
Suatu pagi menyambut aku yang baru saja terbangun dari tidur. Cukup nyenyak tidurku, terlebih setelah melewati hari-hari yang… entah, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku masih tidak menyangka dengan barang-barang yang tertata rapi termasuk kamar ini. Membuatku merasa bersalah jika bertingkah seenaknya. Sebisaku untuk tidak membuatnya berantakan, namun diriku tetaplah diriku.
Kubuka tirai jendela, langit tampak teduh dan penuh awan. Semoga saja hari ini tidak hujan. Aku sudah ada janji dengan Leora untuk berkeliling desa, sekaligus menjual roti buatannya. Beranjak dari tempat tidur, lalu merapikannya. Saat semuanya beres, aku pergi keluar kamar untuk menyapa Leora.
Aku melihat dirinya yang sedang membersihkan ruang tengah. Tubuhku bergerak sendiri untuk ikut membantunya. Meski ia menolaknya beberapa kali, tapi aku tidak ingin menjadi tamu yang tak tahu adab. Sepertinya ia merasa tidak enak kalau aku ikut membantu. Mengobrol santai mungkin akan merubah suasananya.
“Aku tidak menyangka kau melakukan ini setiap hari. Kalau itu aku pasti sudah angkat tangan duluan. Aku harus banyak belajar darimu,” ucapku.
“Terasa melelahkan pada awalnya, tapi semuanya akan terbayar dengan ruangan yang enak dipandang,” balasnya.
“Betul sekali, aku tidak henti-henti terpukau dengan seluruh sudut rumahmu.”
“Hahaha, terima kasih banyak. Sebuah nilai tambah untuk menyemangatiku.”
Aku masih belum terbiasa dengan ini. Keringatku sudah berkucuran dan membasahi lantai. Cukup melelahkan, seperti kata Leora. Aku tambah kagum padanya karena dirinya yang seakan-akan tak kenal lelah. Sudah tidak banyak yang perlu dibereskan. Aku beristirahat sejenak.
“Bagaimana kalau kau mandi duluan? Jadi aku bisa bergiliran saat ini selesai,” ujar Leora sambil mengelap meja.
“Baiklah, maaf tidak bisa membantu banyak,” balasku.
“Santai saja, kau sudah banyak membantuku.”
Aku berjalan menuju kamar mandi, seketika saja aku teringat satu hal.
“Tunggu, aku belum punya pakaian dan handuk,” ucapku.
“Oh iya, aku juga lupa. Hmm… Tapi sepertinya kau bisa pakai pakaianku.”
Cukup masuk akal juga, karena pakaian yang ia gunakan memang bukan seperti layaknya perempuan. Aku bisa meminjam baju dan celana miliknya.
“Aku punya dua handuk, yang satunya ada di jemuran belakang,” lanjutnya.
Aku mengambil pakaian dan handuk, lalu bergegas mandi. Tepat aku keluar, Leora juga sudah selesai membersihkan ruangan. Kami pun bergantian. Setelahnya dilanjut dengan sarapan. Aku membantunya di dapur, sementara ia mengangkat riunbread yang sudah matang.
“Mmm… harum sekali. Kau sudah memanggangnya sejak kapan?” tanyaku.
“Ketika kau masih tidur,” jawabnya.
“Eh? Kau bisa membangunkanku untuk membantu juga,” balasku.
“Santai saja, aku cukup memanggangnya saja, sedangkan adonan sudah kusiapkan dari semalam.”
“Tapi tetap saja aku merasa tidak enak sebagai tamu.”
“Sepertinya aku harus memberimu ‘bumbu’ agar merasa enak,” candanya.
__ADS_1
Aku jadi salah tingkah mendengarnya.
“Ke—Kelihatannya sup ini sudah matang!” lontarku.
Leora hanya tertawa kecil melihat tingkahku.
Kala semua hidangan siap, kami menyantapnya bersama. Tampak sekantung roti yang berisi riunbread di atas meja. Bersisakan piring, Leora mencucinya sebentar. Aku melihat-lihat sekitar dari halaman. Terlihat aktivitas pagi yang tidak jauh seperti kampung halamanku. Seseorang yang lewat menatapku curiga.
“Sedang apa kau berdiri di situ?”
“Aku hanya melihat-lihat sekeliling,” jawabku.
“Apa kau maling?”
“Bukan! Aku bukan maling!”
Aku sempat beradu mulut dengannya. Kemudian Leora keluar dari dalam rumah sambil membawa kantung roti itu.
“Selamat pagi, Zilei!” sapa Leora. “Ada perlu apa kemari?”
“Pagi, Leora,” balasnya tersenyum, lalu berubah seketika. “Siapa laki-laki itu?”
“Oh, dia Malka, teman baruku,” jawab Leora.
“Aku Malka Syahnivir. Salam kenal.”
“Zilei,” ujar Leora.
