
Terdiam diriku melihat jawaban itu. Benar-benar di luar dugaanku. Bagaimana tidak, semua yang kulihat saat ini tidak ada bedanya dengan malam itu. Hancur, berantakan, mencekam, semua itu mendefinisikan situasi yang kupandang sekarang. Tiada bedanya dengan dunia, terkecuali gumpalan awan yang menempati beberapa dataran.
“Kenapa bisa seperti ini…?”
Tentu aku tahu jawabnya. Knox, namanya langsung terlintas di kepalaku. Namun… ah, sungguh orang yang tak punya hati.
“Setelah bumi, kau lakukan juga di sini? Lalu, apa selanjutnya?”
Pipiku menjadi basah tanpa sadar. Bukan karena hujan, meskipun angkasa cukup gelap selayaknya mendung, melainkan hujan yang lain. Seakan mataku tak bisa berkedip, membayangkan apa yang kiranya sudah terjadi di sini. Setiap diriku melangkah, semakin banyak hal mengerikan yang terputar di kepalaku.
Terhenti diriku pada suatu pedang yang terhunus ke tanah. Terdapat kain merah yang terikat pada gagangnya.
“Pedang Knox? Untuk apa?”
Tiada satu pun orang yang tergeletak di sini. Ku yakin semua pasukan Knox masih hidup. Aku berjalan kembali melihat semua kerusakan yang telah dibuatnya.
Sampai akhirnya aku tak sanggup lagi melihat semua ini. Kuhadapkan pandanganku pada angkasa, berharap pertolongan pada mereka di antara bintang-bintang dan purnama. Purnama yang terlihat serupa dengan purnama di bumi. Aku masih ragu mengira diriku bertapak di langit.
Orang-orang terlihat berkabung melihat semua ini. Diriku tertuju pada seseorang yang sedang tertunduk memandang tanah. Ia terlihat seperti seseorang yang pernah kulihat, tapi entah siapa. Dirinya seperti orang yang sudah berumur. Aku mendekatinya lalu ikut berlutut di sampingnya.
“Syukurlah… Mereka tidak ada di sini…”
“Mereka? Apa maksudmu, Pak?”
Ia masih tertunduk mengamati tanah yang ada di tangannya. Sulit bagiku untuk melihat wajahnya.
“Mereka, jawaban yang kita cari. Tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka di sini.”
“Lalu, kenapa semuanya menjadi hancur begini?”
“Knox dan budak-budaknya. Aku tidak tahu apa yang mereka perbuat di sini.”
“Dasar, Knox sialan!” geramku mengepal tanganku.
“Tapi, berkatmu aku jadi bisa menjadi salah satu orang yang akan melihatnya.”
“Berkatku? A—Ah… Aku jadi tidak enak. Yang pasti semua ini karena usaha kita semua…” balasku cengar-cengir malu.
“Tidak, pada dasarnya semua ini karenamu, Malka…”
Terlihat wajahnya dengan jelas. Ya, aku mengenalnya…
“P—Profesor Vled? Ah— Eee… maksudku… Bapak ikut ke sini?”
“Iya… Terima kasih, Malka…”
Guru geografi yang membuatku penasaran tentang langit. Berjuta kalimat yang ingin kutanyakan, namun semua langsung sirna. Aku langsung memeluk guru geografiku.
__ADS_1
“L—Lama tak berjumpa, Pak… B—Bagaimana kabarmu…?” Aku tak bisa berkata lebih tertahan haru yang terus membuat diriku bergelinang air mata.
“Aku di sini… Aku baik-baik saja… Tak kusangka muridku yang membawaku ke sini…”
“A—Aku bisa sejauh ini karenamu, Pak… Engkaulah yang membuatku ingin menjelajah di tengah pertanyaan tak berujung itu…”
“Kita akan melihat ujung dari pertanyaan itu bersama-sama…”
“Malka! Malka!”
Terdengar teriakan teman-teman yang mencariku.
“Titipkan salamku untuk Alya.”
Aku berlari menuju suara itu berasal. Sesekali aku ikut berteriak menyahutinya. Akhirnya kami semua berkumpul.
“Kau dari mana, Malka?” tanya Leora. Aku bersemangat kepada Alya dan ingin membawanya ke Profesor untuk saling bersapa.
“Alya! Ada yang ingin kuperlihatkan padamu! Cepat!” Aku langsung menarik tangannya. “E—Eh? Ada apa tiba-tiba begini?”
Saat aku kembali ke tempat tadi, ia sudah tak ada.
