
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dengarkan aku dulu. Kami Synnefá, kami datang untuk membantu kalian.”
“Bohong! Mereka juga mengatakan itu kepada kami. Kalian semua sama saja!”
“Tenangkan pikiranmu,” ucapku sambil mendekatinya perlahan. “Benar, kami sama-sama makhluk bumi, tapi niat kami berbeda. Percayalah…”
“Jangan mendekat!” seru sosok itu kemudian melepas tali busur yang sudah tertarik kencang dengan anak panah, mengarah tepat ke wajahku.
“Malka!” lontar Leora langsung berlari melindungiku. Aku langsung menutup kedua mataku. “Leora!” teriak Alya terkejut.
“Tik!”
Aku membuka mata, anak panah itu tergeletak di atas tanah. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Wajah sosok itu terdiam kaget melihat Leora. “Kami bukan musuhmu! Sampai kapan kau tidak mempercayai kami?” lontar Leora tersedu-sedu. Aku bisa melihat tetesan air matanya dengan jelas.
“S—Siapa dirimu sebenarnya…?” tanya sosok itu pada Leora.
“Aku manusia, makhluk bumi seperti mereka berdua!”
Sosok itu pun menurunkan busur dari bidiknya. Ia melangkah mendekati Leora. Aku dan Alya hanya bisa terdiam melihatnya.
“Tidak… Kau berbeda…” ucap sosok itu. Aku merasa ragu terhadap dirinya yang semakin dekat dengan Leora.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku. Seketika ia berlutut dan membuatku terkejut. “Maafkan aku, aku mengira kalian akan menghancurkan tempat tinggal kami…”
Aku terdiam sejenak, tak menyangka kalau ia benar-benar menerima kami. “K—Kami juga, maaf sudah membuatmu cemas,” balasku tersenyum padanya. Kemudian Alya datang menghampiri kami. “Apa yang kau lihat pada Leora?” tanya Alya penasaran.
“Entahlah… Aku merasa seperti dia sudah tak asing lagi bagiku…”
Leora mengelap pipinya yang basah sembari menenggak hidungnya lalu membalas, “T—Tapi aku tidak pernah ke sini sebelumnya…” Sosok itu lantas terdiam heran, begitu pula aku yang tidak tahu maksud dari semua ini.
“Oh tidak! Aku hampir lupa! Aku harus membawa hewan buruan ini secepatnya.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan hewan itu?” tanyaku padanya.
“Tentu saja untuk makan malam nanti.”
“Tunggu, itu artinya kau tidak sendiri—” lanjutku baru tersadar, namun sosok itu langsung memotong ucapanku.
“Tentu saja, aku tinggal di desa yang tak jauh dari sini.”
“Bukankah malam masih lama? Sekarang saja baru mau siang,” sahut Leora.
“Lalu? Apa aku harus menunggu malam di sini?”
“B—Bukan itu maksudku! Eee… Apa kau tidak ada kesibukan setelah ini?” lanjut Leora. “Hari ini aku hanya ditugaskan berburu. Mungkin aku ingin lanjut memanah,” jawab sosok itu.
“Apa kami boleh ikut?” pinta Leora penuh harap.
“Tunggu, Leora—” sahutku. Aku rasa kami sudah berjalan terlalu jauh, pasti teman-teman yang lainnya khawatir dengan kami, itu yang ingin ku sampaikan, tapi Leora langsung menyelaku dengan penuh semangat.
“Untuk kali ini saja. Kita juga harus kenal dengan mereka, bukan?” balas Leora. Aku menghelas napas mendengarnya.
“Huft… Bagaimana denganmu, Alya—”
Wajahnya tampak tidak sabar sama seperti Leora. Matanya berseri-seri menatapku.
“B—Baiklah. Izinkan kami ikut denganmu…” lanjutku kepada sosok itu, ia tersenyum kemudian ia berpaling layaknya ingin berangkat.
“Jubahmu bercahaya!” lontar Leora terkesima.
