
“Wusshh…!”
Menyelam kami ke dalam kabut hitam yang sangat pekat. Aku tidak bisa melihat apa-apa selain kabut yang terus menerpaku. Andai saja ada cara agar kabut ini menghilang.
“Malka, sesuatu menyala pada dirimu,” ucap Alya. Aku melihat diriku, ada yang menyala dari jubah yang kukenakan. “Tidak salah lagi, pasti salah satu bunga itu…” pikirku. Entah mengapa aku merasa dapat melakukan sesuatu. Mataku terpejam dan membayangkan cahaya muncul dan menghempaskan seluruh kabut ini.
Seketika tubuhku terasa ringan, namun udara di sekitarku seperti sesak. Pandanganku hitam, ku dorong semua udara yang menekanku.
“Wah!” lontarku.
Gelombang hebat tak kasat mata menghapus segala kepulan itu. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas, tapi tiada sinar mentari membuat sekitar menjadi gelap bak mendung. “Ada banyak orang di bawah sana!” teriak Gras. Namun aku tidak ingin mereka mati begitu saja, “Jangan, kita langsung mencari Knox saja!”
“Benar, mereka semua masih terpengaruh dengan energi hitam itu,” sahut Ethan. Kami melayang tepat di atas mereka mencari manusia iblis itu berada. Sejauh yang kupandang saat ini, hanya prajurit yang amat banyak layaknya lautan manusia.
Tiba-tiba saja terdengar keramaian dari bawah.
“Tembak!”
Suasana menjadi terang dengan cahaya yang timbul dari peluru-peluru yang melesat ke arah kami. “Awas!” lontarku pada yang lain. Aku berusaha menghindar dari ribuan peluru itu, sama halnya dengan teman-temanku yang juga menari-nari di langit.
“Kita harus cepat menemukannya atau—Ah!”
Aku langsung berpaling ke arah suara itu. Tampak Ellie terjun bebas tumbang dari keseimbangannya di udara. Kami langsung menggapainya, namun ia jatuh sangat cepat. “Kalian pergilah! Biarkan aku saja!” seru Ethan. Aku berhenti— “Cepat! Aku tidak ingin ada korban lagi di antara kita!” sambung Ethan.
Bergegas diriku meninggalkan Ethan yang sudah tak lagi terlihat. Aku sudah muak tapi belum kunjung menemukannya. “Aku sudah tidak kuat… Kalian pergi saja tanpa hiraukan aku…” hembus Gras yang suaranya sudah terengah-engah.
“Aku dan Lena akan melindunginya! Kalian pergi saja!” Perkataan Kellos itu membuatku tidak yakin. “Tidak, nanti kalian akan—” balasku yang sekejap dipotong oleh Kellos kembali, “Percayalah pada kami. Kami sudah siap untuk keadaan seperti ini.” Ia dan Lena saling bergandeng tangan seraya tersenyum ke arahku, sontak membuat hatiku luluh dan tersenyum balik pada mereka.
“Kalian…” gumamku, kemudian berpaling meninggalkan mereka bersama Gras di belakang. Saat aku melihat ke belakang lagi, tampak Kellos yang menggunakan perisai. Mengingatkanku kala di bumi kami bertarung melawan pasukan Knox. Perisai “langit” itu mengeluarkan sinarnya, bersamaan Lena memberikan sesuatu dari tongkat sihirnya.
“Aku tidak akan menyia-nyiakannya demi kalian…” decakku.
Hujan peluru masih berhamburan ke atas. “Apa kau tidak ingin menghentikan mereka?” tanya Athar. “Kita tidak punya waktu untuk itu. Bertahanlah!” balasku. “Tapi aku sangat geram dengan mereka!” lanjutnya. “Mereka tidak tahu apa-apa!” lontarku lalu ia terdiam. Aku tidak percaya pasukan mereka masih menumpuk setelah terbang jauh.
“Mereka berhenti menembak!” seru Stella.
“Apa yang terjadi pada mereka?” sahut Leora.
__ADS_1
“Jangan lengah, tetap pada tujuan kita,” ingatku pada mereka.
Akhirnya aku bisa bernapas sedikit lega setelah tiada peluru menyebalkan itu. Aku melihat ke bawah, ia seperti tak melakukan apa-apa. “Apakah Knox sudah dek—”
“Aaaa…! Tolong!”
Aku terkejut mendengarnya. Lukas langsung mencoba menghampiri Athar yang jatuh, namun Zilei langsung memegang tangannya. “Itu jebakan,” ucapnya singkat. Terlihat Athar yang berusaha menggapai-gapai dengan tangannya, seketika menghilang di tengah lautan manusia itu.
“Kenapa ia bisa terjatuh?” tanya Stella. Aku sama herannya dengan mereka, lantas mengamati pasukan yang ada di bawah sana. Tidak ada sesuatu yang aneh.
“Malka! Awas!” teriak Alya. Sesuatu membentur punggungku. “Apa yang barusan mengenaiku?” tanyaku pada Alya. “Ada bola hitam tadi,” jawabnya. Untung saja tidak terjadi apa pun pada diriku. “Seseorang sedang melakukan kecurangan…” celetuk Zilei. “Ini bukan permainan,” balasku.
Aku melihat bola hitam itu berasal, bersamaan bola-bola itu mengarah padaku. Rupanya ada banyak pasukan yang memegang tongkat. “Penyihir? Sejak kapan?” ujar Sara. Bola itu tidak secepat peluru sebelumnya, namun mereka mengikuti ke mana pun aku pergi. Tiba-tiba saja bola hitam itu menghilang dengan sendirinya.
