
Keesokan harinya kami berkumpul di ruang tengah yang tempak tak layak itu. Kami bersantap sarapan yang terlihat tidak menggugah selera sama sekali. Namun pelayan itu tampak biasa saja dengan ini. “Selamat menikmati!” begitulah yang dilontarkannya dengan ceria. Banyak dari kami yang sudah mulai dengan melihatnya saja.
“Sepertinya aku makan di tempat lain saja…” guma Leora. Berbeda dengan Gras yang seketika piringnya langsung kosong. “Ergghh! Wuah… Sepertinya kurang…” gumam Gras. “Silakan makan milikku,” sahut Leora memberikan santapannya kepada Gras. Dengah wajah heran Gras bertanya, “Apa tidak apa-apa?”
“Hem! Tidak apa-apa!” jawab Leora.
Tiba-tiba saja Zilei beranjak dari tempat duduk. Saat itu pula aku tersadar kalau dia sudah menghabiskan sarapannya. “Aku pergi dulu,” ujarnya kemudian pergi meninggalkan kami. “Kalau begitu, aku juga duluan, ya,” lanjut Sara yang juga sudah selesai bersantap. Sisanya kami masih di hadapkan dengan piring itu.
“Aku ingin meliha kota ini. Mau tidak mau harus ku habiskan,” benakku.
Suka tidak suka, aku tetap melahap hidangan itu. Ternyata rasanya tidak seburuk penampilannya. Hanya saja sedikit hambar. Pantas saja Gras tidak apa-apa dengan makanan itu. “Makanan ini tidak buruk, teman-teman,” ucapku pada mereka. Walaupun aku baru pertama kali merasakan rasa makanan seperti ini, tapi tak masalah untukku.
Namun tampaknya beberapa dari mereka tidak sama denganku. Terlihat wajah yang tidak nafsu makan sama sekali. Sementara aku sudah hampir setengah jalan memakannya.
“Kami pergi dulu, ya. Selamat menikmati hidangan kalian,” ucap Alya yang tengah bersama Ethan dan Stella. “Aku juga ingin pergi berkeliling. Apa ada yang ingin ikut denganku?” ucap Leora bersemangat. Kellos, Lena, dan Gras tampak antusias juga dengan ajakan Leora.
Akhirnya suapan terakhir telah masuk ke dalam mulutku. Aku beranjak dan pergi seorang diri meninggalkan mereka. “Kau ingin ke mana, Mal?” tanya Ellie.
“Eh? Eee… Aku ada urusan. Duluan, ya,” lontarku berlari keluar dari penginapan ini.
Berjalan di tengah gang yang gelap nan sepi. Aku bergegas mencari celah untuk pergi ke jalan utama. Saat keluar dari gang itu, akhirnya suasana tidak sesuram tadi. Tapi seperti kemarin, langit benar-benar redup seperti mendung. Aku yakin kalau itu bukan awan mendung, melainkan asap yang mengepul lebat.
Suara mesin dan kendaraan membisingkan telingaku. Ingin rasanya melihat kota Pharlouse yang sebenarnya. Aku berjalan terus di sepanjang jalan utama ini. Terlihat kerumunan di depan pabrik-pabrik. Terdapat pula beberapa kantor dengan orang-orang berpakaian jas nan rapih keluar-masuk dari sana.
Langkahku terhenti saat berada tepat di depan sebuah kantor perusahaan produk kimia, terlihat dari gambar yang terpampang di depan pintu. Dibalik kaca tampak botol-botol obat dan ramuan, serta beberapa peralatan. Aku yang penasaran lantas masuk ke dalam.
Tersusun rak-rak yang penuh dengan produk berjajar di kanan dan kiri. Ternyata perusahaan ini juga membuat makanan dan alat kecantikan. Sepertinya ini perusahaan besar. Aku berjalan pelan terkagum-kagum melihat barang-barang itu. Bahkan ada beberapa produk yang selama ini kupakai di rumah.
“Loh, ternyata buatan perusahaan ini,” gumamku saat baru menyadarinya.
Tiba-tiba terdengar suara lift, lalu seorang berpakaian jas dan topeng setengah wajah yang dipakainya. Namun langkahnya dihentikan oleh pelayan meja di sana. Aku kembali melihat-lihat, namun seketika terdengar suara keributan antara orang berjas itu dengan beberapa pelayan.
“Maaf, Tuan. Tapi ini benar-benar mendadak. Kontrak yang diajukan sangat besar.”
“Astaga, kenapa harus mendadak di saat-saat seperti ini? Aku juga punya jadwal penting sekarang. Apa tidak bisa diwakilkan?”
“Klien meminta Tuan untuk hadir langsung di sana.”
Aku sedang menyaksikan mereka, sebelum akhirnya mereka melihat ke arahku.
“Hei yang di sana! Bisa kau kemari?” lontar pria berjas itu.
Sepertinya hanya ada aku di sini. Aku datang menghampiri mereka dengan penuh rasa heran. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Apa Tuan memanggilku?” tanyaku merendahkan kepala.
__ADS_1
“Iya. Apa kau sedang sibuk, Nak?” tanya pria itu.
“Tidak, aku hanya sedang berkeliling,” jawabku. Kemudian pria itu melepas jas dan topengnya, lalu langsung memberikannya padaku. Kedua tanganku penuh dengan barang itu.