“Tentu saja,” balas sosok itu, kemudian ia terhempas, berangkat tanpa bertapak, dia benar-benar terbang. “Wah! Kau bisa terbang!” seru Alya.
“Ayo ikuti aku!”
Kami berlari mengikutinya yang terbang melewati dahan pepohonan. Seringkali dirinya berputar-putar dan menari seperti sirkus. Aku sangat terhibur melihatnya. Padahal ia sembari membawa hewan buruan itu di punggungnya.
“Wah keren!” Leora takjub.
__ADS_1
“Benar sekali! Kalian pasti baru pertama kali merasakannya— Eh? Kalian berlari?”
“Iya, kami belum tau caranya terbang,” balasku. Sosok itu mendarat, kami berlari menghampirinya. “Kenapa kalian tidak bilang dari tadi?” tanya sosok itu.
“Aku lupa karena melihatmu terbang sangat luar biasa! Tunggu— memangnya kami juga bisa terbang?” balas Leora.
“Tentu saja bisa. Jubah yang kalian pakai itu gunanya memang untuk terbang.”
“Benarkah? Oh, berarti selama ini…” lanjut Leora.
“Apakah jubah ini tidak bisa dilepas sama sekali?” tanyaku.
“Bisa, kau cukup melepasnya seperti ini.” Sosok itu melompat lalu berputar di udara, jubah itu berubah menjadi cahaya kemudian menghilang.
“Bagaimana bisa?” balasku terkejut. Aku mencoba untuk meniru gerakannya. Tapi tidak terjadi apa-apa. Alya tertawa melihat tingkahku yang melompat dan berputar-putar. “Kau seperti anak kecil.”
“Tidak bekerja, lebih baik kau mencobanya juga daripada tertawa seperti itu.”
“Hahaha… Baiklah, akan kucoba.”
Alya melakukan hal yang sama sepertiku, rupanya tidak ada yang terjadi pula pada jubahnya. Ia mengulangnya beberapa kali.
“Sampai kapan pun tidak akan berhasil…” gumam sosok itu.
“Memangnya apa yang salah dari cara kami?” tanya Alya.
“Hmm… Bagaimana aku mengajari kalian cara terbang dan melepas jubah itu?”
“Aku ingin terbang!” lontar Leora.
“Bukankah kau sedang buru-buru?” tanyaku.
“Tidak juga, seharusnya tidak lama untuk mempelajarinya.”
“Ajari kami, Pak Guru!” Leora sudah berapi-api.
“Tadi kau bilang apa?” tanya sosok itu.
“B—Bukan apa-apa!” lontarku terkejut.
“Ada banyak energi di sekitar kita. Untuk bisa terbang, kalian harus bisa merasakan kehadiran energi itu.”
“Bagaimana cara merasakannya?” tanya Leora.
“Setiap orang punya gambarannya masing-masing. Caraku mungkin berbeda dengan cara kalian,” jawab sosok itu.
“Caramu seperti apa?” lanjut Alya.
“Eee… Mungkin seperti angin? Setiap merasakannya tubuhku terasa sejuk, seperti ada yang mengalir di sekujur tubuhku.”
Aku memejamkan kedua mataku, terbayang cahaya berwarna biru muda yang mengalir di sekitarku. Wujudnya sama seperti yang biasa ku lihat di bumi. Aku menarik napas, seakan menarik energi itu ke dalam diriku.
“Jubahmu bercahaya, Malka!” lontar Leora kaget. Aku langsung membuka mataku, tapi tidak terlihat seperti yang Leora lihat. “Jubahku biasa-biasa saja,” ucapku.
“Sungguh! Tadi jubah itu benar-benar menyala terang!”
Sosok itu bertepuk tangan, “Kau bisa melakukannya,” sahutnya kepadaku.
“Coba ulang lagi, Mal,” tutur Alya. “Tapi tetap buka matamu, kau tetap bisa membayangkannya tanpa harus menutup mata,” lanjut sosok itu.
