
“Bicara? Tentang apa?” Aku terheran-heran dengan tingkahnya yang tiba-tiba begini. Apa memang harus diam-diam seperti ini?
“Sini ikut aku!” ajaknya. Tanganku dipegang erat olehnya, seakan-akan aku ingin kabur darinya. Ia berjalan cepat, aku sulit mengikuti langkahnya terlebih bawaanku yang cukup berat.
“Apa tidak bisa santai sedikit?”
“Sebentar lagi sampai, bertahanlah.”
Ia membawaku masuk menyusuri gang sempit dan gelap ini. Hanya memanfaatkan senter sebagai sumber cahaya, tak jarang aku tersandung bebatuan. Keadaan sekitar benar-benar hening, bahkan aku bisa mendengar jelas suara napas Ellie yang berada di depanku. Semula berjalan cepat namun seketika saja ia berhenti mendadak. Aku yang tidak mengetahuinya lantas menabraknya.
“Bilang-bilang kalau mau berhenti!”
“Kita sudah sampai.” Terlihat sebuah gubuk kecil yang diterangi sebuah lampu gantung. Ia mempersilakanku duduk di sebelahnya.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
“Sepertinya barang itu cukup berat. Bolehkah aku membantumu?” balasnya. Dengan polos aku memberikannya pada Ellie. Saat berada di tangan Ellie, ia langsung mengambil alat tersebut. Ia menancapkan alat itu ke dalam tanah persis seperti yang aku lakukan tadi petang. Aku bingung melihatnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Melakukan seperti yang kau lakukan tadi.”
“Kau melihatku?”
“Apa kau membawa buku langit itu?” ucapnya mengabaikan pertanyaanku.
“Ada di penginapan.”
“Sepertinya tidak mungkin untuk mengambilnya…” gumamnya.
“Tapi, dari mana kau melihatku? Padahal aku sudah mengecek sekitar dan tidak ada yang menyadarinya sama sekali.”
“Penglihatan bukan satu-satunya indra yang kau andalkan. Bisakah kau membantuku?” lanjutnya yang tengah sibuk dengan alat itu. Ia terlihat seperti peneliti ahli. Entah apa itu memang pengetahuannya atau sekedar mengotak-atik alat.
“Apa kau yakin dengan semua ini?” tanyaku ragu.
“Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku?”
“Entahlah… Mungkin karena kita sudah tidak lama bertemu.”
“Aku tidak mempermasalahkan itu, tapi setidaknya percayailah aku sebagai sesama anggota Synnefá.”
“Baiklah. Aku harus apa sekarang?”
“Pegang di sebelah sini, tahan sebentar.”
“Akan kau apakan alat ini?”
__ADS_1
“Otak-atik?” jawabnya ragu.
Setelah beberapa saat ia memintaku untuk melepas tanganku dari alat itu. Aku menyaksikannya lagi. Ia melihat-lihat alat itu dari berbagai sisi. Tingkahnya bak teknisi. Sempat-sempatnya pula ia memintaku untuk mengambil kain pendek miliknya. Ia pun mengikat kepalanya. Aku sama sekali tidak habis pikir terhadapnya.
“Sip, sekarang ambillah tanaman kecil dan harus tetap hidup,” pintanya.
“Jadi, aku juga harus mengambil hingga akarnya?”
“Jangan dicabut, ambil dengan tanahnya juga.”
Aku mengambil sebuah tanaman bunga kecil yang berada di sudut dinding rumah. Mau tidak mau tanganku harus kotor untuk menjaga tanaman itu tetap hidup. Kedua tanganku seolah-olah seperti pot bunga. Aku kembali menghampiri Ellie. Aku tidak tahu maksud dari melakukan ini. Ia tidak memberi tahu apapun kepadaku.
Sebenarnya aku terus bertanya-tanya di benakku. Entah apa yang dipikirkan Ellie saat ini. Sebab semua yang dilakukannya tidak tertulis di dokumen apapun yang diberi oleh Kepala Penelitian. Sejak kapan ia mengikutiku? Kenapa mereka semua berpencar? Yang aku tahu, biasanya mereka sering berkumpul di taman saat siang hingga sore hari. Namun aku merasa aneh dengan hari ini. Bahkan aku tidak melihat Alya sama sekali di desa kecil ini.
Menunggu Ellie sembari menyaksikannya membuatku suntuk. Suasana hening menambah rasa nyamanku, terlebih setelah menjalani hari yang panjang. Untungnya aku tetap terjaga karena beberapa cacing yang menggeliat di tanganku. Rasa kantuk dan geli di saat yang sama.
“Apa tidak bisa lebih cepat? Aku ingin ke penginapan.” Seketika aku teringat jadwalku malam ini.
“Oh tidak! Aku ada jadwal rapat malam ini! Cepatlah, Ellie!” lontarku panik.