“Memangnya apa yang ingin kita lihat?” tanya Alya heran.
“Yah… Kau mendapat dari Prof.”
“B—Benarkah? Beliau ikut bersama kita ke sini?”
Alya langsung bersemangat saat mengetahui seorang idolanya turut serta di tengah keramaian ini. “Kau sungguh bertemunya tadi.”
Aku menceritakan semuanya pada Alya. Dirinya tersenyum haru, suaranya hidungnya yang tersedu-sedu di setiap kalimat ku bercerita.
“Kita akan segera bertemu dengannya…” lanjutku menghiburnya.
Setelahnya kami kembali pada teman-teman. Mereka terkejut melihat wajah Alya yang sangat jelas bekas tangisannya.
“Kau kenapa, Alya?” tanya Ellie khawatir.
“Apa yang sudah kau perbuat, Malka?” ujar Leora kesal.
“T—Tidak… Bukan apa-apa…” desis Alya.
“Benarkah? Apa yang sebenarnya terjadi?” lanjut Ethan. Alya menatap diriku seraya tersenyum lalu membalasnya, “Aku baik-baik saja…”
Malam semakin larut. Aku merasa kalau matahari tak kunjung terbit. Banyak yang sudah terjadi hanya dalam waktu satu malam. Aku sudah merasa sangat lelah. Tempat kami sekarang terasa tak pantas untuk menunggu pagi.
“Apa kita tidak ingin keluar dari tempat ini?” tanya Sara.
__ADS_1
“Semua orang sudah kelelahan. Tak ada salahnya kita bermalam di sini,” jawab Athar. Aku salah satu yang setuju dengannya.
“Baiklah, kami akan memberitahukan yang lainnya,” ucap Ethan. Ia pergi bersama Zilei, Athar, Lukas, Stella, dan Ellie.
“Kau tidak ikut dengan mereka, Malka?” tanya Leora.
“Aku sudah tidak kuat lagi…”
Terlihat Alya yang sedang kewalahan dengan radio komunikasi miliknya.
“Radiomu rusak?” tanya Sara.
“Iya, alat ini tidak berfungsi sama sekali.”
“Pakailah milikku.” Alya menggunakan radio Sara, namun tetap tidak bekerja. “Eh? Punyaku juga rusak?” decak Sara terkejut.
Aku mencoba radio milikku, ternyata sama-sama tidak menyala. Semua ini membuatku pada sebuah kesimpulan, “Alat ini tidak bekerja di langit.”
“Aku juga berpikir begitu,” sahut Alya.
Mataku sudah terasa sangat berat. Tidak butuh waktu lama, beralaskan tanah, beratapkan angkasa, dan berselimut kabut, aku langsung tertidur pulas menembus malam. Angin sejuk sesekali terhembus membuat diriku masuk semakin dalam ke dunia bawah sadar.
Terdengar suara orang-orang, tidak seramai sebelumnya, hanya percapakan beberapa orang dari kejauhan.
Mataku terbuka, cahaya mentari langsung menyilaukan mataku.
“Sudah pagi…?”
Tampak teman-temanku yang masih tertidur, seperti sebagian orang lainnya. Aku beranjak dari baringku. Terasa aneh, seperti ada yang menyelimuti tubuhku.
“Jubah? Sejak kapan?”
Terkejut diriku melihat semua orang mengenakan jubah yang mirip denganku. Warnanya putih dan bercahaya. Tidak kotor sedikit pun, padahal baru saja aku beranjak dari atas tanah. “Selama tidur aku memakai ini?”
Aku berniat untuk melepasnya— “E—Eh? Tidak bisa lepas?”
Setelah memaksa beberapa kali, tetap saja tidak bisa dilepas. Aku pasrah untuk tetap mengenakannya, lagi pula tidak membuatku sulit bergerak— “Sebentar, tubuhku jadi terasa lebih ringan. Apa karena jubah ini?”
Aku memutuskan berjalan santai dengan jubah yang datang dari antah berantah ini. Kabut malam itu masih saja sama tebalnya. Hingga akhirnya aku tiba di sebuah puncak bukit, aku hanya bisa terdiam takjub.
“I—Indah sekali…”
“B—Benar katamu…”
“Ah! Siapa?” Aku langsung memalingkan wajahku ke samping, ternyata Alya dan Leora yang datang menghampiriku. Kala matahari setinggi tombak, kami menikmati panorama yang indah—
“—meskipun di tanah yang hancur seperti ini…” gumamku.
__ADS_1
Bersambung~