Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Energi Cair?


__ADS_3

Suatu kala, tepatnya setelah sarapan. Kami melanjutkan pembagian tugas itu. Hari-hari telah berlalu. Langkah kami sudah terlihat. Kali ini aku masih bersama Gras dan ibunya Alya. Sementara Ellie sudah berangkat lebih dulu ke toko Sid. Sebenarnya sudah tak banyak yang aku dan Ellie lakukan lagi.


“Kau ingin mencobanya?” tawar Gras padaku.


“Kalian membuat apa?” tanyaku heran.


“Ramuan penyembuh. Memang terdengar aneh dan tak masuk akal, tapi setidaknya ini bisa untuk mempercepat penyembuhan luka,” jelas ibunya Alya.


“Berarti hanya bisa dipakai saat terluka, bukan?” lanjutku.


“Oh iya, aku lupa. Maaf, aku sudah terlalu banyak membuat ramuan minum, hehe…” balas Gras sambil mengaduk ramuan itu. Ibunya Alya sedang memotong bahan-bahan, sedangkan aku hanya menyaksikan.


“Apa ada yang bisa kubantu?”


“Hmm… Ah! Ada beberapa umbi yang belum dikupas,” jawab ibunya Alya.


“Baiklah, akan kucoba,” balasku.


Aku mengupas umbi itu dengan pisau yang ada di atas meja. Cukup rumit, apalagi aku jarang memegang peralatan masak termasuk pisau. Beberapa bagiannya licin, sesekali aku tergelincir. Untung saja aku tidak apa-apa. Kulihat mereka terlihat sangat pandai dalam mengerjakan—


“Aw! Ah…”


Jariku tersayat oleh pisau. Perih sekali rasanya. Darah mengalir pelan dari luka itu. Mereka berdua terkejut mendengarku.


“Apa yang terjadi?” tanya Gras.


“Sebentar, akanku ambil ramuan yang itu,” lanjut ibunya Alya. Ia bolak-balik seperti mencari sesuatu. “Ramuan penyembuh yang kita buat…?” gumamnya.


“Masih dimasak di sini, Tante,” jawab Gras.


“Astaga, aku lupa.” Ibunya Alya mendekati panci itu. Ia sedikit mencicipinya. Terkejut aku kalau ramuan itu juga bisa dimakan meskipun fungsi aslinya untuk digunakan pada luka luar.


“Sepertinya sudah bisa diangkat,” ucapnya.


“Baiklah. Aku akan mengambil beberapa botol,” balas Gras mematikan kompor, lalu berjalan meninggalkan kami.


Ibunya Alya pergi mengambil sebuah mangkok lalu menuang sedikit ramuan dari panci itu. Terlihat uap panas yang masih keluar. Kemudian ia meniup-niupnya sebelum memberikannya kepadaku.


“Coba tuang sedikit-sedikit ke atas lukamu,” ucap ibunya Alya.


Aku mengangkat mangkok di atas tanganku itu. Seketika bergetar seluruh tanganku. Sulit sekali untuk menuangnya.


“Sini, aku bisa membantumu,” ucapnya, kemudian menuangkannya perlahan.


“Ah! Perih!” lontarku.


Terasa sangat perih dan dingin saat ramuan itu menyentuh luka itu. Untung saja tidak bertahan lama, rasa sakit itu berangsur hilang. Ternyata benar, luka itu sudah tidak mengeluarkan darah sama sekali. Dan rasa perih itu seluruhnya hilang.


“Wah, benar-benar bekerja ramuan ini…” gumamku tak percaya.


“Syukurlah…” balasnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Gras datang dengan beberapa botol. Ia terkejut melihat lukaku yang sudah membeku. Kemudian kami melanjutkan pekerjaan kami. Tapi tidak dengan mengupas umbi itu bagiku. Aku tidak ingin masuk ke lubang yang sama. Untuk sekarang sepertinya aku bisa membantu menuangkan ramuan itu ke dalam botol.


“Maaf aku meminta bantuan yang membuatmu kesulitan,” tutur ibunya Alya.


“Tidak masalah, Tante. Memang aku saja yang belum bisa memakai pisau.”


Setelah membuat ramuan itu selesai, kami menyusunnya di rak penyimpanan. Ada banyak sekali ramuan itu. Tertata rapih di dalamnya. Aku tidak menyangka sudah jadi ramuan sebanyak ini. Saat kami ingin kembali melanjutkan pekerjaan, seketika saja terhenti karena bahan-bahan telah habis.


“Sepertinya hanya itu yang bisa kita buat. Cukup mahal kalau kita membelinya di pasar,” ujar ibunya Alya.


“Andai saja ada sebuah bahan yang mudah didapat tapi sangat manjur…” gumam Gras. Mereka berpikir untuk menjawab pernyataan Gras.


Tiba-tiba terpikir di benakku untuk kembali melakukan percobaan dengan energi langit. Seperti sebuah zat, bisa padat, cair, dan gas. Aku masih belum pernah melihat wujudnya yang cair dan padat. Mungkin aku bisa mencari tahu tentang wujud cair kali ini.


“Bagaimana kalau kita membuat ramuan dari energi langit?” usulku.


“Eh? Memangnya bisa?” tanya Gras.


“Tidak ada salahnya untuk dicoba, bukan?”


Mereka berdua tampak kebingungan dengan usulku. Aku baru ingat kalau aku hanya menjelaskan energi langit pada Ellie, sementara mereka belum. Aku pun menjelaskannya sama seperti waktu itu. Sepertinya Gras terlihat semakin heran dengan penjelasanku.


“Jadi energi bisa menjadi cairan?” tanya Gras.