Aku mencoba melakukan apa yang sosok itu ucapkan. Mataku terbuka, sambil membayangkannya. “Aku bisa melihatnya… Aku melihatnya!” decakku senang. “Apa yang kau lihat?” tanya Leora. Aku langsung mendekati mereka berdua, lalu menggenggam tangan mereka.
“Kalian pasti bisa melakukannya! Wujudnya sama seperti yang kita lihat di bumi!”
“Benarkah?” Alya terkejut.
Mereka berdua membayangkan hal serupa denganku. Benar saja, jubah mereka mengeluarkan cahaya terang. Sosok itu hanya bisa terdiam heran.
__ADS_1
“Apa maksudmu wujudnya sama seperti di bumi?” tanya sosok itu.
“Ah! Eee… Bagaimana aku menjelaskannya…” Aku kebingungan dengan wajah cengar-cengir.
“Kalian menggunakan energi ini untuk dunia kalian?” lanjutnya.
“Itu semua ulah manusia yang sedang menyerang tempat tinggal kalian sekarang,” jawabku meyakinkannya.
“Seperti apa wujudnya!” Mata sosok itu berseri-seri. Aku terkejut heran melihatnya yang seperti itu. “Eh? Bukannya kau sudah mengetahuinya?” tanyaku.
“Tidak, aku hanya bisa merasakannya saja. Itu pun aku harus mempelajarinya bertahun-tahun sejak aku masih kecil.” Kemudian aku menjelaskan apa yang kami lihat dari energi itu.
“Kalian menyebutnya energi langit?”
“Iya, energi dari tempat tinggalmu,” jawabku.
“Apa yang harus kami lakukan setelah bisa merasakan energi itu?” tanya Leora yang sudah tak sabar ingin terbang.
“Mudah saja. Kalau jubah itu sudah bercahaya, kau cukup melakukan seperti orang yang ingin terbang,” jelas sosok itu.
Aku mencobanya, aku mengambil ancang-ancang layaknya ingin melompat, kemudian aku melompas sambil menghempaskan jubah itu, aku langsung terlontar ke udara, aku melayang sungguhan meskipun tak terlalu tinggi, “Aku terbang!” Akhirnya kami bertiga bisa terbang, namun tidak selang beberapa saat, kami langsung kembali ke tanah.
“Hanya beberapa detik?” tanya Leora.
“Mungkin kalian belum terbiasa,” jawab sosok itu, “Itu sudah lumayan bagus. Yang terpenting, jangan sampai kalian memaksanya.”
“Sekarang bagaimana caranya untuk melepas jubah ini?” tanya Alya.
“Sama seperti yang kalian lakukan tadi. Buat jubah itu bercahaya lalu melompat dan berputar. Itu juga sama jika kalian ingin menggunakannya lagi.”
“Tapi kami tidak bisa melihat jubah itu bercahaya, kan sudah hilang…” balas Leora.
“Bayangkan saja energi itu masuk ke dalam tubuh kalian.”
“Oh, jadi kita harus menggunakan energi itu untuk berinteraksi dengan jubah?” tanyaku.
“Yap! Benar sekali!”
“Grrwhwhh!”
Terdengar suara gemuruh, seketika wajah Leora memerah. “Maaf, aku belum makan hari ini…”
“Oh iya! Kita lupa sarapan!” sahutku.
“Kalau begitu, kita semua bergandengan tangan,” ucap sosok itu, “Aku akan membawa kalian ke desaku.”
“Wah! Desa makhluk langit—” lontar Leora, “Eh! M—Maksudku…”
Sosok itu tersenyum mendengarnya kemudian membalas, “Luceyl.”
“Namaku Leora!”
“Aku Alya!”
“Malka!”
“Baiklah, Leora, Alya, Malka, berpeganganlah yang kuat!”
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga!”
Tapak kaki kami terlepas, menembus rindangnya hutan, tak kusangka ia mengajak kami untuk terbang bersama. Jubahku berkepak tanpa kusadari. Segala pemandangan luas terpandang indah dari atas.
“Aku terbang!”
__ADS_1
Bersambung~