“Kuingin kau mewakilkanku di sebuah acara,” ucapnya sambil mengenakan jas lainnya. Aku ingin bertanya tapi bingung untuk mengatakannya.
“Oh, aku Pinctada. Sebut saja begitu,” ucapnya.
Terdengar seperti bukan sebuah nama asli seseorang.
“Nama samaran?” tanyaku.
“Jangan harus menjaga nama itu. Jangan sampai ada seorang pun yang tahu di tempat publik. Kalau ada yang bertanya, jawab saja dengan ‘Panda’. Selanjutnya orang itu akan memberi kode ‘bambu hitam’, barulah kau menyebut namaku itu. Di acara itu, kau akan duduk bersama Rose.”
“Baiklah… Tapi…” balasku merasa enggan, namun tidak tahu cara untuk menolak.
“Aku akan memberimu imbalan. Perkenalkan dirimu.”
“Nama asliku?” lanjutku heran.
“Kau takut? Sebut saja apa pun yang bisa mengenalkan dirimu padaku,” jawabnya mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku. “B—Baiklah…” balasku gelagapan.
“Keadilan langit,” ucapku spontan. Aku juga tidak tahu apa yang kukatakan.
“Iya, seperti yang Tuan lihat di berita,” balasku.
“Apa yang kau butuhkan sekarang, Nak?”
“Benda merah terikat arloji,” jawabku memberi kode. Entah kenapa aku merasa seperti sedang menjadi mata-mata.
“Ah, benda itu… Baiklah, saat tugasmu ini selesai. Aku akan memberikannya sebanyak yang kau butuhkan.”
“Senang bekerja denganmu,” balasku tersenyum sambil berjabat tangan padanya.
“Jadi, aku harus memanggilmu apa?” tanya Pinctada.
Aku sama sekali belum memikirkan nama samaran. Seketika terpintas sebuah nama di kepalaku. Sontak aku langsung menjawabnya, “Chamnion.”
“Hahaha! Nama yang bagus, Chamnion! Mengingatkanku dengan sup yang lezat, seperti dirimu…” balasnya yang kemudian menggodaku.
Ia berjalan menuju pintu dengan sebuah kereta kuda mewah sudah menunggu di depan. “Aku pergi dulu. Selamat menjalankan tugas, Chamnion.”
Aku ditemani dengan sebuah asisten Pinctada. Ia meminta padaku untuk memanggilnya dengan nama “Bivalva” atau bisa disingkat dengan “Biv”. Aku juga menaiki kereta kuda seperti yang dinaiki oleh Pinctada.
Roda berputar dan kereta kuda ini berjalan menuju ke arah yang belum kulewati. Jalan utama ini ternyata mengarah ke terowongan lagi.
__ADS_1
“Terowongan lagi?” tanyaku.
“Iya, daerah ini diapit oleh dua bukit,” jawab Biv.
“Wah, benar-benar tersembunyi…” gumamku.
Langit-langit menjadi gelap kala berada di dalam terowongan. Cahaya putih terang berada di ujung terowongan itu.
“Wuah…! Indah sekali…”
Gedung-gedung putih bak mutiara berkilap terpantul bias mentari. Sejauh mata memandang tidak lain dari marmer yang disusun menjadi sebuah kota ini. Pilar-pilar berdiri gagah menyangga bangunan atap yang penuh dengan ukiran.
Tidak ada kendaraan berpolutan yang digunakan di sini. Semuanya adalah kereta kuda yang sangat mewah dan elegan. Benar-benar seperti kota elite.
Kereta kuda yang kunaiki lantas berhenti di sebuah gedung besar. Kami berhenti tepat di bawah kanopi marmer yang teduh. Setelah keluar, aku dan Biv dihadapkan dengan tangga masuk yang sangat lebar dengan karpet merah sebagai alasnya. Kami berdua pun melangkah menaiki tangga itu. Terdengar suara marching band menyambut setiap langkah kami.
“Maaf, atas nama siapa?” tanya seorang pelayan gedung itu.
“Panda.”
“Bambu hitam,” balasnya.
“Pinctada,” lanjutku.
“Silakan sebelah sini,” pelayan itu memandu kami dan Biv.
Sebuah pintu masuk yang besar dan tinggi. Lampu gantung yang penuh dengan kaca dan permata menambah kilauan ruang itu. Tersusun meja makan lingakaran dengan dua bangku di setiap meja itu.
“Untuk asisten hanya bisa sampai sini,” ucap pelayan.
“Aku akan menunggumu di sini,” ujar Biv.
Lalu aku dipandu oleh pelayan gedung menuju sebuah meja, dan di sana sudah ada seorang wanita yang duduk lebih dulu. Aku duduk berpasangan dengannya. Kami tidak dapat saling mengenal lewat tatapan karena menggunakan topeng setengah wajah. Namun aku sudah diberi tahu oleh Pinctada kalau akau akan duduk bersama Rose.
“Sepertinya bukan Panda yang biasanya…” ucapnya elegan.
Suara itu mengingatkanku dengan seseorang yang kukenal, tapi tidak terbayang di benakku.
“Maaf, kau sedang tidak beruntung untuk melihat Panda yang kau cari,” balasku.
Seketika ia tertawa kecil mendengarku. Kemudian ia memberiku sebuah isyarat dari tangannya. Tangan itu membentuk huruf S, A, R, A—
Sara?
Bersambung~
__ADS_1