tepat di atas kami, tapi sangat samar. Bisa saja ini hanya perasaanku saja. Aku sendiri tidak tahu sudah berada di mana.


“Apa hanya perasaanku saja? Di atas seperti ada pertempuran,” ucap Ellie.


“Aku juga berpikir begitu, tapi mungkin saja ini suara dari gorong-gorong,” balasku.


“Kita lanjutkan saja dulu. Aku dan Leora sudah tak tahan,” sahut Gras.


Senter menjadi cahaya pemandu kami di dalam tempat yang sangat gelap ini. Benar-benar seperti labirin saja. Aku hanya bermodalkan peta yang orang itu berikan. “Semoga saja kami tidak tersesat,” harapku dalam hati.


Seketika langit-langit yang ada di depan kami runtuh bersamaan suara ledakan yang amat dahsyat. Kami langsung bersembunyi di balik dinding. Saat mengintip ke sana, aku tidak melihat siapa pun.


“Kita di bawah medan perang sungguhan…” gumam Leora.

__ADS_1


“Kurasa tidak ada korban di sana,” ucapku.


Semakin masuk ke dalam, bau yang tercium di sini juga semakin kuat. Kurasa aku tahu gorong-gorong ini mengarah ke mana. Aku memberhentikan mereka semua.


“Ada apa, Malka?” tanya Gras heran.


“Mulai sekarang pakailah ini. Tetap berjalan di pinggir dan jangan sampai terkena cairan apa pun di sini,” paparku.


“Masker gas?” ucap Ellie bingung.


“Iya, jangan sampai dilepas,” jawabku.


Saluran yang kami lewati saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Air kotor yang tak terlihat gelap pekat, namun penuh dengan warna. Ada banyak bangkai tikus yang dihinggapi lalat-lalat. Leora sangat mual dan ingin membuka maskernya, namun aku melarangnya.


“Tahan sedikit lagi,” ujarku.


Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah ruangan yang penuh dengan tabung dan cairan yang berceceran. Dugaanku benar…


“Kita sudah sampai di ruang pembuangan kimia Knox Corp. Tetap pakai masker.”


Ketika keluar dari ruangan itu. Kurasa kami sudah berada di lorong menuju tempat penelitian. “Sudah aman. Kalian sudah bisa melepas maskernya sekarang.”


Mengendap-endap di sepajang lorong, kami menemukan sebuah pintu yang terbuka. Terlihat sebuah ruangan yang sangat luas dari luar. Dinding-dinding lorong ini penuh dengan saluran yang memuat cairan aneh ke dalam sana.


“Aaaa! Aarrgghh! Aaaaa!”


Kami terkejut mendengar suara teriakan yang sangat keras. Suara mesin juga mengiringinya. Aku menjadi panik dan takut bersamaan. Seketika menjadi sunyi dan tak terdengar suara mencekam itu lagi.


“Injeksi Multi-Ether Sintetis Berhasil.”


Suara itu terdengar di seluruh ruangan. Aku baru mendengar istilah itu.


“Apa itu, Malka?” tanya Leora.


“Aku juga tidak tahu,” jawabku.


Kami pun mengintip dari balik dinding. Aku terkejut mendengarnya.


“Apa orang yang di tengah itu Knox?” tanya Ellie.


“Iya, itu Knox,” jawabku.


“Siapa orang yang ia tonton? Ada banyak selang tertancap ke tubuh orang itu…” lanjut Leora merasa jijik melihatnya.


“Dia Harry Knox. Anaknya.”


Kami yang mengintip menyamping tiba-tiba saja sama-sama jatuh karena Gras yang sudah tak kuat menahan dirinya sendiri. Sontak semua orang di dalam sana berpaling pada kami. Knox menatapku seraya tersenyum.


“Akhirnya kau muncul juga…


Malka…”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2