“Eh? Hilang—” gumamku sebelum asap tebal sontak mengepul kembali.
Kabut saat ini tampak jauh lebih pekat. Namun seperti ada lorong yang tidak berkabut sama sekali. “Ke mana jalan ini menuju?” tanya Lukas. “Apakah ini jebakan lagi?” tanya Leora. “Tapi aku tidak bisa menembus kabut ini lebih dalam lagi,” sahut Alya yang mencoba memasukkan tangan ke dalam kabut itu.
“Mungkin Knox sudah puas dengan bermain-mainnya…” gumamku kesal.
Aku mengikuti jalan itu mengarah bersama yang lainnya. Layaknya sebuah terowongan yang besar, mengarahkan kami ke bawah. Knox, dirinya terlihat betul berdiri seorang diri di sana. Perasaan yang kian bergejolak menuntut kami untuk bergegas menghampirinya.
Pada akhirnya kami menapak tanah dengan kabut yang masih menumpuk tebal di sekitar kami. Aku tidak melihat siapa pun selain kami.
“Di mana kau? Kita tidak bermain petak umpat!” teriakku ke segala arah.
“Hahaha!”
“Akhirnya kalian datang juga…”
Suaranya bergema dari berbagai penjuru arah. Aku melihat ke kanan-kiri berkali-kali dengan wajah gusar.
“Bagaimana kabarmu, Malka? Terlalu sering marah tidak baik untuk wajahmu, Anak Muda. Hahaha…”
“Jangan banyak omong kosong! Keluar kau!” seru Alya. Aku tak menyangka dirinya yang seperti itu di hadapanku.
Athar tiba-tiba saja muncul di hadapan kami. Dirinya sudah tak sadar berdiri tegak dengan sebuah tiang hitam di belakangnya. Sekelilingnya tubuhnya diselimuti asap hitam.
__ADS_1
“Athar!” lontar Sara. Ia berlari menghampirinya, aku langsung memperingatinya, “Awas!” namun sudah terlambat. Asap hitam itu menjulur mendekati Sara lalu menghempaskannya ke tempat kami berdiri. Hempasan keras itu menabrak Lukas tanpa sempat menghindarinya.
“Apa yang lakukan padanya?” tanyaku.
“Hahaha…! Tidak perlu takut, Nak. Aku hanya mengikatnya saja. Kalian bisa mencoba untuk menyelamatkannya.”
Tanpa pikir panjang aku berusaha untuk mendekati Athar. Asap hitam itu kembali menyerang, tapi kali ini bisa kuhindari.
“Malka awas!” teriak Leora. Aku yang terkejut langsung berpaling ke belakang, asap yang kuhindari itu ternyata menyerangku dari belakang. Aku tidak dapat menghindarinya lagi, tapi untung saja asap itu terkena pelindungku.
“Kau bermain curang, ya…” sindirku.
“Sayangnya tidak ada cermin di sini… Hahaha…”
Teman-temanku ikut membantu untuk menyelamatkan Athar, namun asap menyebalkan ini membuat kami kesulitan untuk mendekatinya.
“Satu lawan tujuh, dan kalian masih seperti itu? Bahkan separuh kemampuanku saja belum kuberikan untuk kalian. Hahaha…”
“Kau mempermainkan kami…” gerutu Stella.
“Kalian cukup menghibur sebelum aku pergi. Hahaha…”
Kami menjauh dari Athar sembari memikirkan cara. Napasku sedikit terengah-engah setelah pertarungan melawan asap menyebalkan itu. Asap hitam… Sepertinya aku menemukan carany—
“Aku sudah mulai bosan dengan permainan ini. Kita lanjut ke permainan berikutnya… Hahaha…”
Athar kembali menghilang entah ke mana. Hanya ada kami di sini. Lalu muncul beberapa orang dari kabut itu dari berbagai sudut seperti mengepung kami. Wajahnya sangat tidak asing bagiku. Orang-orang yang pernah bekerja bersama denganku…
“Kurasa sudah semua. Tapi aku tidak mau kalian bertarung sekaligus seperti anak kecil. Aku ingin kalian berduel…”
Tanpa sadar kami berbaris dan berhadap-hadapan dari dekat. Suatu ketika sebuah asap hitam muncul lagi di antara kami dan menghempaskan aku dan teman-temanku. Aku bertahan dan tetap berada di posisi. Di sisi lain mereka melayang mundur dan menyisakan Jack di hadapanku.
Teman-temanku tergeletak di atas tanah karena semua terjadi begitu cepat, kecuali Zilei yang dan mendaratkan dirinya sempurna. “Uuu… Menarik…” ucap seseorang di seberang sana.
“Sepertinya kita sudah menemukan peserta yang akan tanding pertama… Hahaha…”
Aku menatapnya, begitu pula ia. Senyum berapi-api terkobar di kedua kami. Pedang lawan pedang, seimbang. Detak jantung seperti hitungan mundur untuk mulai. “Dug!” Detak yang sama, aku melancarkan seranganku, sama halnya dengan ia. Kedua pedang mengadu fisik, bertatap sangat dekat. Berucap pelan, aku mendengarnya.
__ADS_1
“Sudah lama kita tidak adu tanding, Malka…”
Bersambung~