“Kapan jadwal itu?”
“Setelah jam makan malam,” balasku khawatir.
“Tenang, masih ada satu jam.”
“Baik, baik. Akan kupercepat,” cakapnya. “Tas itu berisi perkakas, kan?”
“Iya, tapi tidak lengkap,” jawabku. “Tidak apa-apa, aku hanya butuh obeng,” lanjutnya sambil melihat-lihat ke arah tas itu.
“Apa aku bisa pinjam satu tanganmu?”
“Tapi nanti semuanya berjatuhan,” balasku sedikit kesal. Tiba-tiba saja ia mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku. Seketika aku merasa gugup dan tak nyaman. Sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya. Aku tidak bisa bergerak.
“T—Terlalu dekat!” gumamku.
“Tunggu sebentar!” Tanpa disangka, muncul seekor katak yang melompat ke kaki Ellie dan membuatnya kaget. Nasib sial menimpa diriku. Aku sudah tidak memikirkan tanaman yang ada di tanganku lagi. Tanaman yang malang. Tapi aku keberatan dengan Ellie yang berada di atasku.
“Dasar katak!” lontarnya.
“Bisakah kau bangun? Kau tidak ringan, lho.”
“Nah, akhirnya aku bisa mengambilnya,” ucap Ellie senang saat meraih tas itu di atasku. Terlihat bunga malang itu berada di atas jasku bersama tanah-tanah yang berserakan.
“Aduh… Menambah kerjaanku saja.”
“Maaf, anggap saja itu kecelakaan.” Aku beranjak lalu kembali mencari tanaman kecil lain.
__ADS_1
“Tidak perlu, aku kepikiran sesuatu,” cakapnya. “Jadi, yang tadi itu sia-sia?” tanyaku kesal. Ia hanya fokus dengan alat itu.
“Tidak juga, akibat tadi aku jadi mendapat ide.” Aku memperhatikan Ellie yang sedang sibuk. Hingga akhirnya ia menyelesaikannya. Ia beranjak lalu menancapkan alat itu dekat dengan tanaman kecil yang masih hidup. “Kau belum bisa mengambil kesimpulan dari alat ini, kan? Mungkin aku bisa menjawabnya.”
“Seperti yang sudah pernah kau baca, seharusnya sudah tak asing dengan kata ‘energi langit’. Tapi apa energi ‘yang tak terlihat’ itu? Tak bisa dicium, dirasakan, apapun itu. Seperti melihat fenomena metafisika, hanya bisa berteori dan berandai-andai. Salah satu untuk mengatahuinya tentu butuh ‘perantara’, bukan?”
“Perantara? Maksudmu…”
“Ya, tanaman yang aku maksud sebagai perantara itu.” Ia memperlihatkan cara kerja alat itu terhadap tanaman di sekitarnya.
“Kenapa kau memintaku untuk memegangnya tadi?”
“Untuk menyapa para cacing?”
“Kau menjahiliku!” lontarku sebal. Ia hanya tergelitik tawa melihat ekspresiku.
Aku baru menyadari kalau tanaman di sekitarnya mulai layu perlahan. Tidak mati, hanya saja merunduk seperti kelelahan. Aku tidak menyangka kalau alat tersebut sebenarnya tidak ramah lingkungan.
“Tenang saja, mereka tidak akan mati semudah itu. Anggap saja mereka kelelahan sama seperti dirimu,” ujarnya.
“Mereka tidak akan mati? Tapi bagaimana kalau alatnya jauh lebih besar?”
“Mereka baik-baik saja, karena memang masalahnya bukan ada di sini.”
“Hah? Jadi masalahnya bukan pada tanaman itu?”
“Seratus poin untukmu! Dari namanya saja seharusnya kau sudah bisa menebaknya. Energi langit.”
“Energi langit? Oh, astaga. Aku baru menyadarinya,” balasku terkejut.
“Belum terbukti, sih. Karena aku sendiri juga baru lihat alat ini.”
“Kau mengatakannya tadi, fenomena metafisik penuh andai-andai, kan?”
“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Ellie serius.
“Belum ada bukti. Sepertinya aku akan tetap lanjut. Kau?”
“Entahlah, mungkin aku akan membahasnya saat berkumpul nanti. Mau titip salam?”
“Tentu. Tapi aku takut mereka mengira aku mengkhianati kalian. Aku berjanji akan menjalankan tugasku sebagai anggota Synnefá!”
“Bagus! Kalau tidak, kau akan kuhabisi sekarang juga.”
“Haha! Baiklah, aku harus ke penginapan sekarang. Sampai jumpa!” lontarku bergegas dengan bawaan di tanganku.
“Dah! Jangan lupa bersihkan dirimu!” sahut Ellie menyeringai.
__ADS_1
Bersambung~