“Awas saja jika kau melakukan yang tidak-tidak pada Leora,” ancamnya kemudian pergi meninggalkanku. Aku hanya terdiam melihat dirinya yang kian menjauh.
“Jangan diambil hati. Dia orang baik, kok. Mungkin ia merasa asing denganmu.”
Kami pun berangkat dari rumah Leora. Melihat-lihat sekeliling yang penuh dengan orang-orang. Tidak lama kami berjalan, seseorang membeli roti Leora. Ia juga memperkenalkanku dengannya. Hingga akhirnya kami tiba di tengah desa, sebuah simpang yang membagi jalur ke beberapa arah. Sebuah kolam berada di tengah simpang itu.
Tidak ada kendaraan apapun selain kuda dan kereta kuda, itu pula tidak banyak. Masyarakat di sini mengandalkan kaki menjadi tumpu langkahnya. Sama seperti aku dan Leora saat ini. Dari simpang ini aku bisa melihat berbagai arah desa ini. Sebuah pasar yang terlihat dari sini menarik perhatianku.
“Ayo kita ke sana!” seruku bersemangat. Leora terkejut mendengarku.
“Eh? Pelan-pelan saja, Malka!”
Tibalah aku di depan pasar. Terdiam dan terkesima diriku melihatnya. Jauh berbeda dengan pusat kota, terlihat sangat tradisional dan ramah-ramah. Pembeli yang sedang tawar-menawar dengan penjual, anak-anak yang senang dengan mainan mereka, lalu-lalang orang dan kereta kuda mewarnai pasar ini.
“Huft… Larimu kencang sekali…” hembus Leora.
Kami berjalan santai di sepanjang jalan itu. Beberapa kios menarik perhatianku, tapi aku tidak memiliki uang sama sekali. Tidak mungkin aku meminta uang pada Leora yang susah payah mencarinya. Jadi kuanggap jalan-jalan ini hanya untuk mencuci mata dan mengenal desa ini.
__ADS_1
“Apa kau ingin membeli sesuatu?” tanya Leora. Aku masih terfokus pada suatu kios.
“Malka?”
“Ah! Eee… Tidak! Jalan-jalan saja sudah cukup.”
“Aku ingin cumi-cumi bakar itu!” ucapku dalam hati. Menelan air liur satu-satunya jalan untuk melupakannya.
Ada seorang pelukis jalanan di tepi. Aku pun berhenti untuk melihat ia yang tengah menggoreskan kuas pada kanvas itu. Masih terlihat abstrak bagiku, aku tidak tahu lukisan apa yang dibuatnya.
Lima menit, sepuluh menit, aku terhanyut pada tiap warna yang sekarang mulai tampak jelas lukisannya. Sebuah anak kecil di atas ayunan yang sedang melihat hamparan luas di hadapannya dengan sepeda di sampingnya. Langit cerah menambah warna menjadi kaya. Terlihat sangat indah di mataku. Lukisan itu dipajang untuk dijual.
“Berapa harga lukisan itu kalau boleh tahu?” tanyaku penasaran.
“Cukup 50 Sira saja,” jawabnya.
Betapa terkejutnya aku. Harga yang diberikannya hanya setara sepuluh roti yang dijual Leora. Bahkan dengan uang sebesar itu belum tentu cukup untuk membeli satu menu makan siang di pusat kota. Memang cukup masuk akal saat berpikir di desa, tapi aku masih tidak mempercayainya. Menurutku harga lukisan itu bisa mencapai ratusan bahkan ribuan Sira.
“Wah, lukisanmu indah sekali!” pujiku.
“Terima kasih banyak. Suatu penghargaan bagiku jika kau ingin membelinya.”
“Maaf, aku tidak memiliki uang. Saat aku punya uang nanti, pasti akan kuhargai lukisan yang luar biasa itu.”
“Tidak masalah, aku juga sangat senang saat orang lain menyukai lukisanku.”
Aku pun berpisah dengan pelukis itu lalu kembali melihat-lihat pasar. Beberapa langkah, seperti ada yang mengganjal pikiranku. Saat itu juga aku teringat Leora. Ternyata ia sudah tidak bersamaku. Aku menjadi panik.
“Leora! Kau di mana?”
“Leora—” Tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutku. Terasa manis dan gurih. Ternyata cumi-cumi bakar yang kuinginkan itu.
“Aku di sini. Kau menyukainya?” tutur Leora dengan setusuk cumi-cumi bakar di tangannya. Aku mengambil setusuk yang ada di mulutku.
“Mmm… Enak sekali! Tapi, apa tidak apa-apa? Lagi-lagi kau seperti ini padaku.”
“Tidak apa-apa, aku juga ingin membeli ini.”
“Tunggu, kau tahu aku menginginkan ini?” tanyaku.
“Hahaha, tentu saja, wajahmu tidak bisa berbohong.”
“Terima kasih!” balasku senang.
“Sama-sama. Ayo kita lanjut jalan-jalan!”
__ADS_1
“Ayo!”
Bersambung~