“Energi langit, kira-kira seperti itu,” jawabku.


“Berarti kita harus mengumpulkan energi langit itu, tapi bagaimana caranya?” lanjut ibunya Alya. Aku baru sadar kalau alat penghisap energi itu berada di toko Sid.


“Ada alatnya. Aku akan segera kembali,” balasku kemudian bergegas pergi.


“Aaa!” teriak mereka. Terdengar suara ketukan palu yang sangat keras.


“Astaga, Malka! Kau membuatku kaget saja,” ucap Ellie.


“Maaf, aku sedang buru-buru. Aku ingin meminjam alat penghisap energi itu. Ada percobaan yang ingin kulakan bersama Gras,” balasku.


“Ada di sebelah sana. Tertutup oleh kain hitam. Tetaplah seperti itu hingga kau sampai sana,” lanjutnya.


“Eh? Kenapa tidak dibuka saja kainnya?” tanyaku.


“Nanti akan menarik banyak perhatian orang,” jawabnya.


Aneh, justru tertutup oleh kain inilah yang membuatnya mencurigakan. Tapi ya sudahlah, aku tetap mengikuti ucapannya. Aku kembali bergegas pergi.


“Hati-hati di jalan!” ujar Ellie.


Aku berlari di sepanjang jalan. Benar saja, beberapa orang tampak curiga dengan barang yang kubawa. Aku hanya berusaha untuk cepat-cepat sampai.


“Huft… Huft… Aku kembali…” hembusku terengah-engah.


“Apa kau berlari? Ini cukup berat, lho,” balas ibunya Alya.

__ADS_1


“Setidaknya aku tidak dicurigai orang lain, hehe…” balasku.


Mereka terkesima saat kain itu terbuka. Sebuah alat yang asing bagi mereka. Gras memberiku ramuan stamina. Aku langsung pulih, kini saatnya melanjutkan percobaan.


“Ayo kita mulai!” ujarku.


Pertama-tama, kami menyalakan alat itu untuk menghisap energi langit kemudian disimpan di dalamnya. Tidak membutuhkan waktu lama. Tabung penyimpanannya sekarang sudah penuh. Waktunya lanjut ke proses selanjutnya.


“Apa selanjutnya?” tanya Gras.


Sebenarnya aku sendiri juga bingung. Apa yang diperlakukan pada energi ini supaya cair? Hmm… Jika ini sebuah zat, untuk menjadikannya cair diperlukan suhu yang lebih rendah dari wujudnya sekarang yang berupa gas. Oh, itu dia!


“Kita perlu membuatnya mengembun dengan suhu dingin, tapi aku tidak tahu berapa suhu yang dibutuhkan,” ucapku.


“Apa dengan kulkas saja sudah cukup?” tanya ibunya Alya.


Kami berpikir bersama-sama. Aku sendiri juga tidak tahu memikirkan apa.


“Aku pernah lihat di televisi kalau energi itu bisa dijadikan sebuah obat,” gumam ibunya Alya.


Aku baru pertama kali mendengarnya. Energi langit benar-benar bisa dikonsumsi? Tunggu, kalau begitu… Tidak mungkin suhu obat itu sangat dingin untuk wujud cair, bukan? Lebih baik aku langsung mencobanya saja di kulkas.


“Kau akan menaruhnya di kulkas?” tanya Gras.


“Iya. Semoga saja berhasil,” jawabku.


Sembari menunggu energi itu di dalam kulkas. Kami saling mengobrol di ruang tengah. Tanpa sadar dua jam telah berlalu, dan sudah memasuki jam makan siang. Lantas kami menyiapkan makan siang sebelum teman-teman datang. Tentu aku ikut membantu mereka, namun tidak dengan hal berbau pisau.


“Sebentar, aku ingin mengeceknya,” ucapku.


Kubuka kulkas lalu mengambil tabung itu. Dingin sekali tabung itu. Aku mengocoknya pelan. Ternyata benar-benar ada cairan di dalamnya.


“Wah! Benar-benar mencair!” seruku gembira. Seketika suasana menjadi heboh. Mereka langsung mendekatiku.


“Coba tuang ke gelas!” lontar Gras bersemangat. Ia mengambilkanku sebuah gelas. Aku menuangnya sedikit. Terlihat cairan bening seperti air biasa. Uap dingin langsung menguap. Kami tidak bisa mendiamkannya terlalu lama di suhu ruangan.


“Aku akan coba menciumnya!”


Aku langsung mengambil gelas itu lalu meminumnya. Terasa dingin dan segar. Seperti meminum minuman bersoda. Tubuhku terasa sedikit aneh. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang sangat ringan. Seakan-akan aku dapat terbang jika tertiup angin. Efeknya sangat mirip dengan ramuan stamina, hanya saja efeknya sangat besar. Padahal aku hanya meminumnya seteguk.


“Aku juga ingin mencobanya!” lontarnya yang sudah tak sabar.


Pada akhirnya mereka mencoba cairan ini. Aku tidak menyangka kalau energi langit benar-benar bisa mencair. Terjawab sudah salah satu pertanyaan, sekarang tinggal wujud padat. Masih misterius, karena aku juga belum pernah mendengar kabar energi langit yang berwujud padat.


“Apa kita ingin mengejutkan yang lainnya?” usul Gras.


“Tapi kita tidak punya banyak,” balasku.


“Sudah habis, sepertinya sudah menguap semua,” sahut ibunya Alya sambil mengocok tabung itu.


“Sepertinya tidak hari ini,” lanjutku.

__ADS_1


Aku penasaran dengan reaksi mereka nanti saat mencoba penemuanku… maksudku penemuan kami bertiga.


Bersambung~


__ADS_2